
“Selamat sore pak..” sapa Arya yang datang ke hadapan Theo di ruang kerjanya. “Maaf, ini saya membawa beberapa berkas untuk bapak periksa.” Sambung Arya yang menaruh tumpukan berkas itu di meja Theo.
Theo yang sedari tadi memandangi langit sore Jakarta di depan jendela besarnya, kini berjalan dan duduk di kursi kekuasaannya.
“Para investor mulai mempertanyakan pak raka atas ketidak hadirannya di pertemuan terakhir. Saya rasa, simpati mereka akan lebih besar pada perusahaan kita di banding pada Adiyaksa.” Terang Arya yang sepertinya paham, kabar apa yang bos nya inginkan.
“Lalu, bagaimana progres kerjasamanya?” Theo menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursinya yang empuk seraya memejamkan mata.
“Kalau proyeknya berhasil, kita akan menjadi pihak yang memiliki keuntungan besar dan anak perusahaan kita akan semakin dilirik pada rekanan bisnis dan harga saham pun bisa melonjak naik pak.” Tutur Arya dengan semangat.
Terlihat senyum tipis di bibir Theo, sepertinya kabar yang ia dengar cukup menggembirakan.
“Arya, kamu tahu apa yang saya inginkan sekarang?” tanya Theo dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan.
Arya menggeleng. Keinginan bosnya selalu berada di luar logika Arya. Mungkin kabar ini sangat menggembirakan bagi Arya tapi belum tentu bagi Theo.
“Saya merasa, saya sudah tidak memerlukan lagi semua kekuasaan ini.” Kalimat pertama Theo membuat Arya tercengang seketika. “Saya tidak butuh menjadi pengusaha yang sukses atau pebisnis yang disegani. Saat ini, saya hanya ingin menjadi seorang suami dari seorang perempuan.” Theo berujar dengan penuh perasaan, sesuatu yang belum perna Arya lihat sekalipun.
“Dia sangat menarik dan saya menyukainya. Semakin dia menolak saya, saya akan membuat dia semakin mendekat pada saya.” Theo menjeda kalimatnya dengan bangkit dari singgasananya dan berjalan menghampiri Arya. Ia merapikan jas Arya dan dasinya. “Bersiaplah untuk membuat pesta pernikahan yang meriah untuk saya.” Tandasnya seraya menepuk bahu Arya. Arya hanya terpaku, ia belum bisa mencerna kalimat bos-nya dengan baik.
Jika ini tentang seorang wanita, wanita mana yang membuat Theo merubah hidup dan haluannya?
****
“Mih.. mamih harus makan. Nanti mamih bisa sakit.” Bujuk Alea pada Nida.
Sejak Reva menghilang, Nida mulai kembali terpuruk. Ia hanya berdiam diri di kamar seraya memandangi foto putri bungsunya. Hanya tetesan air mata yang setia menemaninya.
“Mih, kita masih cari reva. Papih juga udah lapor polisi. Mamih harus yakin, reva pasti pulang dalam keadaan baik-baik saja.” Alea mengusap bahu Nida dengan lembut seolah ingin mengalirkan kekuatan pada wanita di hadapannya.
“Mamih gag tau dia ada di mana. Mamih gag tau apa dia udah makan atau belum. Mamih juga gag tau apa ia bisa kuat saat sandaran kepercayaannya rubuh sama raka. Mamih gag tau lea dan mamih gag bisa bayangin…” akhirnya Nida terisak. Ia menunduk dengan air mata yang menetes di atas foto Reva tanpa henti.
__ADS_1
Alea meraih tubuh Nida dan memeluknya dengan erat. Benar, Raka adalah sandaran hati Reva. Jika semuanya hancur, lantas apa yang tersisa di hati Reva.
Di tempat lain, Raka masih berkeliling Jakarta mencari keberadaan Reva. Semua tempat yang pernah Reva datangi, ia pun mendatanginya. Ia berharap Ia bisa menemukan Reva dalam kondisi baik-baik saja.
“Aaarrgggghh!!!!” Raka memukul stirnya berkali-kali. Ia pun mengacak rambutnya dengan frustasi. Setiap sudut Jakarta ia datangi tapi semuanya nihil.
Raka benci pada dirinya sendiri yang memberi alasan untuk Reva pergi darinya. Untuk beberapa saat Raka menepikan mobilnya. Ia menelungkup di atas kemudinya, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
“Sayang, kamu dimana? Aku nyaris gila.” Pekik Raka dengan tangis yang tak bisa di tahannya.
