
Jalanan terlihat sangat senggang karena malam sudah semakin pekat menampakan kegelapannya. Raka masih berada di balik kemudinya, mengatur laju kendaraan yang berpacu dengan cepat. Hatinya merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bibirnya selalu menampakan garis senyum saat lamunannya tertaut pada gadis yang baru beberapa saat ia antarkan ke depan kost-an nya.
“Thanks Raka, sory udah banyak ngerepotin. Makasih juga buat traktiran makan malamnya.” Tutur Reva dengan tatapan damainya.
“Sama-sama. Istirahatlah…”
Entah mengapa hanya itu yang bisa keluar dari mulut Raka. Ingin sekali ia berbicara lebih banyak tapi lagi-lagi, sorot mata itu hanya mampu membuat Raka terdiam dan menatap kagum.
"Ahhhhh... Kayaknya gue hampir gila! Baru beberapa menit gue udah kangen aja." Raka menyentuh dadanya sendiri yang berdebar tak karuan. "Astaga, kenapa susah banget sih nyari topik pembicaraan sama dia? Kenapa gue terlalu takut salah ngomong ya sama Dia?” dengus Raka yang kesal dengan dirinya sendiri.
Alih-alih menuju rumahnya, ia memilih menuju rumah Fery. Ia tidak peduli sudah seberapa larut malam ini. Ia butuh teman untuk bercerita tentang perasaannya.
Sesampainya di rumah Fery, seorang pelayan dengan mata kantuknya membukakan pintu untuk Raka. Matanya membulat sempurna saat melihat sosok rupawan di hadapannya.
“Den Raka?” ujar wanita tersebut setengah tak percaya.
“Saya mau ketemu Fery.” Ucap Raka tanpa menatapnya sedikitpun. Ia mengabaikan begitu saja keterkejutan sang pelayan.
“Silakan Den. Den fery ada di kamarnya.” Sahutnya sambil membukakan pintu lebar-lebar.
****
Di tengah cahaya yang redup, Raka berjalan menuju kamar Fery dan masuk tanpa permisi seperti yang biasa fery lakukan padanya. Ia melihat sosok Fery yang sudah terlelap dengan memeluk guling.
Raka duduk di salah satu sofa di sudut kamar fery. Matanya mengeliling melihat sekeliling kamar Fery yang sudah lama tidak ia sambangi. Masih sama, warna abu muda mendominasi warna dinding kamar yang terkesan suram itu.
Raka mencoba membaringkan tubuhnya di atas sofa, pikirannya melayang entah kemana. Ia mengambil handphone dari saku celananya dan melihat kontak Reva. Ia memandangi foto profil yang Reva gunakan, hanya sebuah bunga yang ia yakin itu adalah edelweise. Dengan keisengannya, ia mengganti foto profilnya dengan gambar seorang pendaki yang hendak meraih Edelweise.
“Kamu edelweisenya dan aku sedang berusaha menuju ke arahmu, kelak cuma aku yang bisa mendapatkan kamu, Eeeaaaaa......” sorak Raka dalam hatinya. Ia terkekeh sendiri memikirkan kekonyolannya.
Ia tidak sadar, kata alay yang dulu sangat ia benci, ternyata ia lakukan begitu saja. Ia mencoba mengetik pesan untuk Reva.
“Kamu udah tidur?” ketiknya, namun ia hapus kembali dan tidak jadi ia kirim. Ia menggaruk kepalanya dan berbalik, mencari kata-kata yang tepat untuk menyapa Reva. Sebahagia itu ia bisa mendapatkan nomor Reva langsung dari sang empunya, walaupun ia harus pura-pura karena urusan magang.
“Mimpi indah ya…” lagi ia mengetikkan pesan yang kembali ia hapus. “I miss you..” tulisnya kemudian dan ia menekan tombol kirim tanpa sengaja.
__ADS_1
“Astaga!” serunya yang segera terbangun sambil menutup mulutnya. Dengan segera ia menghapus pesan yang dikirimnya, hanya ada tulisan “pesan telah di hapus.”
Raka menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia kembali merebahkan tubuhnya di sofa, tangan dan kakinya menjuntai ke lantai. Sementara sebelah tangannya masih menggenggam handphonenya erat-erat. Dalam hatinya ia berdo’a semoga Reva tidak membaca isi pesannya.
“Tring..” Notifikasi pesan masuk. Dengan malas Raka melihat layar perseginya.
“Reva?” serunya yang segera terduduk saat nama Reva muncul di layar handphonenya.
Ia segera membuka pesan Reva.
