Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 67


__ADS_3

Raka membawa Reva ke kamarnya. Ia mendudukan Reva di pinggiran tempat tidur. Reva sudah berhenti menangis tapi tatapan matanya masih kosong dengan wajah terlihat pucat. Raka menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Reva. Ia menatap dengan hangat dan tangan yang menggenggam dengan erat seolah tidak ingin membiarkan Reva rapuh sendirian.


Raka masih kebingungan, alasan Reva tiba-tiba menangis sesegukan. Tangannyapun gemetar dan ia coba rendam dengan menggenggamnya erat. Raka berusaha tersenyum walau di sudut hatinya masih menyimpan tanya.


“Seberat apa hidup kamu re, sampai kamu begitu kesakitan?” batin Raka tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik Reva.


“Mas, aku mau numpang mandi disini, boleh?” tanya Reva tiba-tiba.


“Hem, boleh… Mungkin kamu bisa nyegerin tubuh dan ngilangin bayangan adrian kalau kamu udah mandi.” Cetus Raka sekenanya.


“Mas… Kamu kok ngomongnya gitu sih. Aku nangis juga bukan gara-gara Adrian.” Kilah Reva sambil memalingkan wajahnya.


Raka hanya tersenyum, ia duduk bersila di lantai dengan tubuh tetap menghadap Reva.


“Tapi adrian selalu jadi salah satu alasan kamu menangis kan?” pertanyaan Raka kali ini membuat Reva menoleh menatapnya. “Re, aku gag tau sedalam apa perasaan kamu sama adrian sampai kamu merasa begitu terluka. Tapi, aku yakin kelak perasaan kamu akan lebih besar buat aku.” Raka menatap Reva dengan lekat. Bibirnya tersenyum tapi hatinya sedikit meringis.


“Hari ini, aku ngeliat kamu bicara sama laki-laki itu, pengen banget aku mukul dia ato cincang dia sekalian. Aku marah re, aku cemburu. Dan alasan aku ngajak kamu ke sini, aku gag mau tiba-tiba dia datang ke kostan kamu dan ngerayu kamu lagi.” Raka tersenyum di akhir kalimatnya. Ia mengelengkan kepala. “Aku bodoh ya? Sebegitu besar aku takut kehilangan kamu. Bukan aku gag percaya sama kamu, tapi aku gag yakin sama laki-laki itu. Tapi saat kamu memegang tangan aku, aku yakin perasaan kamu saat ini cuma buat aku. Dan itu udah lebih dari cukup.” Raka mengakhiri kalimatnya dengan mengecup lembut tangan Reva.


Raka membenamkan wajahnya di paha Reva. Tangan Reva terangkat dan mengusap kepala Raka dengan lembut.


“Kamu benar, adrian adalah salah satu alasan aku menangis.” Terdengar tarikan nafas dalam dari Reva. Mata Raka yang semula terpejam, kini mulai terbuka. Hatinya ketir, ia tidak sanggup jika harus mendengar Reva masih memiliki perasaan untuk laki-laki itu.


“Tapi, kamu selalu menjadi alasan aku untuk tersenyum.” Jantung Raka hampir jatuh ke dasar perutnya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Reva dengan hangat. Reva memalingkan wajahnya seolah sedang mengingat setiap kejadiannya bersama Adrian. Perlahan bibir tipisnya mulai tersenyum.


“Dulu, saat wanita itu datang mengaku sebagai istri dari adrian, hatiku hancur. Aku benar-benar gag siap kehilangan salah satu pondasi dalam hidup aku. Tapi saat dia bilang kalau dia sedang mengandung anak adrian, saat itu aku sadar, sejak awal aku bukan wanita yang adrian pilih dan gag akan pernah dia pilih. Dia bersama wanita itu setelah kami cukup lama bersama, jika akhirnya dia bisa punya anak dengan wanita yang dia bilang tidak pernah dia cintai, lantas apa arti rasa cinta adrian saat itu? Bukannya wujud ungkapan cinta sebenarnya adalah saat semua berujung di sebuah pernikahan?”


Kembali tatapan Reva tertuju pada Raka. Sesimple itu pemikirannya saat itu dan saat ini.


