
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Wisuda untuk Raka dan Reva pun sudah di langsungkan dan saat ini Reva sedang memandangi foto-fotonya bersama para orang tua dan kekasih tercintanya. Masih teringat jelas dalam ingatan Reva saat Ratna begitu bangga berdiri di samping Reva saat Reva menerima predikat mahasiswi terbaik. Tak hentinya Ratna mengucap syukur seraya menatap Reva dengan penuh kebanggan.
“Mas, foto yang ini mau aku cetak besar-besar yaaa, buat di pajang di panti.” Pinta Reva pada kekasihnya yang masih duduk di kursi kerjanya.
“Foto yang mana yang? Yang aku gendong kamu itu?” goda Raka seraya berjalan menghampiri sang kekasih dan duduk di sampingnya.
“Iiihhh bukaaan… Yang ini loohh…” tunjuk Reva pada photonya bersama Ratna.
“Oohhhh kiraaiin…” ledek Raka yang menahan tawanya. Ekpsresi kesal Reva saat ia mengerjainya, selalu menjadi pemandangan yang menyenangkan bagi Raka. Hidupnya terasa sepi kalau sekali saja ia tidak menggoda kekasihnya. “Boleh… lebih bagus kalau di bikin baligo yang… biar orang-orang semakin termotivasi.” Lanjut Raka sambil memperagakan kalau baligo itu ada di hadapannya.
“Isshh kamu maahh.. Terus aku di kira caleg gitu?!” Reva memukul lengan Raka dengan kesal.
“Aduuhhh sakit yaaang…” Raka berpura-pura kesakitan dan menempatakan kepalanya di paha Reva. Ia berbaring dengan cepat.
“Isshh! Gayanya udah ketebak banget!” cetus Reva sambil mencubit gemas hidung kekasihnya.
Raka hanya terkekeh. Ia kini bisa menatap wajah gadisnya dari bawah. Sama cantiknya di lihat dari sudut manapun.
Reva membalas tatapan Raka. Ia bisa melihat wajah lelah Raka yang selalu ia coba sembunyikan lewat kelakuan konyolnya. Tugasnya sebagai direktur yang kembali merintis usahanya dari awal tentu tidak lah mudah. Walau perusahaan tergolong stabil, tapi bertahan saja sepertinya tidak cukup. Banyak harapan yang di taruh di pundak Raka tidak hanya dari Wira saja tapi dari para direksi juga karyawan yang begitu loyal bertahan di Adiyaksa group walau dalam keadaan terpuruk.
“Kamu capek banget ya mas…” Reva mengusap kepala Raka dengan lembut.
“Lumayan, tapi di temenin kamu kayak gini jadi gag berasa capeknya.” Tutur Raka seraya memejamkan matanya. Ia menikmati setiap saat bersama Reva.
“Kamu hebat sudah berjuang sejauh ini, aku yakin kamu akan semakin sukses di masa mendatang.” Tutur Reva seraya mengusap kerutan di dahi Raka yang jelas masih tampak memikirkan pekerjaan walau mereka sedang bersama.
Raka meraih tangan Reva dan menggenggamnya dengan erat. Ia menempatkan tangan Reva di dadanya. Matanya menatap Reva dengan lekat.
“Aku sedang menyiapkan semuanya, kedepannya aku akan selalu membahagiakan kamu dengan banyak hal termasuk menjadi suami yang stabil secara finansial.” Tutur Raka dengan penuh keyakinan.
“Terima kasih mas. Kamu bisa berusaha sekuat apapun untuk mewujudkan mimpi kamu tapi kamu harus ingat, kebahagiaan aku bukan karena memiliki kamu yang punya segalanya. Tapi memiliki kamu yang apa adanya. Saat kamu sedang berjuang, ingatlah, aku cuma ingin kamu selalu baik-baik saja. Kamu sehat dan pulang ke rumah dengan perasaan bahagia. Cuma itu mas yang aku minta.” Ujar Reva yang terasa seperti air penyejuk dahaga Raka.
Reva tau, sekuat apa perjuangan Raka dalam hal pekerjaannya hingga terkadang ia melupakan hal kecil yang bisa berpengaruh pada kesehatannya. Prioritasnya adalah pekerjaan dan memastikan semuanya berjalan baik hingga tanpa ia sadari, dirinya tidak baik-baik saja.
