Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 66


__ADS_3

Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesekali ia menyalip kendaraan di depannya dan kembali ke jalur kiri. Kilatan lampu mobil saling bersahutan memecah malam yang semakin kelam.


Sejak keluar dari mall, tidak ada pembicaraan apapun di antara keduanya. Raka sibuk fokus dengan jalanan dan Reva sibuk pada perasaan tak nyaman yang muncul tiba-tiba karena Raka mendiamkannya.


Raka tampak dingin pada Reva tidak seperti biasanya dan diamnya Raka kali ini membuat bulu kuduk Reva meremang. Ia seolah tengah menghukum Reva dengan tidak mengatakan apapun.


"Haiiissshhh pake sein dong ******!" seru Raka saat sebuah mobil menyalipnya dan tiba-tiba menggunting jalurnya. Ia membunyikan klaksonnya beberapa kali namun mobil itu melaju lebih kencang membuat Raka semakin kesal.


Rasanya Reva seperti naik roller coaster kali ini, menghembuskan nafasnya kasar dan sejenak itu menarik perhatian Raka untuk menolehnya. Raka meraih tangan kanan Reva dan menggenggamnya dengan erat tanpa berbicara sedikitpun. Pandangannya kembali menatap jalanan yang di batasi garis putih berlarian di tinggal roda mobil yang melaju cepat.


Reva tersenyum tipis, ia sadar Raka sedang marah tapi dalam marahnya ia masih memberikan perhatian walau hanya dengan sebuah hembusan nafas kasar dari mulut Reva.


Reva tidak mengenali jalanan yang dilalui Raka. Ia melihat toko dan rumah yang berderet terasa asing baginya.


“Mas, ini salah jalan ya… Jalan ke kost-an ku rasanya gag ada rumah-rumah bagus gini…” tanya Reva yang celingukan sendiri.


Raka tidak menjawab,, setelah melewati sebuah baligo besar, Raka memutar kemudinya berbelok pada sebuah jalan yang Reva yakini itu adalah arah menuju apartemen Raka. Raka memarkirkan mobilnya di parkir khusus tempatnya.


“Mas kok malah ke sini sih? Ini kan udah malem…” gerutu Reva sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.


“Emang kamu mau pulang kemana?”


Raka membuka sabuk pengamannya dan melakukan hal yang sama pada Reva hingga membuatnya mundur sejenak menghindari tubuh Raka yang mendekat tiba-tiba.


“Ya ke kost-an lah… Emang kemana lagi.” Sahutnya ketus.


Raka tidak mengindahkan kekesalan Reva. Ia segera turun dan membukakan pintu untuk Reva. Meski kesal, Reva menurut saja dan ikut turun.

__ADS_1


“Mas raka ada yang ketinggalan di apartemen?” kali ini Reva coba menebak. Biasanya Raka hanya mampir untuk mengambil barang yang ketinggalan.


“Hem…” hanya itu sahutan Raka. Ia lantas mengenggam tangan Reva dan mengajaknya berjalan menuju lift.


Di dalam lift pun mereka tidak berbicara apapun. Dari pantulan dinding lift Reva bisa melihat wajah serius dan dingin Raka yang tengah memandangi benda persegi di tangannya. Sementara tangan satunya tetap tidak melepaskan tangan Reva. Akhirnya Reva memilih menyandar pada dinding lift. Ia memandangi pantulan wajah Raka yang tetap terlihat tampan walau dingin dan serius.


****


“Ding!” pintu lift terbuka.


Mereka telah sampai di lantai tempat apartemen Raka berada. Raka menekan passcode kamarnya dan pintu pun terbuka.


Reva bisa mencium wangi parfum Raka yang terasa lembut dan mengisi seisi ruangan. Semua tertata rapi seperti halnya Raka yang perfectionis.


“Aku mandi dulu, kamu tunggu bentar ya…” Ujar Raka yang kemudian meninggalkan Reva yang masih memperhatikan lingkungan sekitarnya.


Reva hanya mengangguk, ia memandangi setiap detail apartemen Raka yang baru is sadari saat ini.  Semuanya bernuansa tanah, tenang dan kaku. Seperti pribadi yang empunya. Di atas lemari kecil ada satu pot bunga baby breath kering yang di tata dengan rapi. Membuatnya terlihat begitu cantik. Di atasnya ada sebuah lukisan dua anak kecil, laki-laki dan perempuan. Sang gadis tersenyum dengan menggemaskannya, membuat Reva ikut tersenyum sementara di sebelahnya anak laki-laki yang sedang memandanginya dengan wajah dingin. Bisa di tebak itu adalah Raka kecil yang masih dingin hingga saat ini.


Reva pun membuka laci meja kecil tersebut. Ada sebuah buku lukis yang menarik perhatian Reva. Saat Reva membuka covernya, halaman pertama yang ia lihat adalah lukisan wajah gadis yang ada di hadapannya. Beragam ekspresi tergambar di buku tersebut membuat Reva merasa takjub.


