Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 40


__ADS_3

“Bu, ini sawinya mau langsung di naikin ke mobil?” tanya Reva seraya menggendong sekeranjang besar sawi yang sudah di panen.


“Astaga, anak gadis ibu angkat-angkat berat. Nanti biar yang lain aja yang ngangkut nak.” Seru Ratna sambil berlari ke arah Reva.


“Gag pa-pa bu, rere kuat kok.”


Reva kembali mengangkat keranjang satunya dan menyimpannya di atas mobil colt. Ia selalu menikmati saat berkumpul bersama Ratna dan adik-adiknya di kebun yang terhampar luas ini. Karena ia bisa menikmati udara yang segar dan berkeringat dengan sehat.


Ratna hanya menggelengkan kepala, putri sulungnya ini benar-benar kelas kepala.


“Kak rere, aku mau timun boleh?” rengek Anto yang membawa sekeranjang kecil mentimun.


“Boleh, tapi cuci dulu yaaa,…” Reva mengusap kepala anak tersebut dengan lembut.


“Yeay, asyiikkk!” serunya sambil berlari ke arah sungai.


Di sungai itu, beberapa anak sedang asyik bermain air. Airnya sangat jernih dan dingin. Beberapa anak  malah ada yang sudah mandi dan berenang sementara sebagian lagi membuat perapian untuk membakar ikan dan memasak nasi.


Reva berlari menuju anak-anak setelah pekerjaannya selesai. Wangi nasi liwet mengisi rongga hidung Reva dan membuat perutnya berbunyi nyaring.


“Udah mateng belum lia?” tanya Reva pada seorang anak gadis berusia 12 tahun.


“Sebentar lagi kak rere. Kak rere bersih-bersih aja dulu.” Sahut Lia dengan senyum manisnya.


Reva terangguk. Ia segera menuju pinggiran sungai dan membersihkan wajah serta tangannya. Dinginnya air meresap ke dalam kulitnya, wajahnya terasa begitu segar. Kadang ia merasa iri melihat anak-anak yang asyik berenang dan mandi.


Reva berjalan menyusuri anak sungai. Ia merentangkan tangan dan menghirup udara yang sejuk walau matahari sudah tinggi. Ada 2 buah tiang yang terhubung oleh tali dan di tengahnya ada bantalan seperti samsak. Ini Reva buat beberapa tahun lalu. Di sini ia biasanya berlatih dan berolahraga.


Reva mulai melakukan peregangan. Sudah cukup lama ia tidak berlatih. Ia mencoba menendang samsak itu dengan punggung kakinya. Gerakannya begitu lincah dan keras. Anak-anak yang melihat Reva berkerumun dengan wajah yang terlihat takjub.


“Waahh… Kak rere keren…” seru Anto dengan antusias.


“Anto mau belajar? Ini namanya taekwondo.” Tawar Reva sambil memutar tubuhnya dan sesekali meloncat.


“Mau kak rere, biar anto jadi jagoan kayak di film-film.” Mata Anto terlihat berbinar senang.


“Okey, libur semester nanti kak rere ajarin yaaa… Tapi kalo udah bisa, harus d pake nolong orang bukan buat berantem.” Tukas Reva sambil mengusap pucuk kepala Anto.


“Siap kak rere!” Anto mengacungkan 2 ibu jarinya pada Reva. Reva ikut tersenyum dengan senang.


“Kak rere, nasi liwetnya mateng!” teriak Lia dengan kencang.


Reva mengacungkan ibu jarinya dan berlarian menuju Lia yang sedang menata makananya di atas daun pisang bersama Ratna.


“Aahhh… kak rere lapeerrr…” seru Reva sambil meniupi nasi yang masih mengepulkan asapnya.


“Hati-hati, masih panas.”

