
“Mau kemana re?”
Tita tiba-tiba muncul di hadapan Reva dan menghadang langkahnya. Usahanya untuk pergi diam-diam gagal begitu saja.
“Hehe… mau keluar bentar, ada janji.” Sahut Reva sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Mata Tita terlihat menyelidik. Sepertinya ia mencium bau-bau kebohongan. Ia berjalan mengelilingi Reva dan menyilangkan tangannya di dada, persis polisi yang sedang menyelidik tersangka.
“Lo kayaknya punya pacar ya re?” terka tita, 100% tepat. Reva tercengang, wajahnya terlihat pias seketika. Ia menelan ludahnya dengan kasar dan berusaha tersenyum.
“Hah, mana ada ta…” Reva berusaha berkilah.
“Gue gag percaya!” sorot mata Tita semakin tajam. “Akhir-akhir ini , lo sering makan siang di luar, pergi diem-diem dan sering liatin handphone mulu. Kalo bukan gara-gara punya pacar, terus apa lagi?” cerca Tita yang masih kukuh dengan keyakinannya.
“Hehe… Nanti gue cerita, sekarang gue pergi dulu okey!” Reva menepuk bahu Tita perlahan. Tita mendenguskan nafasnya kasar. Lagi-lagi ia gagal mencari info dan Reva pergi begitu saja.
“Awas ya, kalo lo bohong!!” seru Tita. Reva hanya mengacungkan jempol kanannya sambil berlari kecil menuju lift.
***
Raka memarkirkan mobilnya di halaman sebuah resto bintang lima. Mata Reva membulat saat melihat mewahnya resto tersebut dengan mobil-mobil mahal yang keluar masuk dari area parkirnya.
“Kita makan di sini?”
Reva menatap Raka dengan gusar. Raka hanya mengangguk kemudian turun dari mobilnya. Sementara Reva masih terdiam di sini, ia membayangkan berapa banyak uang yang harus dikeluarkan hanya untuk sepiring nasi yang mengisi perutnya.
“Yuk turun…”
Raka membukakan pintu untuk Reva. Andai saja ia bisa memilih tempat makan lain, mungkin langkahnya tidak akan seberat ini.
Reva turun dari mobil dan Raka mengulurkan tangannya begitu saja.
“Ini kan di luar kantor…” Raka tersenyum dengan manjanya. Ragu-ragu Reva menyambut uluran tangan Raka namun Raka menggenggamnya dengan erat, seolah enggan untuk berpisah.
Reva dan Raka memasuki resto dengan desain mewah. Beberapa pelayan menyambut kedatangannya.
“Silakan tuan…”
Seorang pelayan menunjukkan sebuah meja dengan tulisan “Resevered” di atasnya. Raka menarikkan kursi untuk Reva lalu duduk di sampingnya. Beberapa menu makanan sudah tersaji dan mulai di buka satu-per satu penutupnya. Rasanya pijaran cahaya menyilaukan mata Reva yang memandang satu per satu menu mewah di hadapannya.
“Kita gag salah tempat kan?” bisik Reva di telinga Raka.
Raka hanya menggeleng lalu tersenyum. “Makanlah, semua buat kamu sebagai perayaan jadian.” Goda Raka yang mengedipkan mata kananya.
“Perasaan tiap hari kamu bilangnya perayaan jadian deh.” Dengus Reva yang begitu familiar dengan kata-kata Raka akhir-akhir ini. Raka kembali tersenyum, ia mengusap kepala Reva dengan lembut lalu mengecupnya penuh perasaan. “Ish , ini tempat umum, jangan aneh-aneh ah…”
Reva berusaha menjauh dari Raka.
“Tadi di kantor katanya profesional, masa di sini juga gag boleh…” Raka mengusap lembut pipi halus Reva dengan jemarinya.
“Raka, malu tau diliatin gitu.” Reva menarik tangan Raka dan menggenggamnya di samping tubuhnya. Pelayan yang berdiri dihadapan Reva hanya tertunduk, sepertinya ia sedang pura-pura tidak melihat.
Raka menatap pelayan yang beberapa kali menurutnya curi-curi pandang pada Reva, tanpa kata pelayan sepertinya paham arti tatapan Raka dan iapun pamit.
“Aku ke toilet sebentar.” Bisik Reva yang segera berdiri dan meninggalkan Raka.
Ia benar-benar sedang menghindar karena Raka semakin menempel padanya akhir-akhir ini.
“Jangan lama-lama..” seru Raka dengan yang membuat semua pandangan tertuju pada Reva dan Raka.
Tapi Raka tidak peduli. Ia hanya tersenyum kecil, berbeda dengan Reva yang segera pergi karena malu.
****
__ADS_1
Suasana di toilet lumayan ramai. Wanita-wanita cantik itu sedang berdiri di hadapan cermin besar dan mematut dirinya. Reva masuk ke salah satu ruang toilet dan menuntaskan keinginan miksinya. Tidak butuh waktu yang lama, ia kembali keluar dan mencuci tangannya.
