Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 167


__ADS_3

Seusai pemeriksaan, Reva duduk sendirian di bangku tunggu ruang perawatan Indra. Ia masih memandangi perutnya yang masih terlihat rata. Ia tak sabar menantikan saat calon bayinya menunjukkan dirinya dan bergerak mengusik ketenangan hidupnya. Kata orang itu moment yang indah.


“Sayang… tumbuh yang sehat lagi kuat ya nak… Bunda akan berusaha menjaga kamu dengan baik. Kita hadapi semuanya sama-sama ya nak...” lirih Reva seraya tersenyum.


Tanpa Reva sadari, ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya dari kejauhan. Ia tersenyum dan mulai melangkah mendekati Reva. Ia duduk di samping Reva dan membuat Reva sedikit menjauh.


“Sedang apa anda di sini?” tanya Reva dengan sinis.


“Nih…” Theo memberikan buah-buahan untuk Reva. Reva hanya menatapnya. “Katanya apel banyak vitaminnya, bagus untuk ibu hamil. Dan pisang bisa mengurangi muntah-muntah di pagi hari.” Lanjut Theo seolah mengabaikan keterkejutan Reva.


Reva terdiam sejenak. Ia membayangkan andai saja yang dihadapannya ini Raka, mungkin ia akan segera berhambur memeluknya. Namun ia Theo, laki-laki yang memaksanya membuat keputusan sulit dalam hidupnya.


“Jangan membuat saya lebih muak. Saya tidak perlu perhatian dari anda. Dan jangan anda pikir saya akan luluh dengan hal-hal seperti ini.” Ujar Reva dengan penuh kekesalan.


Theo hanya tersenyum seraya memandangi Reva. “Kamu ingat, saya pernah bilang saya akan menyayangi anak kamu seperti anak saya sendiri. Saya tahu, untuk meluluhkan hati kamu sangat teramat sulit. Tapi saya tidak akan menyerah. Kamu seperti ini pun, saya tetap mencintai kamu, sweetheart.” Tegas Theo tanpa menyerah.


Reva segera memalingkan wajahnya dari Theo. Semenyebalkan itu ia mendengar kata-kata manis dari Theo.


“Anda datang pada orang yang salah. Mungkin jika anda datang pada orang yang tepat, kalian akan sama-sama bahagia.” Tutur Reva tanpa menatap Theo sedikitpun.


“Cinta tidak pernah salah. Hanya saja terkadang ia datang terlambat. Dan saya akan menunggunya, sweetheart.” Lirih Theo. Ia mengangkat tangannya hendak mengusap kepala Reva. Namun ia mengurungkan niatnya dan kembali mengepalkan tangannya. Rasanya waktunya tak tepat. Ia memilih pergi dan meninggalkan Reva dalam suasana yang tenang.


Sepeninggal Theo, Reva memandangi buah-buahan yang ada di sampingnya. Rasanya air liurnya akan menetes melihat apel yang begitu berkilauan di matanya. Ia mengambil satu dan mencucinya lalu memakannya dengan nikmat.


Kita lupakan sejenak kalau apel ini dari Theo. Biarkan Reva menikmatinya bersama sang jabang bayi.


****


Suara dentingan piano terdengar merdu menghangatkan suasana malam dalam pertemuan pengusaha muda dari berbagai perusahaan. Reva baru tiba dan turun dari mobilnya. Ia terlihat cantik dengan gaun malam berwarna abu tua yang terlihat elegan saat berpadu dengan kulit putihnya. Beberapa pasang mata tampak tertuju pada sosok cantik yang tengah berjalan dengan anggun.


Di hadapan Reva ada Theo yang menyambutnya dengan senyum sumeringah. Selalu, Theo tenggelam dalam pesona Reva yang menurutnya sangat memukau.

__ADS_1


“Hello sweetheart, You take my breath away, perfect!” puji Theo yang hanya di balas senyuman tipis oleh Reva. Theo melangkah dengan penuh kharisma di samping Reva seolah malam ini Reva adalah miliknya.


Ibarat bunga yang sedang merekah, tentu saja beberapa kumbang mendekati Reva dan mengajaknya berkenalan.


“Reva…” sahut Reva seraya mengangguk memberikan penghormatannya pada beberapa pria yang mengajaknya berkenalan.


“Is she your?” tanya laki-laki bernama Andrew pada Theo.


Theo hanya tersenyum seolah mengiyakan pertanyaan laki-laki tersebut. Dan Reva benar-benar malas menimpalinya. Ia sangat ingin acara ini segera selesai dan pulang kembali untuk menemani Indra di rumah sakit.


Dari arah pintu masuk, tampak Fery yang datang bersama Raka. Matanya langsung menangkap keberadaan Reva yang berdiri di samping Theo.


“Astaga!” dengusnya seraya mengusap wajahnya kasar. Ia tidak bisa membayangkan kalau Raka melihat pemandangan tersebut. “Bro, lo balik lagi aja lah. Biar gue aja yang di sini. Lo istirahat gih, kerjaan lo hari ini banyak banget.” Tawar Fery yang berusaha membuat Raka pergi.


