
Raka terdiam sendirian di kamarnya. Sisa-sisa pecahan kaca dan make up yang terserak masih berada di tempatnya. Raka membaringkan tubuhnya di lantai. Kerlipan matanya pun terasa berat dengan nafas yang sesak. Andai saja ia tidak terjebak pada permainan Laras, mungkin semuanya tidak akan seperti ini.
Pembahasan investasi berjalan lancar, semua peserta rapat telah selesai menyampaikan presentasinya termasuk Raka. Mereka berkumpul untuk merayakan hal tersebut, beberapa hal telah mereka sepakati dan besok adalah penandatanganan berkas kerjasama investasi secara ceremonial.
“Toas!” seru mereka bersamaan yang diikuti tawa yang renyah.
Ada 8 orang peserta rapat yang sebagian besar adalah investor dan 3 di antaranya adalah investor asing. Raka tampak akrab berbincang dengan para rekan bisnisnya, mereka membahas rencana jangka panjang untuk proyek yang sudah berjalan lebih dari 70%.
“Saya melihat banyak sekali keuntungan yang akan kami raih dari kerjasama ini, pak raka sunguh pengusaha muda yang brilian.” Puji salah satu investor pada Raka.
“Terima kasih, tapi saya masih perlu banyak belajar. Dan hal ini pun tidak lepas dari peran rekanan kami, pak theo.” Raka mengangkat salut gelasnya pada Theo dan Theo membalasnya dengan anggukan yang sama.
“Ya, GN terkenal dengan tingkat kemajuan proyek yang besar dan rasanya saat ini sudah menjadi raksasa bisnis ini.” Lagi-lagi laki-laki ini memuji yang kali ini di tujukan pada Theo.
“Terima kasih, saya pastikan bisnis ini akan menguntungkan kita semua.” Sahut Theo yang di sambut tawa dari para koleganya.
“O iya pak raka, ada beberapa berkas yang harus saya serahkan pada pak raka, bisa ikut saya sebentar?” ujar Laras yang menjadi satu-satunya wanita di acara rapat ini.
Raka hanya terdiam, ia masih berusaha membaca maksud Laras.
“Jangan salah sangka, ayah saya sudah menyerahkan kerjasama ini pada saya, cuma berkasnya tertinggal di kamar saya. Pak raka bisa mengambilnya sekarang kalau ada yang ingin di pelajari dulu.” Terang Laras yang sepertinya melihat keengganan Raka.
“Hem, baiklah.” Begitu sahutan singkat Raka.
Raka meletakkan gelasnya di meja dan berjalan bersama Laras menuju kamarnya yang berada tidak jauh dari kamar Raka.
“Saya salut, pak raka bisa meyakinkan para investor hanya dalam 1 pertemuan, sungguh bakat bisnis yang langka.” Puji Laras tanpa segan.
Raka hanya tersenyum tipis. “Pada prinsipnya, saya hanya tidak ingin merugikan siapapun dalam urusan apapun, terlebih ini adalah bisnis besar yang menyangkut kepercayaan orang lain.” tandas Raka.
Laras terangguk setuju dengan pemikiran Raka, untuk kesekian kalinya ia kembali terpukau dengan pemikiran laki-laki di hadapannya.
“BIP!” suara pintu kamar Laras terbuka. Wangi parfum wanita tercium jelas saat pintu terbuka semakin lebar.
“Saya tunggu di sini.” Ujar Raka dengan segera.
“Baik, tunggu sebentar ya.” Sahut Laras.
__ADS_1
Laras segera masuk ke kamarnya. Ia mencari berkas yang akan ia berikan pada Raka.
“PRANK!”
Suara pecahan kaca terdengar jelas.
“Awww!!” bersahutan dengan suara Laras.
Raka terperanjat, tanpa berfikir panjang ia segera masuk ke kamar Laras.
“Bu laras, ada apa?” Raka melihat tetesan darah dari tangan Laras.
“Ini, saya tidak sengaja menyenggol gelas dan malah jatuh. Pas mau saya ambil, pecahannya malah kena tangan saya.” Terangnya yang meringis kesakitan.
“Oh, mari saya bantu.”
Raka segera menyingkirkan pecahan kaca dengan kakinya yang masih terbungkus sepatu. Ia membawa Laras untuk duduk di sofa. Luka di tangan Laras memang tidak terlalu dalam tapi darahnya masih belum berhenti.
Raka mengambil air dingin dari lemari pendingin, ia memegang tangan Laras dan memasukkannya kedalam air tersebut untuk menghentikan perdarahan. Laras tersenyum tipis, dari jarak yang cukup dekat, laki-laki dingin ini benar-benar menggodanya.
“Kalau gitu, bu laras istirahat dulu. Masalah berkas kita bahas nanti saja.” Raka segera beranjak dari duduknya.
“Ah tunggu, sebentar saya ambilkan.” Laras menahan tangan Raka dan dengan cepat Raka melepaskan tangan Laras. “Maaf..” hanya itu ucapan Laras kemudian.
