Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 176


__ADS_3

Reva di tinggalkan dalam ruangan sempit dengan cahaya lampu pijar kuning. Di sampingnya pun ada seorang wanita yang tergeletak tak sadarkan diri. Reva berusaha untuk bangun dan duduk menyandar pada tembokan yang belum sepenuhnya selesai. Reva masih menduga-duga sosok yang tergeletak di sampingnya. Ternyata ia tak sendirian.


Tak lama, tubuh semampai itu menggeliat. Rupanya ia baru sadarkan diri.


“Eeemmm… Eeemmmm….” Ia berusaha memberontak tapi sepertinya tak berhasil.


Ia berusaha bangkit dan Reva baru sadar yang dilihatnya adalah Laras dengan pakaian miliknya. Kedua pasang mata itu saling bertatapan. Mata Laras tampak membulat saat ia menyadari kondisi di sekelilingnya. Ia kembali memberontak tapi nyatanya usahanya sia-sia. Ia kembali terbaring tak berdaya dengan lelehan air mata yang tak henti menetes.


Reva kembali menyandarkan tubuhnya pasrah. Bahkan tenaganya sudah habis untuk menangis. Ia memandangi perutnya seraya berharap bayi dalam kandungannya baik-baik saja. Pasrah, hanya itu pilihannya. Dan seperti ini rasanya menunggu kematian dalam keadaan sadar.


“Sayang… Maafin bunda… Mungkin bukan di dunia ini kita akan bertemu. Mungkin bukan di dunia ini bunda akan memelukmu dengan erat. Tapi percayalah, kita akan selalu bersama-sama dimanapun kita berada.” Batin Reva dengan penuh kesedihan.


Malam terasa begitu panjang bagi Laras dan Reva. Matanya masih enggan untuk terpejam. Masing-masing dengan pikirannya, masing-masing dengan ketakutannya. Jika saja Laras tidak berusaha menjebak Raka, mungkin ia tidak akan berakhir di sini. Benar, karena kecerobohannya, para penculik ini salah mengira, ia dianggap sebagai Reva oleh mereka. Bodoh! Mengumpatpun saat ini tak ada artinya.


Laras berusaha meraih kaki Reva dengan kakinya. Ia menggeliatkan tubuhnya untuk mendekati Reva. Reva merasakan ujung sepatu Laras yang menyentuh kakinya.


“Heemm?” tanya Reva dengan bahasa isyarat.


Laras berguling, menunjukkan ikatan tangannya. Ia sama-sama terikat seperti Reva di belakang tubuhnya. Reva menyeret tubuhnya mendekati Laras. Ia duduk membelakangi Laras. Kedua tangannya berusaha membuka ikatan di mulut Laras. Sepertinya mereka paham kode masing-masing.


Cukup lama Reva berusaha membuka penutup mulut Laras. Ikatannya terlalu kuat.


“Hah!” ujar Laras sesaat setelah ikatannya terbuka.


Kini berhantian Reva yang berbaring dan Laras yang berusaha duduk. Ia membantu Reva melepaskan penutup mulutnya. Dan akhirnya ikatan itu terlepas.


“Gara-gara lo gue ikutan diculik!” ketus Laras dengan tidak suka.


“Salah lo pake baju gue!” timpal Reva yang tidak terima. Laras mengerlingkan matanya malas. “Udah, sini lo duduk belakangin gue!” sambung Reva yang segera bangkit.


“Lo mau apa?” protes Laras.


“Bacot lo ya!” cetus Reva sebal. Ia kembali menggeser tubuhnya membelakangi Laras. Kali ini mereka duduk saling membelakangi. Reva berusaha mencari simpul tali yang mengikat lengan Laras. Rupanya berguna juga ilmu tali temali saat ia ikut pramuka sewaktu SMP.