“Lo apaan sih? Tadi sore lo maksa gue buat dateng tapi sekarang malah nyuruh gue pulang!” sengit Raka yang tak habis pikir.


Malam ini Raka terlihat tampan dengan jas rapinya. Rahangnya yang mulai di tumbuhi rambut halus semakin membuatnya terlihat maskulin.


“Iya, tapi gue pikir…” Ujar Fery yang menggantung kalimatnya seraya menoleh ke arah Reva. Ia berharap Reva sudah tidak berada di sana.


Ia merangkul pinggang Reva saat hampir terjatuh karena seorang pelayan yang menyenggolnya di bibir tangga.


Semua perhatian pun tertuju pada Theo dan Reva tak terkecuali Raka dan Fery.


Fery hanya bisa tertunduk lesu, waktunya habis dan Raka sudah melihatnya. Fery benar-benar tak bisa berkata-kata saat melihat mata Raka yang menyalak dengan kilatan amarah tatkala melihat pemandangan di hadapannya. Raka berjalan dengan cepat menuju kerumunan.


“Reva…” lirihnya saat melihat Theo yang merengkuh pinggangnya.


Reva segera melepaskan tangan Theo. Ia tidak ingin siapapun salah paham. Saat ini Reva masih belum menyadari keberadaan Raka yang melihatnya dengan tatapan penuh kemarahan.


“Watch your step, boy!” gertak Theo seraya mencengkram kerah baju pelayan tersebut. Tatapannya terlihat dingin dan menakutkan membuat nyali laki-laki di hadapan Theo menciut seketika.

__ADS_1


“Ma-maaf tuan, saya tidak sengaja.” Ujarnya gemetar.


Theo segera menghempaskan tubuh laki-laki itu dan perhatiannya kembali tertuju pada Reva. “Are you okay?” tanya Theo kemudian.


Reva hanya terangguk. Sejujurnya ia masih sangat terkejut saat hampir jatuh dari tangga. Untung saja Theo sigap, hingga ia memegangi Reva walau mungkin membuat beberapa orang salah paham. Tapi paling tidak, ia dan bayi yang di kandungnya baik-baik saja.


“Arya!” panggil Theo pada asisten kepercayaannya. Arya segera mendekat. “Jangan ada anak tangga di hotel kita yang mana pun. Dan jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi!” Lanjut Theo yang membuat Arya terangguk patuh.


Hotel ini memang salah satu hotel bintang lima milik Theo dan sebagai sultan tentu ia bisa melakukan apapun. Reva merinding sendiri melihat sosok Theo dihadapannya.


Tanpa di duga, Raka berjalan menghampiri Reva. Ia meraih tangan Reva dan membawanya berjalan dengan cepat. Reva berusaha berontak karena ia hampir terjatuh tapi Raka seolah tidak peduli. Dan Theo tentu saja segera mengejarnya.


“Apa yang kamu lakukan di sini hah?!” gertak Raka sesampainya di salah satu sudut ruangan.


“Aku…”


“Dia menemani saya !” seru Theo seraya menarik tangan Reva.


Tentu saja Raka tidak akan mengalah. Ia menatap Theo dengan tajam. Ada kilatan petir yang memancar dari dua pasang mata ini. Raka mengeratkan genggamannya membuat Reva meringis kesakitan. Dan Theo seolah tak ingin kalah, ia pun memperkuat genggamannya.


Sudut mata Raka melirik Reva yang meringis. Ia segera melepaskan genggamannya karena ia tahu, dialah yang mungkin membuat Reva kesakitan. Berbeda dengan Theo, ia memandangi Raka seraya tersenyum sarkas. Raut penuh kemenangan terlihat jelas di wajah Theo.


“She's mine, so stay away!” ujar Theo dengan penuh penekanan.


“BUK!” Raka menyahuti ujaran Theo dengan sebuah pukulan yang membuat wajah tampan Theo lebam seketika.


Theo tak tinggal diam, ia segera membalas pukulan Raka dan baku hantampun tak terelakkan. Fery yang melihat kejadian tersebut segera membantu Reva  untuk melerai keduanya agar tidak menjadi tontonan banyak orang. Bagaimanapun mereka harus menjaga citra dan nama baiknya di antara para pengusaha muda lainnya.


“Tolong berhenti.” Lirih Reva yang membuat kepalan tangan Theo turun seketika.


Reva melirik Raka yang terlihat masih memendam amarahnya dengan dada yang bergerak naik turun. Reva tak bisa membiarkannya. Ia segera membawa Theo pergi menjauh. Ini cara satu-satunya yang bisa ia lakukan di banding membiarkan Theo kembali menyakiti orang-orang di sekitar Reva.

__ADS_1


Theo tersenyum sarkas pada Raka. Ia membusungkan dadanya jumawa karena Reva menggenggam tangannya dan membawanya pergi.


****


__ADS_2