
“Re, punya sauce gag?” tanya Raka di pertengahan makannya.
“Oh ada, bentar aku ambilin.”
“Gag usah, aku ambil sendiri. Kamu kasih atau aja tempatnya.” Raka menahan tangan Reva agar tidak beranjak.
“Hem okey, sauce sachetnya ada di deket galon dan guntingnya ada di laci.” Tunjuk Reva pada laci sebelah tempat tidurnya. Dengan cepat Raka menuju tempat yang di maksud Reva.
Ia membuka laci dengan segera, tapi sesaat tangannya terhenti saat melihat sebuah kalung dengan inisial RA. Rasanya ia sangat familiar dengan kalung itu. Dan saat ingatannya berputar, tiba-tiba saja kaki Raka terasa lemah hingga hampir terjatuh.
“Re, kalung ini…” tanya Raka dengan gugup.
Reva menoleh, menatap Raka yang tengah mematung memandangi kalung yang ada di tangannya.
“Oh, itu kalung dari ibu. Inisial nama aku, RA, Reva anasya.” Terangnya dengan santai. “Emang kenapa mas?” Kali ini Reva yang bertanya.
Terlihat Raka menghembuskan nafasnya lega. “Bukan apa-apa, familiar aja sama inisialnya.” Ujar Raka seadanya.
“Iya, inisial kita emang mirip. Sama-sama RA. Kalo di korea song-song couple, kalo kita RA couple ya mas…” celoteh Reva sambil terkekeh.
Sementara itu Raka hanya tersenyum tipis. Belum usai keterkejutannya pada benda familiar yang kini sudah ia simpan kembali ke laci Reva. Sejak saat itu, pikirannya mulai tak tentu. Ia terus memikirkan inisial RA yang ada di kalung itu. Bagaimana bisa bentuknya begitu mirip dengan kalung yang ia berikan pada seseorang sebagai kado ulang tahun 17 tahun lalu.
Sambil menghabiskan makan malamnya, ia terus menatap Reva yang memunggunginya. Kalung tadi benar-benar mengganggu fokusnya. Dalam beberapa saat, ia menghubungi Fery untuk memberinya tugas.
****
Acara peresmian di Adiyaksa Corp mengundang banyak sekali pengusaha penting dan terkenal. Mereka bercengkrama membicarakan bisnis sambil menunggu acara inti dimulai. Hingga saat ini acara berjalan dengan lancar. Tetamu saling menyapa dengan Rudy sebagai tokoh utama.
Setelah sekian lama, baru kali ini Reva mengetahui wujud laki-laki bernama Rudy. Laki-laki yang kerap membuat sang kekasih pulang larut dan lupa makan karena pekerjaan yang terus di bebankannya. Ingatannya kembali berputar saat memandang wajah tenang dan selalu tersenyum itu, ya Reva ingat, ia adalah salah satu pembeli di show room tempat ia mengikuti pameran beberapa waktu lalu.
Reva melihat ke sekeliling, tidak ada tanda-tanda Raka sudah hadir di acara tersebut padahal waktu peresmian akan segera di mulai. Reva mencoba menghubunginya tapi tidak juga ada jawaban dari sang empunya nomor telpon.
“Re, lo nyari siapa sih, dari tadi celingukan mulu?” tanya Tita yang tetap berusaha tersenyum menerima tamu yang datang.
“Mas raka, kok dia belum dateng ya? Emang dia gag ikut acara ini apa?” gerutu Reva dengan gusar.
Reva melirik jam yang melingkar di tangannya dan tentu saja sudah tidak pagi lagi. Semalam Raka memang pulang sangat larut bahkan menjelang dini hari, dan semalampun ia mengabari begitu sampai rumahnya. Tapi hingga jam segini Raka belum datang, kemungkinan ia kesiangan.
“Masa sih anak magang kesayangan direktur gag ikut peresmian…” cetus Tita yang ikut kepikiran.
“Lo udah coba telpon? Kesiangan kali dia.” Sambung Dimas yang ikut menyimak pembicaraan 2 gadis di hadapannya.
“Udah, tapi gag di angkat.” Jawab Reva dengan putus asa.
Dari kejauhan terlihat Tika yang berjalan dengan sangat cepat. Ia menghampiri Reva dan kedua rekannya yang tengah berbincang.
__ADS_1
“Tita, tamu udah hadir semua?” tanya Tika ingin memastikan.
“Belum bu, ada 2 orang lagi yang belum dateng.” Tita menunjuk daftar nama yang telah dan belum hadir.