Di pintu masuk toilet, tampak seorang wanita paruh baya yang berjalan dengan steleto 7 cm. ia berjalan dengan anggun namun tiba-tiba
“Awww!”
Wanita itu hampir terjatuh karena menginjak genangan air. Beruntung dengan cepat Reva menangkap tubuhnya.
“Ibu ga pa-pa?” Reva membantu wanita itu untuk kembali berdiri.
“Ga pa-pa nak, “ ia berusaha berdiri tegak di atas kedua kakinya. “Aw!” ia kembali mengaduh dan memegangi kakinya yang berdenyut nyeri.
“Kaki ibu sepertinya keseleo. Coba saya liat”
Wanita itu meringis menahan sakit. Reva memapahnya dan mendudukan wanita itu di salah satu bangku dekat toilet. Lalu berjongkok melihat kaki wanita itu yang kebiruan. Reva menekan lembut area yang kebiruan dan ia kembali meringis.
“Tahan sebentar ya bu, ini agak sakit tapi ibu akan mendingan.”
Ia hanya mengangguk pasrah saja. Reva menempatkan kaki wanita itu di atas pahanya. Dengan lembut ia memijat, awalnya terasa sangat sakit tapi semakin lama semakin berkurang rasa sakitnya.
“Ini masih bengkak, jadi di rumah harus di kompres. Ibu ada yang nemenin, biar saya antar ke keluarga ibu?”
“Terima kasih nak, tapi ada anak ibu di sini, mungkin dia sedang menunggu ibu.” Terang wanita itu dengan senyum tipisnya.
“Kalau gitu, ibu pake sepatu saya, ini gag ada heelsnya, tapi mungkin agak besar.” Reva melepaskan sepatunya dan menempatkannya di kaki wanita itu.
“Tapi nanti kamu gag pake sepatu nak…”
“Ga pa-pa bu, kaki saya baik-baik saja. Ibu lebih perlu dari saya.” Tukas Reva.
Wanita itu menatap Reva dengan hangat. Bibirnya melengkungkan senyum penuh kekaguman pada gadis muda di hadapannya.
“Ayo bu saya bantu…”
Reva berdiri di samping wanita itu dan memapahnya. Ia mulai melangkahkan kakinya yang sudah lebih baik. Mereka keluar toilet dan wanita itu tampak celingukan seperti mencari seseorang yang dikenalnya.
Ada 2 laki-laki di sana dengan 2 meja yang berbeda dan Reva segera melangkah menuju laki-laki itu.
Di waktu yang bersamaan, laki-laki itu menoleh dan Reva berdiri tepat di hadapannya.
“Mamah? Reva?” ujar Raka yang kebingungan.
Reva dan wanita yang tak lain adalah Niken saling bertatapan. Yang ditemuinya adalah laki-laki yang sama.
“Ini?” Niken menatap Reva yang berada di sampingnya.
“Ini Reva mah, pacar Raka. Kok kalian bisa ketemu?”
Raka benar-benar tidak menyangka, 2 wanita yang dicintainya berdiri tepat di hadapannya. Niken hanya mengangguk seraya tersenyum, sementara Reva masih terdiam.
“Oohhh jadi kalian…” Niken menunjuk Reva dan Raka bergantian. Sebuah senyuman tak lepas dari bibir merah Niken.
Raka mengangguk dengan yakin.
“Kamu kenapa gag pake sepatu re?” perhatian Raka tertuju pada sepasang kaki Reva yang telanjang. Reva hanya tersenyum tipis.
“Ibu duduk dulu, nanti baru cerita.” Reva terlihat gugup karena ternyata yang di papahnya adalah ibunda kekasihnya.
Niken mengikut saja. Raka menarikkan kursi untuk Niken dan membantunya duduk. Sementara Reva mengangkat kaki Niken dan menempatkanya di kursi yang lain agar tidak menggantung. Raka dan Niken saling bertatapan, gadis di hadapannya benar-benar lembut dan telaten. Mereka saling tersenyum satu sama lain.
****
“Tante gag nyangka, ternyata Raka pinter cari pacar, pantesan nyarinya lama banget.” Goda Niken sambil mengusap bahu Raka.
Reva berusaha tersenyum lalu menelan makannannya bulat-bulat. Ia belum pernah berbicara dengan ibu dari kekasihnya, membuatnya gugup setengah mati.
__ADS_1
“Nak reva udah kenal lama sama raka?”
Mendengar pertanyaan Niken, entah mengapa ia merasa akan ada pertanyaan-pertanyaan lain yang menggali tentang dirinya.
“Saya dan ra… maksud saya, saya dan mas raka belum kenal lama tante. Kami teman sekampus dan sekarang magang bareng.” Terang Reva yang dengan sadar mengganti panggilannya pada Raka.
Raka tersenyum simpul, akhirnya Reva memberinya panggilan kesayangan.
“Mah, Reva ini mahasiswi yang cerdas, dia bikin tempat magangnya saat ini dapet banyak proyek. Dia juga suka bunga kayak mamah. Selain itu, masakannya enak.” Puji Raka tanpa segan.
“Oh ya? Lain kali, main ke rumah tante yaa… Kita bisa masak bareng ato main sama bunga-bunga di taman pribadi tante.” Tawar Niken dengan ramah.
