Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 126


__ADS_3

“Toas!!” ujar Alea dan Reva bersamaan.


Tidak bisa lagi mereka menyembunyikan raut bahagia yang terpancar jelas dari wajah Reva dan Alea. Tangan mereka saling menggenggam dengan senyum yang tak henti terkembang dari keduanya.


“Okey, okey, gimana tadi ceritanya, pasti seru banget.” Tanya Alea dengan antusias.


“Ya ampun kak, rasanya bener-bener gag bisa di ungkapkan dengan kata-kata.” Seru Reva dengan binar mata yang menyala indah. “Banyak banget direksi yang antusias dan menunggu proyek kita di mulai. Kata papih, udah ada 2 investor yang mau join proyek kita. Aku bener-bener gag sabar!”


“Gue seneng dengernya re… Lo emang ade kebanggan gue.”tutur Alea seraya mengeratkan genggamannya.


Entah mengapa mendengar satu kalimat itu meluncur dari mulut Alea, jantung Reva rasanya berdenyut lembut. Ia tidak pernah menyangka akan mendengar kata-kata itu dalam waktu yang secepat ini. Dalam beberapa saat, butiran bening itu menetes di pipi kanan Reva.


“Loh kenapa, gue salah ngomong?” Alea tampak keheranan melihat respon Reva.


Reva hanya menggeleng dengan tangis yang ia coba tahan. Namun terlambat, pertanyaan Alea berhasil membuat air mata Reva kembali menetes. Ia mengusap kasar air matanya, persis anak kecil yang sedang mencoba melepas kegundahannya.


“Gue seneng, akhirnya gue bisa melakukan sesuatu sama lo kak. Lo tau, “ Reva menjeda kalimatnya dengan dengan tatapan sendu pada Alea. “Papih sangat bangga sama lo. Dia terus memuji lo yang kuat dan hebat dalam kondisi seberat apapun. Gue yang harusnya bangga punya kakak seperti lo.” Lanjut Reva dengan terbata-bata.


Kali ini, Alea yang terdiam. Alea sudah sangat terbiasa dengan pujian yang Indra berikan. Sejak ia kecil, ia selalu bangga saat Indra berdiri di sampingnya mendampingi Alea menerima banyak prestasi. Ya ia selalu bangga setiap kali memperkenalkan Alea pada rekan bisnisnya.


Namun ia sadar, kejadian kemarin telah membuat semua kebanggan Indra dan Nida luluh lantah. Tapi mendengar cerita Reva, ia merasa untuk pencapaiannya saat ini lah pujian itu benar-benar bermakna bagi Alea.


“Kak, you're daddy's little girl, always, so be strong …” lirih Reva dengan tatapan lekat pada Alea.


Alea tersenyum dengan tetesan air mata yang ikut berderai. “You're our angel, always…” timpal Alea dengan penuh kesungguhan.


Mereka saling mengusap air mata satu sama lain. mereka tertawa dalam tangis yang masih belum berhenti. Takdir memang tidak pernah bisa di ubah, tapi kita bisa memilih sikap seperti apa yang akan kita ambil untuk menghadapinya.


*****


Makan siang kali ini terasa begitu menyenangkan karena 2 keluarga tengah berkumpul menikmati waktunya bersama-sama. Indra dan Wira tak hentinya tertawa mengenang masa muda yang mereka habiskan bersama-sama.


Sementara itu Niken dan Nida pun ikut berbincang menimpali 2 laki-laki yang tampak bahagia dengan banyaknya kejadian seru yang mereka alami bersama.


Raka menggenggam tangan Reva yang berada di bawah kolong meja makannya. Mereka saling melempar senyum sambil menikmati makan siangnya.

__ADS_1


“Minta Shrimp fra Diavolo dong yang..” pinta Raka seraya mengedipkan mata kanannya dengan genit.


Tentu saja dengan senang hati Reva mengambilkan untuk Raka, karena kedua tangan mereka sibuk saling menggenggam.


Tak lama berselang, terdengar handphone Raka berdering.


“Bentar, “ Bisik Raka meminta izin untuk menjawab telpon. Reva segera melepaskan genggaman tangan Raka.


“Ya, kenapa fer?”


“Bro ada kabar baik buat lo. 4 proyek kita di setujui dan udah bisa jalan mulai pekan depan.” Ujar Fery dengan senangnya.


Raka mengepalkan tangannya, “Yes!” ujarnya. Ini adalah pencapaian tertinggi bagi Raka. Setelah drama lempar berkas dan mengomeli hampir separuh jajaran penting di kantornya, akhirnya targetnya benar-benar tercapai.


