
Sebuah mobil mewah melaju dengan kencang menuju Wijaya Group. Ia berhenti di depan lobi dan melemparkan kunci mobilnya begitu saja pada security yang menyambutnya dengan sopan.
“Parkirin!” ujar Alea dengan angkuhnya.
Security tersebut hanya mengangguk dan segera menuruti putri dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Alea naik ke lantai 18, tempat kakak sepupunya bekerja. Ia menatap wajahnya yang memantul dari dinding lift. Ia melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya dan memindahkannya ke atas kepalanya. Tampilannya seperti biasa, terlihat seksi dan cantik.
“Lo sempurna alea, gag ada siapapun yang bisa ngalahin kecantikan lo.” Gumam Alea dengan senyum lebar di bibirnya.
“Ding!”
Pintu lift terbuka. Orang-orang yang melihat kedatangan Alea segera membungkuk dan tersenyum sebagai bentuk penghormatan. Alea mengabaikannya begitu saja, baginya tidak ada yang penting dari orang-orang tersebut. Ia terus berjalan menuju ruangan Edho dengan angkuhnya.
“Kak!” seru Alea yang muncul di balik pintu ruangan Edho.
Ia melenggang masuk dan duduk di salah satu sudut sofa.
“Lea, lo kebiasaan ya masuk ke ruangan seenaknya. Ketuk pintu dulu kek, salam dulu kek!” ujar Edho sambil menutup berkas di hadapannya.
Ia beranjak menghampiri Alea sambil merapikan jasnya.
“Lo gag akan maen kotor di kantor kan? Lagian sekertaris lo gag ada yang cantik, gag mungkin lo mendesah dengan salah satu di antara mereka.” Timpal Alea dengan senyum sarkasnya.
Ia memandangi kutek yang menghias jemari lentiknya.
“Lo ya, kalo ngomong suka seenaknya. Gue juga masih punya muka kali di depan karyawan gue!” sengit Edho. Ia duduk di hadapan Alea dan menatapnya penuh tanya. “Ada apa lo ke sini? Ruangan bokap lo di atas.”
Edho menyandarkan tubuhnya pada pinggiran sofa.
“Lo masih suka sama Reva?” tanya Alea tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
Edho hanya tersenyum. Ia mengusap dagunya tanpa menjawab pertanyaan Alea.
“Gue tau lo masih suka. Kenapa gag lo kejar? Bukannya naklukin cewek kayak dia bukan hal yang sulit buat casanova kayak lo?” Alea menatap Edho dengan seringai kecil di sudut bibirnya.
Edo melonggarkan dasi yang mengikat lehernya. Tiba-tiba ia merasa kegerahan saat mendengar ucapan Alea.
“Lo gag perlu ngajarin gue lea” ujar Edho seraya meneguk minuman di hadapannya.
“Cik!” Alea berdecik. “Gue gag ngajarin lo. Gue Cuma ngajak lo kerjasama. Lo kejar si Reva, gue kejar Raka.” Tegas Alea dengan yakin.
“Hahahahahha…” tawa Edho membahana mengisi ruangan kerjanya. “Rupanya lo gag mau pangeran impian lo ketemu sama sang putri.” Ledek Edho yang masih tidak bisa menahan tawanya.
“Jaga mulut lo! Cuma gue tuan putrinya di sini, Alea Poeny Wijaya. Si Reva itu cuma ****** yang berusaha terlihat terhormat dengan kelakuan sok baik dan sok beraninya.” Timpal Alea dengan wajah kesalnya.
“Jaga juga mulut lo! Dia perempuan paling sempurna buat gue!” tegas Edho dengan mata membulat sempurna.
Ia merasa tidak terima, gadis yang dicintainya dikatai dengan tidak sopan.
“Okey, kalo gitu lo udah sepakat kan?”
__ADS_1
Alea menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan angkuh. Edho hanya terdiam, ia menatap Alea tanpa sepatah katapun.
“Re, semakin lo menjauh, gue akan semakin mendekat.” Batin Edho.