“Oh presdir Wijaya group dan Atmaja group ya?” ujar Tika dengan lemas.
Tita dan Dimas mengangguk bersamaan.
“Mereka memang perusahaan yang sangat besar di negara kita. Dan hubungannya tidak terlalu bagus, di banding rekan bisnis mereka lebih seperti saingan bisnis untuk perusahaan kita.” Terang Tika yang terlihat pesimis.
Ketiga anak magang tersebut hanya mengangguk walau sebenarnya mereka tidak terlalu mengerti tentang dunia bisnis di negara ini. Mereka hanya tau bekerja dan mendapatkan upah saja.
“Ya udah, kalian bersiap, 5 menit lagi presdir lama dan baru akan tiba. Reva masuk duluan ke dalam, jangan lupa bakinya di bawa.” Ujar Tika sambil menepuk bahu Reva.
Reva mengangguk mengiyakan. Setelah saling bertatapan memberi kode dengan kedua rekan kerjanya, Reva segera masuk ke ruangan aula utama dan bergabung dengan panitia lainnya.
*****
Detik-detik menegangkanpun tiba, seluruh karyawan diminta berbaris di sepanjang koridor menuju aula utama untuk menyambut kedatangan presdir lama dan calon penerusnya. Semua menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan pada atasan mereka yang baru.
Sementara para tetamu memberikan tepukan tangan saat 2 orang laki-laki gagah memasuki ruangan dengan diikuti oleh orang-orang kepercayaannya.
Reva ikut mengangkat kepalanya menyambut kedatangan laki-laki yang menjadi pusat perhatian tetamu seisi ruangan. Ia menatap tak percaya, saat melihat sosok yang sangat dikenalinya tengah tersenyum menerima ucapan selamat dari para tetamu yang menyambutnya.
“Astaga, ini gue gag salah liat kan?” Reva mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba meyakinkan bahwa yang dilihatnya tidak salah.
Benar, yang dilihat Reva tidaklah salah. Yang menjadi pusat perhatian kini adalah Raka. Ia terlihat sangat tampan dengan balutan celana dan jas berwarna navy dengan kemeja putih dan dasi berwarna biru terang serta rambut yang tertata rapi. Sangat berbeda dengan Raka sehari-hari yang hanya memakai celana bahan dan kemeja.
Hati Reva mencelos, menghadapi kenyataan yang dilihatnya. Semakin banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Raka. lalu, Apa posisi ia saat ini, jika sebagai seorang kekasih saja ia tidak mengenali Raka sama sekali.
Reva tersenyum ketir. Apa ia masih layak disebut sebagai seorang kekasih dari Raka, presdir Adiyaksa corp berikutnya.
“Mba tika udah tau sebelumnya kalo mas raka penerus perusahaan ini?” tanya Reva dengan tatapan sendu.
Tika mengerti benar arti raut wajah Reva. Akhirnya Tika hanya terangguk.
Terdengar Reva menarik nafas dalam-dalam. Telaga bening itu nyaris meneteskan butiran air mata di salah satu pelupuknya tapi ia coba tahan dengan berusaha tersenyum selebar mungkin.
Wira, laki-laki yang pernah Reva temui di kantor beberapa waktu lalu, kini sudah berdiri di depan memberikan sambutan pada tetamu dan mengucapkan rasa syukurnya bisa memiliki penerus sehandal putranya. Dan di detik ini pula Reva tahu siapa laki-laki yang pernah ia antar ke ruang tunggu tamu direktur.
Ingin sekali Reva tertawa, menertawakan kebodohannya saat itu. Dibohongi ? tidak, bukan seperti itu perasaannya. Tapi situasi ini membuat dirinya terlihat begitu bodoh tanpa mengetahui apapun.
“Apa ini alasan kamu minta aku bertanya mas?” batin Reva.
Beberapa bulan waktu yang Reva lalui ternyata tidak cukup untuk mengenali siapa Raka. Lalu apa fokusnya dalam hubungan mereka jika saling mengenal saja tidak pernah terjadi dalam cerita keduanya.
__ADS_1
Wira meminta Raka untuk naik ke podium. Dengan bangga ia memeluk sang putra.
“Re, ayo maju ke depan.” Bisik Tika yang tau pikiran Reva sedang tidak di tempat ini.
Reva berusaha menyadarkan dirinya. Ia mulai memasang senyuman semanis mungkin. Dengan langkah perlahan ia membawa baki yang berisi pin penerus untuk disematkan di dada penerus perusahaan.
