
Raka keluar dari kamar mandi. Ia melihat tempat tidurnya yang berantakan. Dahinya berkerut, karena seingatnya tadi tempat tidurnya tampak rapi. Ia pun memeriksa jendela kaca dan membuka pintu kamarnya khawatir ada orang yang masuk, namun tidak ada siapa pun di sana.
“Apa tadi gue ngelamun ya?” gumam Raka seraya mengacak rambutnya yang basah karena kebingungan. Akhirnya Raka hanya mengangkat bahunya acuh.
Raka segera berpakaian. Ia pun mengambil beberapa berkas untuk ia bawa ke rumah Indra. Kemudian ia kembali menempuh perjalanan cukup panjang untuk menemui sang istri.
Tiba di rumah Indra, Raka segera menuju kamar Reva. Selintas ia melihat Alea yang tertidur di sofa dengan lampu dan televisi yang masih menyala. Raka mengambil remote dan mematikkannya. Ia bergegas menemui Reva.
“Sayang…” panggil Raka. Raka membuka pintu kamar Reva, namun terlihat sangat sepi. Lampu kamar menyala terang dan ponsel Reva yang tergeletak di lantai. “Sayang, kamu dimana?” Raka membuka pintu kamar mandi, tetap tidak ada Reva di sana.
Raka mulai kebingungan. Ia melihat jendela kamar Reva yang terbuka, semilir angin menerbangkan tirai hingga berayun. Raka segera menuju balkon tapi tidak ada pula Reva di sana.
Perasaan Raka mulai khawatir. Ia segera turun dan mencari Reva di bawah. Di dapur, taman belakang, ruang keluarga bahkan halaman rumah tetap tidak ada Reva di sana. Raka segera membanguunkan Alea, perasaannya benar-benar mulai tak tenang.
“Lea… bangun lea…” panggil Raka.
Alea tampak membuka matanya dan melihat wajah cemas Raka dihadapannya. “Reva dimana?” tanya Raka kemudian.
“Hah, reva? Bukannya dia udah tidur?” Alea balik bertanya.
“Gag ada!” seru Raka.
Alea segera bangun dari terbaringnya. Ia ikut mencari Reva ke segala arah. Walau berkali-kali memanggil nama Reva, tapi tidak ada suara yang menyahuti. Seisi rumah ikut terbangun dan mencari Reva, mereka benar-benar kebingungan.
“Astaga re, lo kemana sih?” Alea menggaruk kepalanya walau tidak gatal.
Raka kembali ke kamar Reva dengan diikuti Alea.
“Raka, ini..” tunjuk Alea pada jejak tanah yang ada di balkon. “Astaga! Jangan-jangan reva…” Alea menggantung kalimatnya. Pikiran yang sama muncul di benak Raka.
“Cepet telpon polisi!” seru Raka pada petugas keamanan yang ikut mencari Reva.
“Ba-baik tuan…” sahutnya gelagapan.
“Astaga re.. kamu dimana sayang?” Raka mengacak rambutnya frustasi. Ia benar-benar cemas. Dan orang yang pertama muncul di pikiran Raka adalah Theo.
__ADS_1
****
“Maaf tuan, anda tidak boleh masuk. Tuan kami sedang tidak bisa di ganggu.” 2 orang penjaga menjegal langkah Raka.
“Saya harus menemui theo. Dimana dia?” Teriak Raka dari pintu rumah mewah Theo
“Maaf tuan, tapi tuan kami benar-benar sedang tidak bisa di ganggu.” Lagi-lagi laki-laki tersebut menolak permintaan Raka.
Theo yang mendengar suara keributan di lantai 1 rumahnya, mulai terusik. Ia keluar dari kamarnya dan melihat apa yang terjadi.
“Ada apa ini?” tanya Theo dengan kesal.
Terlihat Theo yang berantakan. Ia masih menggunakan kemeja kerjanya sementara dasinya terlihat kusut.
“Dimana reva?! Kamu membawanya kan?!” serang Raka yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.
“Reva?” tanya Theo dengan seringai tipisnya yang seolah meledek Raka. Dari wajahnya yang kemerahan dan mata yang tidak fokus, terlihat jelas Theo sedang berada dalam pengaruh minuman keras. “Anda masih tidak bisa menjaga istri anda dengan baik hah?” lanjutnya yang berjalan ke arah Raka.
Raka berdecik sebal. Ia segera meraih kerah baju Theo dan bersiap memukulnya. “Pukul lah, saya tidak akan melawan. Atau anda pun ingin membunuh saya? Lakukanlah.” Theo mendekatkan wajahnya pada Raka. Ia bahkan sudah memejamkan matanya bersiap menerima pukulan paling menyakitkan dari Raka.
Bagi Raka, tidak ada waktu main-main untuknya, ia harus segera mencari Reva. Ia tidak bisa mengulur waktu lagi.
