Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 144


__ADS_3

Beberapa menit lalu Raka mengabari kalau pesawatnya akan segera take off dan saat Reva menelponnya, benar saja saat ini handphonenya sudah tidak aktif. Ia hanya mengirimkan pesan suara yang di yakini akan di dengarkan Raka saat pesawat sudah mendarat.


“Kabarin aku kalo udah sampai ya sayang. Love you…” ujar Reva yang tersenyum di akhir kalimatnya.


Reva kembali menaruh benda persegi tersebut di hadapannya. Beberapa berkas tertumpuk di meja dan menunggu untuk ia periksa. Tapi rasanya pikirannya masih tertaut pada ingatan pergulatan tadi pagi. Reva kembali tersenyum. Laporan yang ada dihadapannya lebih seperti barisan puisi cinta. Ya, Raka selalu bisa membuat dirinya jatuh cinta dan merindukannya.


“Permisi bu…” suara Ira membuyarkan lamunan Reva.


Ia tampak berjalan dengan tergesa-gesa.


“Iya ira, ada apa?” tanya Reva dengan segera saat melihat ekspresi tak biasa Ira.


“Bu, di bawah ada yang nyari ibu. Dia bawa bunga banyak banget dan katanya pengen ketemu ibu segera.” Terang Ira dengan ekspresif.


“Siapa? Kamu tau namanya?”


“Nggak bu. Tapi dari penampilannya, keren banget bu. Mukanya kebule-bulean gitu dan…”


Belum selesai Ira menyelesaikan kalimatnya, Reva segera berlalu. Ia rasa, ia tahu siapa yang di maksud Ira.


Reva turun ke lantai satu tempat laki-laki yang di maksud Ira menunggu. Dalam beberapa saat pintu lift terbuka dan benar saja, kini Theo berdiri di hadapan Reva seraya tersenyum. Bukannya saat ini harusnya Theo berada di tempat yang sama dengan suaminya? Ah tentu saja, sultan seperti dia mempunyai banyak pintu kemana saja.


“Selamat pagi reva…” sapa Theo seraya melepas kacamata hitamnya.


Reva tak lantas menjawab sapaan Theo. Ia masih bingung dengan banyaknya bunga yang di bawa Theo. Bahkan di tangannya masih ada satu bucket bunga tulip yang saat ini ia sodorkan pada Reva.


“Theo, ada apa ini?” Reva menatap Theo dengan penuh tanya.


Theo berjalan mendekat pada Reva. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman.


“Apa kita akan membicarakannya di sini?” tanya Theo setengah berbisik.


Reva melihat ke sekelilingnya. Ia baru sadar banyak pasang mata yang menatapnya penuh tanya. Beberapa di antara mereka saling berbisik.


“Ikut saya!” tegas Reva yang segera membalikkan badannya.


“*My *pleasure, young lady.” Sahut Theo yang berjalan mengikuti langkah Reva dengan sorak sorai di dadanya.


****


Reva dan Theo berada di salah satu sudut kantor. Mereka berdiri berhadapan dengan pikiran masing-masing. Reva masih tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan Theo. Dan Theo, ia hanya bisa menatap kagum sosok yang selalu mengisi hati dan pikirannya belakangan ini. Semakin ia berusaha melupakan Reva, semakin besar keinginannya untuk memiliki Reva.


“Pak theo, apa maksud anda dengan semua ini?” Reva bertanya dengan bahasa formal.


“I want you, I'm crazy about you.” Sahut Theo dengan segera. Ia tak memberi jeda sama sekali pada pertanyaan Reva. Ia sudah sangat yakin dan akan mengikuti keyakinannya, apapun resikonya.

__ADS_1


“Theo, tolong jangan gila! Saya wanita bersuami. Jangan melakukan kebodohan yang kelak akan kamu sesali.” Lagi-lagi Reva berbicara dengan tegas. Ia mengingatkan Theo pada batas yang ia bentangkan.


Theo berjalan mendekati Reva, seolah ia tidak peduli pada ucapan dan kemarahan Reva.


“Kalau kamu sudah tidak bersuami, apa itu berarti kamu akan memikirkanku?” lirihnya setengah berbisik. Tangannya terangkat hendak menyentuh wajah Reva dan dengan cepat Reva memutar pergelangan tangan Theo dan menguncinya.