****
Malam telah tiba, Tika mengajak Reva untuk makan malam di luar sambil menikmati indahnya kota Bandung di malam hari. Mereka berjalan beriringan di sepanjang jalan yang ramai dengan muda-mudi. Udaranya terasa begitu dingin dan segar. Dengan beberapa kilatan cahaya dari lampu flash kamera mereka yang sedang asyik berfoto.
“Re, kamu mau makan apa?”
Tika melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Sudah jam 7 malam, waktunya mereka mengisi perut.
“Apapun mba, yang penting ada nasi.” Sahut Reva seraya tersenyum.
“Okey, let’s go!”
Tika mempercepat langkahnya menuju sebuah restoran. Perutnya sudah sangat keroncongan.
Seorang pelayan menyambut mereka dengan ramah. Tika dan Reva memilih untuk duduk di area terbuka, agar masih bisa menikmati segarnya udara malam. Mereka memilih menu makanan dan segera memesannya.
“Gag kerasa ya, besok kita udah penutupan lagi aja. Workshop kali ini bener-bener seru.” Ujar Tika seraya menatap Reva dengan dagu tertopang di atas kedua tangannya,
“Iya mba, di sini banyak kampus bagus. Jadi pasti antusias peserta workshopnya tinggi.”
“Iya , kamu bener.”
“Kak, minta sedekahnya kak… Saya belum makan…” ujar gadis itu dengan suara lemahnya.
Sudut hati Reva terenyuh. Ia menatap gadis itu lalu tersenyum.
“Orang tuamu di mana?” tanyanya dengan perlahan.
Ia menunjuk seorang ibu yang sedang meminta-minta pada orang-orang di jalanan seraya menggendong seorang anak yang tengah terlelap. Pandangan Tika dan Reva sama-sama tertuju pada wanita itu lalu beralih pada gadis kecil di hadapannya.
“Ini buat kamu. Pulanglah, udah malem.”
Reva memberikan selembar uang seraya mengusap kepala anak tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh Tika.
Gadis itu tersenyum dengan lebar, saat 2 lembar uang berwarna merah masuk ke dalam kaleng kecilnya.
“Makasih kak..” serunya dengan wajah bahagia yang tidak bisa di sembunyikan.
Reva dan Tika hanya membalasnya dengan senyuman. Gadis itu berlari keluar restoran dan menemui ibunya. Sepertinya ia memberitahu ibunya tentang Reva dan Tika. Wanita paruh baya itu berbalik menghadap Reva dan Tika lalu merunduk. Wajahnya sama cerianya dengan anak tersebut. Reva dan Tika pun membalas senyumannya.
“Setiap anak gag bisa milih dari rahim siapa dia di lahirkan. Tapi baik sang anak atau pun orangtuanya, keduanya sama-sama punya pilihan untuk menentukan hidup mereka kedepannya.” Tutur Reva yang masih menatap ibu dan anak tersebut.
Sang anak terlihat ceria berjalan sambil sesekali meloncat kegirangan, sementara sang ibu berjalan mengikutinya dari belakang, memastikan mereka menyebrang dengan aman.
“Itu yang mereka pilih re, dan mereka pasti ada alasan buat ngelakuinnya.” Sahut Tika yang ikut tenggelam dalam pemandangan di depan mereka.
__ADS_1
Reva hanya terangguk. Pikirannya melayang mengingat kenangannya bersama wanita yang membesarkannya.
Flash back on
Sore itu, Ratna pulang dengan hasil panen sayuran dari ladangnya. Reva menyambutnya dan membantu Ratna menaruh keranjang dari gendongannya. Ratna menyimpan beberapa perkakas di dekat pintu gudang lalu meletakkan caping yang seharian melindungi kepalanya dari terik matahari.
“Minum dulu bu..”
Reva menyodorkan segelas air putih pada Ratna yang tampak kelelahan.
“Terima kasih nak...” ujar Ratna seraya mengusap kepala Reva dengan sayang. Ia meneguk air minumnya hingga tandas.
“Ibu capek banget yaa.. Reva pijitin yaa..”
