
Gedung Wijaya corp hari ini lebih ramai dari biasanya. Setelah keterpurukan Wijaya bisa mereka lewati, kali ini lebih banyak investor yang menawarkan untuk penanaman modal pada beberapa resort yang di kelola oleh perusahaan ini.
Reva menjadi salah satu orang yang disibukkan dengan kondisi ini. Tak bisa di sangkal, ketidak hadiran Alea di kantor memberi Reva limpahan pekerjaan yang cukup banyak. Reva tampak begitu menikmati setiap pertemuan dengan para rekan bisnisnya di tengah kerepotannya untuk berjalan ke sana kemari.
Di salah satu ruang rapat, Edho baru mengakhiri meeting pentingnya bersama salah satu rekanan dari negara tetangga yang tempo hari telah berhasil mereka dapatkan kepercayaannya. Mereka berjabat tangan dengan senyum bahagia sebagai pertanda berjalannya kerjasama bisnis yang mereka jalankan.
“Kami sangat yakin, investasi kami di perusahaan ini tidak akan sia-sia. Dan kemungkinan, kami akan melihat proyek selanjutnya yang akan kami ikuti.” Ungkap Mark seraya menjabat tangan Edho dengan erat.
“Tentu, terima kasih atas kepercayaannya. Tangan kami selalu terbuka jika ACs group ingin bergabung untuk proyek selanjutnya.” Timpal Edho dengan berwibawa.
Tak sampai 10 menit, para tetamu pun meninggalkan ruangan dengan perasaan puas.
“Yes!!!” seru Edho dan Reva bersamaan sebagai ungkapan kebahagiaan mereka saat meraih titik tinggi yang tidak pernah mereka bayangkan.
Ira ikut tersenyum senang, ia bisa membayangkan kalau Alea pun berada di sini saat ini. Pasti akan lebih ramai lagi.
“Lo keren kak, lo bisa ngeyakinin mereka buat investasi di luar perkiraan.” Puji Reva pada Edho.
“Tapi ini juga berkat presentasi lo yang keren. Gue selalu salut kalo lo udah nawarin sesuatu sama siapapun.” Puji Edho tanpa sungkan.
“Lo berlebihan, gue cuma nerangin materi yang di buat sama tim.” Reva mengibaskan tangannya di depan Edho yang tampak menatap Reva dengan penuh kekaguman.
“Hem, tim kita keren dan lo speaker yang handal.” Edho mengacungkan kedua ibu jarinya pada Reva.
Reva hanya terkekeh mendengar pujian Edho.
“Ngomong-ngomong kita makan siang dimana kak? Anak gue udah nendang-nendang nih.” Reva mengusap perutnya yang mulai keroncongan.
“Wah, sorry nih, gue udah ada janji sama orang.” Edho melihat jam yang melingkat di tangannya. Reva menatap Edho seraya tersenyum. “Jangan mikir macem-macem, cuma temen doang.” Lanjut Edho yang sepertinya mengerti arti tatapan Reva.
Reva hanya mengendikan bahunya acuh. “Cepet-cepet kasih gue kakak ipar, biar bisa nyalon bareng!” cetus Reva seraya memukulkan buku catatannya pada Edho.
Edho hanya terkekeh seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan Reva berlalu begitu saja meninggalkan Edho yang sepertinya mulai menghubungi “Teman” makan siangnya.
****
“Ibu yakin mau makan di sini?” Ira masih bertanya dengan tidak yakin saat melihat Reva yang tampak asyik memandangi satu per satu menu makanan yang ada di kantin perusahaan.
__ADS_1
“Iyaa… Cumi gorengnya kayaknya enak ira.” Timpal Reva yang tak lepas dari jejeran menu yang berbaris di etalase. Rasanya air liurnya akan segera menetes.
Ira menatap tidak percaya. Reva belum pernah makan di kantin perusahaan sebelumnya. Kalau tidak pesan layanan antar,ya dia akan makan siang di luar.
“Ibu yakin?” lagi, Ira bertanya.
“Loh kenapa, emang makanan di sini beracun? Enggak kan? Lagian saya udah laper.” Sahut Reva acuh.
Ira hanya mengangguk, berusaha paham. “Okey, ibu mau makan sama apa, biar saya ambilin?”
“Saya ambil sendiri. Kamu pilih juga makanan yang kamu mau. Dan satu lagi, saat makan seperti ini, cukup jadilah teman makan saya, jangan jadi bawahan saya, okey?” ungkap Reva seraya mengacungkan sendok di tangannya pada Ira.
Dengan mata membulat Ira terangguk mengiyakan. Ira masih tidak habis pikir dengan wanita di hadapannya yang bisa sesantai dan setenang ini melakukan apapun. Tampaknya, tidak ada hal yang tidak ia nikmati saat ia melakukannya.
Reva memilih menu yang menggugah seleranya. Cumi goreng, tempe mendoan, sambal, lalapan dan sedikit nasi.
“Astaga, selera bos gue…” batin Ira. Reva memang tidak terlalu familiar dengan menu perhotelan atau makanan kalangan atas. Hal ini juga yang terkadang membuat Ira harus berfikir ekstra mengenai makanan Reva saat mengikuti Reva ke acara penjamuan.
Di salah satu meja kini Reva duduk berhadapan dengan Ira. Ia mulai lahap menikmati makan siangnya, tanpa perbincangan apapun. Ira sendiri ikut menelan ludah saat melihat Reva makan dengan lahapnya hingga menu yang di ambilnya tandas berpindah ke perut buncitnya.
