Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 50


__ADS_3

Reva telah tiba di sebuah tempat Glamping di Bandung. Ia menempati sebuah penginapan dengan gaya tenda yang modern. Di depan kamarnya, ada sepasang kursi yang menghadap ke sungai yang mengalirkan air jernih. Sebuah ayunan kain juga tergantung di sana. Tempat yang nyaman untuk bersantai.


Reva merebakan tubuhnya di atas kasur empuk layaknya hotel-hotel mewah. Ia memejamkan matanya dan merasakan ketenangan yang sudah lama ia rindukan. Terakhir ia melakukan me timenya adalah setahun lalu saat beberapa kumbang mengajaknya untuk hiking ke salah satu gunung.


Alam selalu punya caranya tersendiri untuk membuat seseorang kembali ke sana. Suasana yang tenang, sejuk dan segar membuat Reva betah berlama-lama di tempat tidurnya hingga ia terlelap.


Malam mulai menjelang, Reva menyalakan lampu-lampu kecil yang menerangi kamarnya. Ia memakai pakaian tebal karena udara terasa sangat dingin. Tidak jauh dari tempatnya berada, ia mendengar suara orang-orang tertawa.


Reva melihat keluar, tampak orang-orang tengah mengelilingi sebuah api unggun. Reva memesan jagung rebus dan minuman hangat untuk ia nikmati sambil melihat api unggun. Beberapa orang juga tampak senang saat mereka menerbangkan lampion.


Reva sangat tertarik, ia membeli beberapa lampion dan mulai menyalakannya. Ia tertawa senang saat lampion mulai terbang tinggi meninggalkannya. Reva masih mendongak melihat lampion-lampion itu menuju bintang. Langit malam ini benar-benar indah dengan cahaya lampion.


“Apa lampionnya sangat indah sampe kamu gag berkedip?” tanya seorang laki-laki yang berjalan ke arah Reva.


“Raka?”


Reva mengerjapkan matanya berkali-kali karena nyaris tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Raka hanya tersenyum. Ia kembali berjalan menghampiri Reva. Di bawah cahaya lampion mereka saling menatap dengan perasaan yang tidak bisa mereka jelaskan.


****


 


“Bukannya kamu baru selesai besok? Kok udah pulang?”


Reva menyodorkan segelas minuman hangat ke hadapan Raka. Ia tengah terduduk memandangi kilauan air yang terkena cahaya bulan.


“Iyaa, soalnya ada hal penting lain yang harus aku urus di sini.” Sahut Raka sambil menerima gelas yang disuguhkan Reva.


Ia menatap Reva dengan lekat, membuat Reva gugup dan segera memalingkan wajahnya. Mereka duduk berdampingan menghadap arah yang sama.


Reva menggosok kedua tangannya kemudian menyentuhkannya ke wajah, agar tidak terasa dingin.


“Gimana work shop di sini, apa berjalan lancar?”


“Ya semuanya berjalan lancar. Mba Tika baru balik ke jakarta siang tadi.”


“Apa audiencenya banyak?”


Raka meneguk minumannya dengan perlahan. Wangi rempah begitu memanjakan hidungnya.


“Apa lagi gini juga kita harus bahas kerjaan?” tanya Reva sambil tersenyum.

__ADS_1


Raka ikut tersenyum, ia sadar pembicaraannya sangat membosankan.


“Lalu bahas apa, apa kamu mau kita bahas masa depan?”


Reva terkekeh. Laki-laki di sampingnya sangat tidak pandai membaca situasi.


“Disini, ada beberapa permainan yang menarik. Besok siang, apa kamu mau ikut?” tawar Reva sambil menyodorkan kukus ubi pada Raka.


“Oh ya, permainan apa?”


Raka menerima makanannya dengan senang hati, dalam sekejap ia sudah mengunyahnya hingga habis.


“Ada flying fox, paint ball, rafting juga ada. Kamu pilih permainan yang mana?”


Raka tampak tercengang, sepertinya Reva begitu familiar dengan permainan yang disebutkannya.


“Kalau kamu mau main, aku bisa jadi seksi dokumentasinya.” Sahut Raka sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


“Hahahaha.. seksi dokumentasi? Kayak tukang foto keliling gitu?” ledek Reva yang tertawa dengan renyah.


“Re, aku kan udah bilang, kamu gag boleh terluka lagi.”


“Ayolah raka, ini cuma permainan, aman karena di bikin sama orang profesional, hem...” bujuk Reva seraya menatap Raka dengan lekat.


Jarak mereka sangat dekat. Raka bisa melihat dengan jelas, mata teduh itu tengah menatapnya dengan hangat. Raka menelan ludahnya sendiri, rasanya wajahnya menghangat tiba-tiba.


