
20 menit berlalu Reva masih belum keluar dari kamar mandi. Rupanya ia ragu untuk keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk saja. Ia mencuri dengar dari balik pintu, ia ingin tau apa Raka berada di kamar atau tidak. Bagaimanapun ia belum siap berpenampilan seperti ini di hadapan Raka.
“Mas raka, mas ada di kamar gag?” Reva memberanikan diri untuk bersuara.
“Iya, kenapa re? Ada yang perlu aku bantu?” Raka berjalan mendekati pintu kamar.
“Emmm nggak, ini…” Reva kebingungan harus berbicara seperti apa. “Aku mau keluar kamar mandi.” Lagi, ia menggantung kalimatnya.
“Kenapa, kamu ke kunci?” Raka memutar handle pintu kamar mandi dengan panik.
“Hah? Bukan mas. Aku mau keluar, kamu bisa keluar kamar bentar gag, soalnya aku lupa bawa baju ganti.” Terang Reva yang memelankan suaranya di akhir kalimat.
“Astaga re, aku kan suami kamu. Masa aku gag boleh diem di kamar juga?” gerutu Raka yang mulai berfikir mungkin Reva takut padanya.
“Emm.. bukan gitu , aku…”
“Ya udah aku keluar, kasih tau kalo aku udah boleh masuk.” Sahut Raka yang segera beranjak pergi.
Ia membaringkan tubuhnya di sofa. Badannya benar-benar terasa remuk redam. Kakinya pun pegal bukan main karena berdiri begitu lama menerima ucapan selamat dari tetamu. Hingga tanpa terasa ia terlelap begitu saja.
Reva yakin Raka sudah tidak berada di kamar, akhirnya ia memberanikan diri untuk keluar kamar mandi.
“Huft… syukurlah…” Reva menghembuskan nafasnya perlahan.
Ia mencari baju tidur yang tadi pagi sudah ia masukkan ke dalam koper. Tapi nyatanya yang ada hanya baju tidur seksi yang ia yakini dimasukkan oleh Nida atau Niken. Beragam jenis baju tidur ada di kopernya, mulai dari lingerie, baby doll dan yang sedikit tertutup adalah bath robes. Tidak ada baju lain di dalam kopernya selain baju-baju tersebut dengan beragam warna.
“Iisshhh gimana ini, masa bajunya gini semua?!” dengus Reva sambil mengacak rambutnya yang masih basah.
Apa boleh buat, akhirnya ia memilih bath robes berwarna merah maroon untuk membungkus tubuhnya. Ia mengikat dengan kuat jubahnya dan terus menarik bagian bawah agar menutupi pahanya yang terekspose begitu saja. Tapi ya ukuran bath robes -nya memang di pertengahan paha dan Reva menyerah saja.
Selesai dengan urusan pakaian, Reva segera menyisir rambutnya. Ia pun teringat pada sang suami yang tadi ia minta tunggu di luar. Mengingat kata “suami” Reva tersenyum kecil. Ia tidak pernah menyangka hari ini ia benar-benar sudah menjadi seorang istri dari laki-laki yang begitu di cintainya.
Reva memutuskan untuk segera mencari Raka. Sejak sampai di apartement, ia yakin Raka belum minum sekali pun. Dan benar saja, Reva melihat Raka yang sudah terlelap di sofa. Ia bahkan masih memakai kaos kakinya. Sepertinya Raka benar-benar kelelahan. Reva merasa bersalah sendiri, harusnya ia tidak memaksa Raka untuk menunggunya di luar.
Perlahan Reva mendekat. Ia melepas kaos kaki Raka, ini adalah pertama kalinya Reva melayani sang suami. Reva berpindah ke hadapan Raka. Sejenak ia menandangi wajah tampan yang tengah terlelap. Alis yang tebal dan tersusun rapi, berpadu dengan hidung bangir dan bibir tipis yang kerap mengecupnya dengan hangat dibingkai oleh rahang kokoh yang ditumbuhi rambut tipis. Ia sadar, suaminya benar-benar tampan.
“Mas raka… mas… pindah dulu…” lirih Reva seraya mengusap rahang Raka dengan lembut.
“Eemm.. aku ngantuk re…” gumamnya tanpa membuka mata.
Reva hanya tersenyum, kali ini tangannya beralih mengusap rambut Raka.
__ADS_1
“Tidurnya di kamar, biar mas gag sakit badan.” Bujuk Reva.
“Tadi kan kamu gag mau aku diem di kamar.” Raka berbalik memunggungi Reva.
“Bukan gitu mas, aku cuma malu aja. Bukan gag mau kamu ada di kamar.” Reva tertunduk lesu. Di hari pertama pernikahannya ia malah membuat suaminya marah.
Raka kembali berbalik, tiba-tiba dan membuat Reva terperanjat.
“Jadi bukan gag suka se kamar sama aku?” tanya Raka ingin meyakinkan. Reva hanya menggeleng.
