
Sepulang dari rumah sakit, senyuman itu tidak pernah pudar dari wajah Reva. Ia terus memandangi foto USG yang ada di tangannya. Kembali ia meneteskan air mata bahagia saat yang ia tunggu lebih dari 1 tahun ini kini tumbuh di dalam rahimnya. Sangat sulit bagi Reva menghentikan laju air matanya.
Mungkin ini alasan ia tidak mau jauh dari Raka. Mungkin ini juga yang membuat Reva selalu merasakan tubuhnya menghangat tapi bukan demam. Dan mungkin ini juga yang membuat moodnya sangat mudah berubah dan sensitif. Tapi lebih dari apapun, hal ini juga yang membuat hidupnya terasa lengkap. Reva yakin, ia hadir di saat yang tepat. Di saat Reva dan Raka bukan sekedar menginginkannya tapi juga membutuhkannya.
“Sayang… terima kasih sudah hadir dan tumbuh di rahim bunda. Bunda akan menjaga kamu dengan baik. Sehat-sehat lah di dalam hingga kita bisa bertemu pada saatnya.” Lirih Reva dengan penuh keharuan.
Jatuh cinta pada seseorang yang bahkan belum pernah Reva temui, mungkin seperti ini rasanya. Ia belum bisa membayangkan kelak sosok putra atau putrinya seperti apa tapi ia merasa bahwa jiwanya telah lengkap. Ia akan menjadi ibu, ya akan menjadi ibu dalam beberapa bulan ke depan.
Lagi, jantung Reva berdenyut lembut. Ia teramat sangat bahagia. Aliran do’a dan rasa syukur terus terucap dari relung hatinya.
Reva segera mencari benda persegi miliknya. Ia harus segera memberi tahu Raka. Raka pasti akan sangat bahagia mendengar berita ini. Reva mulai mencari nomor Raka, tapi beberapa detik kemudian jemarinya terhenti.
“Sayang, kita kasih kejutan saat ayah pulang yuk!” lirih Reva seraya mengusap perutnya yang masih rata. Ia mengurungkan niatnya untuk memberi tahu Raka. Di kepalanya ia merancang kejutan seperti apa yang akan ia berikan pada Raka.
Reva tersenyum sendiri saat membayangkan kelak seperti apa ekspresi Raka. Ya, ia memutuskan untuk tidak memberi tahu siapa pun sampai Raka yang terlebih dahulu mengetahuinya. Kali ini, sepanjang perjalanan pulang, garis senyum itu tidak pernah pudar dari bibir Reva. Tangan kanannya setia mengusap perutnya yang rata.
*****
Seperti biasa, saat break rapat Raka menghubungi Reva melalui sambungan panggilan video. Ia tak sabar menunggu wajah cantik iitu tersenyum dan tertawa di hadapannya. Selalu ada tambahan tenaga saat mellihat sosok Reva yang memanjakan pandangannya.
“Hay sayaaaangggg!!!!” seru Reva dengan ceria.
“Waw! Hay sayang… you look so different.” Itulah kesan pertama yang Raka tangkap dari Reva hari ini. Sangat jauh berbeda dengan Reva sebelumnya yang murung dan terlihat sedih.
“Ya, karena aku sangat bahagia.” Sahut Reva dengan segera.
“Bahagia karena?” Raka sangat penasaran. Menang proyek tidak akan membuat Reva se senang ini.
“Heemmm… ada deehhh…” timpal Reva. Sebenarnya bibirnya sudah sangat gatal untuk memberitahukan Raka soal berita besarnya tapi ia masih bertahan dengan rencana awalnya, untuk membuat kejutan saat Raka pulang. ia yakin itu akan lebih menyenangkan.
__ADS_1
“Oo okeeyy…” Raka hanya bisa terangguk. Melihat Reva se ceria ini sudah sangat menyenangkan baginya terlepas apapun alasannya. “Sayang, bukannya hari ini ada rapat pemilihan direksi baru, kok kayaknya kamu di rumah.” Lanjut Raka yang mulai menyadari ada foto besar dirinya dan Reva yang menjadi latar Reva saat ini.
“Yaps! Aku minta izin pulang cepet soalnya gag enak badan.” Reva beralasan sambil mengusap tengkuknya.
“Oohhh.. gag enak badan yaaa…” Goda Raka. Entah seperti apa definisi “Gag enak badan” menurut Reva yang jelas itu tidak seperti definisi milik Raka. “Tapi udah makan kan?”
“Sudah dong ayah raka…” timpal Reva dengan suara khas anak kecil.
Sejenak Raka terdiam. Reva sangat menggemaskan menurutnya lalu suara dan panggilan itu membuat hati Raka menjadi hangat. Ya, ia sangat menantikan ada sosok yang memanggilnya ayah seperti yang Reva lakukan saat ia sedang bermanja seperti ini.