“Jadi, kalau suatu saat kamu ngerasa gag yakin sama perasaan kamu, kamu bisa bilang yang sejujurnya. Aku akan ngelepasin kamu. Sebesar apapun perasaan aku sama kamu, hanya bisa aku kubur kalau hati kamu ternyata berpaling.”


Kali ini tangan Reva terangkat untuk mengusap wajah Raka. Wajah yang sulit di tebak dan kerap berubah ekspresi tanpa bisa di duga. Reva merasa ia telah jatuh cinta, jatuh sedalam-dalamnya melebihi perasaan yang ia punya dulu pada Adrian.


“Aku cinta kamu mas…” Tukas Reva dengan senyum tipis dan malu-malu. Wajah yang merona itu, membuat Raka terpaku tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Raka mendengar Reva mengucapkan kata-kata cinta. Rasanya ingin sekali waktu berhenti sekejap saja, membiarkan Raka menikmati perasaan cinta yang membuncah di dadanya. Menatap sepasang telaga bening itu, bagaimana ia tidak jatuh cinta dan begitu bersyukur.


Reva menundukkan wajahnya, jantungnya berdebar sangat kencang. Entah dari mana asalnya kata-kata itu keluar begitu saja. Reva merasakan tangan Raka yang menyentuh wajahnya dengan lembut. Kali ini, ia bersimpuh di hadapan Reva, menatapnya dengan tatapan hangat yang mampu membuat jantung Reva bertalu-talu. Perlahan Raka menempelkan keningnya di kening Reva. Reva bisa merasakan hembusan nafas Raka yang menerpa wajahnya. Ia menggigit bibirnya sendiri pelan-pelan, rasanya begitu gugup.


“Love you re, lebih dari apapun…” bisik Raka yang kemudian mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Reva.


*****


Di tempat lain, Adrian masih memandangi wajah Kean yang telah terlelap. Sepertinya ia mimpi indah karena garis wajahnya terlihat begitu bahagia. Sepulang dari mall, ia terus berceloteh tentang tante Rere yang beberapa hari ini selalu ia puja.


“Dady, aku masih mau main sama tante rere….”


Rengekan Kean dalam perjalanan pulang kerap terngiang di telinga Adrian.


Reva, gadis cantik yang tak pernah hilang dari ingatannya membuat ia kembali merasakan perasaan yang tak asing baginya. Adrian menyentuh dada kirinya dan meremasnya perlahan. Debaran yang ia rasakan untuk Reva masih sama seperti saat ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis itu.


Namun di sisi hatinya yang lain, ia bisa merasakan sakit yang mungkin masih membekas di hati Reva. Ternyata waktu yang ia lewati tidak cukup untuk menghapuskan perasaannya pada Reva. Semakin ia mendekatkan diri pada Arini, semakin ia merasa tersiksa karena bayangan Reva yang kerap muncul dipikirannya.


Dia sadar, ia sangat jahat. Ia melukai 2 hati wanita untuk sebuah alasan pengabdian pada kedua orang tuanya. Dan kali ini hatinya yang terluka lebih dalam diantara 2 wanita dalam hidupnya.


“Re, apa aku masih ada kesempatan untuk sama kamu? Apa kamu bisa memberi tempat untuk aku dan kean?” lirih Adrian dengan air mata tertahan.


Dadanya terasa begitu berat saat ia mencoba menarik nafas dalam-dalam. Semua terasa begitu sulit. Ia tidak ingin melukai siapapun tapi hingga detik ini, yang ia lakukan hanya melukai tanpa bisa menyembuhkan.


Adrian terpekik dalam tangisnya. Ia meremas rambutnya kuat-kuat. Pikirannya benar-benar kacau. Ia hanya ingin mengulang semuanya bersama Reva, tapi rasanya terlalu sulit. Bahkan tatapan Reva sudah bukan lagi untuknya. Akhirnya Adrian hanya terdiam dalam kesakitannya.


****


“Aaaahhh jangannn!! lepasin! Lepasin aku! Aku gag mau ikut!! Aku mau sama mamah!” teriak seorang gadis kecil yang Reva lihat dalam mimpinya.


