
Makan malam bersama menjadi acara penting bagi kedua keluarga besar yang bersahabat sejak kecil ini. Wira dan Indra tampak menikmati makan malamnya dengan di selingi obrolan ringan dan hangat. Mereka saling tertawa dan sesekali saling berangkulan. Pemandangan yang sudah sangat lama sekali tidak pernah terlihat.
“Raka memang mewarisi sifat kamu, dia pantang menyerah dan keras kepala.” Ujar Indra seraya menepuk bahu laki-laki muda di sampingnya.
“Tentulah, hal baik harus di wariskan bukan?” Wira tidak ingin kalah kalau dalam hal membanggakan putranya.
“Ya, saya masih gag nyangka, anak kecil yang dulu suka diem-diem masuk ke rumah, ternyata sudah jadi laki-laki tampan dan mapan. Kalau aja dulu om tau kamu akan sesukses ini, om akan bukakan pintu rumah lebar-lebar. Hahahaha” Kenang Indra saat teringat Raka kecil yang selalu menyelinap masuk ke rumah dan kamar putri bungsunya.
“Kalau dulu om gag larang-larang saya, saya gag akan tumbuh menjadi laki-laki yang siap meminang putri om.” Cetus Raka tiba-tiba seraya melirik Reva.
Reva hanya tersipu. Rasanya ia tiba-tiba saja merasa gerah. Ucapan laki-laki yang dicintainya memang tidak pernah bisa ia duga.
“Hahahahaha kamu memang laki-laki yang bisa di andalkan raka.” Indra kembali menepuk-nepuk bahu Raka dengan bangga. “Kalau kamu serius dengan lana, kenapa gag secepatnya?” lanjut Indra yang seolah membuka pintu restu bagi Raka.
“Serius om, ini boleh secepatnya?” sahut Raka dengan segera. Image yang Raka jaga sedari tadi, hilang sudah saat kalimat itu meluncur dari mulutnya.
“Hahahhaha… Anak kamu wira…” ujar Indra yang di sambut tawa Wira yang tak kalah lepas.
Raka benar-benar tidak sadar dengan sikap spontannya. Padahal dalam pikirannya ia akan menjadi pangeran berkuda putih yang datang secara jantan untuk meminang sang putri, tapi sepertinya bayangan itu pudar begitu saja.
Reva ikut tersenyum namun masih ada perasaan gugup dan tidak percaya, ia akan berada pada titik ini. Niken dan Nida yang duduk di sampingnya tersenyum penuh arti seraya merangkul putri kesayangannya.
Sejak dulu, keduanya memang mengetahui kedekatan putra dan putrinya namun tidak pernah menyangka mereka akan merasakan perasaan lain selain sebagai sahabat sekaligus saudara.
Dalam suasana ini, Reva tidak lupa dengan kakak perempuannya yang sejak tadi asyik memainkan gelas wine di tangannya. Ia melirik ragu-ragu karena ia tau benar perasaan Alea pada Raka.
Alea mengerti benar arti tatapan Reva. Ia berusaha tersenyum walau terasa berat.
Nida seperti bisa membaca arti tatapan kakak beradik ini. Ia menggenggam tangan Reva dengan hangat.
“Pih, kita punya 2 putri yang sangat cantik dan sudah masuk usia yang boleh menikah loh…” Ujar Nida tiba-tiba.
__ADS_1
Indra pun kini menatap kedua putrinya bergantian.
“Tentu mih, bagaimanapun putri kedua kita akan menikah setelah kakaknya. Kamu gag keberatan untuk nunggu kan raka?” pertanyaan Indra, membuat Raka menelan ludahnya kasar-kasar.
Pilihan yang sulit bagi Raka yang sangat tidak sabaran, kalau ia mengiyakan, tentu kehidupan pribadinya akan sangat tergantung pada pernikahan Alea yang belum tentu kapan. Kalau ia mengatakan tidak, mungkin ia akan terlihat sangat egois.
Hanya sebuah senyuman dan anggukan yang bisa Raka berikan. Walau berat, dari tatapannya pada Reva, ia berusaha untuk saling memahami satu sama lain.
“Pih, ini zaman modern kali… Gag harus nunggu lea nikah dulu baru lana boleh nikah.” Sahut Alea tiba-tiba, membuat semua pandangan tertuju pada gadis yang tampil elegan malam ini.
“Maksud kamu sayang?” Nida ingin memperjelas maksud putri sulungnya.
Terlihat Alea menarik nafas dalam-dalam. Ia menyunggingkan senyuman tipis sebelum memulai kalimatnya.
“Ya maksud lea, lea gag mau jadi penghalang kebahagiaan raka sama lana.” Tatapan Alea kini beralih pada Reva dan Raka. “Lea masih belum punya pacar, tapi hubungan raka dan lana sudah jelas arahnya. Kalau lana mau menikah lebih dulu, lea gag masalah kok pih. Lea akan ikut bahagia.” Lanjut Alea dengan tenang.