"Hah?" Reva malah tercengang dengan ucapan Raka yang tidak ia mengerti. Raka malah menggeleng, kekasihnya memang sangat polos.


“Good boy!”


Reva menjentikkan jarinya seraya tersenyum dengan senangnya. Selanjutnya ia kembali menikmati minumannya yang mulai dingin dengan cepat. Sementara Raka, masih diam-diam memandangi Reva yang terlihat sangat cantik saat cahaya lampu malam menerpa wajahnya yang putih. Di tambah senyuman , yang selalu membuat Raka luluh.


****


 


Hari semakin larut, perbincangan di antara keduanya tanpa terasa membawa mereka pada pertengahan malam. Suasanapun mulai sepi karena para pengunjung sudah mulai beristirahat.


“Kamu udah check in?” tanya Reva menyadarkan Raka.


“Astaga, belum!”


Raka menepuk dahinya sendiri. Ia benar-benar lupa, karena yang ada di pikirannya saat itu hanya ingin menemui Reva secepatnya.

__ADS_1


“Ya udah, ayo kita ke depan, buat pesen satu kamar lagi.”


Reva beranjak dari tempat duduknya. Raka mengikuti permintaan Reva. Mereka berjalan melewati beberapa Tenda yang sudah mulai gelap. Jalanan yang mereka lewatipun hanya di terangi lampu-lampu kecil, sangat remang-remang.


Dari kejauhan, Reva melihat reseptionisnya masih berada di tempatnya. Mereka segera mempercepat langkahnya.


“Selamat malam mba, ada yang bisa saya bantu?” sapa resepsionis tersebut dengan ramah.


“Malem mba. Saya mau pesan 1 kamar lagi, bisa?”


“Sebentar saya coba cek dulu.”


Resepsionis segera mengecek kamar yang tersedia.


“Mohon maaf mba, kamarnya sudah full booked. Mungkin karena weekend..”


Terang gadis manis tersebut.


“Oo udah full booked yaaa...” Reva menggaruk kepalanya kebingungan. Ia melirik Raka yang masih terdiam di sampingnya. “Ya udah, makasih ya mba...”


Reva segera berlalu bersama Raka. Mereka melewati jalanan yang sama yang tadi mereka lewati. Pikirannya masih tentang mencari kamar kosong.


“Aku nyari penginapan lain sekitar sini kali ya?” tawar Raka yang seolah mendapat ide bagus.


“Emang kamu bawa mobil?”


Raka hanya menggeleng. “Ya udah, kamu telpon dulu aja penginapannya, kalo ada yang kosong baru ke sana.” Ujar Reva yang ikut mengecek handphonenya mencari penginapan untuk Raka.


Keduanya mulai disibukkan dengan mencari penginapan. Di cek secara online, semua penginapan penuh, namun Raka tetap berusaha menghubunginya.


Reva dan Raka kembali terdiam, tidak ada satupun penginapan yang memiliki kamar kosong, sementara malam semakin larut dan udara semakin dingin. Hembusan angin menerpa leher Raka yang hanya mengenakan jaket tipis, ia bergidik kedinginan.


“Astaga , kamu bener-bener gag persiapan nyusul ke sini. Pake jaket juga setipis ini.” Tutur Reva sambil menyentuh Jaket Raka.


Raka hanya tersenyum kelu. Ia merasa Raka yang ada di samping Reva saat ini, bukan Raka yang biasanya. Ia biasanya selalu mendetail dan well prepare tapi kali ini, karena ingin segera bertemu gadisnya, ia tidak memperdulikan apapun.


Mereka berjalan beriringan. Reva mengepalkan tangannya yang terasa dingin. Raka yang berjalan di sampingnya, ingin sekali meraih tangan Reva dan berjalan bergandengan. Tapi ia mengurungkan niatnya, ia takut sebuah tendangan kembali mendarat di wajahnya.


Raka menyentuh pipi kanannya, ia masih teringat rasa sakitnya saat tendangan kaki Reva mendarat di wajahnya. Kemudian ia tersenyum, saat tersadar rasa sakit itu kelak berganti sebuah sentuhan lembut dari tangan Reva.


“Astaga Raka, lo mikir apa?!” dengus Raka dalam hati.


Reva menoleh Raka yang masih memandanginya, ia tersenyum dan membuat Raka tersadar.

__ADS_1


“Ehm!” Raka berdehem untuk menghilangkan kecanggungannya dan kembali menatap jalanan berumput yang sedang di tapakinya bersama Reva.


****


__ADS_2