Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 132


__ADS_3

“Rere sayaaaangg…” teriak Niken saat melihat Reva yang sudah menunggunya di sebuah resto yang berada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di jakarta.


“Mamah, gimana kabarnya? Rere kangen sama mamah…” Reva masuk ke pelukan Niken yang mendekapnya dengan erat.


“Kabar mamah baik nak.. duh liat ini anak mamah masih aja kurusan. Padahal mamah liat Raka jadi gemukan. Kamu kecapean yaaa ngurus kerjaan sama raka yang rewel?” ujar Niken seraya memperhatikan tubuh Reva yang sebenarnya memang tidak ada perubahan.


“Hem… nggak kok mah, mas raka gag rewel, kalo manja sih iyaa…” cetus Reva yang setengah berbisik di telinga Niken.


“Hahaha kalo itu sih dari dulu. Tapi,kok raka gag ikut juga sayang?”


“Iya mah, mas raka ada launch meeting sama klien baru katanya. Dia juga ada closing proyek siang ini. Okey, mamah mau makan apa nih?”


Reva menyerahkan buku menu pada Niken. Niken mulai memilih menu untuk makan siangnya. Mereka mengisi makan siang ini dengan obrolan hangat khas ibu-ibu. Ia bercerita tentang brand tas terkenal yang mengeluarkan merek terbaru sampai salon ternyaman yang Niken sambangi akhir-akhir ini. semua terasa begitu menyenangkan bagi niken, berbicara dengan Reva yang memahami benar dirinya.


“Mah, rere ke toilet bentar yaa… “ pamit Reva saat ia merasakan keinginan berkemihnya.


“Iya nak…” jawab singkat Niken.


Reva segera berjalan menuju toilet wanita. Tidak lama waktu yang ia habiskan untuk memenuhi keinginannya. Saat kembali dari toilet, terlihat seorang pelayan berjalan dengan tidak seimbang membawa baki yang berisi minuman.


Ia hampir menabrak Reva, namun dengan segera Reva menahan pelayan tersebut dan baki pun berpindah ke tangan Reva dengan cepat. Hanya saja beberapa minuman tumpah ke baju Reva.


“Astaga, maaf bu, saya tidak sengaja. Saya benar-benar tidak sengaja.” Pelayan wanita tersebut tertunduk di hadapan Reva.


Perhatian orang-orang kini tertuju pada Reva dan pelayan tersebut.


“Ada apa ini?” seorang laki-laki berjas menghampiri Reva dan pelayan tersebut. Matanya membulat, melototi pelayan yang kini tertunduk.


“Maaf pak, tadi saya hampir menabrak ibu ini, tapi dia menolong saya dan sekarang bajunya kena tumpahan minuman.” Terang pelayan tersebut dengan suara bergetar.


“Aduh mohon maaf bu. Perkenalkan saya daniel, manajer resto ini. Mohon maaf atas kecerobohan pegawai saya. Saya akan bertangung jawab atas semuanya.” Ujar Daniel dengan wajah indo namun bahasa indonesianya sudah sangat fasih. Sepertinya ia lama tinggal di indonesia.


“Oh tidak apa-apa pak daniel. Saya reva.” Reva membalas uluran tangan Daniel.


Daniel segera meminta pelayan tadi mengambil baki yang ada di tangan Reva. Dengan patuh ia menuruti bosnya. Berkali-kali ia meminta maaf sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Daniel dan Reva.


Di belakang Daniel, terlihat seseorang berjalan ke arah Daniel dan Reva. Sepertinya perhatiannya teralihkan saat mendengar suara Reva.


“Reva, masih ingat saya?” tanya laki-laki tersebut.


Reva seperti mengingat sosok yang ada di hadapannya. Tampilan maskulin dengan mata kebiruan, tentu saja ia tidak akan lupa begitu saja.


“Saya theo…” sambung laki-laki tersebut seraya mengulurkan tangan.


Bagaimana mungkin Reva bisa lupa, pada laki-laki yang mabuk saat di acara ulang tahun Alea dan memanggilnya “Pelacur.”

__ADS_1


Reva tersenyum tipis, “Tentu saya ingat.” Sahut Reva yang membalas sejenak uluran tangan Theo.


Mungkin Theo tidak ingat apa yang sudah ia katakan dan ia lakukan pada Reva karena saat itu ia mabuk. Tapi tidak demikian dengan Reva, ia mengingat benar tatapan rendah yang Theo berikan padanya dulu.


“Oh rupanya bu reva mengenal pak theo. Kebetulan pak theo adalah owner dari resto ini. Senang bisa bertemu dengan bu reva.” Daniel berusaha mencairkan kecanggungan di antara mereka.


Lagi, Reva hanya tersenyum tipis. “Baik kalau begitu saya permisi dulu.” Pamit Reva.


“Tapi, baju bu reva?” Daniel menunjuk baju Reva yang memang basah terkena minuman.


“Tidak apa-apa, kebetulan ibu saya sudah menunggu. Saya permisi.” Reva mengangguk sebelum benar-benar pergi.


Daniel dan Theo pun hanya terdiam memandangi Reva yang berlalu dengan cepat. Dari kejauhan terlihat Niken yang begitu panik saat melihat baju Reva yang kotor karena minuman yang tertumpah.


“Arya..” Panggil Theo pada orang kepercayaannya. Laki-laki itupun segera mendekat.


“Iya pak…” Arya mendekatkan tubuhnya pada Theo.


“Cari tahu tentang dia. Beritahu saya sore ini.” Titah Theo, yang tentu saja tidak akan bisa di tolak Arya.


Bibir Theo melengkungkan sebuah senyuman yang sulit di artikan. Danniel melirik Arya, yang jelas paham maksud bos besarnya.


