
Keduanya telah sampai di penginapan mereka. Reva tengah duduk di atas tempat tidurnya sementara Raka berdiri dengan kikuk.
“Aku tidur di bawah aja” tunjuk Raka pada lantai yang terbuat dari kayu dengan celah kecil di antaranya.
Ia membayangkan, nanti malam saat angin berhembus pasti akan terasa sangat dingin dan ia bergidik sendiri.
“Hem…” sahut Reva yang menyodorkan salah satu bantalnya pada Raka. “Kamu pake aja selimutnya..”
Reva pun memberikan selimutnya pada Raka.
“Terus kamu?”
“Mantel aku tebel.”
Akhirnya Raka mengalah. Ia membaringkan tubuhnya di lantai kayu, sebelah tempat tidur Reva, sementara Reva tidur telentang di ranjanganya sambil menatap langit-langit kamar dengan pijar kuning yang tergantung artistik.
“Re, kamu udah tidur?”
“Hem… Selamat malam…” sahut Reva yang sebenarnya belum terpejam.
“Selamat malam, mimpi indah.”
Raka tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya ia mengatakan hal itu. Reva pun ikut tersenyum. Raka menggulung tubuhnya dengan selimut, karena hawa dingin itu benar-benar menembus sendinya.
Beberapa saat kemudian, Reva masih belum bisa tidur. Ia menoleh Raka yang berada di dalam selimut dan hanya terlihat kepalanya saja. Rasanya tidak tega melihat laki-laki yang mulai mengisi hatinya tertidur seperti itu.
Reva menyentuh lantai kamarnya, terasa hawa dingin yang benar-benar berhembus kencang.
“Raka,,, bangun… pindah gih…”
Reva menepuk-nepuk wajah Raka perlahan. Tiba-tiba mata Raka terbuka, ia pun memegangi tangan Reva yang menyentuh wajahnya. Keduanya saling bertatapan untuk beberapa saat. Reva bisa merasakan dinginnya tangan Raka yang menggenggam tangannya.
“Pindah ke atas, di sini dingin banget. Kamu bisa masuk angin.” Terang Reva yang segera tersadar.
“Apa gag pa-pa?” Raka menatap tidak percaya.
“Kamu bisa menjaga aku dengan baik kan?” tanya Reva dengan tatapan mendalam. Tatapan yang selalu bisa membuat Raka terlarut.
Pertanyaan yang nyaris sama juga terngiang di telinga Raka.
“Kak Raka bisa jaga aku baik-baik kan?” tutur Lana seraya mengulurkan tangannya pada Raka.
__ADS_1
“Astaga…” dengus Raka perlahan.
Ia segera mengalihkan pandangannya. Bayangan Lana kerap muncul di saat yang tidak di duga. Apa bayangannya saja begitu cemburu saat Raka dengan gadis lain, atau kenangan Lana dalam pikirannya begitu kuat melekat.
“Aku gag maksud apa-apa, aku cuma…”
Reva menanggapi lain dengusan Raka. Ia tidak mau Raka berfikir ia sedang menggodanya.
“Jangan berfikir terlalu banyak…” Raka mengusap kepala Reva dengan lembut. Ia segera bangkit dan membaringkan tubuhnya di salah satu sisi.
Reva kembali tersenyum. Ia percaya, sorot mata Raka tidak menatapnya sebagai wanita murahan yang bisa ia perlakukan semena-mena.
Reva terbaring di samping Raka. Nafasnya terdengar berhembus kasar. Terang saja, ia merasa sangat gugup saat ini. Bagaimanapun mereka 2 orang dewasa dengan jenis kelamin yang berbeda tidur di ranajang yang sama. Rakapun merasakan hal yang sama.
“Re,,”
“Hem…”
Raka menoleh Reva yang tengah terpaku.
“Aku udah janji bakal jaga kamu. Jadi tidurlah…”
Perlahan Reva mulai memejamkan matanya. Iapun terlelap tanpa ada mimpi buruk yang menganggunya.
Raka yang mulai akan terpejam, ia memiringkan tubuhnya menghadap Reva yang terlelap. Wajah cantik itu terlihat begitu tenang. Raka tersenyum simpul, semua perasaan berkumpul dalam dadanya. Reva telah mengubah rasa sepi di hatinya menjadi keceriaan.
Sejak Lana pergi, Raka tidak pernah tertarik untuk memperhatikan gadis lain. Mantan pacarnya di LA pun, tidak pernah meninggalkan kesan apapun di hatinya. Hadirnya Reva di hidup Raka, telah banyak merubah dirinya menjadi seseorang yang mulai menikmati hidup.
“Love you re…” lirih Raka seraya tersenyum.
Perlahan ia mulai memejamkan matanya, menjemput mimpi indah dalam tidurnya.
