Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 184


__ADS_3

Di waktu yang nyaris bersamaan, Raka tengah terpaku menatap Theo yang masuk ke ruangannya tanpa permisi. Matanya berpedar melihat sekeliling ruangan kerja Raka dengan senyum terkembang. Ia dengan santai melangkahkkan kakinya kesana kemari tanpa peduli pada Raka yang menatapnya dengan sinis.


“Sepertinya tidak ada yang berubah dari adiyaksa, hem?” ujar Theo dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari bibirnya.


Raka menghela nafasnya dengan santai. Tatapannya masih tertuju pada Theo yang kini berjalan menuju sofa. Ia duduk di sana dengan menyilangkan kaki kanan di atas kaki kirinya. Raka ikut duduk di hadapannya dengan santai tanpa beban apapun.


“Tidak ada yang bisa menjatuhkan adiyaksa, terlebih dengan cara yang licik.” Timpal Raka dengan seringai sinisnya.


“Hahahahaha… Exactly!” kekeh Theo. “Anda lebih bisa berdiri di kaki anda sendiri di banding saya.” Theo menaruh sebuah map di hadapan Raka. Ia bersandar santai pada pinggiran sofa dan menatap Raka dengan tajam.


“Apa yang anda inginkan? Saya tidak punya banyak waktu untuk bermain-main.” Tegas Raka yang sudah mulai malas meladeni Theo.


Theo menggeleng. “Nope! Saya datang bukan karena saya menginginkan sesuatu. Saya hanya ingin memberikan ini.” Theo menggeser map yang ada di hadapannya pada Raka.


Raka melirik map yang ada di hadapannya.


“Saya tau, ada atau tidak adanya proyek ini tidak akan mempengaruhi Adiyaksa kedepannya. Tapi saya yakin, proyek ini akan memberi nilai tambah kalau anda lanjutkan.”


Pada detik ini, rasanya Raka mulai tahu maksud dari Theo.


“Kita bisa melanjutkan proyek ini dan saya tidak akan menuntut profit apapun. Anggap lah ini sebagai kado untuk anak kalian. Dan maaf untuk keributan yang telah saya buat.” Tegas Theo dengan wajah seriusnya.


Raka hanya tersenyum tipis. Ia tidak pernah menyangka bahwa seorang Theo akan secara sadar meminta maaf.


“Kau harus tau, reva wanita yang baik. Jangan pernah meragukannya.” Imbuh Theo tiba-tiba.


Raka terdiam di tempatnya. Masih ada rasa tidak rela saat Theo menyebut nama istrinya. Ralat, ia tak rela saat mendengar laki-laki mana pun menyebut nama Reva dengan penuh perasaan.


Theo segera beranjak dari tempatnya diikuti Raka yang berjalan di belakangnya.


“Pilihlah wanita yang tepat, jangan hanya mencemaskan wanita milik orang lain.” tegas Raka dengan penuh penekanan.


Theo hanya mengangguk tanpa berbalik. Ia mengacungkan ibu jarinya pada Raka kemudian berlalu pergi dan menghilang di balik pintu.


Bahu Raka melorot. Rasanya gada besar yang bersarang di dadanya baru saja lepas. Ia segera mengambil handphonenya dan menghubungi wanita yang kerap ia rindukan.


"Ya sayang...." Rasanya, suara Reva sudah menghapus seluruh kegundahannya.


****


Perjalanan panjang puluhan ribu kilo meter membawa Reva ke Venice. Tempat yang ia harapkan bisa menjadi bagian bagi Reva dan Raka menghabiskan waktunya bersama-sama. Dari sebuah kamar hotel bernuansa elegan, Reva berdiri di balkon kamarnya. ia tengah menikmati cahaya matahari yang menyapanya dengan cahaya kemuning. Reva memejamkan matanya, menikmati udara yang ia hirup dan hembusan angin yang mengusap wajahnya. Bibirnya menyunggingkan senyum, betapa cantiknya ia pagi ini.


Raka yang baru terbangun, masih berada di tempat tidurnya. Tubuhnya hanya ditutupi selimut dengan dada yang terekspose tanpa sehelai benang pun. Ia menempatkan kepalanya di atas tangan kirinya yang kekar seraya memandangi pemandangan indah di luar jendela. Ia tersenyum kecil saat melihat wajah Reva yang begitu cantik di sinari matahari pagi. Terucap syukur dalam hatinya, wanita itu masih berada di sisinya.


Raka beranjak dari tempat tidurnya. Ia hanya mengenakan celana pendek selutut. Dengan langkah perlahannya ia menghampiri Reva dan memeluknya dari belakang.


“Buon giorno, mio caro…” bisik Raka seraya mengecup pucuk kepala Reva.


“Pagi sayang….” Lirih Reva yang mulai membuka matanya.


Ia menyentuh tangan Raka yang melingkar di pinggangnya seraya mengusap perut buncit Reva. Raka memejamkan matanya, menghirup wangi tubuh Reva yang terasa seperti candu baginya.


“Jagoan kita belum minta makan kah?”