__ADS_1


Ratna mengusap punggung Reva dengan lembut. Bibirnya melengkungkan senyum. Reva mengumpulkan nasi di ujung jemarinya, setelah dingin ia menyuapkan nasi tersebut ke mulut Ratna. Mereka saling bertatapan dan tersenyum satu sama lain.


****


 


“Rakaaa, ayo bangun nak… ini udah tengah hari loh…” panggil Niken dari luar kamar Raka.


Tidak ada jawaban sedikitpun. Niken memutar handle pintu kamar Raka dan mendorong pintu hingga terbuka lebar. Tampak Raka masih dilingkupi selimut tebalnya seperti kepompong. Niken duduk di pinggiran tempat tidur, handphone Raka menyala pertanda ada panggilan masuk dari Fery.


“Nak, ini Fery nelpon…” lirih Niken seraya mengusap kepala Raka.


“Eemmm….” Raka hanya menggeliat dengan mata yang masih tertutup.


Panggilanpun berakhir. Niken melihat layar handphone Raka yang masih menyala. Ia sedikit penasaran dengan handphone anak bujangnya ini. Ini mencoba membukanya namun ada password yang harus ia masukkan. Ia mencoba memasukkan kombinasi tangggal lahir Raka tapi tidak berhasil. Lalu mencoba kombinasi angka lain dan ternyata terbuka. Raka menggunakan tanggal lahir Lana sebagai  password handphonenya.


Sejenak Niken menatap Raka yang masih terlelap. Ternyata Lana memang selalu ada di hati mereka. Niken menghembuskan nafasnya perlahan, sudut hatinya selalu terenyuh saat mengingat segala sesuatu tentang Lana.


Niken mulai membuka-buka galery handphone Raka. Ada foto seorang gadis di sana yang sedang menikmati secangkir kopi di hadapannya. Foto tersebut di ambil dari arah samping namun Niken bisa melihat jelas wajahnya yang terlihat berseri dan cantik. Rambut lurus sebahunya di biarkan tergerai dengan indah. Ada lengkungan senyum di bibir Niken, namun entah mengapa perasaannya jadi tak karuan.


“Mah, kalo kak Raka punya pacar, dia gag akan lupain Lana kan? Lana gag mau kehilangan kak Raka.”


Suara Lana terngiang dengan jelas di rongga telinga Niken. Itu adalah kejadian saat Raka berulang tahun dan ada seorang gadis kecil yang memberi Raka kado dan mencium pipi Raka dengan lembut. Saat itu Lana terlihat sangat kesal dan merengek melihat keduanya.


“Sampe kapanpun, Lana akan menjadi hal paling penting buat Mamah dan Kak Raka. Jadi gag mungkin kak raka lupain Lana.” Hibur Niken kala itu seraya mengusap lembut pipi kemerahan milik Lana.


Tiba-tiba Raka membalik tubuhnya menghadap Niken, Niken segera menaruh handphone Raka di tempatnya dan pura-pura tidak melihat apapun.


“Bangun nak, ini udah mau sore lagi loh…” Niken kembali mengusap rambut Raka dengan lembut.


Raka mengerjapkan matanya yang perlahan mulai terbuka. Senyuman Niken menjadi sambutan bagi Raka di hari ini. Matanya memang sulit sekali terbuka. Ia baru tidur dini hari karena terus memikirkan Reva. Bahkan sebelumnya ia pergi ke kost-an dan rumah Mela untuk mencari Reva, tapi tidak ada jejak Reva di sana. Raka benar-benar kesal karena saat bertanya pada para kumbangpun, tidak ada yang melihat Reva.


Raka mengeliatkan tubuhnya yang terasa kaku. Lalu menatap wajah wanita yang selalu menjadi cinta pertamanya.


“Mamah udah cantik aja pagi-pagi gini.” Ujar Raka dengan suara serak khas bangun tidur.


“Pagi apanya? Ini udah mau sore lagi. Cepet bangun, temenin mamah ke suatu tempat.” Sahut Niken seraya menepuk-nepuk punggung Raka.


