
Sepanjang perjalanan mereka saling terdiam. Raka menyalakan musik box nya dan memperdengarkan suara Raditya Dika. Cerita demi cerita Raditya Dika sampaikan tapi keduanya masih terdiam tanpa kata, dan Reva ia tampak tengang dengan jemari saling memilin.
Tiba di sebuah kantor polisi, Raka menginjak pedal remnya. Beberapa polisi tampak membawa tersangka yang berteriak-teriak melawan petugas. Ada juga tersangka yang hanya diam saja dan mengikuti setiap langkah kaki petugas. Entah Alea di posisi yang mana, yang jelas Reva merasakan kekhawatiran yang tak biasa.
Melihat wajah Reva yang tegang sambil menggigit bibirnya sendiri, Raka meraih tangan Reva dan menggenggamnya dengan erat. Ia menangkup satu sisi wajah Reva dan mengusapnya dengan lembut.
“Kalau kamu gag yakin, kita bisa datang lain kali sayang.” Ujar Raka dengan penuh kesungguhan.
Sorot mata itu kini menatap Raka dengan sendu.
“Apa di dalam kak lea baik-baik aja? Gag ada tahanan lain yang menggangunya kan?” tanya Reva dengan penuh kepenasaran.
Bukan ia tak ingin bertemu Alea, tapi ia sedang memikirkan apa yang akan ia katakan saat bertemu Alea nanti.
Raka kembali tersenyum saat menatap mata Reva. “Tidak ada orang yang akan baik-baik saja saat dia berada di dalam tahanan, tapi sejauh ini alea bisa bertahan menghadapi semuanya.” Terang Raka seraya merapikan helaian anak rambut di kening Reva. “Kamu memiliki keduanya, kamu bisa membuat dia kuat atau membuatnya terpuruk. Kamu yang lebih tau seperti apa kelak menghadapi alea.” lanjut Raka.
Reva mengalihkan pandangannya keluar jendela. Ada sesuatu yang harus ia selesaikan dengan Alea dan ia mengharapkan hasil akhir yang baik.
Reva telah memantapkan hatinya untuk menemui Alea. Dengan di temani Raka, ia masuk ke kantor polisi dan meminta izin untuk menjenguk Alea.
Setelah mendapatkan izin dari petugas, Reva menunggu dengan gusar di ruang jenguk tahanan. Di hadapan Reva ada sebuah kursi yang terhalang teralis besi dan kaca. Hanya ada sedikit celah di bawah tralis besi tersebut.
Tak lama berselang, Reva melihat sosok Alea yang datang menemuinya. Alea menghentikan langkahnya, ia ragu untuk menemui Reva. Mungkin lebih tepatnya ia tidak memiliki keberanian untuk menemui Reva.
Melihat Alea yang hanya terpaku, Reva segera berdiri. “Kak..” seru Reva.
Alea hanya tertunduk, perlahan ia melangkahkan kakinya menghampiri Reva. Mereka duduk berhadapan namun Alea tidak berani bersitatap dengan Reva.
Reva memandangi Alea yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Rahangnya semakin meruncing dengan sorot mata sendu. Tidak terlihat lagi Alea yang angkuh dan berkuasa. Ia hanya perempuan biasa yang lemah dan membutuhkan sandaran. Mungkin saat ini ia merasa tidak ada satupun yang peduli dengan dirinya.
“Gimana kabar kamu kak?” tanya Reva dengan hati-hati. Ia tau, dalam kondisi terpuruk pun Alea bukan orang yang suka di kasihani.
Alea hanya teranggguk, bibirnya bergumam dengan suara yang tak terdengar jelas. Bagaimana bisa ia menatap mata yang memandanginya dengan hangat. Sesuatu yang sangat ia harapkan dari setiap orang terkasihnya namun dalam waktu bersamaan ia merasa tidak berhak mendapat hal tersebut dari Reva.
“Kamu udah makan kak?” lanjut Reva, lagi Alea hanya mengangguk. “Gag ada tahanan lain yang ngebuli kamu kan?” Alea menggeleng. “Aku selalu berharap kakak baik-baik aja.” Lirih Reva yang masih bisa di dengar Alea dengan jelas.