Kali ini, Reva lah yang menjadi pusat perhatian. Ia berjalan dengan anggun berbalut pakaian yang dihadiahi oleh Niken, ibunda Raka. Rambutnya yang lurus debahu, kini di buat lebih bervolume dan tergerai dengan rapi. Beberapa pasang mata menatapnya dengan takjub tak terkecuali Raka.
“Dia calon mantu papah, pah.” Bisik Raka dengan yakin membuat Wira tercengang begitu saja.
Dia adalah gadis yang saat itu mengantarnya ke ruang tunggu direktur. Sepasang mata yang sangat familiar baginya hingga membuatnya terus menatap gadis itu hingga salah tingkah.
Kali ini, Reva sudah berdiri di antara Raka dan Wira. Wira mengambil pin dari baki dan menyematkannya di dada kanan Raka. Suara tepukan tangan bergemuruh menggema di seisi ruangan. Dengan cepat, Reva turun dan meninggalkan laki-laki yang sedang berfoto di hadapan para awak media.
****
Diantara hingar bingar acara, Reva memilih untuk pergi ke taman kantor dan menyendiri di sana. Pikirannya kacau, kecewa adalah perasaan yang mendominasi hatinya saat ini. Bukan pada orang lain, tapi lebih pada dirinya sendiri.
“Raka A putra, Raka Adiyaksa putra.” Gumam Reva sambil tersenyum ketir. Ia menyesap segelas kopi yang ada di tangan kanannya. Ia benar-benar ingin menenangkan diri.
Dari kejauhan terlihat seseorang berjalan ke arahnya. Adalah Fery yang kini berdiri di hadapan Reva dengan senyum jenakanya. Ia duduk di samping Reva yang tidak merasa terusik dengan kahadirannya. Ia menyandarkan diri lalu menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri.
Sejenak ia menoleh Reva yang masih menikmati kopinya.
“Dia gag pernah bermaksud bohongin lo re… Dia cuma butuh waktu untuk memantaskan diri berada dalam posisi ini.” Ujar Fery yang seolah mengerti kegundahan Reva.
Reva tersenyum kelu. Matanya menatap dedaunan yang bergoyang tertiup angin.
“Iya, dan sekarang semakin terlihat jelas jarak gue sama Raka. Dan nyatanya, kami gag saling mengenal satu sama lain.” timpal Reva tanpa menoleh Fery sedikitpun.
Fery tersenyum sarkas, benar yang dikatakan Raka, mengubah pemikiran Reva tidak semudah yang ia bayangkan.
“Keadaan gag pernah membuat kalian berjarak re, tapi cara pandang kalian yang membuat jarak itu ada.” Fery berujar penuh dengan kesungguhan. Namun saat ini, Reva sedang tidak ingin mendengar apapun. Ia butuh waktu, untuk memahami semuanya seorang diri.
Terdengar handphone Reva berdering. Ada panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal. Untuk alasan menghindar dari pembicaraannya dengan Fery, Reva mengangkat telpon itu.
“Re….” sebuah suara yang sangat Reva kenal. “Maaf, kean terus ngajakin makan ayam goreng. Kamu bisa makan siang bareng kami?” tanya Adrian dari sebrang sana.
Reva tersenyum tipis, kenapa Adrian harus hadir di waktu yang tepat, waktu untuk Reva menghindar dari semua yang ada di hadapannya. Mana yang harus ia hadapi, Adrian atau Raka.
“Dadyyy… mau tante rere…. Mana tante rere nyaa….” Terdengar rengekan Kean di sebrang sana.
“Iya, bisa.” Secepat itulah pikiran Reva berubah. Ia segera mengakhiri panggilannya dan menyimpan handphonenya di saku rok spannya.
“Fer, gue butuh waktu. Sorry gue gag bisa gabung lebih lama di acara ini. Rasanya tugas gue udah selesai.” Tutur Reva seraya berlalu pergi meninggalkan Fery yang masih terduduk dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
Sebelum memutuskan untuk pergi, Reva menemui Tika yang masih berada di acara. Ia meminta izin untuk keluar dan Tika mengizinkannya. Saat melewati meja kerja Raka, Reva menaruh kotak yang terbungkus kertas kado di atas mejanya. Entah Raka akan menemukannya atau tidak, ia hanya ingin memberikan kado ini sebagai ucapan selamat ulang tahun untuk kekasihnya.
****