Raka terisak, ia merasa hidupnya benar-benar hancur.
****
“BAK!!!”
Raka menggebrak mejanya saat mendengar penuturan dari orang-orang kepercayaannya. Kekecewaan kembali ia rasakan saat laporan yang diterimanya kembali tentang kegagalan menemukan Reva.
4 laki-laki di hadapan Raka hanya bisa tertunduk. Nyatanya, kemarahan Raka lebih besar dari Fery yang tadi pun menendang kakinya dengan keras.
“Maaf pak raka, kami mengecek semua transaksi keuangan non reva, tapi terakhir ia mengambil uang adalah 2 hari lalu di bandara. Setelah itu, tidak ada transaksi lainnya. Dan handphonenya hinggga saat ini masih tidak aktif, hingga kami kesulitan untuk melacaknya.” Terang salah satu laki-laki itu dengan penuh ketakutan.
“BUK!” hanya suara pukulan ke dinding yang menjadi jawaban Raka. Raka terduduk di sofa dengan kedua tangan yang menangkup kepalanya tertunduk.
Fery memberi isyarat kepada 4 orang tersebut untuk pergi. Rasanya sudah cukup mereka mendapatkan kemarahan dari Raka dan dirinya. Mereka sepertinya paham isyarat Fery, dengan segera mereka pergi meninggalkan ruang kerja Raka.
“Lo minum dulu.. Lo gag bisa mikir kalo masih emosi gini.” Fery menyodorkan sebotol air mineral pada Raka.
Terdengar dengusan nafas kasar dari Raka namun kemudian ia tetap mengambil air botol tersebut dan meneguknya hingga hampir habis. Raka menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, ia memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut nyeri. Beberapa hari ini ia memang tidak bisa tidur dan beberapa hari ini juga ia tidak berselera makan.
Terdengar sebuah langkah kaki wanita memasuki ruang kerja Raka. Fery mengalihkan pandangannya ke pintu masuk dan terlihat Niken yang sedang berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
“Tante…” sapa Fery seraya terangguk. Niken membalas anggukan Fery kemudian duduk di salah satu sudut sofa.
Raka tampak mengangkat wajahnya yang kusut dan menoleh Niken.
“Mah…” Ujarnya parau.
“Gimana pencarian reva sayang?” tanya Niken dengan hati-hati. Melihat kekusutan Raka, ia bisa menyimpulkan pencariannya mungkin kembali buntu.
“Masih raka cari mah.” Sahutnya.
Niken mengusap punggung Raka dan berusaha tersenyum. “Kamu harus kuat sayang. Kalau kamu memang tidak bersalah, selain kamu mencari reva, kamu juga harus membuktikannya.” Tutur Niken.
Raka membaringkan tubuhnya di sofa dan menempatkan kepalanya di paha Niken. Matanya terpejam dan nafasnya terasa berat. Namun kali ini, ia merasa lebih nyaman, terlebih saat Niken mengusap kepalanya dengan lembut.
Sudah beberapa kali ia meminta Laras untuk mengakhiri kebohongannya tapi hanya ancaman yang di terima Raka. Entah apa keinginan sebenarnya, toh nyatanya hingga saat ini Laras tidak mengejarnya atau mungkin ia menunggu Raka yang mengejarnya.
“Sayang, papah sakit tapi dia gag mau di bawa ke rumah sakit.” Kalimat Niken saat ini membuat Raka membuka kedua matanya.
“Kenapa mah?” tanya Raka dengan segera. Ia terbangun dari tidurnya dan menatap Niken penuh tanya.
“Sama seperti kamu, dia terus mencemaskan reva. Papah hanya mau minum obat tapi kebetulan persediaan obatnya hampir habis dan papah gag mau di bawa ke rumah sakit. Ia takut kalo reva pulang, mungkin reva akan mencarinya.” Terang Niken yang terlihat sendu
Raka hanya bisa menghela nafas kasar. Entah ujian apalagi yang harus ia hadapi.
“Raka akan nemuin papah, mah.” Ujar Raka kemudian yang dianguki Niken.
****
Rakaaa, saat semuanya buntu, kuatkkan ikatan hati kalian agar tetap saling tertaut.
Tertanda author.
__ADS_1
Reader sekalian, jangan lupa like dan komennya yaa... Makasih