
Raka menggeliatkan tubuhnya saat cahaya pagi terasa menelisik dari balik gordin. Ia terlelap begitu dalam hingga terbangun dalam kondisi sangat segar. Raka mencari sesuatu di sampingnya, ya Reva. Ia ingat semalam ia tidur di samping Reva. Tapi yang dicari sudah tidak ada di tempatnya.
Raka tersenyum sendiri mengingat kejadian semalam. Ia tidur sambil memeluk gadis yang dicintainya. Ia pun merasakan sesuatu yang mengeras di balik celananya. Ia mengintip ke dalam selimutnya dan benar saja, juniornya terbangun. Ia menutup wajahnya sendiri dengan selimut, ia merasa malu pada dirinya sendiri, untung saja Reva sudah bangun dan tidak ada di sampingnya. Dengan semangat ia segera terbangun. Ia ingin bertemu dengan gadisnya pagi ini.
Raka berjalan keluar kamar Reva, dari kejauhan ia mendengar Reva tengah bersenandung lirih. Ia memandanginya sambil terus berjalan mendekati Reva yang sedang asyik memasak beberapa menu. Ia bisa melihat, Reva sangat cantik pagi ini dengan setelan baju olahraga miliknya.
Untung saja ia tidak meminjamkan kemeja kerjanya untuk Reva seperti halnya di film-film romantis karena tentu saja itu akan menjadi ujian berat baginya di pagi ini. Tapi melihat Reva yang memakai setelan olahraga miliknya yang kebesaran di tubuh Reva, itu saja sudah membuatnya gemas.
“Pagi , masak apa nih?” bisik Raka yang sudah berada di belakang Reva.
“Pagi mas, bikin nasi goreng, omlet sama tumisan.” Sahutnya dengan senyum tipis penuh pesona.
“Ya tuhan, aku beruntung banget re, pagi-pagi udah di masakin pacar.” Godanya dengan suara serak.
“Enak aja, ini gag gratis. Nanti cuci piring giliran kamu ya mas..” Reva menyikut Raka dengan sengaja membuatnya mengaduh manja. Reva hanya tersenyum geli. “Udah, mandi dulu sana, jangan kebanyakan drama pagi-pagi.” Lanjut Reva tanpa mempedulikan drama yang dibuat kekasihnya.
Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Rakapun mengikuti saja permintaan Reva. Ia mandi dengan cepat, membersihkan tubuhnya sambil sesekali menyuarakan lagu cinta melalui siulannya. Betapa ia sangat bahagia pagi ini. Tubuhnya pun sudah rapi dan wangi hanya dalam beberapa menit saja.
Selesai mematut dirinya, Raka kembali ke meja makan. Di hadapannya sudah terhidang masakan yang tadi disebutkan Reva. Air liurnya rasanya sudah akan menetes.
“Duduk mas, makan dulu.” Pinta Reva sambil menepuk kursi di sampingnya.
Dengan senang hati Raka duduk di samping Reva. Ia menerima sepiring nasi goreng dengan menu tambahan di sampingnya.
“Bissmillah dulu, biar gag sakit perut.” Ujar Reva sambil menyerahkan sendok dan garpu pada Raka dan Rakapun menurut layaknya anak kecil.
Raka mulai menikmati sarapannya sementara Reva hanya memandanginya dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Melihat Raka yang begitu lahap, ia merasa sangat bahagia. Ternyata masakannya tidak seburuk yang ia pikir.
“Kayaknya, aku harus cepet-cepet nikahin kamu, biar tiap hari ada yang masakin sarapan dan nemenin aku makan.” Ujar Raka sambil menoleh Reva yang juga mulai melahap sarapannya.
“Ya kalo kamu cuma pengen ada yang masakin , gag harus nunggu nikah kali mas. Kamu bisa sewa koki paling bagus buat masakin kamu.” Kilah Reva yang kembali fokus pada makanannya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Raka, membuat perasaannya tidak menentu. Antara senang dan gugup bercampur menjadi satu.
“Hahahha… Aku kan mau bangun rumah tangga, bukan rumah makan sayang. Ada kamu udah cukup.” Ujar Raka yang membuat Reva benar-benar terpaku.
Reva hanya terdiam sambil memainkan butiran nasi di hadapannya. Bibirnya menahan senyum yang sebenarnya ingin sekali ia perlihatkan pada Raka.
“Kok diem?” Perhatian Raka beralih pada gadis cantik di sampingnya.
Reva hanya menggeleng. Ia masih belum siap kalau harus menatap Raka dengan jarak sedekat ini.
Raka menyentuh dagu Reva dengan tangan kanannya dan membuatnya sejajar dengan tatapan matanya. Iapun menggenggam tangan Reva dengan erat. Rasa hangatnya menjalar di seluruh tubuh Reva.
“Re, apa kamu bersedia untuk jadi istriku? Ibu dari anak-anakku kelak?” tanya Raka yang begitu tiba-tiba.
Reva masih tidak percaya dengan yang diucapkan Raka. “Mas, kamu kalo becanda jangan sepagi ini. Gag lucu tau…” sahut Reva seraya memalingkan wajahnya.
