
Senyuman merekah terlihat jelas di wajah Raka dan Fery. Jabatan tangan dengan para investor barunya menjadi awal langkah baru bagi Raka. Ia tidak lagi peduli dengan serangan yang mungkin akan di lancarkan Theo. Ia sudah bersiap dan ia bertekad akan melindungi semua yang ia punya termasuk Reva.
Mendengar cerita Fery tentang banyak hal yang tidak Raka ketahui sebelumnya, membuat Raka menggeram kuat. Demi apapun, ia tidak akan membiarkan lagi Theo mendekati Reva atau apapun yang berhubungan dengan hidupnya.
Raka terlihat lebih bersemangat hari ini. Ia membereskan sendiri barang-barang di meja kerjanya dengan senyuman yang tak henti terukir dari wajahnya.
“Makan siang dimana bro?” tanya Fery dengan penasaran.
“Bebek goreng. Reva lagi ngidam bebek goreng.” Ucap Raka seraya tersenyum penuh arti.
“Ngidam?” Fery mengutip salah satu kata yang keluar dari mulut Raka.
Raka hanya terangguk dan tersenyum lebar. “Gue bakal jadi seorang ayah.” Tegasnya dengan rona kebahagiaan yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Hah sumpah lo? Kapan lo…” Fery menggantung kalimatnya.
“Kapan apa? Kapan gue bikinnya apa kapan gue taunya?” cetus Raka seraya terkekeh. “Banyak nanya lo, sini kasih gue selamat!” Raka merentangkan tangannya.
Fery menggeleng tak percaya. Ia segera memeluk Raka dan menepuk-nepuk punggungnya. “Selamat bro, lo bakal jadi seorang bapak! Gilaaaaaakkkkk!” ungkap Fery yang ikut berbahagia.
Raka hanya mengangguk. Bahagia? Ya ia sangat bahagia. Tidak ada kalimat yang tepat untuk menggambarkan kebahagiaannya. Hanya hatinya yang bisa merasakan sebesar apa rasa syukur yang bisa ia ungkapkan.
******
“HAHAHAHAHA…” tawa membahana terdengar jelas di ruang kerja Richard.
Laporan yang Richard minta kini sudah ada di tangannya. Ia menatap tak percaya. Setelah dibuat penasaran oleh sosok wanita yang membuat putranya menjadi budak cinta, kali ini ia lebih tidak percaya lagi saat tahu bahwa Reva adalah anak yang ia culik 18 tahun lalu.
“BRAK!!!!” Richard memukul meja yang ada dihadapannya. Air mukanya berubah begitu saja saat ternyata masa lalunya masih memiliki sisa yang harus ia selesaikan.
“Jauh kan perempuan itu dari theo.” Titah Richard dengan sorot mata bengisnya.
“Tapi tuan?” Arya yang menerima perintah itu tampak tidak setuju.
Richard segera mendekat dan mencengkram kerah baju Arya. “Apa kau lupa tugas apa yang saya berikan? Perlu saya ingatkan atau keluargamu ikut mengingatnya?” tegas Richard dengan penuh penekanan.
Hati Arya menciut seketika. Jika sudah dengan ancaman terhadap keluarganya, ia bisa apa?
“Baik tuan.” Arya hanya bisa menyanggupinya.
“Pergi!!” tegas Richard seraya mengibaskan cengramannya. Arya terhuyung beberapa langkah dan merunduk pada Richard sebelum dia pergi.
Tingallah Richard yang kini sendirian di ruangannya. Bayangan wajah Reva mengisi ingatannya bergantian dengan wajah bahagia Theo yang terus mengusik pikirannya.
“Wijaya dan adiyaksa, kalian merusak hidupku. Aku tidak akan membiarkan putri kalian merusak hidup putraku.” Ungkap Richard dengan penuh kebencian.
*****
Theo baru keluar dari sebuah hotel tempatnya melakukan pertemuan dengan rekan bisnisnya. Ia memandangi wajah Reva yang ada di ponselnya. Hari ini ia sangat merindukan pujaan hatinya. Ia mencoba menghubungi Reva namun tidak juga di jawabnya.
__ADS_1
“Tanya orangmu bagaimana reva hari ini.” Titah Theo pada Arya. Sejenak Arya terdiam. Entah apa yang harus ia lakukan saat ini. “Kau tidak mendengarku?” gertak Theo dengan tatapan tajam.
“Saya dengar pak. Segera saya tanyakan…” ujarnya gelagapan.
Arya segera mengeluarkan ponselnya dari saku kemejanya. Ia tampak menghubungi orang-orang kepercayaannya. Sementara Theo hanya tersenyum saat mendengar kabar Reva tengah bekerja dan terlihat baik-baik saja.
