Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 47


__ADS_3

Hangatnya matahari siang ini, seolah memberi semangat baru untuk Nida. Ia duduk di Gazebo taman belakangnya sambil menata bunga-bunga kesayangannya. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman saat ia mengingat kembali wajah gadis yang telah menyelamatkan hidupnya.


Nida masih teringat, hangatnya tatapan mata Reva dan nyamannya pelukan gadis cantik itu. Ada rasa tak asing dalam diri Nida saat melihat Reva di hadapannya.


“Sayang… kok kayaknya seneng banget…” tutur Indra yang datang dari arah belakang.


Ia mengecup lembut pucuk kepala Nida lalu duduk di samping wanita yang di cintainya.


“Papih, kok tumben pulang siang-siang gini?”


Nida tersenyum simpul menatap mata sang suami yang selalu menyejukkannya.


“Iya, papih mau makan siang di rumah bareng mamih.” Sahut Indra seraya menggenggam tangan Nida.


“Wah iya, gag kerasa yaa… Udah jam makan siang lagi…” Nida memandangi cerahnya langit siang ini. “Reva udah makan masakan mamih kali ya pih?” tanya Nida dengan semangat.


“Reva? Gadis…”


“Iya pih, gadis cantik yang nyelematin mamih… Tadi pagi mamih nitip bekal makan siang buat Reva. Edho yang nganterin ke kantornya. Katanya mereka udah kenal lama.” Nida selalu tampak antusias saat membicarakan Reva. Sejak semalam kejadian di mall, yang selalu ia bahas hanya Reva dan Reva.


Indra menatap Nida, ada hal yang berubah dalam diri sang istri. Nida yang biasanya lebih banyak murung dengan sorot mata penuh kehampaan, kali ini selalu lebih semangat terlebih saat membicarakan Reva. Ia memang tersenyum, tapi matanya selalu terlihat sedih. Namun tidak kali ini, ia bisa tersenyum dengan binar mata penuh kebahagiaan.


Indra mengecup tangan Nida dengan lembut lalu menatapnya dengan hangat. Ia merasa bahagia karena perlahan Nida yang dulu telah kembali.


“Mungkin, mamih bisa undang Reva main ke sini kalo mamih mau…” tawar Indra.


“Beneran pih?” Nida terlihat begitu antusias.


Indra hanya mengangguk. Senyum lebar kembali terkembang di bibir Nida.


“Terima kasih tuhan, perlahan nidaku kembali…” batin Indra.


Di belakang sana, ada sepasang mata yang menatap tidak suka melihat sepasang suami istri tersebut. Ia mengepalkan tangannya, merasa geram dengan apa yang di dengar dan di lihatnya. Ya, dialah Alea.


Alea menyandarkan tubuhnya ke tembok, lalu perlahan matanya terpejam. Ia kembali teringat saat Raka dengan spontan memeluk Reva. Suatu hal yang sangt tidak biasa dilakukan Raka yang terkenal sangat dingin dan acuh.

__ADS_1


Bertahun-tahun Alea mengenal Raka, ia tidak pernah melihat raut wajah sekhawatir itu. Saat kuliah di luar negripun, Raka selalu bersikap dingin pada Alea, layaknya orang yang hanya mengenal selintas saja. Dan kali ini, perubahan yang sama terjadi pada wanita yang melahirkannya.


Nida yang belasan tahun ini bahkan jarang berbicara dan tersenyum, kini terlihat jauh berbeda. Perhatiannya teralih pada gadis yang sama , yang telah merebut perhatian laki-laki yang selalu ada dalam lamunannya.


“Reva, lo udah ngambil orang-orang penting di hidup gue. Lo gag bisa seserakah itu.” Gumam Alea seraya mengepalkan tangannya menahan amarah.


****


 


Reva tengah sibuk berbenah menyiapkan segala keperluannya untuk mengikuti workshop di Bandung. Ia membawa barang cukup banyak karena memiliki rencana lain setelah workshop selesai di akhir pekan ini.


Dengan menaiki sebuah taksi online, Reva sampai di kantor. Terlihat Tika sedang memasukkan barang-barang ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke Bandung.


“Re, tas kamu taro sebelah sana ya, biar gampang kalo mau ngambil barang.” Seru Tika yang sedang menata bagasi dengan barang bawaan pribadi dan beberapa maket.


“Iya mba, aku ngambil beberapa berkas dulu ke dalem yaa…” sahut Reva yang mulai berlari kecil menuju kantornya.


Ia naik ke lantai 6 tempatnya bekerja. Dari kejauhan Reva melihat Raka yang sedang beres-beres di mejanya dengan di bantu Dimas.


“Belom, ini ada beberapa berkas yang harus gue bawa.” Sahut Reva sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam map palstiknya.