Ibarat oase di tengah gurun, ucapan Alea membuat seisi ruangan bisa bernafas lega.
Alea hanya tersenyum tipis. “Maafin kakak ya de, kalo selama ini kakak banyak salah dan nyakitin kamu.” Tukas Alea seraya kembali tersenyum.
“Iya sama-sama kak..” timpal Reva yang merasa sangat bersyukur karena kakak perempuannya ternyata seseorang yang sangat baik.Reva mulai berfikir, mungkin Alea tidak seperti yang ia duga selama ini, benar adanya bahwa setiap orang selalu memiliki 2 sisi, baik dan buruk. Dan ini saatnya untuk lebih mengenal sang kakak lebih baik lagi.
“Uuuu… Anak mamih udah pada gede… Sini nak…” Nida merangkul kedua putrinya dengan erat.
Keduanya tampak tersenyum dengan bahagia.
****
Kehangatan makan malam masih berlanjut. Wira dan Indra asyik membahas masalah bisnis bersama Raka. Sementara Niken dan Nida membahas rencana untuk putra putrinya dengan semangat.
Reva memilih untuk menghampiri Ratna yang sejak tadi terlihat sendu. Ia duduk di salah satu kursi yang tidak jauh dari meja tempat makanan para adiknya terhidang.
__ADS_1
“Bu, ibu gimana kabarnya? Maafin rere belum bisa melakukan banyak hal buat ibu…” lirih Reva seraya menggenggam erat tangan Ratna.
Sebuah senyuman terlukis jelas di wajah Ratna. “Sayang… ibu baik-baik saja. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan seorang ibu selain kebahagiaan anak-anaknya.” Ratna mengusap rambut Reva dengan lembut. “Lihat putri ibu sudah besar. Sebentar lagi akan ada laki-laki yang meminang kamu, ibu ikut bahagia nak…” lanjut Ratna dengan penuh kesungguhan.
“Makasih bu.. Makasih ibu selalu sayang sama rere… Rere harap, ibu akan selalu ada di setiap saat –saat bahagia di hidup rere…” tutur Reva dengan penuh harap.
Wanita yang ada di hadapannya sudah tidak muda lagi. Ia tidak bisa membayangkan kalau sosok malaikat tak bersayap ini tidak hadir dalam hidupnya. Reva merasa sangat beruntung ya benar-benar beruntung karena Ratna menjadi salah satu pondasinya.
Tanpa terasa butiran air mata kembali menetes di pipi Reva saat ia teringat bahwa ia belum bisa melakukan apa-apa untuk membahagiakan ibu kesayangannya.
“Re, ini saat bahagia buat kamu. Jangan ada air mata nak…” Ratna mengusap lembut butiran air mata di wajah Reva.
Tak bisa ia pungkiri, ia masih selalu merasa kehilangan putri sulung yang telah mengubah hidupnya. Tapi ia tidak bisa egois, baginya melihat Reva hidup dengan baik sudah lebih dari cukup.
Dari kejauhan tampak Raka yang memperhatikan ibu dan anak tersebut. Ia memberanikan diri untuk mendekat. Raka tersenyum lalu duduk di samping Reva. Reva dan Ratna berusaha menyembunyikan kesedihannya dan segera menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya.
“Ibu… “ sapa Raka dengan senyuman hangat.
Raka berusaha berbaur di tengah-tengah dua wanita ini. Walaupun ia tidak begitu mengenal Ratna, dari Reva ia bisa melihat seperti apa baiknya Ratna mendidik dan menyayangi putra putrinya.
“Nak Raka…” Ratna menatap Raka dengan hangat. Iapun tersenyum dengan senyuman yang sama yang ia berikan pada putrinya. “Nak Raka kelak akan menjadi imam buat rere. Ibu harap, nak raka akan selalu menyayangi rere dan menjaganya dengan baik.” Tutur Ratna tiba-tiba.
Raka merasa ini adalah amanat terbesar yang pernah ia terima selama ini. Tatapan Ratna yang penuh harap, tentu sangat membekas di pikiran Raka.
“Iya bu, saya sangat menyayangi reva. Saya mengharapkan do’a ibu untuk kami berdua.” Ujar Raka tanpa ragu.
Dalam hatinya ia berjanji, apapun yang terjadi di masa depan, ia akan selalu menyayangi dan menjaga Reva dengan sebaik-baiknya.
“Tentu, ibu akan selalu mendo’akan yang terbaik untuk kalian. Bahagialah selalu nak…” Ratna mengusap bahu Raka dan Reva dengan penuh kasih.
*****
__ADS_1