“Ibu perlu yang lain?” tawar Ira yang hampir menyelesaikan makannya.
Ira hanya tersenyum tipis. “Maaf bu…” lirihnya. “Bu, ibu jadi liburan ke itali sama bapak?” tanya Ira kemudian.
“Jadi. Saya berangkat lusa sama mas raka.” Sahut Reva seraya menyeruput jus jeruk di hadapannya.
“Wah seneng yaaa… bisa liburan sama suami. Saya jadi pengen cepet-cepet punya suami yang romantis kayak pak raka.” Ungkap Ira dengan tatapan penuh harap.
Reva menatap ira dengan lekat. Ia menopang dagunya dengan tangan kanan. Ira mulai salah tingkah, sepertinya ada bagian kalimat yang salah telah ia ucapkan.
“Iraa,,, kamu percaya kalo jodoh itu adalah cerminan kita?” tanya Reva dengan serius. Ira mengangguk dengan cepat. “Jadi, jangan berdo’a minta jodoh mirip mas raka, mirip lee min ho, hyeon bin atau siapalah. Mintalah dia yang bisa selalu mendampingi kamu dan menjadi pasangan abadi kamu. Kamu pasti akan dapat laki-laki yang lebih baik, lebih dari laki-laki manapun yang jadi standar kamu, karena kamu pun orang baik. Orang yang kamu khayalkan, belum tentu yang terbaik buat kamu loh…” Imbuh Reva kemudian.
Ira terdiam sejenak. Ia masih berusaha mencerna ucapan Reva.
“Hey, ngelamun sih.”Reva mengetuk meja di hadapannya membuat Ira tersentak di tempatnya. “Hahahah sory kalo gue ngelantur, efek kena brain stroming-nya mamah dedeh ini.” Lanjut Reva yang terkekeh kemudian.
Ira ikut terkekeh, nyatanya yang dikatakan Reva ada benarnya.
__ADS_1
Tawa mereka berhenti, saat tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di samping meja keduanya.
“Hay reva…” sapa Laras seraya melepas kacamata hitamnya.
“Anda mau apa ke sini hah?” tanya Ira dengan segera.
Reva hanya tersenyum tipis, melihat wanita yang beberapa bulan ini baru dilihatnya lagi. Laras acuh saja mendengar pertanyaan Ira. Reva memberi isyarat pada Ira untuk tenang saja.
“Kursinya kosong?” tunjuk Laras pada kursi di sebelah Ira.
Ira menatap tidak suka dan bibirnya nyaris mengeluarkan kalimat umpatan pada wanita yang telah mengganggu kehidupan bosnya.
“Silakan.” Sahut Reva santai. Laras mendelik pada Ira, membuat gadis itu ternganga tidak percaya. “Ada yang bisa saya bantu?” tanya Reva dengan tatapan fokus pada Laras.
Laras hanya tersenyum. Ia mengambil goodie bag yang ada di sampingnya dan menyimpannya di atas meja.
“Maaf untuk baju yang sudah saya ambil tanpa izin.” Laras menyodorkan goodie bag pada Reva.
Reva tersenyum tipis mendengar ujaran Laras. Tentu ia masih sangat mengingat saat Laras memakai salah satu bajunya.
“Hem… Bajumu nyaman, tapi tidak cocok di badan saya.” lanjut Laras dengan santai membuat Ira yang menggeram kesal.
“Ya. Terkadang alasan seseorang memilih baju bukan karena ia menginginkannya atau karena ia mampu membelinya. Tapi karena baju itu cocok untuk ia kenakan.” Kalimat Reva membuat senyum Laras perlahan memudar. Reva mengambil baju tersebut dan menyimpan di sampingnya. “Terima kasih sudah menjaga kepercayaan saya tempo hari. Kalau anda tidak melakukannya, mungkin kita tidak akan bertemu kali ini.” Lanjut Reva seraya tersenyum.
“Hah, Reva, reva…. Saya masih tidak habis pikir kenapa anda masih mengucapkan terima kasih dan percaya kalau saya akan melakukan apa yang anda minta? Mungkin saja waktu itu bukan saya yang datang membawa pertolongan.” Timpal Laras dengan tatapan tajamnya.
Reva menghela nafasnya dalam kemudian tersenyum. Ia membalas tatapan Laras, seolah tidak ada yang bisa mengubah pendiriannya. “Karena saya percaya, anda masih punya hati.” Tegas Reva dengan penuh keyakinan.
Laras tak menimpali. Ia kembali memakai kacamata hitamnya.
“Kamu terlalu penuh kejutan reva.” Laras beranjak dari tempat duduknya. “Mungkin lain kali kita bisa bertemu untuk sekedar minum kopi sama-sama atau menghabiskan waktu untuk melakukan hal yang lebih menyenangkan.” Lanjutnya sebelum berlalu pergi.
“Tentu, saya menunggunya.” Sahut Reva dengan senyuman lebarnya.
Dalam hati Reva, walau Laras memang picik, ia masih manusia yang memiliki perasaan. Hal itu bisa Reva rasakan saat ia menatap mata coklat yang terlihat sendu saat harus meninggalkan Reva sendirian.
Laras melenggang pergi meninggalkan Reva dan Ira yang masih menggeram kesal melihat tubuh langsing itu berlalu begitu saja.
__ADS_1
“Thanks reva, suatu hari, mari kita minum kopi bersama sebagai seorang teman.” Batin Laras dengan senyum tipis di bibirnya.
****