
Jam weker sudah beberapa kali berbunyi, namun Raka tidak bergerak sedikitpun dari posisinya.
“Woy, bangun woyy…” seruan Fery pun benar-benar tidak mengusik lelapnya Raka.
Fery menggelengkan kepalanya, ia benar-benar kehabisan cara membangunkan Raka.
“Si Reva nelpon noh! Cepet lo angkat.” Bisik Fery dengan perlahan.
Dalam sekejap Raka segera terbangun dan duduk di sofa. Tangannya bergerak ke sana kemari mencari benda persegi miliknya.
“Ya Re…” sahutnya tanpa membuka mata. “Halo Re…” ia menggulang panggilannya namun tidak ada sahutan Reva sedikitpun.
Perlahan Raka membuka matanya dan menatap cahaya putih yang menerpa wajahnya. Tidak ada panggilan satupun di sana. Ia melirik Fery yang sedang terkekeh di sampingnya. Bahunya bergetar dengan mulut terbekap kedua tangannya.
“Ah Sialan lo!” seru Raka seraya melemparkan bantal pada Fery yang segera tergelak melepas tawanya melihat kebodohan Raka.
“Gila, isi pikiran lo si Reva semua. Gue ancam pake nyokap lo sampe kebakaran lo gag bangun, giliran gue nyebut nama si Reva lo langsung bangun. Ckckckck…” decik Fery yang masih terpingkal-pingkal di atas tempat tidurnya.
“Awas lo ya! Siapin baju gue!” timpalnya sambil berlalu menuju kamar mandi Fery dan mulai membersihkan dirinya.
“Baik sultan,,,” sahut Fery dengan seringai kesal.
Begitu sosok Raka menghilang di balik pintu kamar mandi, Fery mengepalkan tangannya bahkan menendang, begitu kesal ia pagi ini pada sahabat sekaligus calon bos nya ini.
****
Reva masih sibuk dengan barang-barang yang ia masukan ke dalam tas. Tampilannyapun terlihat lebih rapi dengan stelan kemeja berwarna peach yang ia masukkan ke dalam celana panjang berwarna abu tua. Tubuh rampingnya terlihat sangat indah. Rambut lurus sebahunya ia biarkan tergerai.
Selesai menyiapkan semua keperluannya, Reva segera menyambar roti bakar yang ia buat dengan segelas jus jeruk. Berkali-kali ia melirik jam yang melingkar di tangannya, ia merasa hampir terlambat maka dengan segera ia menghabiskan makannya.
Langkahnya terlihat cepat menuruni satu persatu anak tangga. Heels 7 cm tidak menjadi penghalang baginya.
Setelah menyebrangi jalan, Reva menunggu kendaraan umum dengan gusar. 10 menit berlalu, semua kendaraan yang lewat terlihat penuh sesak penumpang. Fix ia akan terlambat hari ini.
“Re!” seru seseorang yang menepikan mobil mewahnya di depan Reva.
“Raka?” Reva terbelalak tidak percaya.
“Ayo naik, tar lo bisa kesiangan..” Raka berteriak dari balik kemudinya.
Tanpa berfikir panjang Reva segera berlari menuju Raka , ia naik dan duduk di samping Raka.
“Lo dateng tepat waktu. Hampir aja!” dengus Reva sambil tersenyum penuh syukur melihat Raka. Raka hanya tersenyum melihat Reva yang terlihat sangat cantik dengan pakaian formalnya.
Raka mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia dan Reva sama-sama harus menghadap dosen untuk pelaporan magang. Raka fokus memegang kendali setirnya sementara Reva menyiapkan beberapa berkas yang harus ia serahkan. Tampak Raka melirik Reva yang serius membolak-balik kertasnya. Bibirnya terasa gatal jika tidak menyunggingkan senyum tipisnya.
__ADS_1
****
20 menit berlalu, Raka dan Reva telah sampai di parkiran kampus. Mereka berjalan dengan cepat menuju ruang dosen.
“Kaki lo baik-baik aja Re?”
Raka memperhatikan langkah lebar Reva di atas heels yang tidak pendek.
“Gue udah biasa. Ngejar bis juga pernah.” Sahutnya dengan santai. Raka hanya terangguk, gadis di sampingnya memang strong women.
Intan sudah menunggu keduanya di ruang Dosen. Nafas Raka dan Reva terdengar tak beraturan. Wajahnya memerah dengan titik-titik keringat di dahinya.
“Selamat pagi bu...” sapa keduanya dengan bersamaan.
“O kalian udah dateng? Ayo silakan duduk.”
Raka dan Reva duduk di hadapan Intan. Mata intan menatap lekat kedua muda-mudi tersebut.
“Kalian, pacaran?” tanya Intan tanpa ragu.
Sejak Reva dan Raka masuk, Raka terlihat begitu manis. Ia membawakan goodie bag Reva yang berisi buku dan menarikkan kursi untuknya.