Raka menatap Reva yang tampak sibuk dengan berkas-berkasnya, sudut bibirnya melengkungkan sebuah senyuman. Ia benar-benar tidak sabar menunggu hari-hari Reva memberinya jawaban.


“Gue ke bali bareng Raka. Iya kan bro?” tutur Dimas sambil menepuk bahu Raka, membuat ekspresinya langsung berubah tiba-tiba.


“Oh…” hanya itu jawaban Reva. “Okey, gue duluan ya.. safe flight!” lanjut Reva yang berlalu sambil melambaikan tangannya.


“Yo! Lo hati-hati juga.” Sahut Dimas. “Aduuhh si Reva itu yaa.. tambah hari tambah gemesin.” Imbuh Dimas sambil tersenyum mengatur berkas-berkas di tangannya.


Raka hanya mendengus kesal. Berkas-berkas yang semula ia tata dengan hati-hati kini berubah gaduh setelah mendengar ucapan Dimas barusan. Andai saja ia punya alasan untuk mentoyor kepala Dimas, mungkin sudah ia lakukan sedari tadi. Celotehan demi celotehan terus di ungkapkan Dimas, membuat Raka muak dan kesal. Ia berlalu meninggalkan Dimas yang masih bergumam menceritakan kekaguman-kekagumannya pada Reva.


***


 

__ADS_1


Hari pertama Workshop berlangsung dengan ramai. Audiencenya cukup banyak dan terlihat antusias. Reva menyiapkan materi yang akan di sampaikan oleh Tika pada audience yang ingin mengetahui tentang bisnis di bidang properti. Ia juga menata beberapa maket yang mereka promosikan.


“Mba, materi hari ini udah siap. 5 menit lagi mba tika tampil.” Terang Reva pada Tika yang sedang mencoba menenangkan diri dari rasa gugupnya.


“Duh re, udah lama gag tampil di depan orang banyak, aku grogi juga.” Sahut Tika yang terus menerus melakukan in hale dan eks hale.


“Bismillah mba, semoga lancar…”


Reva mencoba menyemangati. Tika hanya terangguk dengan senyuman tegang yang mulai memudar dari wajahnya.


Seorang MC mempersilakan Tika untuk tampil. Reva terlebih dahulu memperkenalkan profil perusahaan Adiyaksa corp yang banyak di gandrungi anak muda sebagai sasaran tempat bekerja di masa depan. Beberapa mata tampak terpukau melihat sosok cantik yang sedang berbicara dengan suara lembut.


“Wah jadi nih gue ngelamar ke Adiyaksa Corp kalo karyawan seniornya secakep itu.” Cetus seorang audience yang terpesona dengan Reva.


“Jangan ngarep lo, sebelum lo, pasti direkturnya dulu yang dapetin tuh cewek.” Sahut teman sebelahnya sambil mentoyor kepala laki-laki tersebut.


Ia hanya terkekeh dan kembali fokus pada pembicara di depan.


Tika mulai menyampaikan materinya, ia sudah tampak yakin dengan apa yang akan di sampaikannya. Pemaparanpun berjalan lancar.


Tiba pada acara diskusi, Reva mempersilakan audience untuk bertanya. Beberapa orang mengangkat tangannya, Reva menunjuk 3 orang pertama untuk bertanya.


“Perkenalkan saya Fajar, mahasiswa manajemen bisnis. Mau nanya, dalam bisnis properti itu kan saingannya tidak sedikit. Nah menurut mbak nya, bagaimana cara saya untuk bisa mendapatkan nomor handphone mba di sebelahnya?” tanya Fajar dengan senyum jenakanya.


Riuh sorakan audience membahana mengisi ruangan tersebut..


Tika menoleh Reva yang tampak acuh seolah tidak peduli dengan pertanyaan laki-laki tadi. Tika tersenyum kecil, pantas saja Raka begitu menitipkan Reva padanya.


“Tika, pokoknya lo gag boleh biarin Reva sendirian. Jangan sampe ada cowok yang deketin dia apalagi minta kontaknya dia.”


Kata-kata Raka lewat telpon pagi tadi terngiang begitu saja di telinga Tika. Tika dan Raka memang teman sejak SMA, namun mereka bisa bekerja secara profesional. Dan tentang Raka, ia tau benar, siapapun tidak akan bisa mengharapkan sesuatu yang sudah menjadi milik Raka.


“Okey, kita beralih ke penanya selanjutnya yaa…” ujar Reva mengakhiri kegaduhan itu.


Kali ini diskusi berjalan cukup serius. Para audience menyampaikan pertanyaannya dan Tika dengan gamblang menjawabnya. Reva berdecak kagum melihat sosok Tika yang begitu cerdas di matanya.

__ADS_1


****


__ADS_2