Raka tersenyum senang, wanita di hadapannya benar-benar terlihat cantik dan menggoda dengan baju yang di pakainya dan rambut yang masih basah. Raka yakin, baju yang di pakai Reva adalah pilihan Niken, karena ia sangat tahu selera ibunya.
“Kamu cantik banget sih sayang…” ujar Raka seraya mengusap wajah Reva.
Reva hanya tersenyum. Ia bahkan tidak berani menatap mata Raka yang menatap lekat wajahnya dalam jarak yang sangat dekat.
“Kamu bersihin badan dulu, biar tidurnya pules ya…” ajak Reva seraya meraih tangan Raka.
Raka patuh saja pada ajakan Reva. Mereka berjalan bergandengan tangan. Sesekali Raka kembali melirik Reva yang begitu memanjakan pandangannya.
“Ini handuknya… airnya juga udah aku siapin.”
Hingga bayangan Raka menghilang di balik pintu kamar mandi, Reva mulai menyiapkan makan malam untuk mereka. Ia memasak yang sederhana saja dan tidak memakan waktu lama. Ia pun membuatkan teh untuk Raka dan beberapa camilan.
****
Menunggu Raka selesai mandi, Reva membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Ia sudah selesai dengan kewajiban muslimnya dan rasanya matanya pun sudah mengantuk. Ia tahu, ia tidak boleh tidur mendahului Raka. Ia menyalakan ponselnya yang dipenuhi dengan banyak pesan, dominan dari Nida dan Niken.
Sepertinya mereka mengirimi Reva pesan bergantian tiap menit. Pertanyaannya seputar makan, tidur dan kabar.
“Hah kabar? Baru 2 jam gag ketemu udah nanya kabar aja…” gumam Reva seraya tersenyum. Ia belum mengerti benar maksud “Gimana kabarnya?” yang di tanyakan Niken dan Nida bergantian.
Terdengar suara Raka yang membuka pintu kamar mandi. Selintas Reva melihat Raka bertelanjang dada dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Rambutnya ia keringkan dengan handuk kecil. Reva segera membalik tubuhnya membelakangi Raka. Sumpah demi apapun dadanya berdebar sangat kencang. Saat memejamkan mata pun, bayangan roti sobek yang berjejer di perut Raka tergambar jelas diingatan Reva.
“Bajuku dimana re?” tanya Raka yang membuka-buka kopernya.
“Oh, udah aku simpen di lemari semua mas. Bentar aku ambilin.” Sahut Reva yang berjalan sambil menunduk.
“Kamu nyari apa yang? Ada yang jatoh emang?” tanya Raka dengan polos.
“Hah, nggak kok.” Reva mengangkat wajahnya dan kembali melihat pemandangan indah itu di hadapannya.
__ADS_1
Reva mempercepat langkahnya menuju lemari. Ia mengambilkan piyama untuk Raka namun seketika Raka mendekat dan berdiri di belakang Reva. Wajahnya tepat di samping Reva.
“Aku lebih suka pake kaos oblong kalo tidur.” Bisik Raka yang membuat Reva kembali bergidik.
“Oh, iya…” Reva mencari kaos oblong milik Raka, tapi karena gugup rasanya tidak ada satupun kaos oblong yang terlihat oleh Reva.
Raka meraih tangan Reva dan membawanya mengambil kaos oblong berwarna hitam dengan celana pendek selutut.
“Ayolaaahhh, kenapa kaos hitam sih? Kan dia makin kelihatan keren…” batin Reva seraya memejamkan mata.
Setelah mengambil kaos Raka, ia segera memberikannya.
“Emm.. ini sekalian sarung sama sajadahnya.” Ucap Reva.
Raka menatap Reva sejenak kemudian tersenyum. “Terima kasih istriku.” Timpal Raka.
Reva membalasnya dengan senyuman dan kembali ke tempat tidur. Raka melihat mukena Reva yang juga berada di atas lemari kecil.
“Re, kamu bukannya lagi dapet?” Raka teringat ucapan Fery kemarin.
“Nggak mas.” Reva menggeleng bingung.
“Aku pikir karena kamu lagi dapet makanya pake kutek.”
“Oh bukan, kemaren nyobain doang. Dan yang hari ini aku pake, udah aku hapus di kamar mandi. Tuh…” Reva memperlihatkan jemari lentiknya.
Raka tersenyum lega, nyatanya ejekan Fery tidak terbukti.
Raka bergegas menunaikan kewajibannya, sementara Reva memandanginya dari tempat tidur. Suaminya benar-benar sangat tampan, hingga membuat Reva tersenyum sendiri.
“Kenapa aku baru sadar kalo suamiku sangat tampan.. Terus yang aku liat kemaren siapa ya?” Reva merutuki dirinya sendiri.
****
Hay reader yang baik, yang masih setia baca, makasih banyak ya buat dukungannya.
Season berikutnya mungkin akan mendetail yaaa semoga kalian gag bosen...
Dan untuk cerita dewasa,, eemmm... jujur aku gag terlalu bisa menggambarkan. So,, semoga kalian tetap menikmati tulisanku ini. Happy reading... Love
__ADS_1