
Lana sudah menunggu cukup lama berdiri di dekat pintu masuk taman bermain dan kakinya mulai terasa pegal, tapi ia masih belum melihat Niken di sekelilingnya.
“Mamah niken kemana ya?” lirihnya sambil melihat kesekeliling taman yang ramai dengan pengunjung di akhir pekan.
Tak lama berselang, datang 2 orang laki-laki bertubuh tegap dengan tampilan garangnya. Ia melihat sebuah foto kemudian setelah yakin dengan yang dilihatnya, ia mendekati Lana.
“Nona kecil, ikut dengan om.” Ujar laki-laki tersebut seraya menarik tangan Alana.
“Gag mau! Kalian siapa? Aku lagi nunggu mamah Niken!” teriak Alana sambil mengibaskan tangan laki-laki tersebut.
Tanpa berbicara sedikitpun, laki-laki itu segera menggendong Alana dan membawanya masuk ke dalam sebuah mobil dengan mulut terbekap. Alana meronta tapi tubuh kecilnya tidak cukup kuat. Dan tidak ada satu orang pun yang menyadari kepergian Alana termasuk sopir yang mengantar Alana yang menunggunya di kejauhan.
“Lepas! Aku gag mau ikut!” teriak Alana yang terus berontak. Namun kedua laki-laki itu mengabaikan teriakan Alana dan segera melajukan mobilnya dengan kencang.
Di jok depan duduk seorang laki-laki yang kini tengah menatap Alana. Laki-laki dengan wajah Eropa tengah tersenyum pada Alana. Tampilan elegan dengan kalung berliontin khas penampilan ningrat eropa dengan mata berwarna biru yang menatap Alana dengan lekat.
“Anak yang manis…” Ujar laki-laki tersebut seraya mengusap kepala Lana. Di tangannya Alana melihat bekas luka, ia yakin laki-laki ini bukan orang baik-baik.
“Aku mau pulang! Lepas!” lagi-lagi Alana berontak tapi laki-laki itu hanya tertawa dan mengangkat tangannya seolah memberi instruksi pada kedua orang suruhannya. Tak lama, Alana pun hilang kesadaran.
*****
Niken tengah berjalan mondar-mandir menunggu kedatangan Alana. Hari sudah hampir petang tapi Alana masih juga belum datang. Ia memutuskan untuk kembali menelpon ke rumah keluarga Wijaya, Bi Inah yang menjawab telpon mengatakan Alana sudah pergi sejak siang tadi.
Wira yang juga ikut panik, segera mengerahkan anak buahnya untuk mencari Alana. Salah satu orang kepercayaannya mengatakan bahwa mereka menemukan sopir yang membawa Alana ke taman tengah tak sadarkan diri di dalam mobil karena pengaruh obat bius. Perasaan Wira semakin ketir terlebih saat Niken menangis sejadinya karena menyadari putri kesayangannya kemungkinan telah di culik.
Sebuah pesan telah masuk ke email Wira yang berisi ancaman. Detik itu juga, Wira merasa tubuhnya akan tumbang. Kenyataan bahwa Alana benar-benar telah diculik tidak bisa diterimanya begitu saja. Dengan penuh keterkejutan, Wira segera menghubungi Indra dan memberitahukan keadaan yang sebenarnya.
Indra murka, ia tidak bisa menerima hilangnya sang putri tanpa alasan. Niken satu-satunya orang yang saat itu di persalahkan dan membuat keluarga Adiyaksa tidak bisa berkelit apapun.
Semua orang kepercayaan Wijaya dan Adiyaksa di kerahkan untuk mencari keberadaan Alana. Mereka mencari di seluruh kota Jakarta hingga kota-kota terdekat di sekitaran Jakarta. Nida yang menerima kabar bahwa Alana masih belum di temukan, memutuskan untuk pulang dengan segera ke Indonesia.
Alana merasakan tubuhnya berguncang melewati jalanan yang tidak rata. Saat sadarkan diri nafasnya terasa sesak karena mulutnya di bekap selembar kain dan tangan serta kakinya terasa sakit karena di ikat dengan kuat.
__ADS_1
“Aaaaaaaa…..” teriak Alana yang tidak bisa di dengar oleh siapapun. Ia dibaringkan di jok belakang dengan 2 laki-laki tegap yang ada di depannya.
Alana ketakutan, ia menangis sejadinya. Ia berusaha bangun lalu memukulkan kedua tangannya pada salah satu laki-laki tersebut.
“Diam kamu bocah!” teriak laki-laki itu saat tau kalau Alana sudah sadarkan diri.
Alana semakin berontak. Laki-laki itu membawa tubuh Alana di ke sampingnya lalu mengeratkan ikatannya namun tanpa di sangka Alana menendang daerah terlarangnya dengan keras. Ia mengaduh kesakitan. Sementara laki-laki yang sedang mengendalikan laju mobil tampak panik.
Mobil melaju tak tentu arah. Beberapa tikungan tajam mereka lewati dan nyaris terperosok ke jurang.
“Diem kamu bocah, atau kamu mau mati hah?!” teriak laki-laki satunya yang mengendalikan mobil dengan tak tentu arah.
Bukannya menurut, Alana segera mendekati laki-laki itu dan menarik tuas perseneleng dengan kedua tangannya.
Karena panik, laju mobil semakin tak terkendali. Ia menabrak pagar pembatas jalan dan nyaris jatuh ke jurang. Sang sopir yang terbentur tampak tak sadarkan diri. Dengan sisa tenaganya Alana merayap hendak membuka pintu mobilnya dan segera berguling keluar dari mobil. Dalam beberapa detik saja mobil terjatuh ke jurang dan meledak.
