
Reva terdiam sendirian di kamar rawatnya. Ia tampak melamun di depan jendela kamar yang menghadap ke taman rumah sakit. Ingatan tentang dirinya di masa kecil kini tergambar jelas di pikirannya. Rasa sedih, sepi dan kecewa muncul bersamaan dan tidak bisa di tolaknya. Betapa pun ia mencoba melupakannya, nyatanya hatinya masih merasa sakit.
Di sudut hatinya yang lain, ia pun bisa tersenyum saat dulu ia bisa tertawa dan bermanja walau bukan pada Indra dan Nida. Lana yang mandiri dan pemberani sangat berbeda jauh dengan Lana yang cengeng, manja dan telah menjadi poros kehidupan keluarga Adiyaksa. Ia tak bisa memungkiri, itu salah satu kebahagiannya.
Tapi lagi, hatinya merasa gamang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal perasaannya. Ia merasa tak bebas dan terkungkung oleh perasaannya sendiri. Mungkin benar yang dikatakan Ratna, ia tidak akan bahagia selama ia masih menyimpan amarah dan dendam di hatinya. Reva mungkin akan berusaha untuk memaafkan semuanya tapi untuk melupakan, semuanya terasa begitu sulit. Hati dan pikirannya masih perlu waktu untuk berdamai.
Di luar kamar Reva, ada Niken yang sejak tadi mondar mandir tidak karuan. Ia ingin sekali menemui Reva tapi ia merasa sangat ragu. Reva mungkin masih ingin sendirian dan kehadirannya mungkin hanya akan membuat suasana hati Reva kembali tak enak.
“Mah..” sebuah suara mengagetkan Niken yang sedang bersandar pada dinding ruang rawat Reva.
“Raka…” Ujar Niken saat melihat putra kesayangannya datang.
“Mamah lagi apa di sini, kok gag masuk?”
Niken menggeleng, ia benar-benar ragu. Setelah kejadian kemarin, mungkin Reva saat ini bukanlah Reva yang ia kenal.
Raka seolah mengerti kegusaran Niken. Ia menyentuh bahu ibunya dan menatapnya dengan lekat.
“Reva sudah mengingat semuanya. Raka yakin, ia pun ingat seberapa besar kasih sayang mamah buat dia. Dan saat ini, mungkin ia mengharapkan kehadiran mamah untuk menguatkannya seperti dulu.” Tutur Raka dengan penuh kesungguhan.
Pikiran Niken mengingat setiap kejadian saat Lana merasa kecewa dengan kakak dan kedua orang tuanya, ia akan terdiam dan kemudian bermanja di pelukan Niken. Seolah pelukan Niken menjadi obat bagi kekosongan hatinya.
Niken terangguk mendengar ucapan Raka. Ia terlihat menghela nafas dalam-dalam,menyiapkan dirinya untuk setiap kondisi yang tidak bisa ia tebak. Bagaimanapun ia adalah salah satu ibu bagi Reva. Dan ia ingin meyakinkan Reva bahwa semua masih sama. Kasih sayangnya tidak pernah berubah dalam kondisi apapun.
Niken memutuskan untuk masuk dan Raka membukakan pintu untuk Niken. Ia tersenyum saat Niken menatapnya dengan ragu. Ia ingin meyakinkan bahwa Reva bukan wanita berhati keras yang akan memendam marah dan benci lalu melampiaskan semuanya pada siapa saja.
Raka menunggunya di depan ruang rawat Reva. Ia tidak ingin mengganggu moment ibu dan anak yang sedang berusaha mengeratkan tali kasih mereka. Raka menyandarkan tubuhnya di ke dinding seraya berharap semua akan baik-baik saja.
*****
“Re…” Suaran Niken terdengar sangat lembut.
Gadis cantik yang terlihat sedang melamun pun mengalihkan pandangannya pada wanita di hadapannya. Niken berusaha tersenyum saat mata mereka bersi tatap, ia berjalan menghampiri Reva dan duduk di hadapannya.
“Mamah bikinin kamu bluebery chesse cake . Dulu kamu sangat menyukainya.”
Niken menyodorkan kotak kue yang ia ikat dengan pita. Perlahan ia membukanya namun Reva hanya memandanginya. Ia terlihat seolah tidak tertarik pada kue di hadapannya. Padahal dulu ia selalu meminta Niken membuatkan kue tersebut dan akan makan dengan lahap tanpa mau menyisakan sedikitpun untuk Raka.