“Astaga, siapa yang becanda? Iisshh kamu ini, emang paling pinter ngerusak suasana ya…” Raka mencubit pipi Reva dengan gemas.
“Hahahhaha jadi kamu juga masih bisa terbuai dengan hal-hal romantis?”
“Ya kali mas aku gag terbuai, aku kan perempuan.” Reva menyilangkan tangannya di dada, ia benar-benar kesal dengan tuan kanebo di hadapannya ini.
Raka hanya terkekeh. Ia merogoh sesuatu dari saku celananya. Ia fikir, ia tidak akan menemukan moment ini, tapi nyatanya saat ini hatinya sudah benar-benar yakin pada gadis di hadapannya.
Sebuah kotak kecil berwarna navy kini ada di genggaman Raka. Ia membukanya dan tampak lah sebuah benda berbentuk lingkaran yang berkilauan di sekelilingnya. Bentuknya sangat sederhana namun terlihat sangat mewah dan indah.
“Aku mungkin bukan laki-laki paling romantis yang ngejar kamu. Aku juga bukan laki-laki manis yang bisa menunjukkan perasaan aku dengan penuh kejutan. Tapi aku yakin, kamu tau, aku paling bersungguh-sungguh ngejar kamu dan mendapatkan kamu adalah sebuah anugrah. Jadilah istriku re, kita menua bersama dengan bahagia dan berkumpul kembali di dunia yang akan kita hadapi setelah kematian. I love you…” tutur Raka dengan penuh kesungguhan.
Reva hanya terpaku. Ia tidak menyangka Raka akan melakukannya secepat ini. Matanya yang berkaca-kaca kini sudah meneteskan cairan bening di sudut matanya. Reva menatap wajah tampan dihadapannya yang menunggu jawaban dengan gusar. Wajah yang masih selalu sulit untuk ia tebak tapi semakin ia menatap Raka semakin ia ingin mengenal dan bersama dengan laki-laki yang telah membuat hidupnya berubah.
Reva terangguk. Tidak ada lagi keraguan dalam hatinya. “Iya mas, aku mau….” Lirih Reva dengan senyum yang terkembang di bibirnya.
__ADS_1
Seketika itu juga, rasanya jantung Raka melambung sangat tinggi. Kebahagiaan yang tidak pernah ia temui sebelumnya kini nyata ada di hadapannya. Dengan tangan bergetar, Raka menyematkan cincin tanda cintanya di jari manis Reva lalu mengecup tangan tersebut dengan penuh perasaan. Sebuah pelukan, menjadi pelengkap hati keduanya yang mulai saling mengerat satu sama lain.
****
Jalanan pagi ini masih berbalut kemacetan seperti biasanya. Raka yang fokus mengatur kemudinya sesekali tersenyum melihat tingkah Reva yang asyik memainkan cincin di jari manisnya. Ia terlihat sangat cantik dengan baju kerja yang Raka pesankan tadi malam pada asistennya. Wajahnya terlihat cerah , jauh berbeda dengan Reva yang pucat pasi saat mendapati mimpi buruknya semalam.
“Kamu kok bisa tau ukuran jari aku mas?” tanya Reva tiba-tiba. Ia menatap Raka dengan takjub.
Raka tersenyum tipis, lalu mengusap pucuk kepala Reva dengan lembut. “Tau lah, kan aku sering megang tangan kamu.” Sahutnya dengan jumawa. Seolah memegang tangan Reva menjadi suatu hal yang membanggakan untuknya.
“Sa ae kang ukur.” Cetus Reva sambil mendaratkan pukulan kecil di lengan Raka.
Raka ikut terkekeh dengan tingkah Reva.
“Beberapa hari lagi, magang kita selesai. Kita ketemu ibu yuk…” ajak Raka tanpa ragu, membuat Reva melongo tidak percaya.
“Mau ngapain kamu ketemu ibu?” dengan segera Reva mencondongkan tubuhnya pada Raka.
“Ya aku mau dikenalin secara resmi lah sama ibu. Aku juga pengen ngenalin kamu secara resmi sama orang tuaku.” Sahut Raka dengan santai.
“Apa harus secepat ini mas?” Mata Reva mengerjap tidak percaya.
Raka mengangguk yakin. “Apalagi yang kita tunggu. Usia kamu emang baru 22 tapi usia aku udah 27 re. udah usia yang pas kan buat kita hidup berumah tangga.” Lagi-lagi Raka berbicara dengan santai padahal sebenarnya dalam hatinya ada gemuruh perasaan yang tidak bisa ia utarakan satu per satu.
Reva tampak berfikir sejenak. Ia menoleh Raka kemudian kembali termenung. Selain Adrian, ia tidak pernah memperkenalkan siapapun pada Ibunya. Bahkan Ratna tidak pernah tau kalau hubungannya dengan Adrian sudah berakhir.
“Emm… kita temui ibu setelah yudisium ya mas. Lusa kan aku sidang, jadi aku pengen ngasih kabar bahagia lain buat ibu.”
“Hemm boleh. Aku setuju.” Sahut Raka sambil mengusap kepala Reva.
“One step closer re, hidup aku akan benar-benar sempurna.” Batin Raka seraya tersenyum menatap sepasang manik coklat di hadapannya.
__ADS_1
*****