Theo tersenyum ketir. Betapa menyedihkan hidupnya. Dan Reva, benarkah dia menghilang?
Sepeninggal Raka, Theo segera masuk ke rumahnya. Ia segera menghubungi Arya, namun tidak juga di jawab.
“Shit!!” dengus Theo dengan kesal. Untuk pertama kalinya Arya tidak menjawab panggilannya bahkan setelah berpuluh kali ia mengulangnya. Theo mulai tersadar dari mabuknya. Ia berusaha berfikir jernih. Jika saat ini Reva menghilang, siapa yang paling bertanggung jawab?
****
Lagi, Reva harus merasakan kondisi yang sama. Ia merasa tubuhnya begitu dingin karena terbaring di lantai tanpa alas apapun. Matanya tertutup dengan kedua tangan dan kaki terikat. Ia berusaha berteriak namun mulutnya dibekap oleh selembar kain.
Reva berteriak sekuatnya namun tidak ada suara sedikitpun yang keluar. Reva hanya bisa merintih dan menangis dengan perasaan takut yang luar biasa. Mengapa ia harus mengalami lagi, kondisi yang sama 18 tahun lalu. Ia sendirian, ia ketakutan tanpa ada siapapun yang bisa menolongnya. Ia hanya bisa berteriak dalam hatinya seraya berharap mungkin seseorang akan mendengarnya.
Namun nihil, bahkan ia tak bisa menegakkan tubuhnya yang terkulai lemas. Ia gemetaran karena trauma itu telah melemahkan seluruh sendi tubuhnya.
__ADS_1
“Dia sudah bangun!” ujar sebuah suara berat yang terdengar asing bagi Reva.
“Cepat panggil tuan besar!” sahut laki-laki lainnya.
Suara derap kaki mendekat ke arah Reva. “Anda sudah sadar nona cantik?!” sebuah tangan mencengkram dagu Reva dengan kuat. Reva berusaha mengibaskannya dan laki-laki itu hanya terkekeh. “Sayang sekali, kau akan segera mati.” Bisiknya, mengintimidasi.
Reva kembali berusaha berteriak sekuatnya namun yang terdengar hanya suara nafasnya yang memburu.
Tak lama terdengar suara derap kaki yang lebih banyak. Seseorang menarik kursi yang membuatnya terdengar berderet ngilu.
“Buka penutup matanya!”
Reva tersentak di tempatnya. Rasanya ia mengenali benar suara yang di dengarnya. Seseorang membuka ikatan penutup mata Reva dan benar saja, Richard tengah memandanginya dengan dingin.
“Hay Alana breathania wijaya, long time not see….” Ujar Richard seraya berjalan mendekati Reva. Ia mencengkram dagu Reva dan menatap manik coklat yang terlihat begitu ketakutan. “It seems you still know me, hah? Don’t you afraid?” bisiknya dengan penuh penekanan.
Mata Reva membulat. Hatinya benar-benar tidak sanggup untuk bertahan. Ia ketakutan setakut-takutnya. Bahkan rasanya lebih baik ia kembali tak sadarkan diri di banding harus melihat wajah Richard di hadapannya.
Richard melengkukan senyuman dinginnya. Rasanya tubuh Reva ikut melemah seketika. Terisakpun tak ada suara, hanya buliran air mata membasahi wajah pucat Reva.
“Hah, harus saat itu saya memastikan sendiri kalau gadis kecil yang manis itu telah berhenti bernafas.” Kalimat mengintimidasi kembali keluar dari mulut Richard. Ia melepaskan cengramannya dan berjalan menjauhi Reva. Ia mengambil sebatang rokok yang di sodorkan oleh bawahannya seraya menyalakan ujung rokok tersebut hingga terlihat bara api di sana. Ia duduk di kursi yang ada di hadapan Reva. Tubuhnya condong dan tetap dengan tatapan mengintimidasinya.
“Harusnya saat itu juga saya memastikan bahwa jantungnya sudah berhenti berdetak. Kamu terlalu banyak tahu sesuatu yang tidak seharusnya kamu tahu. Dan kamu seharusnya berakhir saat itu juga!!!!” gertak Richard seraya membanting puntung rokoknya dan menginjaknya dengan sadis. Seolah semudah itu untuk mengakhiri hidup Reva.
Nyali Reva benar-benar menciut. Ia hanya bisa terpekur dengan tangis yang dalam.
“Saya tidak ada waktu lagi untuk bermain-main.” Richard bangkit dari tempat duduknya. “Besok pagi, pastikan semuanya selesai dengan bersih!” tandasnya seraya mengusapkan tangannya yang basah karena keringat Reva pada jas bawahannya.
Orang-orang itu hanya terangguk sebagai bentuk kepatuhannya.
****
Reva bertahan... Jangan lupa like dan komennya. Thanks buat semua yang masih setia baca dan nunggu updatenya. Happy reading ❤️
__ADS_1