Raka kembali duduk saat Laras pergi untuk membuka kopernya dan mengambil berkas yang ia maksud. Dalam beberapa saat Laras kembali dengan beberapa berkas dan segelas minuman di tangannya.
“Ini pak raka.” Laras menyodorkan berkas pada Raka.
“Terima kasih.” Raka mengambil berkas itu dan sedikit membuka-bukanya.
“O iya, ini di minum dulu, sebagai tanda terima kasih saya.” Kali ini Laras menyodorkan segelas minuman pada Raka.
“Oh tidak usah, saya tidak lama kok.” Tolak Raka.
“Ayolah pak raka, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih. Lagian ini bukan minuman beralkohol, hanya soda biasa saja.”
Dengan alasan menghormati koleganya, Raka pun menerima minuman tersebut. Ia meneguknya sedikit. Namun saat akan pamit pergi, tiba-tiba saja kepalanya terasa berat dan ia terjatuh tak sadarkan diri di samping Laras.
__ADS_1
*****
Raka masih terlihat tidak baik-baik saja. Terang saja, separuh jiwanya pergi di saat yang tidak pernah ia duga. Bahkan ia tidak tahu dimana keberadaan Reva saat ini. Sebuah kesalahan besar telah membuat Raka terpisah dari separuh jiwanya dan kini ia hanya bisa terpuruk dengan di temani Fery.
Setiap hari Raka pergi untuk mencari Reva, pagi sekali ia berangkat dan baru kembali ketika tengah malam. Ia tidak bisa percaya hanya pada orang-orang yang ia perintahkan untuk mencari Reva. Ia ingin mencarinya sendiri sesulit apapun dan memastikan Reva baik-baik saja.
Penampilannya kusut, tidak terurus sama sekali. Di setiap sudut rumah, yang ia lihat hanya bayangan Reva. Saat ia sedang berceloteh, merajuk bahkan tawanya terdengar jelas di telinga Raka. Betapa ia sangat merindukan sosok ceria yang selalu membuat harinya penuh semangat.
“Bro, lo harus makan. Lo udah 2 hari gag makan. Mau nyari reva gimana kalo lo kayak gini?” ujar Fery seraya menyodorkan sepiring makanan pada Raka.
Raka hanya memandanginya dengan tatapan nanar tanpa respon sedikit pun, ia masih berada dalam lamunannya dan semua tentang Reva berputar di kepalanya. Hanya kerlipan matanya yang terlihat berat bercampur dengan helaan nafas kasar. Fery merasa iba, ya sangat iba. Ia tidak pernah menyangka Raka akan berada dalam kondisi seperti ini. Rasanya lebih baik ia mendengar Raka yang terus meledeknya dari pada hanya melihat Raka terdiam tanpa bicara sepatah kata pun. Wajahnya pucat, seolah ia tidak lagi memiliki harapan hidup. Ini semua karena Laras, ya karena Laras.
Melihat Raka yang masih terdiam, Fery memutuskan sedikit menjauh dari Raka. Ia mengambil benda persegi dari dalam sakunya dan mulai menghubungi sebuah nomor.
“Hay fer…. Masih nyimpen nomor gue rupanya…” sahut suara Laras yang terdengar begitu memuakan bagi Fery. “Jangan bilang password handphone lo masih tanggal keramat itu.” Lanjut Laras tanpa menunggu jawaban apapun dari Fery.
Fery mengepalkan tangannya, rasanya baru kali ini ia membenci seorang wanita.
“Mau lo apa laras? Kenapa lo ganggu raka sama reva?” tanya Fery kemudian.
Terdengar kekehan yang seolah mengejek Fery dari mulut Laras. “Uuuhhh.. lo galak banget ya sekarang…” timpalnya tanpa memperdulikan kekesalan Fery. “Lo tau fer, harus selalu ada harga yang di bayar untuk sebuah tindakan. Iya kan?” lanjut Laras yang seolah sedang mengingatkan Fery pada sesuatu.
“Laras denger, berhenti ganggu raka sama reva. Lo gag ada urusan apapun sama mereka. Lo ganggu mereka, gue bakal bikin perhitungan sama lo!” Gertak Fery dengan raut wajah penuh kemarahan.
“Aduuhhh gue takut banget deh di ancam kayak gini… Fer… lo bencanda kan? Lo gag bener-benar lagi ngancam gue kan?” ujar Laras yang pastinya sedang mengejek Fery.
Fery hanya bisa mendengus kasar. Seperti dulu, Laras selalu menjadi seseorang yang sulit dikendalikan. Saat pertemuannya dengan Laras di bandara, Fery mengira Alea lah sasaran Laras, nyatanya ia salah.
“Lo tau gue, semakin lo larang, gue semakin bersemangat loh fer…” cetus Laras yang kemudian tertawa dengan renyah.
Rasanya kekesalan Fery sudah mencapai ubun-ubunnya. Ia memutuskan sambungan telponnya dengan Laras dan mengupat sebisanya.
****
Laaarrraaasss mau lo apa sih? Gue yang ngetik kok ikut emosi ya?
Well, tetep d tunggu like dan komen-nya ya reader sekalian... Terima kasih untuk dukungannya. Happy reading , Love
__ADS_1