Binggo! Reva berhasil membuka ikatan tangan Laras. Laras bersorak senang. “Berisik lo!” seru Reva dalam hatinya. Hanya gerakan bibirnya yang terlihat dengan mata yang melotot tajam. Laras dengan segera membekap mulutnya.

__ADS_1


Terdengar derap langkah kaki terdengar jelas mendekati ruangan tempat Reva dan Laras di sekap. Mereka segera memasangkan kembali penutup mulutnya longgar dan ikatan tangan yang pura-pura di simpulkan. Mereka bersandar dengan mata terpejam, pura-pura tertidur. Dua laki-laki itu tegap itu tersenyum tenang, karena sepertinya pengisi ruangan ini aman-aman saja. Mereka kembali keluar dan mengunci pintu ruangan tersebut.


****


Reva dan Laras menghela nafas bersamaan. Kini giliran Laras yang membukakan tali pengikat untuk Reva. Setelahnya mereka sama-sama membuka tali pengikat kedua kakinya. Tanpa sadar keduanya saling melempar senyum namun ekspresinya kembali berubah saat sadar satu sama lain begitu menyebalkan.


“Kali ini aja ya gue kerjasama sama lo!” ujar Laras seraya mengerlingkan mata.


Tentu saja Reva tidak memperdulikan ocehan Laras. Ia segera berkeliling mencari sesuatu untuk membantunya kabur dari tempat ini.


Nihil, semua tembokan masih sangat utuh. Hanya sebuah lubang ventilasi yang terbuka dengan ketinggian lebih dari dua meter. Reva berfikir dengan cepat. Kemampuan bertahan hidupnya benar-benar harus ia gunakan.


“Laras, lo naik ke punggung gue. Nanti lo keluar dari lubang jendela itu. Terus lo kabur, cari bantuan sebanyak mungkin.” Cerocos Reva yang membuat Laras terpaku.


“Are you kidding me, reva?” Laras menatap Reva tak percaya. “Gue gag mungkin manjat-manjat kayak tarzan gitu. Lo kira gue bisa sirkus? Jangan gila!” protes Laras.


“Laras, lo bisa gag sih sekali aja otak lo itu lo pake? Jangan cuma buat jahatin gue aja tuh otak lo pake!” timpal Reva yang membuat Laras refleks menyentuh kepalanya dengan umpatan yang tidak di dengar Reva.


“Reva jangan gila! Ini malem. Gelap! Kita gag tau ini dimana, gimana kalo ada binatang buas?” lagi-lagi Laras memprotes.


“Okey, terus lo gimana?” Laras akhirnya sepakat.


“Gue akan nunggu di sini. Gue akan nunggu lo bawa orang-orang buat nolongin gue. Gue percaya sama lo. Setelah kita selamat, lo mau coba rebut raka lagi boleh. Tapi gue gag akan menyerah untuk sekarang ataupun nanti.” Ungkap Reva seraya mengusap perutnya dengan lembut.


Laras hanya terpaku mendengar ucapan Reva. Seperti apa sebenarnya sosok wanita di hadapannya ini?


“Buruan!” Reva menyadarkan Laras dari lamunannya.


Laras terangguk. Reva segera membungkukan tubuhnya dan membiarkan Laras menginjak punggungnya. Ia berusaha menahan berat tubuh Laras yang lumayan. Perlahan ia berdiri tegak hingga kedua tangan Laras bisa meraih lubang ventilasi tersebut. Laras berusaha keras untuk masuk ke lubang itu dan bersiap untuk melompat.


Untuk beberapa saat, Laras memandangi Reva. Reva mengibas-ibaskan tangannya, meminta Laras untuk bergegas pergi.


“Jangan mati, tunggu gue seperti janji lo!” lirih Laras yang sebenarnya tidak di dengar Reva.


“BUG!” suara Laras melompat terdengar jelas.

__ADS_1


“Suara apa itu?” tanya laki-laki yang berjaga di luar. Reva mulai kebingungan. Rupanya cukup kuat tubuh Laras menghantam tanah hingga terdengar oleh 2 penjaga itu.