“I love you.” Ungkap Raka tiba-tiba. Matanya terlihat sendu namun senyuman itu tetap Raka berikan untuk Reva.
“I know! And I love you more.” Timpal Reva dengan penuh perasaan.
Setelah panggilan video itu terputus, kini Raka membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia memandangi foto Reva yang ada di handphonenya. Ia mengusap foto tersebut dengan lembut, bibirnya berujar lirih.
Hatinya terasa kosong karena ada harapan yang masih belum bisa ia raih. Namun beberapa saat kemudian, ia kembali bangkit. “Sambil menunggu mereka hadir di tengah-tengah kita, aku akan memastikan kita sudah sangat siap. Iya kan sayang?” lanjut Raka kemudian. Ia kembali bersemangat meneruskan pekerjaannya. Bukankah kita akan lebih bahagia saat mensyukuri apa yang kita punya saat ini di banding membayangkan sesuatu yang masih menjadi angan?
****
Di bawah cahaya lampu-lampu malam Fery dan Alea berjalan bergandengan tangan. Sesekali mereka tersenyum dan saling melirik. Sangat menyenangkan berjalan seperti ini. Ia menemani Alea untuk membeli beberapa bahan makanan untuk melengkapi makan malam mereka di kediaman Wijaya.
“Papih kamu, kayaknya gag suka keju ya?” Fery berusaha mencairkan suasana yang sejak tadi hanya hening saja.
“Hem…” sahut Alea.
“Papih kamu juga kayaknya, perfesionis banget ya?” lagi, Fery bertanya.
Kali ini Alea menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
“Kenapa lea? Aku salah ngomong?” Fery ikut menghentikan langkah kakinya.
“Kenapa lo lebih banyak nyari tau tentang bokap dari pada tentang gue?” pertanyaan Alea membuat Fery membeku seketika. “Yang lo incer, gue apa bokap gue?” lanjut Alea kemudian.
“Astaga alea, kok kamu mikirnya gitu?” Fery gelagapan sendiri mendengar pertanyaan kedua Alea.
Alea tampak mengernyitkan dahinya. “Kamu?” ah benar, sejak tadi siang Fery sudah mengubah panggilannya pada Alea.
Fery tersenyum kecil seraya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“Lea,…” Fery meraih tangan Alea dan menggenggamnya dengan erat. “Aku cuma pengen tau tentang papih kamu, supaya aku bisa dapet celah buat dapetin restu dia.” Terang Fery yang membuat Alea menggelengkan kepalanya.
Bagaimana bisa mantan casanova memiliki pikiran seperti ini? Eh tapi bener sih, casanova kan tidak pernah berfikir tentang arti sebuah restu, pikir Alea.
“Fer, yang lo lakuin sekarang bukan kayak nyari tau papih sebagai calon mertua, tapi kayak lo naksir sama papih.” Ujar Alea yang membuat Fery ternganga seketika. “Dan lagi ya, papih sukanya sama cowok yang gag cuma patuh sebagai anak atau tau kesukaan dia ato nggak, yang dia mau adalah yang cowok yang bisa jadi temen dia. Seperti yang lo lakuin saat ini sama raka. Itu cukup, jadi jangan berpikir terlalu jauh dan malah jadi gag kayak diri lo yang sebenarnya.” Sambung Alea kemudian.
Alea merasa kalau Fery mulai berusaha merubah dirinya untuk sesuatu yang tidak perlu. Indra tidak buta, ia bisa melihat kesungguhan Fery saat menemani Alea berada di titik terrendahnya hingga ia bisa bangkit. Ia hanya perlu lebih banyak melihat bukti, bahwa Fery memang bisa konsisten menjaga putrinya dengan caranya sendiri.
Fery terpekur, nyatanya ia memang banyak menjauh dari haluannya. Semua yang ia lakukan hanya karena ia ingin terlihat layak di hadapan Indra.
“Gue ngerasa cukup dengan semua yang lo lakuin sekarang. Tetaplah menjadi fery yang gue kenal, fery yang selalu bisa membuat gue merasa bahagia dan merasa dicintai. Dan untuk panggilan baru itu, I love it.” Ujar Alea setengah berbisik di akhir kalimatnya.
Tak menunggu lama lagi, Fery membawa Alea ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya ia tidak ingin kehilangan seseorang dan itu Alea. Ia tidak bisa membayangkan kalau hubungannya dengan Alea harus terhalang restu orang tuanya. Ia bersyukur, Alea setia menemaninya di saat perjalanannya untuk meyakinkan Indra. Ia berjanji, akan menjadi laki-laki yang layak untuk Alea.
*****
Haaayy.. Jangan lupa like dan komennya yaa supaya nulisnya makin semangat. Maaf kan kalo masih banyak typo. Happy reading...
__ADS_1