Niken melihat dengan jelas tatapan Reva yang kosong, mungkin ia sedang berusaha mengingat tapi bahkan ekspresi wajahnya seolah enggan untuk di ganggu.
__ADS_1
“Re, mamah keluar dulu, mungkin kamu masih perlu istirahat.” Ujar Niken dengan raut wajah sendunya. Mungkin memang bukan saatnya untuk Niken berbicara dengan Reva.
Tak terdengar jawaban dari Reva. Ia hanya memandangi kue yang ada dihadapannya dengan pikiran yang entah seperti apa.
Niken berbalik hendak keluar dari kamar Reva. Ia berusaha tersenyum walau hatinya ikut meringis sakit melihat Reva yang tidak berbicara apapun. Demi apapun, ia sangat merindukan suara dan tawa Reva.
“Apa mamah gag mau nemenin rere makan?” suara halus itu membuat Niken menghentikan langkahnya. Dadanya menahan tangis yang ingin sekali ia luapkan.
“Tentu sayang, mamah akan temani.” Sahut Niken dengan suara bergetar.
Dengan cepat Niken kembali menghampiri Reva. Ia duduk di depan Reva dan mengambil sepotong kue di atas piring kecil yang sudah ia siapkan.
“Apa mamah mau suapin rere?” tutur Reva dengan tatapan hangat yang sangat di rindukan Niken.
Niken tak mampu berkata-kata. Tangannya terangkat dengan gemetar menyuapi Reva sementara matanya meneteskan butiran bening yang membasahi wajahnya. Ia terisak, sungguh ia tidak bisa menahan tangisnya. Mellihat Reva memakan kue yang ia suapkan membuat tangis Niken benar-benar pecah. Bahunya tampak bergetar dengan pekikan tangis yang tak bisa di tahannya.
Tangan Reva terangkat, ia menyeka air mata yang menetes di pipi Niken. “Wajah mamah hanya diciptakan untuk tersenyum, bukan untuk menangis.” Ujar Reva dengan sapuan lembut tangannya di wajah Niken.
Tangis Niken semakin menjadi. Ia segera menghampiri Reva dan memeluknya dengan erat. Demi apapun, Niken merasa sangat bahagia. Ia merasa putrinya telah kembali. Penyesalannya karena memisahkan Reva dengan orang tuanya tergambar jelas di pikiran Niken. Andai saja dulu ia tidak meminta Lana untuk hidup bersamanya, mungkin tidak akan pernah ada kesalah pahaman di antara Lana dan orang tuanya.
“Maafkan mamah sayang, maafkan mamah.” Ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Reva menggelengkan kepalanya. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Pelukan yang selalu membuatnya merasa nyaman.
Pikiran Reva berkebalikan dengan Niken. Ia berfikir bagaimana dulu ia bisa hidup dengan bahagia jika tidak ada kasih sayang tulus dari Niken, seperti kasih yang tidak pernah putus yang ia terima dari Ratna, wanita yang selalu menyanginya dalam kondisi apapun.
Mereka berangkulan, seolah tidak ingin melepaskan satu sama lain. biarkan mereka mengeratkan kembali kasih sayangnya dan Raka menjadi saksi kebahagiaan itu dari celah pintu yang terbuka.
****
Fery tampak sibuk menyatukan beberapa lembar berkas ke dalam sebuah map. Ia membaca kertas-kertas itu beberapa saat dan kembali merapikannya saat ia merasa yakin. Hari ini ia berencana menemui Indra. Ia tidak ingin tinggal diam melihat Alea terpuruk sendirian. Setiap malam ia kerap memimpikan wajah Alea yang tengah di rundung kesedihan. Hatinya ikut merasa sakit dan pilu.
Fery mendengus kasar seraya memukul meja yang ada dihadapannya. Pikirannya kacau, ia kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun bahkan sebelum kejadian ini terjadi. Harusnya ia lebih peka, harusnya ia lebih perhatian. Alea yang angkuh dan bisa berdiri di atas kakinya sendiri, nyatanya membutuhkan seseorang untuk tempatnya bersandar. Walaupun Fery bukan siapa-siapa bagi Alea, ia berharap bisa berada di samping Alea paling tidak sebagai seorang teman yang siap mendengarkan setiap keluh kesah Alea.
Tak ingin semakin menyesal, Fery segera pergi untuk menemui Indra. Dengan langkah cepat ia menuju tempat parkir. ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia merasa waktunya tak banyak dan tak ingin membiarkan Alea terpuruk sendirian tanpa siapapun yang memperdulikannya.