Pintu ruangan Reva terbuka. Kedua laki-laki itu hanya melihat sosok Reva yang berdiri dengan tegak.


“Mana satu lagi?” tanya laki-laki satunya. Reva hanya mengendikan bahunya. “Aarrgh sial!” umpat laki-laki itu. Ia segera menghampiri Reva dan mencengkram bahu Reva dengan kuat. Bukan Reva jika dia menyerah saat ini. Reva memberi perlawanan dan perkelahian pun tak terelakkan. Satu-satunya yang Reva lindungi adalah perutnya, ia tidak akan membiarkan tangan siapapun menyentuh perutnya.


“Cepatlah laras, bawa mereka menolongku.” Batin Reva yang berharap bisa di dengar Laras.


Perkelahian semakin sengit, terlebih saat tiga laki-laki lainnya datang. Mereka ikut menyerang Reva hingga hampir kewalahan.


“Brak!!” suara tubuh seseorang menghantam pintu terdengar jelas. Adalah Theo yang mendang kuat-kuat laki-laki yang menghalangi jalannya menemui Reva. Reva terdiam sejenak, tapi sayangnya ini bukan waktunya bertanya dari mana Theo mengetahui keberadaannya. Ia pun mendapat serangan membabi buta dari orang-orang  yang menyerang Reva dengan jumlah yang semakin bertambah.


Terlihat salah satu di antara mereka mengeluarkan sebilah pisau. Dia berlari seraya mengarahkan pisau tersebut pada Reva dan,


“Sret!” pisau itu menusuk pinggang kanan Theo.


Ya, Theo lah yang tertusuk. Theo menghadangkan tubuhnya untuk melindungi Reva. Reva ternganga tak percaya. Kini tangan Theo melingkar di lehernya dengan tatapan penuh kesakitan yang terlihat jelas dimatanya.


Reva menyentuh pinggang Theo, pisaunya masih tertancap dengan darah yang mulai bercucuran. Reva melihat sendiri darah Theo yang membasahi tangannya. Air matanya menetes seirama tetesan darah Theo.


“Are okey sweetheart?” lirihnya dengan terbata-bata. Segaris senyum terlihat di bibir Theo dan tak lama suara sirine terdengar jelas di telinga Reva. Theo terkulai tak sadarkan diri di hadapan Reva.


“Theo, bangun theo. Theo!!!” teriak Reva seraya menepuk-nepuk wajah Theo namun Theo tak meresponnya. Perlahan matanya menyipit, dengan sisa kesadarannya ia menatap Reva lekat.


Reva segera mencabut pisau yang menancap di pinggang Raka dan merobek sebagian bajunya untuk membebat luka Theo.


Para polisi telah berhasil melumpuhkan orang-orang yang menyerang Reva. Mereka segera mengangkat tubuh Theo ke atas blankar ambulance. Reva ikut menjaganya, ia menggenggam tangan Theo dengan erat.


Ambulance melaju dengan cepat. Suara sirine semakin menambah kekalutan Reva. Seorang para medis memasangkan oksigen yang membekap mulut Theo. Sementara Reva terus memanggil nama Theo agar tetap tersadar.


“Theo, bertahanlah theo! Kamu ingin mendengarkan makianku kan? Dengarkan baik-baik. Dengarkan dengan penuh kesadaran.” Teriak Reva.


Namun semakin lama suara Reva terasa semakin menjauh dari pendengaran Theo. Ia hanya bisa tersenyum melihat wajah pucat Reva yang terlihat begitu panik. Dan genggaman tangannya yang tak pernah lepas, Theo rela dengan semua luka yang di dapatnya. Theo rela dengan semua kesakitannya, asalkan Reva baik-baik saja.


Perlahan Theo pun mulai kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


****


__ADS_2