Raka terbangun dari baringannya. Ia duduk di samping Reva dan menggenggam erat jemari lentik dalam genggamannya.
“Aku akan mulai memperhatikan diriku sendiri juga, karena aku mau menghabiskan waktu lebih lama sama kamu re…” tegas Raka seraya mengecup lembut tangan Reva.
Reva terangguk pelan. Ia sangat mendukung usaha kekasihnya hingga detik ini dan akan selalu mendukungnya.
“Pacaran terooosssss..” seru Fery dari pintu masuk yang baru beberapa saat lalu datang bersama Alea.
“Ganggu lu!” sahut Raka dengan kesal.
“Ya kali, ini jam istirahat bos! Bukannya memastikan diri baik-baik saja itu dimulai dari makan tepat waktu?” ledek Fery yang sedikit mendengar obrolan sepasang kekasih ini.
__ADS_1
Alea ikut terkekeh mendengar ucapan Fery. Berbanding terbalik dengan Raka yang terlihat kesal mendengar ledekan sahabatnya.
“Kak, tumben mampir sini…” Reva segera menghampiri Alea dan mengajaknya untuk duduk.
“Iya, kita makan siang bareng yuk. Seklian ada yang mau gue omongin sama lo soal tugas dari papih. Lo bisa kan de?”
“Bisa dong, gue juga udah laper.” Reva mengusap perutnya yang rata.
Dalam beberapa saat mereka beranjak untuk mengisi perutnya.
****
“Bro, kenapa pisah meja segala sih? Selera makan gue hilang nih…” keluh Fery yang terus melirik meja tempat Reva dan Alea.
“Apa lo, mau makan bareng cewek gue?!” Raka melempar Fery dengan sedotan di tangannya.
“Ya elah lo sensi amat, gue cuma mau ngobrol banyak sama alea…” aku Fery yang tanpa ragu menyampaikan ketertarikannya pada gadis cantik yang selalu tampil elegan.
“Gue kira…Liat aja kalo lo berani macem-macem.” Raka kembali mengaduk makanannya seraya menatap Fery dengan dingin, ia berusaha menebak apa isi pikiran sabahatnya dan memastikan memang bukan Reva yang mengisi ruang imajinasinya.
Selera makan Raka pun sebenarnya hilang. Dalam pikirannya, saat makan siang ini ia akan bermanja pada kekasihnya tapi semua rencananya pupus sudah. “Lea mau bahas masalah bisnis yang ditugasin sama bokapnya katanya.” Terang raka kemudian.
“Maksud lo?”
“Gila, mereka langsung dapet anak perusahaan sebagai hadiahnya?” Fery terbelalak tidak percaya.
Raka hanya mengangguk. “Hem… Sebenernya ini usaha om indra buat ngajarin mereka masalah bisnis. Anaknya perempuan semua, tapi tetep harus bisa nerusin perusahannya kelak. Om indra juga pengen mendekatkan mereka lewat kerjaan.” Terang Raka yang sebenarnya menyetujui rencana Indra.
“Paham sih gue.. Kalo jadi mantunya juga gue bersedia bantu.” Sahut Fery yang mulai lupa kalau dia sedang makan siang bersama bosnya.
“Maruk lo!” Kali ini sendok yang melayang menghantam tubuh Fery. Namun Fery hanya terkekeh, ia merasa terhibur berhasil membuat bosnya kesal.
****
Alea kembali serius dengan pekerjaan di hadapannya. Sesekali keningnya berkerut dan bibirnya bergumam lirih. Sepertinya ia tengah berfikir dengan sangat keras.
“Awas laptopnya geer lo liatin mulu.” Cetus Fery seraya menaruh segelas kopi di hadapan Alea.
“Cih!” Alea hanya berdecik seraya tersenyum kelu.
Sedari tadi, ia memang mulai masih meneruskan konsep pekerjaannya dan Fery memilih untuk menemaninya.
Fery tersenyum tipis saat Ia memperhatikan wajah arogan itu kini semakin menarik baginya. Satu hal yang tidak pernah berubah dari Alea sejak kecil adalaha kebiasaan menggigiti jari saat ia sedang berfikir keras.
“Lea, tangan lo bisa abis itu…”
__ADS_1
Fery menarik tangan Alea dan memeganginya. Fery bisa merasakan hangatnya tangan Alea yang ia genggam.