Sangat menyakitkan dan memalukan tapi Theo malah terkekeh.


“Even though you are married, you are still the same girl, the girl I wanted to chase.” Tutur Theo dengan penuh keyakinan.


Reva segera mengibaskan tangan Theo dan Theo kembali menatap netra coklat milik Reva dengan sebuah senyum yang entah harus diartikan seperti apa. Ia mengusap dagunya, rasanya rasa sakit pukulan Reva kembali terasa dan membuatnya semakin bersemangat menaklukan wanita di hadapannya.


“Saya tidak ada waktu meladeni permainan anda. Segera pergi dari sini dan bawa pergi semua sampah yang anda bawa.” Tegas Reva dengan tatapan tajam. Ia segera berbalik meninggalkan Theo dengan langkah jenjangnya.


“I said, I love you Reva! One day, you will come and beg me...” Teriak Theo yang tentu saja tidak di tanggapi Reva.


“Arrgghh!!” dengus Theo. Ia mengacak rambutnya kasar. Ia bukanlah seseorang yang akan menyerah pada sebuah penolakan. Jika ia tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, maka orang lain pun tidak akan punya kesempatan walau hanya sekedar memimpikannya.


*****


Kepala Reva rasanya mau pecah terlebih saat mengingat kegilaan Theo yang tadi ia tinggalkan. Ia kembali meneguk minuman di gelasnya kemudian duduk bersandar pada kursi kerjanya. Ia butuh waktu untuk bernafas, bukan, untuk mencerna semuanya.


“Re…” suara Alea membuyarkan lamunan Reva. Dengan segera ia berlari pada Alea dan memeluknya dengan erat.


Alea melirik Edho yang ada di sampingnya dengan bingung. Entah kalimat apa yang harus ia ucapkan terlebih dahulu.


Reva hanya terangguk di bahu Alea. Rasanya ia bahkan tidak punya tenaga untuk sekedar mengangkat wajahnya.


“Theo udah pergi. Lo akan baik-baik aja.” Ujar Edho seraya mengusap kepala Reva. Ia pun tidak menyangka Theo akan datang dengan segala kegilaannya.


Akhirnya Reva memberanikan diri mengangkat wajahnya. Ia menatap dua wajah yang kini tengah mencemaskannya. Alea membawa Reva duduk di sofa dan memberinya segelas air. Reva kembali meneguk minumannya, rasanya keterkejutannya masih saja belum bener-bener hilang.


“Lo udah berapa kali ketemu theo?” kali ini Alea memberanikan diri untuk berbicara.


Reva masih terdiam seraya memegang gelas di tangannya erat-erat. Ia menatap Alea dengan wajah pucatnya.


“2 kali. 1 kali waktu di panti dan 1 kali beberapa hari lalu. Itupun bareng mas raka.” Terang Reva dengan apa adanya.


“Re, lo udah ngasih tau suami lo? Menurut gue gimana pun dia harus tau.” Edho mulai angkat bicara. Bagaimanapun ia sangat mencemaskan adik sepupunya.


“Jangan! Mas raka lagi fokus sama proyeknya dan ini kerjasama dia sama anak perusahaan milik theo.” Sahut Reva dengan segera.


Alea menggeleng tidak percaya. “Tapi Re, ini penting, raka harus tau. Lo tau kan, kalo lo penting banget buat raka dan gue yakin dia gag akan tinggal diam.” Protes Alea dengan segala perasaan marahnya.


“Kak, proyek ini juga penting. Proyek ini sudah berjalan lebih dari setengahnya. Mas raka udah mencurahkan semua tenaga dan pikirannya sama proyek ini. Ini gag cuma penting buat mas raka, tapi bagi semua karyawan, karena kondisi perusahaan di pertaruhkan di atas proyek besar ini.” Terang Reva yang berusaha tetap rasional.

__ADS_1


Sejujurnya ia sangat ingin segera mengadu pada Raka. Meminta Raka pulang dan menjauh sejauh-jauhnya dari Theo dan semua hal yang berhubungan dengan Theo. Tapi lagi, Reva terbentur dengan keadaan. Keadaan yang memaksa ia harus membiarkan hatinya yang ketir demi banyak hal yang tidak bisa ia korbankan.