Alea tau, Reva mengucapkan kata-kata tersebut dengan sebenarnya perasaan dia. Ia merasa begitu malu dan hanya air mata yang kini berkumpul di pelupuk matanya bersiap untuk pecah kapan saja.
Perlahan Alea mengangkat wajahnya. Sejak dulu Lana selalu peduli dengan dirinya tapi Alea selalu mengingkari dengan sikapnya yang dingin. Kali ini, ia tidak ingin membuat kesalahan lagi. Terlepas Lana memaafkannya atau tidak, ia akan berusaha menjadi seseorang yang lebih baik dan kelak saat ia sudah bebas, ia akan mengganti semua kesakitan hati Alana selama ini.
“Lo terus cemasin gue, apa lo sendiri baik-baik aja?” kali ini Alea memberanikan diri menatap Reva. Ia melihat wajah Reva yang tak lagi pucat. Namun perban tipis masih terpasang di pelipis kanannya.
Reva tersenyum seraya menyentuh perban di pelipisnya. “Aku kuat kok kak, seperti yang kakak ajarin. Dan aku harap, kakak juga kuat dan berani menghadapi semuanya. Aku, mamih dan papih akan menunggu kakak pulang.” Tutur Reva dengan mata berkaca-kaca.
Tangis alea pecah begitu saja. Ia tak lagi menutupi kelemahannya di hadapan Reva. Bahunya bergetar seirama tangisnya. Betapa ia sangat merindukan seseorang yang peduli dengan perasaannya.
“Maafin kakak lana, maaf….” Lirih Alea dalam tangis yang dalam.
__ADS_1
Reva terpaku, ingin sekali ia memeluk Alea dan mengingatkannya bahwa ia tak sendiri. Melihat Alea saat ini, kemarahannya sirna begitu saja, berganti rasa cemas dan khawatir akan kakaknya yang menghadapi kenyataan berat di depan matanya.
*****
“Mas…”
Suara Reva membuyarkan semua lamunan Raka. Raka yang tengah cemas menunggu Reva di depan kantor polisi segera memandangi Reva dari ujung kepala hingga ujung kaki, ia ingin memastikan bahwa wanita yang di cintainya baik-baik saja.
“Sayang, apa sudah selesai?”
Reva terangguk seraya tersenyum. Wajahnya terlihat lega dan tidak menyiratkan kecemasan seperti yang ia lihat sebelum Reva menjenguk Alea.
“Syukurlah…”
Raka membawa Reva ke dalam pelukannya. Reva membenamkan wajahnya di dada bidang Raka. Kali ini ia tidak peduli dengan mata yang menatap mereka penuh tanya. Ia hanya ingin seperti ini, merasakan ketenangan saat berada di pelukan Raka.
Setelah menghapus kegundahannya, Reva mengajak Raka untuk pulang. Di dalam mobil Reva terus memandang keluar jendela dengan linangan air mata yang ia coba sembunyikan. Raka meraih tangan Reva dan menggenggamnya dengan erat.
Sebentar saja, ia ingin menangis, meluapkan semua perasaan yang harus ia lepaskan. Setelah itu, ia hanya ingin merasakan kebahagiaan, tanpa kemarahan apalagi dendam.
Lega dengan tangis yang ia pekikan, Reva menoleh Raka yang setia menggenggam tangannya. Keberadaan Raka di sampingnya memang selalu membuat hatinya merasa lebih baik.
“Mas, aku belum mau pulang.” Ujar Reva seraya menyandarkan kepalanya dengan manja.
“Okey, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat.” Timpal Raka yang memutar kemudinya ke arah berlawanan. Reva mengiyakan saja ajakan Raka.
Menjelang malam, Raka menepikan mobilnya di dekat gerobak penjual nasi goreng. Ini adalah tempat makan pertamanya bersama Reva. Setiap kebersamaan yang berkesan bagi Raka selalu ingin ia ulang. Reva sangat exciting saat ia tahu ia kembali ke tempat pertama kalinya ia makan dengan begitu lahap bersama Raka.