“Lo bisa gag sih gag usah ganggu gue? Kerjaan gue masih banyak ini..” Alea mengibaskan tangan Fery seraya menatapnya dengan tajam.
Fery hanya terkekeh. Ia begitu gemas melihat ekspresi gadis di hadapannya.
“Ya gue gag mau aja setelah beres proyek, tangan lo habis di gigitin.” Cetus Fery yang menahan tawanya.
“Feryyyy, lo yaaa….” Alea hendak memukul tangan Fery namun Fery segera beranjak.
“Gue tunggu diparkiran, cafenya udah mau tutup.” Seru Fery dengan senyum ejekannya. Ia berjalan perlahan meninggalkan Alea yang masih menahan kesalnya.
Alea hanya menggelengkan kepala. Ia menoleh jam yang terpasang di dinding, benar malam sudah mulai larut. Beberapa pelayanpun sudah mulai membereskan cafenya hanya saja mereka mungkin sungkan kalau harus mengusir Alea.
Alea bergegas merapikan barang-barangnya lalu menyusul Fery yang terpaut beberapa langkah di depannya.
Kali ini, sesuai permintaan Raka, Fery mengantar Alea untuk pulang. Mereka sudah berada di dalam mobil dan bersama-sama menikmati suasana malam kota jakarta. Fery memperhatikan Alea yang tampak sibuk dengan benda persegi dalam genggamannya.
“Lea…” Fery terlihat ragu namun ada sesuatu yang harus ia tanyakan.
“Hem…” hanya itu jawaban Alea dan masih tetap fokus pada benda persegi di tangannya.
Fery menyentuh tengkuknya, membayangkan jawaban apa yang akan terlontar dari mulut gadis di sampingnya jika ia memberanikan diri menanyakan maksud hatinya.
“Menurut lo, apa sih yang di cari oleh seorang cewek dari seorang cowok.” Fery mengeratkan pegangannya pada kemudi di akhir kalimatnya.
“Kenapa, lo lagi ngejar cewek?” timpal Alea dengan santai.
Fery hanya terangguk dan membuat perhatian Alea beralih padanya. “Gue lagi berusaha memantaskan diri buat seseorang tapi gue gag tau apa gue masuk ke dalam kriteria pilihan dia ato nggak.” Ujar Fery seraya menatap Alea sejenak lalu kembali fokus pada jalanan di hadapannya.
“Hahahaha feryy.. fery…” sahut Alea seraya terkekeh dan menyandarkan tubuhnya pada jok yang ia duduki. “Lo udah berkali-kali ganti pacar, tapi baru sekarang lo bener-bener pengen deketin cewek sampe mikirin kriteria. Lo masih belum paham mau para cewek dari banyaknya cewek yang lo pacarin?” lanjut Alea sambil menoleh Fery dengan senyuman meledeknya.
“Sok tau lu! Dari mana lo tau gue punya banyak mantan?”
“Tau lah! Berapa kali lo upload dan hapus foto para cewek dari akun medsos lo? Kayaknya lebih dari 8, iya kan?” Alea menonjok lengan Fery dengan sengaja. Fery hanya terkekeh, karena benar nyatanya yang di katakan Alea. “Lo tipe laki-laki penjelajah yang gag tau apa mau lo dan cuma mau nyoba. Beda sama raka yang udah tau apa yang dia mau makanya gag sembarang pilih cewek.” Lanjut Alea yang terdengar bergetar di akhir kalimatnya.
“Kok lo bandingin gue sama si raka sih? Jahat lo lea… inget ya, tuh anak udah punya lana, jangan jadiin dia standar lo nyari cowok.” Protes Fery yang membuat Alea terdiam seketika.
Alea memalingkan pandangannya dari Fery dan melihat keluar jendela memandangi mobil yang saling berkejaran di lajur kiri. Ia menghela nafas dengan berat beberapa kali. Fery mengerti benar rasa sesak yang di rasakan oleh gadis ini.
“Bisa nerima diri gue apa adanya,… cuma itu yang gue mau dari seorang laki-laki.” Lirih Alea tanpa menoleh Fery sedikitpun.
Fery hanya terangguk. Saat Alea menolehnya, ia berusaha tersenyum sambil mengeratkan genggamannya pada kemudi.
****
__ADS_1