Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 108


__ADS_3

Di hari ke 2 ini Reva masih terbaring tidak sadarkan diri. Dokter Wisnu terus memantau kondisi Reva. Ia menggelengkan kepala saat melihat hasil pemeriksaan yang menunjukkan tanda perbaikan kondisi namun pasien belum kunjung menunjukkan tanda-tanda kesadarannya.


Melihat kondisi Reva, kedua keluarga ini diliputi perasaan sedih yang mendalam. Niken dan Nida bergantian menjaga Reva dengan Kedua ayah yang senantiasa memantau kondisi Reva dari tempat kerjanya. Dan Raka, ia masih belum bisa memejamkan matanya dengan tenang. Ia nyaris tidak pernah beranjak dari samping Reva yang sudah berada di ruang perawatan biasa.


Terdengar sebuah ketukan di pintu ruang perawatan Reva, saat di lihat adalah Jeremy yang kini sedang berdiri di sana dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan. Ia berjalan mendekati Reva yang masih terbaring lemah dengan beberapa selang yang masih menempel di tubuhnya.


“Re…” hanya itu kata yang keluar dari mulut Jeremy.


Ia memandangi wajah pucat yang terlihat semakin kurus dari terakhir mereka bertemu. Rasa sedih ikut menghinggapi hati Jeremy. Bagaimana bisa gadis kuat yang selalu membuatnya tertawa kini terbaring tanpa bisa membuka matanya sedikitpun.


Handphone Jeremy terus berdering. Saat ia melihatnya, nama sang istri muncul untuk melakukan panggilan Video. Riana memang terus mendesak untuk pergi melihat kondisi Reva, namun kondisi kesehatan bayi kecilnya memaksa Riana untuk tetap berada di rumah.


“Jer, mana reva…” ujar Riana dengan segera saat Jeremy menjawab panggilannya.


Jeremy mengarahkan kameranya pada sosok cantik yang tengah terbaring tersebut. Seketika Riana membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Matanya meneteskan cairan bening. Ia tidak pernah menyangka akan melihat Reva dalam kondisi seperti ini.


“Re…” lirih Riana dengan suara bergetar. Saat itupun suara bayi kecil itu ikut terdengar menangis dengan kuat. Riana segera menggendong putra kesayangannya dan menunjukkannya pada Reva. “Re, liat anak gue nanyain lo….” Lanjutnya dengan suara terbata-bata. “Dia nanya, kenapa onty rerenya masih belum juga dateng buat main sama dia.”


Pandangan Riana beralih pada wajah bayi kecilnya yang tak henti menangis. Ia seolah bisa merasakan kesedihan yang sedang di rasakan sang ibu. Ingin sekali Riana berlari menghampiri Reva dan memeluknya dengan erat. Tapi semua tidak bisa ia lakukan. Bahkan tubuhnya sudah merasa lemas sebelum berada tepat di samping Reva.


“Re, lo udah tidur terlalu lama… Ayo bangun , ajak main edgar.” Lagi-lagi kalimat Riana terdengar begitu pilu. Tidak ada suara apapun dari Reva selain bunyi monitor yang terdengar konstan.


Riana mengakhiri panggilannya. Ia benar-benar tidak sangup melihat Reva dalam kondisi seperti itu. Setelah membaringkan Edgar, ia menangis sejadinya, meluapkan semua kesedihan yang bersarang di dadanya.


****


Dari jendela kamar perawatan Reva, Alea memandangi Reva yang masih terbaring tidak berdaya. Sampai saat ini, ia masih belum berani mendekati Reva. Ia tidak bisa membayangkan, jika Reva terbangun apa yang harus ia katakan. Lalu apa Reva akan memaafkannya begitu saja?

__ADS_1


Kalau saja, hatinya tidak diliputi rasa iri. Kalau saja ia tidak mendengarkan saran kedua temannya untuk mengerjai Reva dan kalau saja Reva tidak mengorbankan dirinya demi melindungi Alea, mungkin saat ini Alea masih memiliki keberanian untuk berada di antara keluarganya.


Ya, Alea memang tidak pernah berniat untuk mencelakakan Reva. Ia hanya ingin menakut-nakuti Reva dan membuatnya mengerti perasaan yang ia rasakan setelah kepulangan Reva.


Karena rasa iri dan tersisih, Alea mengiyakan ide dari kedua sahabatnya untuk menyewa preman dan pura-pura di culik. Tapi ia tidak pernah menyangka jika di tengah perjalanan ternyata kelompok preman itu berbalik menyerangnya dan Reva menjadi satu-satunya korban.


Alea kembali tertunduk, bagaimana bisa ia sebodoh dan sejahat ini.