Setelah menikmati makan malamnya, Raka membawa Reva berjalan-jalan menikmati udara malam yang terasa dingin. Raka membuka jas kerjanya dan menyampirkannya di tubuh Reva. Mereka berjalan bergandengan tangan. Di satu tangan lainnya Reva memegangi es krim yang sesekali ia berikan pada Raka dan dengan sengaja mengenai wajah Raka.
Reva tertawa lepas melihat wajah Raka yang begitu lucu menurutnya. Raka hanya terdiam, ia begitu menikmati setiap tawa yang mengalir dari mulut Reva, lebih dari itu ia merasa hidupnya telah kembali. Ya, Reva adalah sumber kehidupan bagi Raka. Reva yang kemarin hanya terdiam, membuat dunia Raka terasa kelam, semua yang ia lakukan menjadi salah. Untuk alasan apapun itu, sebisa mungkin ia akan selalu membuat Reva tertawa dan bahagia.
Dari kejauhan, mereka melihat orang-orang berkumpul di sekitar taman dengan air mancur di tengahnya. Mereka tengah menikmati sebuah sajian musik jalanan yang mempersembahkan lagu-lagu cinta yang membuat hati berdenyut lembut. Reva mengajak Raka mendekat, kini mereka melihat sajian musik dari sekelompok anak muda itu dengan jelas.
Reva mulai menikmati lantunan lagu dari Honne yang berjudul Day 1. Raka berdiri di belakang Reva dan melingkarkan tangannya di leher Reva. Ia memeluk Reva dengann erat, seolah lagu ini menjadi lagu cinta miliknya. Raka menempatkan dagunya di bahu kanan Reva, Reva tersenyum saat menoleh wajah yang sedang memejamkan matanya, menikmati setiap kehangatan yang mengisi relung hatinya.
“You'll always be my day one
Day zero when I was no one
I'm nothing by myself, you and no one else
Thankful you're my day one
Thankful you're my
I got lucky finding you
__ADS_1
I won big the day that I came across you
'Cause when you're with me, I don't feel blue
Not a day goes by that I would not redo
Everybody wants to love
It's easy when you try hard enough
Yeah that's right
You'll always be my day one
Day zero when I was no one
I'm nothing by myself, you and no one else
Thankful you're my day one
I'm thankful you're my day one
When I first met you, it just felt right
It's like I met a copy of myself that night
I don't believe in fate as such
But we were meant to be together that's my hunch
Everybody wants true love
It's out there if you look hard enough, enough,…”
“Love you sayang…” bisik Raka di akhir lagu tersebut.
Reva tersenyum kecil, ia mengusap wajah Raka dengan lembut. Apa yang Raka rasakan, Reva pun merasakannya.
Mata Raka terbuka. Kini alunan musik itu kini berganti sebuah alunan musik dansa dengan diiringi dawai biola. Beberapa pasang kekasih tampak maju ke depan dan bergerak seiring alunan musik.
“Kamu mau gabung sama mereka sayang?” bisik Raka dengan lembut.
“Aku gag bisa dansa mas.” Sahut Reva seraya menggeleng.
“Bukannya tinggal serong ke kiri serong ke kanan, lalu lala lala lala…” cetus Raka membuat Reva kembali tergelak.
Raka tak menunggu lama lagi, ia menarik tangan Reva ke tengah taman dan bergabung dengan pasangan kekasih lainnya. Reva menutup wajahnya karena malu namun Raka seperti tidak peduli. Mereka berdiri berhadapan. Raka meraih kedua tangan Reva dan ia lingkarkan di lehernya, sementara kedua tangannya melingkari pinggang Reva. Perlahan mereka mulai melangkahkan kakinya ke kanan dan kiri seirama alunan musik. Kedua pasang mata itu saling bertatapan, seolah mengisyaratkan isi hatinya masing-masing. Di detik berikutnya, Reva membenamkan wajahnya di dada Raka. Tempat ternyaman baginya untuk bersandar. Debaran jantung Raka bisa di dengar dengan jelas oleh Reva. Raka mengecup pucuk kepala Reva tanpa ragu dan begitu menikmati setiap detik yang mereka lewati bersama.
__ADS_1
Cinta, sesuatu yang bisa mereka rasakan dengan definisi yang tidak terbatas.
****