“Re…” sebuah suara membuyarkan lamunan Reva.


Reva segera menyembunyikan buku tersebut di balik badannya. Bagaimanapun ia telah lancang melihat dan membuka-buka buku tersebut tanpa izin.


Raka sudah berdiri di mulut kamarnya. Dengan sebuah handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Sementara handuk lainnya melingkar di pinggannya menutup bagian bawah tubuhnya dan dada bidangnya terekspose begitu saja.


“Astaga! Mas raka kenapa gag pake baju dulu!” seru Reva sambil menutup wajahnya dengan buku yang di pegangnya.

__ADS_1


“Dari tadi aku minta tolong ambilin piyama handuk di lemari tapi kamu gag denger. Tau-taunya malah lagi ngelamun.” Timpal Raka yang sebenarnya tidak sekalipun memanggil Reva.


“Masa sih mas. Perasaan aku gag ngelamun.” Dan yang di bohongi percaya begitu saja membuat Raka ingin tertawa melihat wajah bingungnya. Raka berjalan mendekati Reva membuat gadis itu beringsut.


“Tau nih, ini kuping apa cantelan sih gag denger omongan aku.” Kilah Raka sambil mengusap lembut telinga Reva, membuat bulu kuduknya meremang seketika. Reva menggeliat geli ia segera menepis tangan Raka yang di rasa mengganggunya. “Kamu liat apa sih, serius banget?” Raka melihat buku yang ada di genggaman Reva.


“Nggak, ini buku lukisan mas raka ya? Tadi aku nemu di laci.” Tutur Reva seraya membuka halaman pertama bukunya.


Raka hanya mengangguk dengan garis lengkung di bibirnya. Buku lukisan di tangan Reva ternyata masih tersimpan baik. Buku yang ia bawa dari LA dan sering ia gambari saat sedang mengenang Lana yang dirindukannya.


“Ini adik mas raka?” Reva terlihat begitu penasaran.


Raka tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Perhatiannya kini tertuju pada lukisan di depannya. Ia menatap lekat gadis yang tengah tersenyum.


“Dia gag cuma seorang adik, tapi dia juga semangat hidup kami sekeluarga. Candanya, tawanya, rengekannya dan semuanya tentang dia gag ada yang pernah hilang dari ingatan aku dan kedua orang tuaku.” Raka menjeda kalimatnya dan beralih menatap Reva. Tangannya terangkat mengusap lembut kepala Reva. “Jika dulu kamu sekuat tenaga melupakan semua kenangan buruk yang pernah kamu alami, aku sekuat tenaga menjaga agar tidak ada kenangan apapun yang bisa aku lupain tentang dia. Karena yang tersisa dari sebuah perpisahan, hanya sebuah kenangan entah itu buruk atau baik tapi kami bisa tetap hidup dengan mengenang semuanya.” Terang Raka dengan penuh kesungguhan.


Reva melihat mata Raka yang kini berkaca-kaca. Sepertinya ada luka yang begitu dalam yang tidak pernah bisa ia lupakan. Ya mengenang, jika Reva harus berlari menjauhi kenangan, maka Raka datang untuk membuat setiap kenangan bahkan menggali hal apapun agar ia bisa hidup dengan kenangan.


Reva menatap Raka dengan sendu, dadanya terasa hangat. Setiap kenangan buruk yang ia coba lupakan, perlahan muncul di pikirannya. Hal satu hal yang ia sepakati dengan ucapan Raka, bahwa ia bisa berdiri saat ini karena sebuah alasan di masa lalu baik yang ia coba lupakan atau tetap ingin ia kenang.


Reva memejamkan matanya, membiarkan semua hal yang terlintas di pikirannya muncul begitu saja. Seperti kata ibu Marini, biarkan, jangan pernah kamu halangi. Kepala Reva terasa pening, ingatannya bercampur aduk tidak menentu, dadanya terasa sakit dan kakinya lemah tiba-tiba.


“Brug!” Reva terkulai begitu saja.


“Re!”


Raka segera meraih tubuh Reva yang terasa begitu lemah. Wajahnya pucat pasi dengan air mata yang menetes tanpa bisa ia tahan. Raka membenamkan wajah Reva di dada bidangnya, untuk saat ini, ingin sekali Reva menangis. Entah untuk alasan apa, hanya saja ia tidak bisa menahan bahwa selama ini ia terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


Ini sisi lain yang kini di lihat Raka dari seorang Reva yang terlihat kuat dan mandiri. Bahunya turun naik seirama isakan tangis Reva. Raka membiarkannya saja. Ia semakin mengeratkan pelukannya berusaha mengalirkan kehangatan untuk Reva yang masih memekikkan tangisnya.


****


__ADS_2