Reva menggelengkan kepalanya. “Udah habis kue satu kotak, ayah.” Timpalnya seraya terkekeh.


Raka ikut terkekeh. Terdengar tarikan nafas dalam dari mulut Raka yang menggambarkan kedamaian saat berada di dekat Reva. Ia menatap arah yang sama seperti yang dilihat Reva.

__ADS_1


“Kamu suka ada di sini bun?” tanya Raka kemudian.


Reva terangguk. Ia menoleh Raka yang berada di samping kepalanya. “Nanti kita pergi nyusurin kanal air ya ayah…” pintanya dengan tatapan penuh semangat.


“Tentu, kita akan kemana pun yang kamu mau, tapi jangan sampe kelelahan yaa… Mas gak mau dia kenapa-napa.” Ujar Raka seraya mengusap perut Reva.


“Hmm!” angguknya setuju.


Mereka begitu menikmati pemandangan pagi ini, riakan air dari aliran sungai serta gondola warna warni yang berjejer di tepian sungai seolah menyadarkan mereka bahwa mereka tengah berada di tempat yang memang mereka inginkan. Menikmati waktu bersama dengan fokus pikiran hanya satu sama lain, membuat ketenangan dan keintiman menjadi perpaduan pas yang mengisi perasaan keduanya.


“Mas gak pernah nyangka, kalau tempat ini bisa sangat menyenangkan dan menenangkan karena bersama kamu, bun…” lirih Raka yang mulai terbawa suasana.


Reva membalik tubuhnya. Ia melingkarkan tangannya di leher Raka. Matanya menatap manik hitam milik Raka dengan hangat.


“Aku juga ngerasain hal yang sama ayah. Tapi sebenernya, dimana pun kita berada, asalkan perasaan kita hadir untuk satu sama lain, rasanya akan sama. Yang berbeda hanya suasana pelengkapnya.” Timpal Reva.


Raka terangguk seraya tersenyum. Benar, dimanapun asalkan bersama orang yang kita sayangi, momentnya akan selalu sama. Hangat dan menenangkan.


“Kamu manis banget bun.” Puji Raka seraya mencubit gemas pipi Reva yang mulai sedikit berisi.


Reva terkekeh, “Mau yang lebih manis?” tawar Reva seraya menggigit bibir bawahnya.


“Give me some……”


Kalimat Raka terhenti saat bibir tipis Reva menyentuh bibirnya dengan lembut. Keduanya memejamkan matanya menikmati decapan dari kedua bibir yang saling mengecap. Raka menyentuh tengkuk Reva dan membawanya untuk semakin memperdalam pagutannya. Raka mengigit lembut bibir Reva membuatnya bisa menjelajah seisi rongga mulut Reva saat bibir mungil itu terbuka. Semakin dalam ******* keduanya semakin dalam. Sesekali mereka mengambil nafas saat rongga parunya terasa sesak dan kemudian semuanya berulang menjadi pagutan yang semakin dalam dan menggairahkan.


Begitu indahnya cinta pagi ini.


*****


“Sayang, minta lagi makanannya…” pinta Reva seraya membuka telapak tangannya pada Raka.


St mark square menjadi tempat pertama yang dikunjungi Reva dan Raka seusai menikmati sarapannya di pinggiran kanal. Reva terlihat begitu antusias menikmati suasana yang membawanya kembali merasakan kebahagiaan di masa kecil.


Raka duduk di salah satu bangku, ia mulai menggoreskan penanya, membuat lukisan object terindah dalam pandangan matanya. Reva yang berjalan kesana kemari mengganggu para merpati membuat Raka tersenyum gemas. Sepertinya Reva begitu menikmati setiap detik yang ia lewati.


Merasa kelelahan, Reva segera menghampiri Raka dan duduk di sampingnya. Ia menempatkan kepalanya di bahu Raka dengan nafas yang terrengah.


“Cape sayang?” tanya Raka kemudian. Reva terangguk dengan nafas yang sepertinya terasa berat. “Mas beliin minum bentar ya… kamu tunggu di sini.” Lanjutnya seraya mengusap kepala Reva.


“Iya ayah, makasih…” timpalnya seraya tersenyum.


Untuk beberapa saat Raka pergi membeli minuman. Tidak hanya itu, ia juga membeli es krim coklat kesukaan sang istri. Dari jendela mini market Raka masih bisa melihat Reva yang tengah menengadahkan tangan kanannya dan melihat cahaya matahari yang menyinari telapak tangannya. Cahaya matahari membuat siluet bayangan tubuh Reva terlihat sangat indah bagi Raka. Benar, bentuk tubuh terseksi seorang wanita adalah saat ia sedang mengandung.


“Prego Signore…” suara sang kasir mini market menyadarkan Raka dari rasa terpukaunya.


“Grazie.” Timpalnya seraya mengambil barang yang sudah ia beli. Ia kembali menghampiri Reva dan memberikan minumannya.