Perhatian Indra dan Wira pun tertuju pada Raka yang begitu antusias. Raka hanya tersenyum kecil pada kedua orang tua di hadapannya.


“Sekalian lo masukin ajuan kerjasama pembangunan resort di bali ke Wijaya corp.” lanjut Raka yang membuat mata Reva terbelalak.


Nida dan Niken ikut senang mendengar hal tersebut.


“Hem, lo siap-siap. Kali ini lo yang pegang langsung.” Timpal Raka. Raka bisa mendengar dengan jelas seruan bahagia dari Fery, dalam beberapa saat Raka pun mengakhiri panggilannya.


Tatapan seisi meja kini tertuju pada Raka. Ia tau benar, para orang tua sedang menunggu berita apa yang membuat Raka begitu antusias.


“Pah, 4 proyek ajuan kita akan berjalan mulai pekan depan.” Ujar Raka tanpa menunda rasa penasaran 5 pasang sorot mata tersebut.


“Hahahaha… itu baru anak papah! ” Seru Wira seraya mengacungkan kedua ibu jarinya. Indra merangkul Wira memberikan selamat.


“Ehm! Dan ada 1 lagi kabar,” Raka membenarkan posisi duduknya lebih tegap. Ia pun meraih tangan dan menggenggamnya dengan erat.


Reva menoleh Raka dengan raut bahagia yang tidak bisa ia sembunyikan.


“Saya, meminta izin langsung sama om dan tante, untuk menjadikan reva sebagai istri saya, teman hidup saya dan ibu dari anak-anak saya.” Lanjut Raka dengan penuh keyakinan.


Hening sejenak mengambil alih suasana. Terlihat Indra yang berdiri dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak seberapa bahagianya ia. Ia segera mendekat dan memeluk Raka dengan erat seraya menepuk bahu laki-laki yang akan mengambil alih kewajibannya terhadap putri bungsunya.

__ADS_1


“Tentu, jaga reva baik-baik, lebih dari kamu menjaga diri kamu sendiri.” Bisik Indra yang di angguki Raka.


Suasana kembali ceria seketika. Indra dan Wira saling berangkulan tak terkecuali Niken dan Nida. Sementara itu, Raka semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Reva.


*****


Tanggal pernikahan telah di tentukan. beberapa hari lagi, Raka dan Reva akan mengukuhkan janjinya di hadapan sang pencipta. Selama itu pula Raka dan Reva di larang bertemu ataupun bepergian. Semua kebutuhan pernikahan telah rampung disiapkan oleh Nida, Niken juga Ratna. Mereka begitu antusias membahas semuanya hingga mendetail.


“Sayang, mamih udah ngirim baju ke rumah riana dan mela. Juga temen kamu yang namanya….” Nida mengecek daftar nama dan check list persiapan yang tidak pernah jauh dari tangannya.


“Tita mih?” sela Reva.


“Nah itu , tita. Kamu coba tanya nak, apa mereka udah terima atau belum. Mamih khawatir belum nyampe.” Tutur Nida sambil kembali mengecek check list yang di buatnya.


“Iya mih, nanti rere coba telpon mereka.” Reva menyanggupi.


“Nak, ibu udah ngasih tau yang punya kebun bunga di kampung. Katanya dia udah siap. Satu hari sebelum acara, bunga akan di antar, supaya tetap segar.” Ratna angkat bicara untuk melaporkan tugasnya.


“Iya bu, makasih banyak. Maaf rere udah ngerepotin.”


“Kok negrepotin, calon pengantin memang harusnya diem aja. Lagian ibu sama mamih kamu seneng banget bisa nyiapin semuanya.” Sahut Ratna seraya mengusap lembut pucuk kepala Reva.


“Assalamu ‘alaikum….” Terdengar suara yang tak asing bagi ketiganya.


“Wa’alaikum salam…” sahut ketiganya bersamaan.


“Eehh jeng niken…” Nida segera menghampiri Niken dan memeluknya dengan erat. Begitu pun Ratna dan Reva.


“Ini, mamah bawain kamu baju pengantin. Ini fitting terakhir, takutnya ada perubahan.” Terang Niken yang membawa serta desainer yang merancang baju pernikahan Reva dan Raka.


“Iya mah, makasih…” sahut Reva yang diangguki Niken.


Ketiga ibu pun berbincang hangat tentang acara pernikahan.


****

__ADS_1


__ADS_2