Reva ingin sekali berteriak melihat gadis itu memberontak tapi suaranya hilang begitu saja. Ia bisa merasakan sesaknya gadis iitu saat 2 laki-laki dewasa menyumpal mulutnya dengan selembar kain tebal. Ia pun bisa merasakan sakitnya kedua lengan gadis itu saat tangannya diikat dengan sebuah tali yang melingkar dengan kuat di pergelangan tangannya.


“Tolong! Tolong!” hati Reva berteriak seperti itu tapi mulutnya benar-benar kelu. Hanya air mata yang berderai tanpa tertahan melihat kejadian memilukan itu.

__ADS_1


“Jangaann!!!” teriak Reva  saat melihat seorang laki-laki bertubuh tegap memukul leher anak tersebut hingga tergolek tak sadarkan diri.


Namun secepat itu pulang bayangan menjadi gelap seluruhnya. Yang Reva rasakan hanya rasa sesak dan sakit di pergelangan tangannya yang tiba-tiba ikut terikat.


“Reva!!!” teriak sebuah suara yang membuat Reva terperanjat. “Re, bangun re!” lagi-lagi suara itu mengusik pendengaran Reva.


Dengan sekuat Reva membuka matanya dan dalam sekejap ia melihat seraut wajah yang sangat ia kenal.


“Mas raka..”  lirihnya sambil memeluk Raka dengan erat.


Tubuh Reva bergetar ketakutan. Cucuran keringat membasahi wajah yang pucat pasi. Mimpi yang sama berulang kembali setelah sekian lama Reva tidak mengalaminya.


Raka memeluk tubuh Reva dengan erat. Ia bisa merasakan Reva yang ketakutan terlebih ia berteriak meminta tolong membuat Raka yang baru memejamkan matanya kembali terbangun dan berlari dengan cepat ke kamar Reva.


“Sayang, semuanya hanya mimpi. Ada aku di sini…” lirih Raka sambil mengusap punggung Reva dengan lembut.


Reva semakin membenamkan wajahnya di dada Raka dengan tangan yang erat memegangi baju Raka. Mulutnya masih kelu dan tidak bisa mengucapkan apapun.


10 menit berlalu, Reva terlihat sudah lebih tenang. Raka mengambilkan air minum yang ada di samping tempat tidur Reva. Dengan tangan yang masih bergetar, Reva menerima gelas yang diberikan Raka dan mulai meneguk isinya dengan perlahan.


Raka menyelipkan sebagian anak rambut yang menghalangi wajah Reva. Ia menatapnya dengan penuh kecemasan. Mimpi yang dialami Reva tentunya bukan sembarangan mimpi hingga wanita sekuat dan seberani Reva bisa terlihat pucat pasi dan ketakutan dalam mimpinya.


Reva meletakkan gelasnya kembali pada tempatnya. Dengan takut-takut ia menatap Raka yang masih memandanginya dengan penuh kecemasan dan keheranan.


“Kamu udah lebih baik? Tidurlah lagi, ini masih malem…” lirih Raka sambil mengusap kepala Reva dengan sayang.


Reva hanya terangguk. Ia kembali membaringkan tubuhnya dengan gusar. Raka menaikan selimut Reva hingga ke dada lalu mengecup lembut kening Reva. Saat Raka akan beranjak, Reva menarik baju Raka.


“Mas, temenin aku bentar aja. Sampe aku tidur…” pinta Reva.


Raka hanya tersenyum. Ia mengambil tempat di samping Reva lalu membaringkan tubuhnya menghadap Reva. Tanpa ia duga, Reva kembali membenamkan wajahnya di dada Raka. Ia benar-benar masih ketakutan. Disisi lain, Reva bisa merasakan detakan jantung Raka yang sangat cepat saling berlomba dengan detakan jantungnya sendiri. Tapi rasanya itu seperti sebuah alunan musik yang membuatnya merasa lebih tenang. Ya, kehadiran Raka selalu membuatnya merasa lebih tenang. Dalam beberapa waktu mereka kembali terlelap dalam pelukan malam.


****

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen nya para reader sekalin, biar Reva tambah kuat , kamsahamnidaaa... ;D


__ADS_2