****


Theo masih terduduk di singgasananya seraya memainkan pendulum newton yang ada di atas mejanya. Bibirnya melengkungkan senyum saat teringat sosok cantik yang di temuinya siang ini. Ia masih mengingat jelas pukulan telak yang mendarat di pipinya saat Reva marah. Dan ia pun masih mengingat dengan jelas pertemuan pertamanya dengan Reva.


“Alea, mana abang lo, it's too long we've been waiting for it”cetus Theo yang merasa sudah bosan menunggu Edho.


“He picked up his girlfriend first, “ sahut Alea dengan santai sambil melihat kesekelilingnya.


“Girlfriend? which other girl is he dating?” tanya Theo yang sudah tidak asing mendengar Edho memiliki pacar baru.


Alea tidak menjawab. Ia menunjuk sosok yang baru datang bersama Edho.


Adalah Reva yang saat ini berjalan di samping Edho. Mereka tengah tertawa renyah entah membahas apa. Theo memincingkan matanya guna memperjelas penglihatannya. Semakin lama, ia semakin menikmati pemandangan cantik di hadapannya. Tawanya, binar matanya dan sosoknya yang nyaris tanpa celah. Theo menyentuh dada kirinya yang rasanya berdegub kencang.


“Hay bro, what are you seeing for?” suara Edho menyadarkan Theo dari lamunannya pada sosok cantik yang ada di hadapannya.


Theo menggaruk kepalanya walau tidak gatal. Baru sepersekian detik lalu ia menyadarkan dirinya dari pesona Reva yang menariknya.


“Your girlfriend hah?” Theo menunjuk Reva.


“Yaps!” sahut Edho seraya menonjok bogem Theo sebagai tanda toas.


“Reva…” ujar Reva seraya mengulurkan tangannya. Dan dengan segera Theo menyambut uluran tangan Reva.

__ADS_1


Tidak banyak percakapan diantara keduanya, tapi sedari tadi pandangannya tak lepas dari sosok yang selalu tersenyum tersebut. Dari sekian banyak wanita yang Edho kenalkan pada Theo sebagai pacarnya, entah mengapa jantungnya harus ikut bergetar saat melihat sosok Reva.


*****


Alea dan teman-temannya mengajak Theo untuk hiking dan camping semalam. Selama mendaki, sosok Reva tidak pernah jauh dari Edho. Ia tetap terlihat energik walau gunung yang di daki cukup tinggi. Edho menggunakan sebatang ranting untuk Reva berpegangan dengan dirinya. Tangan mereka tidak bersentuhan langsung tapi itu terlihat sangat manis bagi Theo. Dan baru kali ini Theo melihat Edho memperlakukan pacarnya dengan istimewa.


Tiba di area camping, udara dingin mulai menyergap. Mereka sudah selesai mendirikan tenda dan Theo sudah menyimpan semua barang bawaannya di dalam tenda. Saat keluar tenda, ia melihat Edho yang sedang berdiri di hadapan Reva.


“Disini dingin banget, pastikan lo gag ngelepas jaket ini yaa…” ujar Edho seraya menutupkan hoodie di kepala Reva.


“Thanks dho. Ini minuman lo.” Reva memberikan secangkir minuman hangat untuk Edho dan dengan senang hati Edho menerimanya. Mereka duduk di hadapan api unggun, menikmati suasana pegunungan yang sangat segar.


Theo ikut bergabung dengan Reva dan Edho. Mereka terlihat asyik bersenda gurau. Reva mengambilkan minuman hangat yang sama untuk Thoe dan memberikannya.


“Thanks!” ujar Theo yang di angguki Reva seraya tersenyum.


Obrolan demi obrolan terus mengalir. Theo begitu menikmati masa-masa itu, masa ia melihat Reva bicara dengan suaranya yang lembut, masa Reva tertawa dengan renyahnya, masa Reva mengedipkan mata bahkan masa-masa Reva mengubah air  wajahnya yang begitu ekspresif.


Theo tidak terlibat dalam obrolan tersebut, ia dengan pikirannya sendiri tentang Reva.


“Gue nyiapin makan dulu ya bareng lea.” Pamit Reva kemudian.


“Okey, gue tunggu di sini dan cepet balik lagi.” Timpal Edho yang di angguki Reva.


Reva pun melambaikan tangannya pada Theo yang tampak gelagapan.


“She’s so beautiful right?” tanya Edho yang menyadari sedari tadi Theo terus memperhatikan Reva.


Tapi sepertinya Reva tidak menyadari apapun, karena fokusnya hanya pada Edho. Laki-laki yang membayarnya untuk menjadi pacar pura-puranya. Edho sangat menyukai setiap perlakuan Reva yang seolah-olah memang pacarnya. Semua sangat alami, dan Edho bahkan mulai terbawa perasaan.


Theo hanya terangguk.


“She is mine. Never keep her in your mind.” Tegas Edho dengan penuh kesungguhan.


Theo hanya tersenyum tipis. “You are late. She’s already in my heart.” Batin Theo.


Theo menyesap minumannya dengan nikmat seolah ini adalah minuman terenak yang pernah ia dapat. Ya, minuman ini ia dapat dari Reva dengan banyak ketulusan dan senyum manis yang menghangatkan hatinya.


Sejak saat itu, Ia mencari celah di antara Edho dan Reva. Ia pun mencari tahu semua tentang hubungan Edho dan Reva, hingga akhirnya terbongkar sudah bahwa Reva hanya pacar bayaran Edho.


****


 


Rakaa, lo siap-siap bakal ada saingan berat!!!

__ADS_1


Tertanda, Fery ;D


__ADS_2