Reva meraih kaki Ratna yang masih memiliki sisa-sisa tanah merah menempel lalu memijatnya dengan lembut. Ratna tersenyum senang, Reva selalu seperti ini setiap ia pulang dari ladang.
“Re, ibu sudah jual sebagian hasil panen kita. Alhamdulillah hasilnya banyak. Besok kamu bisa bayar uang sekolah dan sorenya kita ke dokter lagi buat terapi.” Tutur Ratna seraya menatap Reva.
Reva menghentikan gerakan tangannya. Ada keengganan saat mendengar keinginan Ratna yang kedua.
Sudah sekitar 7 tahun dari kejadian itu dan Reva belum mengingat apapun. Ratna teringat, saat pertama menemukan Reva yang tergeletak tidak berdaya di depan pintu panti asuhannya, ia di penuhi luka di tubuh dan wajahnya. Bahkan ada bekas cekikan di lehernya. Ratna berfikir, mungkin gadis ini telah melewati kejadian yang sangat menakutkan.
Keesokan harinya, saat Reva tersadar ia tidak mengingat apapun. Ia pernah membawa Reva ke rumah sakit, menurut dokter yang memeriksanya Reva kehilangan ingatannya sementara dan kemungkinan bisa pulih jika di lakukan terapi.
Ratna membawa Reva terapi tiap bulan tapi tidak ada perbaikan apapun. Berdasarkan hasil pemeriksaan, baik secara sadar ataupun tidak sadar, Reva menolak untuk mengingat apapun. Sepertinya traumanya begitu dalam.
“Bu, rere gag mau terapi lagi....” lirih Reva dengan tatapan sendunya.
“Kenapa nak? Apa kamu tidak mau mengingat keluargamu? Mereka mungkin sangat merindukan kamu.”
Reva hanya menggeleng. “Yang hilang ingatan cuma rere, mereka tidak hilang ingatan. Tapi sampai sekarang mereka gag nemuin rere. Mungkin rere memang gag punya keluarga yang mengingat rere atau kangen sama rere.” Tutur Reva dengan air mata yang sudah berkumpul di salah satu sudut matanya.
Ratna meraih tubuh kurus itu, lalu memeluknya dengan erat. Mungkin ini alasan Reva tidak mau mengingat apapun. Ia merasa tidak dipedulikan oleh orang-orang yang entah ada atau tidak memikirkan dirinya.
Pelukan Ratna selalu menjadi tempat ternyaman bagi Reva. Dalam pelukannya, ia bisa melupakan segala kesedihan dan ketakutannya. Ia pun bisa meluapkan semua perasannya. Lantas apa lagi yang harus ia cari.
“Ada ibu, buat rere udah cukup. Rere gag akan minta yang lain lagi sama Allah selain Dia menjaga ibu dan memberikan kesehatan serta umur yang panjang buat ibu.” Lanjut Reva seraya terisak.
Ratna ikut terlarut. Ia tidak bisa memungkiri di dasar hatinya, ia selalu takut jika suatu saat Reva mengingat siapa dirinya kemudian pergi meninggalkannya. Ia tau ia egois, tapi ia hanya tidak ingin kehilangan seorang anak yang membuat hidupnya selalu menjadi lebih semangat.
Saat melihat senyum Reva, ia akan melupakan semua kesedihannya. Ia pun akan lupa pada rasa lelah dan terasing yang iapun rasakan sejak kecil. Tawa Reva menjadi alasan ia ikut tersenyum.
“Kelak, kamu harus menjadi anak yang kuat, anak yang sukses. Bukan untuk membanggakan ibu saja, tapi supaya kamu bisa berdiri di atas kakimu sendiri seperti alasan ibu ngasih kamu nama Reva, wanita kuat yang bergerak seperti bintang.” Terang Ratna sambil mengusap kepala Reva.
Reva semakin membenamkan kepalanya di pelukan Ratna. Wangi tubuh Ratna selalu menjadi penyemangat baru bagi Reva.
Flash Back Off
“Bu, rere kangen...” batin Reva.
****
__ADS_1