“Terima kasih tante, lain kali saya main ke rumah tante.”
Reva mulai menikmati suasana berbincangnya dengan Niken. Perlahan rasa gugupnyapun memudar.
“Nak Reva rumahnya dimana? Orang tua nak reva pasti bangga punya anak baik seperti nak reva.”
Pujian Niken, terasa seperti undangan bagi Reva untuk memberitahukan identitasnya. Reva terdiam sejenak, ia berusaha memilah kata yang cocok untuk menggambarkan identitasnya.
Raka menatap Reva yang terlihat kembali canggung, ia menggelengkan kepalanya agar Reva tidak menanggapi pertanyaan yang menurutnya terlalu pribadi. Bagaimanapun ia ingin menghargai privasi kekasihnya.
Terdengar Reva menghela nafas dalam-dalam, dengan segenap keberanian ia mengangkat wajahnya lalu tersenyum seraya menatap Niken dengan percaya diri.
“Saya hanya punya ibu yang mengurus saya sejak kecil. Beliau tingggal di bogor dan bekerja sebagai seorang petani.” Terang Reva dengan yakin. Suaranya terdengar bergetar di akhir kalimat.
Raka dan Niken tertegun mendengar jawaban Reva. Ia tidak malu mengakui status sosialnya. Terlihat Reva berusaha tersenyum dan kembali menikmati suapan nasi di sendoknya.
Tanpa Reva sangka, Niken menggenggam tangan Reva dengan erat. Ia tersenyum dengan hangat.
“Kalau tante menjadi ibu kamu, tante akan merasa sangat bangga memiliki putri sepertimu. Kelak kamu pasti bisa membuat ibumu lebih bangga reva…”tutur Niken dengan penuh kesungguhan.
“Terima kasih tante…”
Kembali sebuah senyuman terukir di bibir Reva. Untuk kesekian kalinya, Reva begitu memukau bagi Raka. Wanita kuat dengan segala kejujurannya.
Hening mengambil alih suasana. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang sesekali saling beradu dengan piring yang mereka gunakan.
Niken tampak tersenyum memperhatikan Reva yang tengah menikmati makanannya. Ia tampak menyingkirkan beberapa seledri yang ada di piringnya lalu menempatkannya di pinggiran kemudian kembali menyuapkan makanan ke mulutnya setelah bersih dari serpihan seledri.
“Nak reva, gag suka seledri?” Niken terlihat penasaran dengan yang dilakukan Reva. Reva hanya terangguk seraya tersenyum. “Apa termasuk makan bubur tanpa di aduk?”
Reva kembali terangguk. “Kok tante tau?” kali ini Reva yang menatap penasaran pada Niken.
Niken hanya tersenyum. “Dulu, salah satu keluarga kamipun memiliki kebiasaan yang sama dengan nak Reva.” Kenang Niken dengan wajah sendu dan mata berkaca-kaca.
Raka yang menyadari perubahan suara sang ibu, ikut mengalihkan pandangannya pada Niken.
“Tapi semua orang bisa memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dan mirip, iya kan nak reva?” Niken berusaha mengusir kegundahannya, saat ingatannya kembali membawanya pada sosok gadis kecil yang terasa duduk di hadapannya.
“Iya tante…” aku Reva yang melirik Raka penuh tanya. Walau tidak mengerti benar hal apa yang membuat Niken mengubah raut wajahnya, Reva yakin ada sesuatu yang mengganjal perasaan niken hingga saat ini.
“Lagian kenapa juga seledri harus disisihin? Kan kasian mereka. Terus bubur gag di aduk, padahal kalo di dalem perut kan mereka gabung juga.” Celoteh Raka berusaha mencairkan kembali suasana.
“Mas raka suka baso?” tanya Reva kemudian. Raka hanya terangguk. “Suka coklat?” tanyanya lagi. Raka kembali terangguk. “Pernah nyobain di makan bareng?” kali ini Reva tersenyum simpul di akhir kalimatnya.
“Ya nggak lah re…” Raka bergidik geli mendengar pertanyaan Reva.
“Buat aku ya kayak gitu, rasanya berubah kalo mereka di campur.” Cetus Reva sambil menyuapkan nasinya dengan santai.
“Astaga, analogi kamu gag masuk akal re….” Raka berdecak gemas. “Tapi boleh juga tuh di coba, baso isi coklat.” Cengirnya dengan acuh.
“Boleh, nanti mamah bikinin, kamu yang nyicip ya nak..” sahut Niken sambil menyentuh bahu Raka.
“Ihhh mamah, nggak ah!” Raka kembali bergidik geli yang di sambut tawa renyah dua wanita di hadapannya.
Suasana kembali menghangat, dengan celotehan-celotehan receh dari Raka dan Reva. Niken bisa tertawa hingga meneteskan air mata karena geli mendengar celotehan muda-mudi di depannya. Di sudut hati Raka ia mengucap syukur, ia bisa kembali melihat tawa Niken yang sudah sangat lama ia rindukan.
__ADS_1
****