“Makasih ayah…” ujar Reva seraya meneguk minuman yang disodorkan Raka. Raka terangguk, ia duduk di samping Reva, melihat otot leher Reva yyang bergerak naik turun. Sangat menggoda. Raka mengusap wajahnya kasar, pikirannya selalu traveling kemana-mana saat melihat Reva yang selalu menggoda pandangannya. Rasanya tidak ada hal lain yang bisa mengalihkan pandangannya dari Reva.


“Mau es krim bun?” tawar Raka kemudian.


“Wah, mau ayah…” rengeknya dengan manja.


Raka segera membuka penutup cone es krim dan memberikannya pada Reva. Reva mulai menikmati es krimnya dengan lelehan coklat di sekitar pipi dan bibirnya. Raka tersenyum gemas. Ia mendekati Reva dan menjilat lelehan es krim di sudut bibir Reva.


“Ayaaaahhh….” Rengek Reva yang membuat Raka semakin gemas.

__ADS_1


“Bagi dong bun…” pintanya dengan wajah memelas.


“Boleh, tapi dikit ya…” Reva mengarahkan es krim ke mulut Raka namun saat Raka akan menjilatnya Reva malah mendorongnya sedikit hingga mengenai hidung Raka.


“Hahahahahahhaaa….. kamu lucu banget yah….” Gelak Reva dengan renyah.


Raka menyentuh hidungnya yang terkena lelehan coklat. Benar saja, lelehan coklat ada dimana-mana.


“Bun, bersishin ah…” rengak Raka dengan wajah pura-pura kesalnya.


“Hahahahha jangan duluuu… Kamu keliatan lucu banget yah…..” elak Reva yang masih tergelak. Ia mengambil ponselnya dan mengambil beberapa foto Raka yang menurutnya sangat menggemaskan.


Tak menunggu lama, dengan segera Raka menarik tangan Reva dan sengaja mencium pipi dan bibir Reva hingga sang istri ikut belepotan.


“Ayaaaahhh…” protes Reva


“Suruh siapa ngetawain. Sama-sama belepotan kan kita….” Timpal Raka yang kini ikut terkekeh.


Reva berdecak sebal. Bibirnya mengerucut dengan gemas. Dengan segera ia mengambil tissue dan hendak membersihkannya.


“Bentar!” Raka menahan tangan Reva. “Aku yang bersihin.” Imbuhnya.


Reva sepertinya setuju, karena tangannya sudah mulai turun.


Raka melepas coats-nya, membuat Reva mengernyitkan dahinya. Tak berapa lama, Raka menutupi kepalanya dan kepala Reva dengan coats tersebut. Ia mulai menjilati lelehan coklat di wajah dan bibir Reva. Reva mengeram tapi semakin lama ia mulai menikmatinya dan sesekali ia terkekeh geli.


Di bawah langit biru kota Venice, romansa itu kembali terrukir.


****


Hari menjelang sore, pasangan yang selalu dimabuk cinta ini kembali menikmati moment-nya di tempat yang berbeda. Sesekali Raka mengajak Reva duduk di bangku saat melihat sang istri yang kelelahan dengan kaki yang sedikit membengkak. Ia dengan setia memijat kaki Reva, lembut.


Tempat berikutnya yang ingin Reva datangi adalah kanal air dengan banyak gondola terapung di sana. Mereka menaiki salah satu gondola menjelajahi kanal air yang terlihat kebiruan. Suara pemusik jalanan menambah nuansa romantis yang tercipta. Raka menyelesaikan satu lukisannya yang hampir rampung sebelum ia menghampiri sang istri yang tengah tersenyum menikmati perjalanan menyenangkannya.


Tangan Raka menari dengan indah di atas kertas putih yang mulai menggambarkan lukisan sang istri. Ia tersenyum sendiri saat sesekali matanya menangkap senyuman indah yang tergambar di wajah Reva. Di akhir lukisannya, ia menambahkan nama Reva dan tulisan “My FAK Girl”. Ia membuat singkatan sendiri dari Akronim yang dibuatnya. “My Fabulous And Knightly Girl” adalah singkatan dari akronim yang di buatnya. Ya, bagi Raka panggilan yang cocok untuk Reva adalah akronim ini. Seorang wanita yang luar biasa dengan segala kelapangan hati dan kasih sayangnya yang hangat.


“Sayang, sini….” Panggil Reva yang menyadari keterdiaman Raka.


Raka menutup bukunya. Ia segera menghampiri Reva dan duduk di sampingnya. Raka memeluk Reva dengan erat dan mengecup bibirnya dengan mesra. Reva tersenyum tipis, laki-lakinya saat ini begitu manis. Ia mengusap wajah Raka dengan lembut dan mendaratkan sebuah ciuman di pipinya.


Raka tersenyum senang. Ia semakin mengeratkan pelukannya, seolah tidak ingin terpisah untuk alasan apapun. Baginya, Berada di samping Reva, membuatnya merasa menjadi laki-laki yang paling beruntung dan bahagia di dunia. Setelah ini, Ia tidak ingin meminta apapun lagi. Satu Reva, sudah cukup untuk menjadi dunianya.


“Sei la mia vita e la mia morte, piccola.” lirih Raka dengan penuh kesungguhan.


*******


 


 


TAMAT




__ADS_1



__ADS_2