
Di hari sabtu, Reva masih bergelut dengan pekerjaannya. Ia kembali mengecek semua yang sudah ia siapkan dan memastikan tidak ada satupun yang tertinggal.
Saat ini, Reva tengah berada di gazebo taman belakang rumahnya. Ia di temani Raka yang mulai bosan dengan games perang-perangan di handphonenya. Ia bangun dari tidurnya dan menaruh handphonneya. Sekarang ia terpaku menatap wajah Reva yang begitu serius.
Raka tersenyum kecil, bahkan saat serius pun Reva terlihat sangat menggemaskan menurutnya.
“Kenapa, bosen main game-nya?” tanya Reva yang menyadari saat ini Raka telah menatapnya.
“Sok tau!” sahut Raka seraya membaringkan tubuhnya dan menjadikan paha Reva sebagai bantalnya. Reva hanya tersenyum, bayi besarnya memang selalu seperti ini.
“Gag ada cewek yang open mic ya, makanya bosen.” Goda Reva yang tetap sibuk memasukkan berkas-berkasnya ke dalam map.
“Nggak lah yang.. Bodo amat mau ada cewek open mic kek, mau apa cowok konser kek, gag peduli aku. Aku cuma pengen liatin kamu aja.” Timpal Raka yang menyilangkan tangannya di depan dada.
“Bohong…” gumam Reva yang masih bisa didengar oleh Raka.
Sepertinya Raka tidak peduli dengan godaan Reva, karena kalau ia menimpali lagi, pasti akan berakhir dengan Reva yang bad mood dan dirinya yang kewalahan membujuk Reva.
“Berkasnya mau di kemanain sih re? ko di rapi-rapi banget?”
Raka mulai penasaran dengan apa yang dilakukan Reva.
“Mau aku kasih liat ke kak lea.” Jawab Reva dengan santai seraya meraih handphonenya.
“Lea?”
Raka segera bangun dari tidurannya. Ia benar-benar terkejut mendengar perkataan Reva. Tapi yang berbicara hanya terangguk pelan. Seolah sudah bisa menebak respon Raka.
“Aku mau nerusin proyek ini sama kak lea, jadiiiii aku mau bawa berkas ini buat kak lea liat.” Tutur Reva dengan semangat.
Setelah Alea resmi menjalani masa hukumannya, Reva memang sering menemui Alea untuk membicarakan masalah proyeknya. Beberapa kali ide Reva di tolak Alea, tapi Reva terus berusaha meyakinkan sang kakak kalau semuanya bisa berjalan dengan baik asal mereka bekerja sama.
__ADS_1
“Kamu mau nganterin aku kan mas, ketemu kak lea?” bujuk Reva yang mulai melingkarkan tangannya di lengan Raka dan bersandar manja di bahu Raka. Lalu tentu saja Raka tidak bisa menolaknya dan hanya bisa terangguk setuju. “Yes! Kamu emang pacar terbaik!” seru Reva seraya mengecup pipi Raka, tapi siapa sangka, Raka malah memalingkan wajahnya dan akhirnya bibir mereka yang bertemu.
Mata Reva membulat seketika, ia segera tersadar dan menjauh dari Raka. Bisa terlihat rona merah di pipi Reva yang diikuti salah tingkahnya membuat Raka tertawa geli.
“Apa tadi, pacar terbaik? Emang kamu punya pacar terburuk?” goda Raka yang berbisik di telinga Reva.
“Ih mas raka apaan sih, jangan mulai deh… nanti ungkit-ungkit malah kamu yang ngambek dan baper.” Cetus Reva yang tak berani menatap Raka karena masih malu.
Raka terangguk. Benar, kalau sudah membahas masalah ini, sudah pasti Raka yang akan uring-uringan karena rasa cemburunya pada masa lalu Reva. Ah, sepertinya Raka memang sudah menjadi budak cintanya Reva.
Reva tampak memainkan handphonenya, tapi beberapa kali ia mengernyitkan dahinya dengan bibir yang ikut menggerutu merutuki benda persegi di tangannya.
“Hp kamu harus ganti re, itu udah gag kompatibel buat di pake kerja.” Ujar Raka yang seolah mengerti arti rutukan Reva.
“Heemm.. nggak ah. Ini banyak hal pentingnya di sini.”
“Hal penting apa sih? Foto mantan kamu?” Raka mengintip layar handphone Reva.
“Ish! Bukan lah. Di sini kan banyak chat dari kamu mas.” Kilah Reva yang segera menyembunyikan handphonenya.
“Ish kamu ngomong apa sih.. Kamu memang bisa chat ulang, bisa kirim stiker ulang atau kirim voice note ulang, tapi rasanya akan berbeda. Yang kamu chat sekarang akan beda rasanya dengan yang kamu chat dulu.” Reva menjeda kalimatnya dengan mengalihkan pandangannya pada sepasang mata yang saat ini sedang menatapnya lekat. “Aku sangat menghargai setiap moment yang ada di antara kita. Kalau aku lagi sendirian, aku bisa senyum-senyum sendiri mengingat masa-masa kamu yang gabut dan nelpon aku malem-malem. Aku gag mau kehilangan kenangan akan moment-moment itu, semua tentang kamu, aku akan menyimpannya baik-baik di sini.” Tunjuk Reva pada dada kirinya.