Adalah Ratna yang kini duduk di samping Reva sambil menggenggam tangannya dengan erat. Ia mengusap kepala Reva dengan penuh kasih. Matanya berair dengan isakan lirih yang keluar dari mulutnya. Bibirnya tak henti melantunkan do’a untuk putri tercintanya.


“Re,… ini ibu nak…. Apa kamu denger suara ibu?” lirih Ratna seraya mengecup tangan sang putri.


Tidak ada respon dari Reva, namun perlahan detak jantungnya yang sedari tadi tak beraturan, mulai terlihat membaik. Raka yang melihat hal tersebut dari luar, segera memanggil dokter Wisnu. Saat dokter Wisnu melihatnya, ia hanya terangguk seraya tersenyum.


“Biarkan ibu menemaninya…” ujar Dokter Wisnu seraya menepuk pundak Raka.


Raka terangguk paham. Ternyata memang hanya Ratna yang bisa membuat Reva benar—benar merasa tenang. Tidak ada yang bisa menggantikan kasih seorang ibu yang menyayanginya tanpa alasan apapun selain karena sebuah ketulusan.


*****


Siang itu, Alana tengah menikmati makan siangnya di taman belakang bersama Bi Inah. Popo, boneka kesayangannya menjadi teman setianya melewati hari-hari. Meski Alea saat ini sedang ada di rumah keluarga Wijaya, tapi ia sangat jarang sekali keluar kamar. Mereka tidak pernah bersama-sama untuk makan sekalipun.


“Non lana, itu kalung dari siapa?” tanya bi Inah yang memperhatikan kalung yang baru di pakai Alana.


Alana tersenyum, ia memainkan kalung yang melingkar di lehernya. “Ini dari Kak raka bi. Katanya ini nama aku sama kak raka. Bagus ya?”


“Iyaa, kalungnya sangat cantik.” Ujar Bi Inah.

__ADS_1


Sebenarnya Bi Inah tau, tengah malam tadi Raka diam-diam datang dan masuk ke kamar nona kecilnya. Dan ternyata ia memberikan hadiah ini untuk Lana.


“Bi, mamih sama papih belum ada nelpon ya? Hari ini kan aku ulang tahun…” tutur Lana dengan wajah sendunya.


“Belum non… Mungkin nyonya sama tuan masih ada pekerjaan, tapi kan kadonya udah nyampe.”


Bi Inah mengingatkan Lana pada sebuah kado besar yang ada di ruang tamu bersama kado-kado lain dari karyawan dan rekan kerja Indra dan Nida. Tidak ada satupun yang ia buka.


“Lana cuma pengen ketemu mamih sama papih. Pengen tiup lilin bareng, potong kue bareng terus main seharian sama mamih papih.” Tutur gadis kecil tersebut dengan mata berkaca-kaca.


Setiap tahunnya, Lana memang hanya melewati ulang tahunnya dengan Bi Inah atau keluarga Adiyaksa. Tidak pernah sekalipun di temani kedua orang tuanya.


“Apa aku harus sakit dulu ya baru mamih sama papih pulang?” lirih Alana dengan putus asa.


“Husshhh… Non lana gag boleh ngomong gitu, pamali.” Ujar Bi Inah seraya menyuapkan kembali makanan ke mulut Alana, tapi Alana hanya menggeleng dan menutup mulutnya rapat-rapat. “Non lana harus sehat, cepet-cepet tumbuh besar biar nanti bisa nyusul nyonya dan tuan ke inggris.” Bi Inah berusaha menyemangati.


Alana hanya menghela nafas dalam, entah apa yang kini dirasakan dan dipikirkan oleh gadis polos ini.


“De, ada telpon dari tante niken.” Ujar Alea dengan tiba-tiba.


Alana segera berdiri, wajahnya kembali ceria.


“Oh iya? Apa katanya kak?”


“Kamu di suruh datang ke taman bermain. Tante Niken nunggu di sana.” Ujar Alea tanpa basa basi lagi dan segera pergi.


Terlihat jelas wajah kesal Alea. Bagi Alea lagi-lagi , keluarga Adiyaksa hanya menanyakan Alana dan mengajaknya pergi. Tapi sayangnya bukan ke taman bermain, Niken menjanjikan mereka bertemu di kediaman keluarga Adiyaksa. Alea hanya ingin mengerjain Alana dan membuatnya sedikit menunggu dan bersedih karena tidak kunjung bertemu dengan mamah yang selalu ia banggakan.

__ADS_1


Alana melonjak kegirangan. Ia segera mengajak Bi Inah untuk membantunya berganti pakaian. Tidak banyak waktu yang Lana habiskan untuk bersiap. Setelah terlihat manis dengan dress berwarna pink favoritnya, ia segera meminta supir untuk mengantarnya ke taman bermain.


*****


__ADS_2