Di perusahaan milik Group Wijaya Fery telah tiba. Ia segera menuju ruangan Indra tanpa mempedulikan suara reseptionis yang tetap tidak bisa membiarkannya menemui Indra begitu saja. Alasan belum memiliki janji menjadi alasan Fery tidak bisa menemui Indra. Dan untuk saat ini, ia tidak peduli dengan alasan apapun yang di buat Reseptionis tersebut.
Langkah Fery tampak panjang keluar dari lift yang membawa dirinya ke lantai tempat Indra berada. Dalam beberapa langkah, ia segera sampai di depan ruangan Indra dan membuka pintu tersebut dengan segera. Tampak Indra yang tengah berbicara dengan beberapa orang dan langsung berhenti saat melihat kedatangan Fery.
__ADS_1
Indra menatap orang-orang yang ada dihadapannya dan dalam beberapa saat mereka pun pergi.
“Mau apa kamu?” tanya Indra dengan kesal.
Dalam hatinya, Fery sangat tidak memiliki tata krama dan seenaknya. Belum habis kemarahannya saat melihat Fery pulang mengantar Alea yang mabuk-mabukan, kini ia kembali datang dalam kondisi yang tidak diharapkan.
“Maaf om kalau saya lancang. Saya sangat perlu untuk membicarakan beberapa hal dengan om.” Ujar Fery saat melihat tatapan sinis Indra pada dirinya.
Indra melihat Fery dengan tatapan meremehkan tapi Fery tidak memperdulikannya, yang pasti ia harus menyampaikan tujuan kedatangannya.
“Sampaikan maksud kamu dalam 5 menit, saya tidak suka bertele-tele.” Tegas Indra seraya memalingkan wajahnya. Ia kembali duduk di kursi kerjanya dengan setumpuk berkas di hadapannya.
Fery tersenyum senang. Ia segera menghampiri Indra dengan beberapa berkas yang di bawanya.
“Om, saya sudah menyiapkan tim pengacara untuk alea. saya yakin, alea akan baik-baik saja.” Ujar Fery seraya memperlihatkan berkas di tangannya.
“Kamu pikir kamu siapa?!” gertak Indra seraya mengibaskan berkas di hadapannya hingga terserak berantakan.
Bukan Fery namanya kalau ia harus menyerah. Sesuai perkiraannya Indra akan menolaknya dan ia pun sudah bertekad tidak akan mundur selangkahpun.
“Om saya sangat peduli dengan alea. saya tidak akan membiarkan alea terpuruk sendirian. Terlepas om setuju atau tidak , saya akan membela alea sampai titik darah penghabisan.” Tegas Fery, no debat.
Indra melotot tidak percaya. Laki-laki asing di hadapannya berani berbicara dengan lantang tanpa memperdulikan siapa dirinya.
“Kamu pikir saya sepicik apa?!” gertak Indra seraya meremas kerah baju Fery. “Kamu pikir hanya kamu yang peduli dengan alea? saya ayahnya, sebelum kamu berfikir untuk membela alea, saya sudah membuat lebih banyak langkah untuk putri saya!” lanjut Indra dengan mata melotot.
Mendengar teriakan Indra, Fery malah tersenyum. Bukannya beringsut, ia malah memeluk Indra dengan erat.
“Terima kasih om, saya selalu yakin, om adalah orang yang bijak dan sangat menyayangi Alea.” ujar Fery dengan penuh keharuan. Pikirannya selama ini salah tentang Indra.
Indra melepaskan pelukan Fery, ia menatapnya dengan tak habis pikir.
“Kita akan sama-sama berjuang untuk alea, iya kan om? Alea tidak akan merasa sendirian lagi.” Lanjut Fery tanpa memperdulikan tatapan penuh tanya Indra.
Indra hanya menggelengkan kepalanya melihat Fery yang menjabat tangannya dengan erat. Seumur hidupnya baru ada satu laki-laki muda yang begitu berani mengadapinya bahkan tidak peduli dengan gertakan dan kemarahannya.
Di hati Fery, ia hanya bisa bersyukur. Walaupun mungkin ia tidak bisa membawa Alea pulang dan terbebas dari hukumannya tapi ia yakin ia bisa membuat Alea tidak lagi berfikir bahwa tidak ada yang peduli dengannya.
*****
__ADS_1
Feryyy,,, lo udah kayak nyerahin kepala ke mulut harimau :D