Raka tertegun. Ia tidak pernah menyangka, Reva yang selalu berusaha melupakan segala hal, sangat berbeda dengan Reva saat ini. Dan nyatanya ia bahagia karena ternyata sejak dulu, Reva selalu menyimpan semua ingatan tentang mereka.
Raka melingkarkan tangannya di pinggang Reva. Ia menempatkan dagunya di bahu Reva. Raka benar-benar mengikis jarak di antara keduanya.
“Kita akan selalu membuat banyak kenangan dalam hidup kita. Sampai kita menua bersama-sama dan menutup mata bersama-sama. Kamu penting buat aku, dan semua tentang kamu pun akan selalu ada di hati aku.” Lirih Raka setengah berbisik.
Raka mengecup bahu Reva dengan lembut. Reva bisa merasakan, besarnya kasih sayang yang selalu Raka berikan padanya. Di antara banyaknya kenangan yang ia lewati, saat-saat bersama Raka adalah satu-satunya yang tidak ingin ia lupakan sedikitpun.
****
__ADS_1
Sesuai janjinya pada Alea, Reva kembali datang menemui Alea di rutan tempat Alea menetap sementara. Waktu mereka tidak banyak dan selalu tidak cukup hanya untuk bercengkrama apalagi membicarakan tentang pekerjaan.
Reva dan Alea duduk berhadapan dengan beberapa lembar kertas di depan mereka. Reva mulai menceritakan langkah-langkah yang sudah ia lakukan di perusahaannya untuk merebut kepercayaan dari para direksi. Ia begitu semangat bercerita hingga tanpa sadar membuat Alea menyunggingkan senyumnya.
Alea bisa melihat semangat yang begitu membara dari setiap ucapan, gerak tubuh bahkan kerlipan mata Reva. Perlahan Alea mulai menyadari, mereka memiliki banyak kesamaan hanya saja di tampilkan dengan cara yang berbeda.
Alea tertegun,semakin ia mengenal Reva, rasa bersalah itu semakin terasa mengisi hatinya.
“Re, apa lo gag pernah benci gue?” tanya Alea di sela story telling Reva.
Reva berhenti berbicara. Ekspresi wajahnya berubah begitu saja. Ekspresi yang belum pernah dilihat Alea selama ini.
“Gue selalu ngerasa bersalah setiap ngeliat lo. Kenapa lo selalu bersikap seperti ini sama gue? Kenapa lo gag marah atau sesekali lo bilang kalo lo benci sama gue. Mungkin perasan gue akan lebih tenang setelah denger lo marah.”
Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Alea. Tatapannya begitu dalam dan sendu.
“Kalo lo tanya gue pernah marah atau enggak sama lo, ya gue pernah marah. Kalo lo tanya gue pernah kecewa ato nggak sama lo, ya gue pernah sangat kecewa. Tapi gue gag pernah bisa buat benci sama lo kak.” Reva menjeda kalimatnya dengan meraih tangan Alea yang tampak saling memilin satu sama lain.
“Semakin lo marah dan kesal sama gue, lo semakin mencari tau tentang gue, kelemahan gue dan akhirnya lo semakin mengenal gue. Tapi gue tau, lo gag pernah menggunakan itu buat menjatuhkan gue. Di balik sikap lo yang gag mau berbagi es krim strawberry sama gue, gue tau itu cara lo ngehindarin gue dari alergi strawbery. Di balik lo yang gag mau nonton film bareng gue, gue tau itu cara lo supaya gue gag nonton film thriler favorit lo dan bikin gue ketakutan kalo lagi sendirian. Di balik lo yang gag mau makan kue bikinan gue, gue tau itu cara lo supaya gue gag terluka lagi akibat kena loyang panas. Dan gue tau, saat gue tidur, lo olesin tangan gue yang bengkak pake salep. Dan di balik lo ingin merebut semua perhatian mamih dan papih, gue tau, lo gag mau gue memikul beban berat dan tuntutan seperti yang lo alami.” Reva menghela nafasnya kemudian tersenyum.
“Sejak dulu, lo idola gue kak. Lo sosok yang kuat dan mandiri, selalu jagain gue dari kejauhan. Pikiran kita dulu terlalu berbeda dengan saat ini, dan gue baru menyadarinya saat-saat ini. Terima kasih kak, untuk selalu menjadi benteng penjaga buat gue.” Tandas Reva, dengan lelehan air mata di pipi kanannya.
Dalam seketika, Alea merangkul Reva. Ia menangis sesegukan seraya memeluk Reva dengan erat. Iya, dulu matanya sangat tertutup hingga ia menyalah artikan semua kondisi yang di alaminya. Dan Reva justru yang menyadari semuanya lebih dulu. Alea menyesal, tapi rasanya bukan alasan bagi Reva untuk membeci masa lalu yang belum bisa ia pahami saat itu.
“Maafin gue re… maafin gue…” lirih Alea dalam tangisnya yang dalam.
*****
Cinta itu bisa kamu rasakan saat kamu membuka hati. Dalam gelap sekalipun, ia akan menuntunmu menuju cahaya.
__ADS_1
Hahahaha... Sekian kata-kata mutiara gamut dari author yang ikut baper ;D
Happy reading, spread love