Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 55


__ADS_3

“Re…”


Raka mengeluarkan suaranya setelah keheningan cukup lama mengambil alih suasana. Mereka tengah dalam perjalanan pulang kerja.


“Ya…”


Reva menoleh Raka yang tengah fokus menatap jalanan di depannya.


“Tadi kamu manggil aku apa?” goda Raka yang tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya saat mendengar panggilan Reva padanya siang tadi.


“Raka. Emang kenapa?”  jawab Reva dengan santai.


“Bukan itu, tadi pas ada mamah, kamu manggil aku apa?”


“Apa? Perasaan aku gag manggil-manggil kamu…” Reva memalingkan wajahnya dari Raka. Ia mengerti benar arah pembicaraan Raka. Tapi ia terlalu malu untuk mengucapkannya sendiri pada Raka.


“Ayolah re, aku mau denger sekaliiii lagi…” memelas.


Reva hanya tersenyum. Ia menggigit bibirnya sendiri yang tak kuasa menahan tawa.


“Re… ayo dong… kalo gag kamu ulangi, aku bakal muter-muter jakarta sampe kamu mau ngomong.” Raka mulai mengancam.


“Isshh kayak bocah, pake ngancam segala!” decik Reva dengan kesal.


“Bodo amat!” sahut Raka dengan kesal.


“Ihhh beneran yaa, mas raka ini ambekan. Udah kayak anak gadis lagi PMS aja.” Ledek Reva yang terkekeh geli.


“Nah itu tadi, coba kamu ulang….”


Raka melambatkan laju kendaraannya dan mulai menepi.


“Ih kenapa berhenti di sini sih, ayo jalan lagi.”


“Ulang dulu baru aku jalan.”


Raka semakin mendesak Reva. Ia mendekatkan wajahnya pada Reva dan menatap sepasang mata yang selalu ia rindukan. Wajahnya terlihat penuh harap.


“Gag mau!” Reva bersi keras dan memalingkan wajahnya dari Raka..


“Ya udah, kita di sini sampe kamu ngomong.”


Raka tetap bersikukuh dengan keinginanya. Kedua tangannya kini tidak lagi memegang kendali mobilnya dan ia menyandarkan tubuhnya dengan tenang.


“Iihhh beneran yaaa,,, dasar Mas Raka ngeselin!” seru Reva yang berusaha mencubit lengan Raka.


Dalam seketika, Raka berbalik mengarahkan tubuhnya menghadap Reva. Ia meraih tengkuk Reva lalu mengecup bibirnya tanpa permisi. Reva membelalak tak percaya. Semakin lama, Raka memagutnya semakin kuat. Reva hanya terdiam, rasa kaget dan gugup bercampur dalam dadanya.


Reva menepuk-nepuk dada Raka karena ia hampir kehabisan nafasnya. Raka segera melepaskan kecupannya dan membiarkan Reva bernafas. Setelah Reva terlihat bisa bernafas dengan normal, ia kembali mengecup bibir Reva dengan hangat. Lebih lembut dan tidak tergesa-gesa seperti tadi. Ia memperlakukan Reva seperti barang pecah belah yang mungkin akan pecah jika ia tidak hati-hati.


Dengan sadar, Reva mulai membalas kecupan Raka. Ia mulai menikmati  kehangatan dan getaran hebat yang mengisi rongga dadanya dan semuanya berakhir saat keduanya hampir kehabisan nafas untuk kedua kalinya.


Raka menempelkan dahinya di dahi Reva. Matanya terpejam dengan nafas yang saling memburu.


“Aku suka panggilan kamu, mulai sekarang, panggil aku seperti itu.” Lirih Raka yang kemudian mengecup lembut kening Reva.


Reva hanya terdiam, wajahnya terasa menghangat seketika. Ia menapuk kedua pipinya untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya. Ia benar-benar malu saat Raka menatapnya dengan jarak sedekat ini.

__ADS_1


Dan Raka, ia masih menikmati menatap gadis yang malu-malu di hadapannya dengan rona merah di pipi cantiknya. Iapun bisa merasakan guncangan hebat di rongga dadanya yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Sepertinya, Reva telah membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya dalam sebuah perasaan yang Ia kenal sebagai cinta.


****


“Pagi mah… Gimana kakinya?” Raka memberi jeda pada kalimatnya saat melihat kaki Niken yang terbungkus verban. “ Pah..” lanjutnya, menyapa Wira yang sedang menikmati semangkuk oat di hadapannya. Ia hanya terangguk dan mengajak Raka duduk untuk sarapan.