Keduanya saling bertatapan. “Enggak!” jawab keduanya bersamaan. Intan hanya terkekeh melihat keduanya yang sangat kompak.
“Kata orang, cinta itu seperti batuk, gag bisa di tahan dan di sembunyikan.” cetus Intan sambil membenarkan posisi blazer yang di pakainya.
“Ini target pembelajaran saya selama magang bu.”
Reva menyerahkan sebuah kliping yang sudah ia buat dengan rapi.
“Ini punya saya bu.” Sambung Raka.
Intan membuka kedua kliping tersebut bersamaan. Reva mengernyitkan dahinya, Intan memang luar biasa, ia bisa membaca kliping milik Reva dan Raka bersamaan.
***
Di tempat lain, Rudy tengah duduk di hadapan seorang wanita yang menatapnya dengan tajam.
“Gimana, sudah ada yang kamu rekomendasikan?” tanya Niken seraya menyeruput teh hijau di cangkir kramiknya.
“Ini nyonya...”
Rudy menyerahkan sebuah amplop coklat pada Niken.
__ADS_1
Niken membuka amplop tersebut dengan anggun. Matanya membulat saat melihat foto wajah cantik di hadapannya.
“Ini....”
“Putri pertama keluarga Wijaya, nyonya...”
Terang Rudy dengan senyum bijaknya. Niken menghembuskan nafasnya perlahan. Ia menyandarkan tubuhnya seraya memandangi wajah cantik tersebut. Sudut bibirnya melengkungkan garis senyum.
“Bagaimana kabar Nida?”
“Nyonya Wijaya sudah pulang dari luar negri 2 hari yang lalu, kondisi kesehatannya pun semakin membaik. Dan Tuan Indra sudah memimpin kembali perusahaannya dan memutuskan untuk tetap tinggal di sini.” Terang Rudy yang menjawab dengan tepat keingintahuan Niken.
“Hemm... Tolong jadwalkan pertemuan dengan keluarga Wijaya.” tutur Niken seraya menatap keluar jendela. Dalam seketika pikirannya di penuhi kejadian beberapa tahun lalu. Entahlah apa ia bisa bertemu keluarga ini setelah lama menjadi asing satu sama lain.
“Baik nyonya....”
****
“Hay cantiiikk... Kemana aja nih, di telpon gag pernah di angkat?” bisik Jeremy yang tiba-tiba duduk di samping Reva.
Saat ini Reva tengah menikmati makan siangnya bersama Raka di kantin kampus.
“Hay Jer, sory beberapa hari ini gue kerja di pameran.” Terang Reva seraya tersenyum.
“Heemm okeeyy... Lo pasti capek banget ya kerja sampe malem.” Ujar Jeremy seraya menyelipkan rambut di sela telinga Reva.
Reva hanya tersenyum dan kembali melanjutkan makannya. Jeremy masih memandangi Reva yang begitu dirindukannya seraya menopang dagunya dengan tangan kiri. “Nikah sama gue yuk Re, jadi lo gag usah capek-capek lagi.” Lanjut Jeremy tiba-tiba membuat Reva nyaris tersedak.
“Uhuk-uhuk..” Raka segera meraih air mineral yang ada di hadapannya. Ia meneguknya hingga tandas. Matanya menatap Reva dengan lekat.
“Lo ya, kalo ngomong gag pake filter.”
Reva menyiku lengan Jeremy dengan sengaja. Jeremy hanya tersenyum. Pandangannya kini beralih pada Raka yang ada di hadapannya.
“Gue liat, lo sering banget bareng dia.” Ujar Jeremy dengan tatapan menghunus pada Raka. Raka balik menatapnya dengan tajam.
“Oh iya, kenalin ini Raka. Dia magang di tempat yang sama bareng gue.” Terang Reva.
Terlihat seringai sebal di sudut bibir Jeremy. Alih-alih saling berkenalan, mereka hanya saling bertatapan dengan kilatan petir di antara keduanya. Reva yang menyadari hal tersebut, memilih untuk menghabiskan makananya dengan segera.
Setelah menenggak habis minumannya, Reva segera bergegas pergi meninggalkan keduanya yang masih saling bertatapan.
“Jangan lama-lama, nanti kalian jatuh cinta.” Cetus Reva seraya menepuk bahu Jeremy.
Reva bergegas pergi meninggalkan keduanya. Terdengar dengusan kasar dari mulut Raka dan Jeremy.
“Lo jangan berani ganggu Reva, ato lo bakal nyesel.” Ancam Jeremy seraya memukul meja di hadapannya.
__ADS_1
"Ganggu? Kita cuma saling mengisi." sahut Raka dengan penuh keyakinan. Ia memberikan senyuman mengejeknya di akhir kalimat. Ia berlalu pergi tanpa memperdulikan Jeremy yang masih merasa kesal. Ia lebih memilih mengejar Reva dengan segera.
***