Alana benar-benar ketakutan. Dengan mulut terbekap ia menangis sejadinya.
“Astaga re!!!” teriak Ratna yang benar-benar terkejut saat melihat Reva bangun begitu saja.
Ia terduduk dengan tubuh gemetar ketakutan. Keringatnya bercucuran dan wajahnya pucat pasi. Ratna segera memeluk Reva dengan erat. Tidak ada kalimat yang bisa menjelaskan perasaannya saat ini.
“Bu, mereka mati bu… mereka iket tangan rere… mereka tutup mulut rere… mereka…” Reva meracau tidak jelas dengan wajah diliputi ketakutan.
“Ssstttt… Sayang, ini ibu nak… ada ibu… kamu aman sama ibu nak…” ujar Ratna yang terus berusaha menenangkan putrinya.
Namun Reva tampak masih kebingungan dan ketakutan. Detak jantung di monitornya terlihat tidak beraturan. Ia melepas semua selang yang menempel di tubuhnya juga beberapa elektroda yang menempel di dada serta selang oksigen di hidungnya. Ia memegangi pergelangan kaki dan tangannya yang rasanya sakit karena terikat dengan kuat padahal tidak ada apa-apa di sana selain darah yang menetes dari selang infus yang tercabut.
Ratna semakin mengeratkan pelukannya, ia tidak ingin putrinya merasa ketakutan dan sendirian seperti saat pertama kali ia menemukan Reva.
*****
Satu jam berlalu Ratna mulai bisa menenangkan Reva. Ia tidak lagi gemetar ketakutan dengan keringat yang bercucuran dan wajah pucat pasi. Tapi saat ini tatapannya masih kosong. Ia belum berbicara sama sekali sejak berhenti meracau tadi.
__ADS_1
Keluarga berkumpul di ruang tunggu samping kamar rawat Reva. Mereka berusaha mencuri dengar pembicaraan Reva dan dokter Wisnu. Hanya ada Ratna yang menemani Reva sementara Nida dan Niken tampak tidak karuan menunggu di ruang tunggu bersama Raka, Wira dan Indra.
“Nona reva, apa yang anda rasakan saat ini?” Dokter Wisnu memulai pembicaraan memecah keheningan.
Reva masih terdiam, ia tak bergeming sama sekali. Ia menatap ke arah tak tentu dan entah apa yang ia lihat. Pikirannya benar-benar melayang, ia berusaha mengingat semua rasa sakit yang menghinggapi tubuhnya.
Ingatannya telah kembali, setiap detik rasa sepi yang ia rasakan pun perlahan kembali mengisi relung hatinya. Rasa terabaikan yang Alana kecil alami kini ia bisa mengingatnya dengan jelas. Ia pun kembali teringat saat Indra dan Nida dengan bangga memperkenalkan Alea sebagai putri sulungnya yang brilian pada semua rekan bisnis dan Alana hanya menjadi penonton dikejauhan. Inilah salah satu alasan mengapa ia lebih sering menghabiskan waktunya bersama Niken dan Wira untuk bermanja, mendapatkan perhatian yang tidak ia dapatkan dari kedua orang tua kandungnya.
“Jika aku terlahir sebagai anak laki-laki, apa mamih dan papih akan lebih menyayangiku?” pertanyaan itu kembali terngiang di telinga Reva. Kenapa ada rasa sakit yang menusuk hatinya saat pertanyaan itu kembali mengisi ingatannya. Apa setelah ia kembali, kasih sayang yang mereka tunjukkan adalah sebuah ketulusan atau hanya sebuah konsekuensi dari sebuah rasa bersalah.
Dokter Wisnu beberapa kali bertanya pada Reva, tapi tidak ada satupun jawaban dari Reva. Ia tersenyum pada Ratna yang tampak cemas kemudian pamit pada wanita paruh baya tersebut.
Melihat dokter Wisnu keluar ruang perawatan, keluarga yang menunggu pun segera menghampiri.
“Bagaimana kondisi putri saya dok?” Indra bertanya dengan segera.
Dokter Wisnu berusaha tersenyum, apa yang harus ia katakan karena ia tak mendapat respon sedikitpun dari pasiennya.
“Secara fisik, kondisi putri bapak sudah cukup baik. Benturan di kepalanya pun tidak meninggalkan akibat yang buruk. Hanya saja, secara psikis sepertinya ia masih terguncang.” Terang dokter Wisnu dengan gamblang.
“Tapi putri saya tidak kehilangan ingatan kan dok?” Nida yang mulai tenang, kali ini kembali cemas.
“Iya, pasien mengingat siapa dirinya. Tapi apakah pasien kehilangan sebagian ingatannya atau tidak, harus ada pemeriksaan lebih lanjut. Karena hingga saat ini, sepertinya ia tidak mau berbicara dengan siapapun.”
Mereka menghela nafas dalam. Terbayang ketakutan yang selama ini menghinggapi Raka, ia teringat kata-kata Reva bahwa mungkin ia akan kehilangan sebagian ingatannya kalau ingatan masa kecilnya kembali. Tanpa berfikir panjang, Raka segera pergi menemui Reva.
“Ada baiknya, pasien berkonsultasi dengan psikolog, itu akan lebih baik untuk mengetahui kondisi kejiwaannya.” Lanjut Dokter Wisnu di akhir perjumpaannya.
*****
Jangan lupa like dan komennya yaaa.. Terima kasih buat yang masih setia baca..
__ADS_1