Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 116


__ADS_3

Reva tengah duduk sendirian di gazebo halaman belakang rumahnya. Ia mengeluarkan beberapa obat dan meminumnya. Ia pun membuka perban lukanya dan mengoleskan beberapa obat luka.


“Biar bibi bantu non…” Ujar Bi Inah yang sudah berdiri di samping Reva dengan sebaki barang yang ia bawa.


Reva terangguk seraya tersenyum. “Duduk bi..”


Bi Inah menempatkan barang-barang yang ia bawa di dekat Reva. Ia mengambil perban baru dan bersiap membungkus luka Reva yang masih terlihat basah di dekat sikutnya.


“Dulu, non rere sering sekali terjatuh dan terluka di tempat yang sama.”


Bi Inah mengawali pembicaraan. Pikirannya mengingat saat dulu Reva kecil sering bermain kemudian beberapa kali terluka di dekat sikutnya. Reva ingat, saat ia sendirian di rumah, hanya bi Inah yang menemaninya. Mengasuhnya, menyuapi ia makan dan menemaninya bermain hingga terlelap di pelukan bi Inah. Mungkin inilah alasan kenapa ia merasa sangat tak asing saat Reva pertama kali datang ke rumah ini.


“Apa non rere masih suka makan es krim pake kentang?” lanjut bi Inah yang benar-benar mengingat setiap kebiasaan Reva.


Sejak dulu, saat ia ingin es krim pasti akan memakannya bersamaan dengan kentang goreng. Hal ini ia lakukan karena Nida kerap berpesan untuk memberi Reva makanan berat sebelum makan es krim. Tapi siapa sangka makan es krim dengan kentang menjadi kebiasaannya hingga dewasa.


Pernah sesekali Reva makan es krim dengan kentang, tapi itu membuat Alea hampir muntah melihatnya. Sejak saat itu, ia melakukan kebiasaannya diam-diam. Tidak ada yang tahu, selain Bi Inah yang kerap memergokinya.


“Makasih udah jagain rere sejak  dulu bi…” ungkap Reva dengan penuh haru.


Bi Inah hanya terangguk seraya tersenyum. Tuan putri yang dilayaninya sudah tumbuh dewasa dan sangat cantik. Kalau mengingat kemalangan Reva dahulu, kadang hatinya ngilu sendiri.


Bi inah mengambil handuk yang ia rendam dengan air panas. Setelah mulai menghangat, Bi Inah menepatkan handuk tersebut di luka memar Reva. Reva terlihat meringis menahan sakitnya.


“Non rere seorang jagoan, kenapa harus terluka separah ini?” lirih Bi Inah dengan mata berkaca-kaca.


Terlihat senyum tipis di bibir Reva. Bi Inah masih sama, ia selalu mencemaskan setiap hal buruk yang menimpa dirinya sejak ia kecil. “Aku hanya teledor saja bi. Tapi kalau bibi merawatku seperti ini, aku pasti cepet sembuh.”  Tukas Reva seraya menatap Bi Inah.


Bi Inah berusaha tersenyum walau bibirnya terasa kelu. Ingin sekali ia menangis, saat ia tahu Reva yang selalu mengatakan ia baik-baik saja padahal sebenarnya tidak baik-baik saja.


Selesai dengan kompresnya, Bi Inah mulai mengoleskan lidah buaya yang ia olah untuk mengobati luka-luka lebam Reva. Ini kebiasaannya sejak dulu dan ini adalah rahasianya unuk menyembuhkan luka Reva. Jika dulu ia harus berpura-pura memakai trik sulap untuk membujuk Reva agar mau di obati, kini nona muda ini dengan sukarela menunjukkan lukanya bahkan yang tertutup oleh bajunya.


Banyak cerita yang tersimpan di pikiran Bi Inah. Lebih dari itu, ia sangat bersyukur Reva masih hidup dan sudah kembali mengingat siapa dirinya.


****


Di kamar inilah kini Reva berada. Saat ingatannya kembali, ia membuka laci lemarinya dan menemukan sebuah kotak yang terbungkus kertas kado. Ia membawa kotak tersebut ke tempat tidurnya. Saat di buka, ada buku harian miliknya.


Reva membuka satu per satu halaman buku hariannya. Tulisannya masih sangat jelek dan ia merasa geli sendiri. Banyak sekali gambar yang ia tempel di buku hariannya. Salah satunya adalah cangkang permen yang ia lekatkan dengan selotip di buku hariannya.

__ADS_1


Sebuah senyuman tipis terkembang di bibir Reva tatkala mengingat siapa yang memberi permen tersebut.


Reva pulang sekolah sambil menangis, bi Inah pun tidak bisa membuatnya terdiam. Bajunya berantakan di penuhi sauce dan coklat. Lelehan es krim pun ada di sana.


“Lana kenapa bi?” tanya Alea yang terusik dengan suara kencang tangisan Lana.


“Ini non, tadi kata pak Ano, non lana di gangguin temen-teman laki-lakinya. Jadi dia nangis , minta pulang dari sekolah.” Terang Bi Inah sambil mengusap air mata di wajah Lana.


Sekolah Lana memang sangat dekat dengan rumah dan bisa di tempuh dengan jalan kaki. Biasanya Pak Ano akan mengantar Lana dengan sepeda karena ia sangat menyukai duduk di bocengan sepeda Pak Ano.


Mata Alea mengerling kesal. “Sini ikut kakak!” seru Alea seraya menarik tangan Lana. Lana mempercepat langkahnya untuk mengimbangi Alea, tangisnya berhenti, berganti rasa takut. Ia memandangi tangannya yang digenggam Alea, ini kali pertama Alea memegang tangannya.