Hal ini pula yang menjadikan Reva berat melepas Raka pergi. Reva sadar dengan semua cara Theo berbicara dan memandangnya seperti yang pernah di katakan Raka. Tapi lagi, Reva tidak ingin menghancurkan semuanya.


Alea dan Edho hanya bisa terdiam seraya memandangi Reva. Wajah pucat dan tegang Reva sungguh membuat Alea tidak bisa berkata apa-apa.


****


Handphone Reva menyala, menampilkan wajah yang tengah ia pikirkan. Ya, Raka. Dengan segera Reva menjawab panggilan video dari Raka.


“Hay sayang…” sapa Raka dengan senyum tampannya.


“Hay mas, kamu lagi apa?” tanya Reva yang melihat Raka sudah tidak mengenakan jas nya. Ia yakin Raka sedang berada di kamar hotelnya.


“Aku lagi break sayang. Ini lagi sambil meriksa berkas yang di bawa pak anwar juga.”Terang Raka yang memang sedang berada di depan laptopnya yang masih menyala.


“Apa semuanya berjalan lancar?” tanya Reva dengan segera.


“Ya, tentu. Proyek sudah berjalan 70%. Besok dan lusa kami akan meeting dengan para investor baru. Do’akan semuanya lancar ya re…” ujar Raka seraya mengusap layar handphonenya.


Reva hanya mengangguk dan tanpa di duga mata kanannya meneteskan butiran air mata.


“Sayang, kenapa? Kok nangis? Kamu sakit?” Raka terlihat begitu panik.


Reva segera mengusap air matanya dan menaikkan selimut yang menutupi tubuhnya. “Enggak mas, cuma kangen mas raka aja.” Lirihnya yang kemudian terisak. Entahlah, rasanya ia begitu sensitif akhir-akhir ini.


“Hey sayang…. Jangan nangis dong… bentar lagi mas pulang… mas janji gag akan ninggal-ninggalin kamu lagi, hem…” bujuk Raka dengan sungguh-sungguh.


Reva kembali terangguk, ia berusaha menegarkan dirinya agar tidak mengganggu konsentrasi Raka.


“Kamu udah makan sayang, kok mas liat kamu tambah pucet sih? Beneran kamu baik-baik aja?” ternyata rasa cemas Raka tidak hilang begitu saja.


Reva melihat pantulan wajahnya di layar handphonenya, ia memang terlihat pucat, lebih dari tadi pagi.


“Aku baik-baik aja mas. Bentar lagi juga aku makan. Mas jangan lupa makan juga yaa…” Reva berusaha tersenyum di akhir kalimatnya.


Raka terangguk. “Iya, habis ini mas kebetulan ada makan malam sama klien. Nanti kalo udah ke kamar lagi, mas video call lagi yaaa… mas temenin kamu sampe tidur.” Timpal Raka.


Memang sudah menjadi kebiasaan Raka, saat ia harus bekerja ke luar kota, ia akan melakukan panggilan video sesering mungkin. Tidak hanya karena ia sangat merindukan sang istri tapi karena ia ingin membuat hatinya tenang dan merasa Reva selalu ada di dekatnya.


Panggilan video sudah terputus beberapa menit lalu. Reva beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di depan meja riasnya. Ia memandangi wajahnya yang memang terlihat pucat. Ia melihat kelopak mata bawahnya dan warnanya sudah menjadi putih, tidak merah muda seperti biasanya. Sepertinya ia mengalami kekurangan darah.


Reva beranjak menuju dapurnya. Ia mengambil beberapa sayuran dan mulai memasaknya. Sayur bayam favoritnya, sudah lama sekali ia tidak mencicipinya. Dulu biasanya Ratna sangat rajin membuatkan sayur bayam terlebih saat ia berada dalam periode rutin bulanannya. Ah, mengingat Ratna membuat Reva sangat merindukannya. Dan mengingat periode bulanan, sudah tanggal berapa ini?


****

__ADS_1


 


Nah loh, Reva kenapa niihh..


__ADS_2