“Pagi sayang… kaki mamah udah baikan. Kata dokter, beberapa hari lagi bisa di buka verbannya.” Terang Niken yang tengah mengoleskan selai di atas roti dan memberikannya pada Raka.


Raka mengambil rotinya dan melahapnya dengan segera.


“Mamah jangan ngemall dulu, kakinya harus sembuh dulu baru boleh jalan-jalan.” Wira ikut bersuara saat terlihat Niken menggerak-gerakan kakinya yang terbebat kaku.


“Yahh, padahal mamah rencananya pengen ngajak Reva jalan.” Decik Niken yang mengundang perhatian kedua laki-laki di hadapannya.


“Reva?!” tanya Raka dan Wira bersamaan.


Niken hanya mengangguk. Ia tersenyum senang karena telah berhasil memantik penasaran di wajah 2 laki-laki tampan tersebut. Wira penasaran karena ada nama asing yang keluar dari mulut sang istri. Dan Raka penasaran tentang rencana apa yang Niken buat untuk Reva.


“Siapa itu mah?”


Wira menaruh sendok yang sejak tadi di genggamnya. Ia menatap Niken dengan penuh tanya.


“Pacar Raka…” sahutnya seraya terkekeh. Ia melirik Raka yang terlihat gugup dengan mata yang coba berpaling dari pandangan Niken.


“Siapa dia? Putri pemilik perusahaan mana? Apa papah kenal?”


Bertubi-tubi pertanyaan yang diberikan Wira, membuat Raka mendengus kesal. Itulah standar pertanyaan yang selalu dilontarkan Wira saat membahas anak gadis yang akan menjadi menantunya. Seolah status sosial mereka adalah standar resmi untuknya bisa masuk ke keluarga Adiyaksa.


Niken mengerti benar arti tatapan sang putra. Ia merasa tidak suka dengan pemikiran Wira mengenai batasan calon menantu yang bisa masuk ke rumahnya.


“Kalo gitu, tunggu apa lagi? Ayo kita temui orang tuanya dan tentukan tanggal pernikahan buat mereka.”


Wira tampak begitu bersemangat. Wajahnya memperlihatkan kebahagiaan yang belum pernah Raka dan Niken lihat sebelumnya.


“Pah, reva bukan putri dari pemilik perusahaan. Dia gadis sederhana dengan kemandirian yang patut di banggakan.”


Niken menyampaikan kalimatnya dengan hati-hati. Ia tidak ingin membuat suaminya kecewa. Bagaimanapun bibit, bebet dan bobot masih menjadi dasar pemilihan menantu di keluarga Adiyaksa.


Dan benar saja, ekspresi wajah Wira berubah seketika. Ia terlihat kecewa dengan kalimat yang disampaikan Niken.


“Kamu cari gadis lain!” seru Wira dengan wajah dingin.


Raka hendak mengeluarkan kalimatnya, namun Niken menahannya hanya dengan menatap Raka tajam. Dari air mukanya, Niken meminta Raka untuk diam dulu.


“Pah, papah bisa ketemu dulu sama reva. Dia gadis yang menyenangkan. Dia juga cerdas, bahkan raka bilang dia banyak promosiin maket pembangunan di perusahaan kita loh pah.” Terang Niken yang tidak pantang menyerah mempromosikan calon menantunya.


Bagi Niken, tidak peduli pilihan Raka seperti apa, tapi ia yakin putranya akan memilih wanita terbaik untuk menjadi pendampingnya.


Raka dan Niken masih harap-harap cemas menunggu tanggapan Wira. Mereka saling melirik berusaha menerka ekspresi Wira yang sulit untuk di tebak, persis seperti Raka.


“Pah, papah boleh nentuin standar setinggi apapun buat aku. Tapi, aku hanya akan menikahi wanita yang aku cintai tanpa peduli status sosialnya.” Tegas Raka.


Ketegasan Raka seperti pancingan bagi Wira yang kini menatapnya dengan tajam. Ia mengepalkan tangannya dengan kesal. Hanya bagian ini yang mirip dengan Niken dan hal ini pula yang selalu Wira benci, bersikukuh dengan pilihannya sendiri.


Wira tidak menjawab. Ia meneguk air minum dihadapannya hingga tandas. Dan dengan segera ia pergi meninggalkan Raka dan Niken yang masih terpaku di tempatnya.


“Pah…” Niken berusaha mencegah Wira untuk pergi. Bagaimanapun mereka harus membicarakan masalah ini.

__ADS_1


Wira hanya mengangkat tangannya tanpa berbalik. Pertanda ia tidak mau di ganggu sama sekali.