“Menurutmu, bagaimana cincin ini?” tanya Theo seraya memperlihatkan cincin bertahtakan berlian yang terlihat berkilauan d tempatnya.
“Bagus pak…” Arya menjawab dengan ragu.
“Apa dia akan menyukainya?” terlihat senyum bahagia di wajah Theo tatkala membayangkan cincin ini tersemat di jari manis Reva.
“Iya pak…” lagi-lagi Arya menjawab sekenanya.
“Bawa saya ke kantor wijaya. Saya ingin mengajaknya makan siang.” Pinta Theo.
“Tapi pak, siang ini kita ada lunch dengan salah satu kolega.” Untuk pertama kalinya Arya membantah.
“Kalau begitu, sore ini siapkan kejutan untuk reva. Sepertinya dady pun menyukainya.” Titah Theo selanjutnya.
“Maaf pak, sore ini tuan besar ingin mengajak bapak ke makam mendiang nyonya.” Lagi-lagi Arya beralasan. Terdengar decikan sebal dari mulut Theo. Ia merasa hari ini Arya tidak bisa mengatur jadwalnya dan banyak beralasan.
“BERHENTI!” seru Theo.
Dalam sekejap Arya menginjak pedal remnya. Ia bisa melihat kemarahan di mata Theo yang tertuju padanya. Theo turun dari mobilnya dan menghampiri Arya yang duduk di balik kemudi.
“TURUN!” titah Theo pada Arya.
****
Reva termenung sendirian di ruangannya. Ingatan tentang kejadian 18 tahun silam terus berputar di kepalanya. Wajah Richard menjadi satu-satunya yang mengisi pikiran Reva. Ia mengeluarkan CD yang berhasil ia ambil dari amplop milik Richard. Ia mulai memutarnya. Dengan dada berdebar-debar Reva melihat semua adegan dalam rekaman CCTV tersebut. Mata Reva membulat, butiran air mata menetes di wajahnya. Mengapa harus adegan ini yang ia lihat.
“Maaf pak, anda tidak bisa masuk begitu saja…” ujar Ira yang menjegal langkah kaki Theo.
“Minggir! Jangan halangi jalan saya!” Theo mendorong tubuh Ira hingga membentur tembok.
“Brak!” ia membuka pintu ruangan Reva dengan kasar.
Reva yang tengah terpaku segera berdiri saat melihat kedatangan Theo. Ia berusaha mengusap air matanya dan menyembunyikan tangisnya dari Theo.
“Haloo sweetheart… Kenapa hari ini begitu sulit menemuimu? Apa ada yang sedang mencoba menghalangi kita?” tanya Theo dengan seringai tipisnya yang tertuju pada Reva.
“Ti-tidak theo, ada apa?” Reva gelagapan melihat tatapan dingin dan seringai menakutkan dari Theo. Hatinya ketir.
Theo berjalan menghampiri Reva. Ia menatap manik coklat yang terlihat sembab.
“Kenapa, apa ada yang menyakitimu?” Theo mengusap sisa air mata di pipi Reva dengan lembut. Reva hanya bisa memejamkan mata dengan buliran air mata yang terus menetes. Mentalnya benar-benar tidak siap setelah melihat video yang di putarnya.
“Anda mau apalagi dari saya?!” lirih Reva yang ketakutan.
__ADS_1
“Oooww tenang sweetheart. Aku hanya ingin mengajakmu makan siang. Bisakah kita pergi sekarang? Atau kamu mulai lupa dengan perjanjian kita?” bisiknya di telinga Reva yang membuat nyali Reva menciut.
“Iya, iya saya bersedia. Kita makan siang.” Timpal Reva, patuh.
Terlihat jelas seringai penuh kemenangan di wajah Theo. “Good girl. Kalau kamu ingin memakiku, katakanlah. Aku bersedia mendengarnya. Asalkan jangan pernah menolakku.” Tukas Theo seraya menatap Reva dengan lekat.
Reva hanya menggeleng. Ia berusaha mengatur kembali nafasnya yang tidak beraturan. Melihat video yang di putarnya, mungkin saja Theo dan Richard memiliki tabiat emosi yang sama. Ia hanya bisa menurut, demi melindungi dirinya dan bayi dalam kandungannya.
“Tunggulah sebentar.” Tandas Reva.
Theo hanya terangguk dan tersenyum dengan senang hati. Sementara Reva pergi ke toilet ruangannya. Ia harus menyiapkan mentalnya, ia harus kuat. Di dalam toilet Reva menangis tersedu. Ia benar-benar ketakutan. Pada siapa ia harus mengatakan semuanya?