“Lo mau ngomong apa? Kenapa di hapus lagi?” tulis Reva yang membuat mata Raka membelalak.
“Astaga! Gimana ini?” dengus Raka yang kebingungan melihat chat yang di kirim Reva. Ia tampak berfikir sambil mengigiti jarinya. Menjawab pertanyaan Reva ternyata lebih sulit dari soal UN matematika.
Raka menghembus-hembuskan nafasnya dengan kasar, berulang kali ia lakukan untuk mengusir rasa gugupnya. Dadanya terasa berdebar kencang. Sambil menutup mata ia mengirim pesan balasan untuk Reva.
“Mau nanya tapi gag jadi..” tulis Raka.
Ia kembali menelungkupkan handphonenya di atas dadanya. Dengan tak sabar ia menunggu balasan Reva. Ia membalik handphonenya dan menyeting ulang jaringan di benda perseginya, khawatir pesan Reva tidak masuk karena masalah signal. Tapi 30 menit berlalu, Reva benar-benar tidak membalasnya.
Raka benar-benar tidak sabar. Ia kembali mengetik pesan untuk Reva.
“Re, kok gag balas chat gue?” tulisnya dengan frustasi
“Chat yang terkahir.”
“Lah, kan lo bilang gag jadi nanya.” Sahut Reva.
“Lo bales “O” apa gimana gitu.” Desak Raka
“ Hahahahaha …Iyaaa… “Oooo” ” Raka tersenyum melihat beberapa baris pesan Reva.
“Lo kok belum tidur, ini kan udah tengah malem.”
Sebuah pesan suara yang kini jadi jawaban Reva.
“Masih ada yang di kerjain. Lo gabut ya , chat gue malem-malem gag jelas gini.”
Jantung Raka bergetar, mendengar suara Reva yang terasa begitu seksi baginya. Ia terkekeh sendiri
__ADS_1
“Astaga, kenapa gue kangen banget sama lo Re…” gumam Raka yang masih memandangi barisan pesan yang Reva kirim.
Dengan segenap keberanian, ia mencoba menghubungi Reva lewat telepon.
“Iya Ka…” jawab Reva dengan suara agak serak.
“Lo sakit Re?”
“Nggak, gue baik-baik aja…”
Percakapan demi percakapan terus berlangsung di antara keduanya. Raka bisa mendengar suara tawa yang coba Reva redam dengan kedua tangannya, ia ikut tersenyum dan membayangkan setiap ekspresi Reva di depan matanya. Hingga hampir jam 3 pagi, Raka baru mengakhiri pembicaraannya.
****
Raka coba membaringkan tubuhnya dengan nyaman, bibirnya masih melengkungkan senyum bahagianya. Ia melirik ke arah Fery sejenak, ingin memastikan sahabatnya masih terlelap.
“Astaga!”
Raka melonjak kaget saat ternyata Fery tengah terduduk dengan tatapan tajam ke arahnya. Tangannya terlipat di depan dada.
“Lo kok bangun Fer?” tanya Raka yang masih kaget sambil mengusap-usap dadanya yang bidang.
“Gimana bisa gue tidur, dari tadi lo cekikikan, ngomong ngalor ngidul gag jelas , udah kayak anak perawan jatuh cinta aja.” Sahut Fery dengan kesal.
“Hehehe.. Sory, perasaan gue pelan aja tadi ngomongnya.” Raka menggaruk kepalanya asal.
“Ya kali dunia emang milik lo berdua, sampe lo ngomong kenceng juga gag berasa. Lo telponan sama si Reva?”
Raka hanya tersenyum sambil mengangguk. “Arrgghh sial!” Fery melemparkan salah satu bantalnya pada Raka dan Raka hanya terkekeh. Ia paham benar kekecewaan yang di rasakan sahabatnya. “Lo serius sama dia?” lagi-lagi Fery menatap Raka dengan kesal.
“Gue rasa, gue suka banget sama dia, men.” Sahut Raka seraya mengusap layar handphonenya yang menampilkan wajah Reva.
“Gag usah pamer! Pindah sini, tidur lo! Awas kalo besok susah gue bangunin!” seru Fery seraya membalut tubuhnya dengan selimut. Ia berharap ucapan Raka hanya mimpi buruknya malam ini.
Raka kembali membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata. Ia memilih tidur di sofa dengan segala bayangan Reva yang mengisi pikirannya.
****
__ADS_1
Terima kasih buat yang masih baca... D tunggu like dan komennya yaaa, jangan lupa tambahkan sebagai favorit, biar tambah semangat nulisnya , makassiihh