Tanpa Lana sadari, Alea membawa Lana kembali ke sekolahnya. Ia memandangi banyaknya anak-anak yang sedang bermain.


“Mana yang gangguin kamu?” tanya Alea tanpa melepaskan pandangannya dari anak-anak yang sedang bermain.


Lana menunjuk 3 anak laki-laki yang tengah bermain bola. Dengan segera Alea menghampirinya.


“Hey, kalian!” teriak Alea.


Anak-anak itupun mengalihkan pandangannya pada Alea yang terlihat dingin.


“Kalian yang gangguin Alana?!” gertak Alea dengan kasar.


“Dia!” tunjuk 2 anak lainnya pada seorang anak laki-laki yang bertubuh lebih besar.


Anak tersebut tampak gelagapan. “Kamu jangan berani ganggu alana lagi atau nanti aku adukan ke guru dan orang tua kamu supaya kamu di hukum.” Ancam Alea dengan tegas. Anak itu hanya tertunduk karena takut. “Cepet minta maaf!” lanjut Alea sambil melotot.


Dengan segera anak tersebut mengulurkan tangannya. “Lana, maaf.” Ujar anak tersebut. Dengan takut-takut Lana membalas uluran tangan itu. Ia terangguk seraya tersenyum. “Sekarang kita berteman kan?” ujar anak bernama Bagas tersebut.


Alana kembali mengangguk seraya tersenyum. Dalam hatinya terselip kekaguman pada sang kakak yang pasang badan untuk membelanya.


Alea kembali mengajak Lana pulang. Di pertengahan jalan ia membeli beberapa permen kesukaan Lana.


“Lain kali, kamu harus lebih berani. Jangan mau di ganggu sama temen kamu. Kalo mereka jahat, kamu bilang sama guru kamu, jangan cuma bisa nangis dan ngadu ke tante niken atau raka. Ngerti?” ujar Alea dengan tatapan tajamnya.


“Iya kak.” Alana terangguk perlahan. Ia benar-benar bangga pada sang kakak dan mulai mengidolakannya.


“Ini buat kamu, jangan nangis lagi.” Alea memberikan 2 buah permen pada Lana. Dengan senang hati Lana menerimanya, senyuman itu kembali terlihat di wajah polosnya. Mereka pulang bergandengan tangan. Lana merasa aman saat bersama Alea tapi sayangnya,itu hanya terjadi satu kali dan tidak pernah terulang. Namun semua begitu membekas di benak Reva.

__ADS_1


Reva mengusap cangkang permen yang mulai luntur itu. Ia masih mengingat rasa manis permen dan hangatnya genggaman tangan Alea. Ia merindukan Alea yang dulu, Alea yang menyayanginya dengan cara yang spesial. Andai saja waktu bisa di ulang kembali, ia tidak akan membuat celah sedikitpun yang membuat hati mereka berkebalikan.


*****


Handphone Raka berdering nyaring. Tampaklah nama Reva yang menghiasi layar perseginya. Ia segera menjawab panggilannya. Sudah berpuluh pesan ia kirim dan tidak di baca satupun oleh Reva, siapa sangka kali ini sang gadis menelponya.


“Iya sayang…” jawab Raka dengan segera.


“Mas raka lagi sibuk gag?”


“Enggak, kenapa yang?”


“Mas raka bisa temenin aku keluar bentar?”


“Iya bisa. Aku ke sana sekarang.” Sahut Raka tanpa menunggu apapun. Ia tidak peduli pada Fery yang tengah berfikir keras tentang proyek yang dihadapinya. “Lo lanjutin, gue pergi dulu.” Ujarnya yang bergegas pergi.


“Astaga, raka ini belum selesei.” Protes Fery, tapi Raka mengabaikannya begitu saja.


Raka segera berlari menuju lift yang membawanya ke basement tempat ia memarkirkan mobilnya. Ia memilih menyetir sendiri karena ia hanya ingin menikmati waktunya berdua dengan sang kekasih.


Mobil sedan itu mulai melaju membelah jalanan di sore hari yang ramai. Ia menambah kecepatan laju kendaraannya karena ingin segera bertemu dengan Reva. Berhari-hari ia tersiksa karena tidak bisa berbicara dengan Reva dan kali ini, ia tidak ingin melakukan kesalahan apapun.


Di depan gerbang rumah Reva, tampak gadis cantik itu sedang menunggunya. Ia tampak cantik dengan vintage shirt dress-nya. Sementara kakinya terbungkus sepatu oxford. Raka tersenyum tipis, penampilan Reva memang selalu memanjakan matanya. Ia membunyikan klakson dan tak lama berhenti di depan Reva. Raka turun dari mobil dan segera membukakan pintu untuk Reva. Reva pun segera naik dan duduk di samping Raka yang mengemudi.


Raka tengah bersiap di belakang kemudinya, sejenak ia menatap Reva dengan lekat, bibirnya tak henti tersenyum, betapa ia sangat bahagia melihat Reva yang tampak bernyawa.


“Kita mau kemana sayang?” tanya Raka dengan tatapan lekatnya.


Reva menoleh Raka dengan wajah polosnya. “Antar aku ketemu kak lea.”


Rasanya jantung Raka berhenti berdetak saat itu juga. Raka ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang di katakan Reva benar sesuai yang ia dengar. “Ketemu lea?”


Reva mengangguk yakin tanpa bisa di bantah.


Raka menyentuh tengkuknya dengan ragu. Ia mulai menyalakan mesin mobilnya. “Okey, kita berangkat.” Gumamnya sambil memperhatikan arah mobilnya.


Reva tak bergeming sedikitpun, ia fokus melihat jalanan dan Raka sesekali melirik Reva dengan penuh tanya.


****

__ADS_1


__ADS_2