Pandangan Niken kini beralih pada Raka yang mulai terlihat kesal. Sungguh Niken dilema, 2 laki-laki dalam hidupnya ini, bukan orang-orang yang mudah di hadapi. Sama-sama keras dan tegas dengan pilihannya. Dan Niken sendiri, ia sudah jatuh hati pada gadis pilihan putranya.


“Sayang, kamu tenang ya… mamah pasti akan bicara lagi sama papah.” Tutur Niken seraya mengusap punggung tangan putranya.


Raka hanya terdiam, terdengar hembusan nafas kesal dari mulutnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menatap Niken dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.


****


Hari ini Reva izin untuk tidak ke kantor karena ia harus konsul terakhir dengan prof Armand sebelum sidang skripsinya pekan depan.


Raka yang masih memiliki beberapa pekerjaan di kantornya, berencana untuk menyusul Reva dan ikut sidang untuk tesisnya. Reva merapikan semua kelengkapan skripsinya dan tiba di kampus tidak lebih cepat dari Raka.


Raka sudah menghubunginya beberapa kali dan ia menunggu Reva di taman kampus.


Reva sudah tiba di taman kampus. Dari kejauhan ia melihat Raka yang sedang duduk sendirian di salah satu bangku di bawah pohon. Hembusan angin dan sejuknya udara dari pohon yang memayunginya, membuat Raka memejamkan matanya sejenak sambil menengadahkan wajahnya. Menikmati setiap belaian udara yang menerpa wajahnya.


“Sory lama…”


Reva menangkup kedua belah pipi Raka dari belakang, membuat mata Raka segera terbuka.


Raka bisa melihat senyum manis Reva yang berada di atas wajahnya.


“Aku udah mengakar  nungguin kamu, bentar lagi berbunga re…” rengek Raka dengan manja.


Reva kembali tersenyum. Ia segera duduk di samping Raka tapi Raka malah membaringkan tubuhnya dan menjadikan paha Reva sebagai bantalan.


“Kamu pegel ya nungguin aku?” Reva mengusap kepala Raka dengan lembut.


“Iya, sekarang gantian, kamu temenin aku tidur bentar.”


Raka kembali memejamkan matanya. Ia benar-benar tidak ingin ada penyangkalan.


“Manja!” Reva mencubit hidung Raka dengan gemas. Raka hanya tersenyum.


Reva memandangi pahatan indah ciptaan tuhan yang tersaji di hadapannya. Alis yang tebal, rahang yang tegas, hidung yang bangir dan bibir yang terbentuk sempurna membuat jemari Reva menjelajahi wajah putih Raka tanpa sadar. Apalagi yang harus ia dustakan dari ciptaan tuhan yang maha sempurna. Dan detik ini ia sadar bahwa perkataan Fery benar. Raka sangat tampan.


Raka memegangi tangan Reva tiba-tiba. Sentuhan Reva membuatnya bergidik geli kesaligus nyaman.


“Kamu gag bisa gag gangggu aku ya re…”


Raka membuka mata bulatnya yang sudah tidak bisa lagi terpejam dengan tenang. Keduanya saling bertatapan mengisyaratkan perasaan yang menggebu di dada mereka. Betapa mereka merasa sangat bahagia bisa memiliki satu sama lain.


Raka mengusap pipi Reva dengan lembut, membuat mata Reva terpejam sejenak menikmati setiap sentuhan lembut Raka yang terasa memanjakannya. Raka mengangkat kepalanya tiba-tiba dan saat itu juga sebuah kecupan mendarat di bibir Reva.


“Astaga mas raka, kamu mau di bilang ga ada akhlak apa ngelakuin kayak gitu di tempat terbuka kayak gini.” Reva yang dibuat kaget, segera menutup mulutnya sendiri dengan tangan kanannya. Hangat kecupan Raka masih terasa jelas di bibirnya.


“Kamu yang godain aku…” kilah raka yang segera bangun dan duduk tegak di samping Reva.


Ia menatap Reva yang bersemu kemerahan.


“Apa liat-liat? Udah ah, ke kampus sekarang!” seru Reva yang kesal dengan tingkah Raka.


Raka hanya terkekeh dan melebarkan langkahnya agar bisa berjalan di samping Reva. Ia meraih tangan Reva dan menggenggamnya dengan erat. Reva berusaha melepaskannya tapi genggaman Raka semakin erat dan lalu mereka berjalan bergandengan tangan tanpa peduli pandangan yang tertuju pada keduanya.


****

__ADS_1


__ADS_2