Sementara Theo, ia masih melihat-lihat seisi ruangan Reva. Berkas yang tersusun rapi, meja yang dipenuhi berkas tertumpuk dan wangi ruangan yang begitu ia sukai. Theo membuka satu halaman berkas di meja Reva, lalu tersenyum dan kembali menutupnya.
“Kamu gadis yang cerdas sweetheart.” Lirihnya.
Ia beralih pada kursi yang diduduki Reva. Ia merasakan kursi yang cukup nyaman untuk tempat wanitanya duduk. Perlahan perhatiannya tertuju video yang baru di tonton Reva.
“Wah, kamu hobi nonton juga sweetheart.” Gumamnya seraya tersenyum.
Theo memutar video yang di tonton Reva. Rasanya ia mengenal tempat yang sedang di tontonnya. Anak tangga yang cukup banyak dengan lukisan monalisa yang menmpel di dinding dan patung macan yang berada di salah satu sudut ruangan tersebut. Dengan mata membulat, ia sadar ini adalah rumahnya.
Tak lama, terlihat seorang laki-laki yang menaiki anak tangga dengan langkah gontai, sepertinya ia mabuk. Tentu Theo sangat mengenali laki-laki itu yang tak lain adalah Richard. Seorang wanita menghampiri Richard dan membantunya menaiki anak tangga. Terlihat mereka berdebat karena Richard mengibaskan tangannya. Wanita itu terjatuh di salah satu anak tangga dan tanpa di duga Richard menendangnya hingga jatuh berguling menuruni anak tangga.
Theo sudah tak berani melihat kelanjutan video di hadapannya. Setelah ini, ia tahu apa yang terjadi. Tentu saja, karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Melisa, ibu kandungnya meninggal dunia dalam kondisi berlumuran darah di lantai.
Tangis Theo sudah tak dapat di bendung. Bertahun-tahun ia mengira sang ibu meninggal karena kecelakaan saat ia terjatuh dari tangga. Tapi kenyataan berkata lain. semuanya berbalik. Sejujurnya ia sudah rela walau hatinya kerap merasa sepi tanpa sosok Melisa di sampingnya. Tapi melihat semuanya, Theo tentu tidak bisa begitu saja merelakan semuanya. Ia tidak hanya kehilangan sang ibu tetapi juga sang adik yang baru 4 bulan dalam kandungan ibunya. Richard menyembunyikan semuanya. Ia bersikukuh bahwa istrinya kecelakaan padahal jelas, dialah yang membunuh ibunya.
Theo terpaku di tempatnya. Dengan dada yang terasa panas karena amarah dan tentu saja kesedihan yang mendalam.
Suara pintu berderet terbuka.
“Theo…” Ujar Reva dengan suara bergetar. Ia melangkah dengan ragu saat melihat Theo berada di kursinya.
Theo mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Ia menatap Reva dengan dingin dan mata yang merah serta berair. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Reva.
“Darimana kamu mendapatkannya?” tanya Theo lirih. Sepertinya ia sudah kehabisan tenaga.
“Theo, saya…” Reva tak mampu berkata-kata. Melihat Theo yang terlihat begitu kecewa dan sedih, sudut hatinya ikut meringis. Reva melangkahkan kakinya mundur menjauhi Theo yang semakin mendekat hingga membentur dinding.
“Kenapa kamu harus mencari tahu hah? KENAPA??!!” Teriak Theo seraya mencengkram dagu Reva dengan erat. Matanya menyala merah menatap Reva. Hati Reva bergetar ketir. Ia ketakutan. Dengan sisa keberaniannya ia menatap Theo.
“Karena dia yang menculikku dan nyaris membunuhku!” sahut Reva tak kalah kencang.
Theo melepaskan cengkramannya. Ia menempatkan lengan kekarnya di sebelah kepala Reva untuk menopang tubuhnya. Jaraknya sangat dekat dengan tubuh Reva. Ia terisak dalam untuk beberapa saat.
“Maaf theo, saya tidak bermaksud membongkar rahasia keluargamu. Saya hanya ingin mencari bukti bahwa benar dia yang memisahkan saya dari keluarga saya selama bertahun-tahun bahkan saya hampir mati di tangannya.” Lirih Reva dengan cepat di sela isakan yang masih ia coba tahan.
“Maaf? Kamu masih bilang maaf?” tutur Theo seraya mengusap bibir Reva. Reva segera memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Theo berusaha menegakkan tubuhnya. Ia pergi meninggalkan Reva dengan langkah gontainya. Theo hancur. Semua kepercayaannya pada Richard hilang. Berganti kemarahan yang membara di dadanya. Apa arti kalimat cinta yang selalu Richard ucapkan di hadapan nisan Melisa? Apa arti tangis diam-diam yang kerap Theo dengar dari mulut Richard? Semuanya hanya penyesalan, semuanya hanya karena rasa bersalah.
*****