Mata Raka berpedar, melihat jam dinding yang menempel di salah satu sudut kamarnya. Sudah jam 1 siang. Dengan malas ia bangkit dan turun dari ranjangnya.


“Raka mandi dulu.” Sahutnya sambil meraih piyama mandinya.


“Iya nak, mamah tunggu di ruang makan.” Timpal Niken yang segera pergi menuju ruang makan.


****


“Mah, kita sebenernya mau kemana sih?” tanya Raka yang kebingungan mengantar Niken kesana kemari.

__ADS_1


Beberapa kali ia mampir di toko kue dan toko bunga dan benda-benda itu sudah mengisi jok belakang mobilnya.


“Nanti kamu juga tau…” sahut Niken sambil merapihkan riasannya. “Di depan belok kanan.” Lanjut Niken pada sebuah komplek perumahan elit.


Raka melihat sebuah baligo yang terpasang dengan megah di pintu masuk kompleks. Ia mengenali benar desain baligo tersebut.


“Mamah mau ketemu keluarga wijaya?” terka Raka sambil menatap Niken yang sedang menebalkan lipsticknya.


Niken hanya terangguk sambil tersenyum. Raka menghembuskan nafasnya dengan gusar.


Di depan sebuah rumah mewah dengan desain eropa, Raka diminta untuk menepikan mobilnya. Seorang security menghampiri Raka dan memintanya menurunkan kaca mobilnya.


“Oh nyonya… selamat siang.” Tutur laki-laki itu saat melihat Niken yang tidak asing baginya.


“Selamat siang. Saya mau ketemu Nyonya Nida, ada?” sahut Niken dengan senyuman elegan khas miliknya.


“Ada nyonya, sebentar..”


Security tersebut segera membukakan gerbang rumah mewah tersebut. Tampak tatanan taman yang begitu indah. Bunga-bunga bermekaran dan udaranya terasa begitu segar. Raka memarkirkan mobilnya lalu berjalan mengikuti Niken di belakangnya.


Niken mengetuk pintu rumah dengan perlahan. Seorang pelayan membukakannya dan tersenyum dengan ramah. Niken mengenali benar tata letak rumah yang tidak pernah berubah sejak 17 tahun lalu.


“Silakan duduk nyonya… “ ujar pelayan tersebut yang kemudian berlalu.


Niken duduk di samping Raka, sambil melihat satu per satu foto yang terpajang di ruang tamu tersebut.


Terdengar langkah kaki menghampiri Niken dan Raka. Seorang gadis berdiri di hadapan Niken dengan dandanan modern khas gadis british.


“Raka? Tante Niken?” seru Alea yang berjalan dengan cepat menghampiri Raka dan Niken.


“Ya ampun, Alea sudah sebesar ini. Cantik sekali, tante sampe pangling.” Sahut Niken seraya membalas pelukan Alea.


“Tante apa kabar? Lama ya kita gag ketemu.” Timpal Alea sambil melirik Raka yang terlihat tampan dengan tampilan rapinya.


“Kabar tante baik. Iya dulu terakhir ketemu tinggi kamu baru segini.”


Niken memperagakan tinggi Alea yang baru setinggi pinggangnya. Alea tergelak, memperlihatkan barisan giginya yang rapi.


“Ayo tan, kita ke ruang keluarga, supaya lebih enak ngobrolnya.” Ajak Alea seraya menarik tangan Niken.


Niken mengikut saja langkah kaki Alea. Selama menuju ruang keluarga, Niken memperhatikan barisan foto yang terpajang rapi.


“Tidak ada foto dia sama sekali.” Batin Niken saat melihat foto Alea dengan kedua orang tuanya.


Niken melirik Raka, yang mungkin memikirkan hal yang sama. Raka hanya tersenyum, seolah tau perasaan tidak nyaman yang dirasakan ibunya.


*****

__ADS_1


__ADS_2