****
Raka merasakan ujung kakinya yang tertiup udara pagi yang membuat dirinya bergidik kedinginan, ia menarik selimut hingga lehernya untuk menghangatkan tubuhnya. Tangannya mencari sosok yang sedari tadi berbaring di sampingnya namun tidak ia temukan.
Matanya mulai mengerjap, menyesuaikan dengan cahaya lampu ruangan. Reva sudah tidak ada di sampingnya. Ia segera terbangun dan mencari Reva, namun senyuman terlihat jelas di wajahnya saat ia melihat gadis itu tengah meregangkan otot-otot tubuhnya di depan pintu kamarnya yang sudah terbuka.
Raka melihat jam di tangannya, sudah jam 5 pagi. Ia segera bangun dan pergi ke kamar mandi sebelum menunaikan kewajiban muslimnya.
“Pagi re…” sapa Raka sambil berdiri di samping Reva.
__ADS_1
“Pagi…” sahutnya dengan senyuman cantik di wajahnya.
“Kamu bangun pagi banget, gag bisa tidur ya?” selidik Raka yang mulai ikut meregangkan otott-otot tubuhnya.
“Nggak, aku emang biasa bangun jam segini.”
“Bangun pagi lebih mudah di banding tidur cepet.” Sambung Raka tiba-tiba.
Reva tampak terbelalak. Dia tidak menyangka Raka mengingat salah satu kemalangannya ini. Ya, kebiasaan ini ia sebut sebuah kemalangan, karena banyak hal yang harus ia lakukan terlebih dahulu sebelum akhirnya bisa tertidur, itupun belum tentu pulas.
“Semua yang pernah kamu omongin sama aku, aku pasti inget re…” terang Raka yang berusaha menghapus wajah bingung Reva.
Reva hanya terdiam. Ia bahkan tidak mengingat kapan ia mengatakan hal itu pada Raka.
Raka menatap Reva seraya tersenyum. Ia mendekatkan tubuhnya pada Reva dan menatapnya dengan lekat.
“Kamu penting buat aku. Apapun tentang kamu, aku akan selalu mengingatnya. Dan aku akan berusaha, supaya kamu gag pernah ada kesempatan untuk melupakan apapun tentang kita.” Tutur Raka seraya mengusap lembut pipi Reva.
Reva memberanikan diri untuk menatap Raka. Ia tidak mau lagi memalingkan wajahnya, ia ingin meyakinkan dirinya sendiri untuk mengukir kenangan bersama Raka.
“Sejak aku membuka hati aku buat kamu, aku berjanji akan selalu mengingat apapun tentang kita. Kalau suatu hari perasaan kamu berubah, tolong beri tahu aku terlebih dahulu sebelum kamu memilih untuk bersama wanita lain. Supaya aku hanya perlu mengingat kenangan indah kita dan tidak harus berusaha melupakan semuanya.” Ujar Reva dengan mata berkaca-kaca.
Raka meraih tangan Reva lalu menggenggamnya dengan erat. “Re, aku cinta sama kamu dan akan selalu mencintai kamu. Gag ada wanita lain yang bisa menggantikan kamu di sini.” Ia menempatkan tangan Reva di dada kirinya.
Reva tersenyum simpul. Ia bisa melihat kesungguhan di mata Raka tapi ia pun tidak ingin lengah. “Raka, jangan pernah berjanji saat kamu bahagia, perasaan itu bisa berubah. Seperti waktu yang gag pernah kita tau ujungnya, kitapun gag pernah tau seperti apa hubungan kita pada akhirnya.” Reva tertunduk lesu.
Ia sudah pernah percaya pada sebuah janji yang diucapkan saat seseorang bahagia di sampingnya. Tapi kemudian, ia harus setengah mati melupakan setiap kenangan yang pernah ia lewati.
“Itu bukan janji aku buat kamu re, sejak aku sadar kamu penting di hidup aku, aku janji sama diri sendiri akan mencintai kamu, terlepas kamu balas cinta aku ato nggak.” Tukas Raka dengan penuh kesungguhan.
Sejenak keduanya terdiam. Mereka saling menatap untuk meyakinkan satu sama lain. entah mengapa, selalu ada perasaan yang tidak bisa Reva jelaskan saat menatap Raka. Namun apapun itu, ia merasa sangat bahagia setiap merasakan debaran kencang di dadanya.
Begitupun Raka, ia tidak dapat menafikan bahwa porosnya saat ini adalah Reva. Perasaan mendebarkan ini, selalu berubah menjadi sebuah ketenangan saat ia menatap sepasang mata yang membuatnya merasa damai.
Reva bisa merasakan hembusan nafas Raka yang menerpa wajahnya. Terasa lembut dan hangat. Semakin lama, wajahnya semakin mendekat. Reva memejamkan matanya, tak berselang lama ia merasakan kecupan hangat dari bibir Raka. Reva hanya terdiam tanpa membalasnya namun iapun tak menolaknya.
Raka melepaskan tautannya. Perlahan ia tersenyum, ia merasa sangat bahagia. Ia menempelkan dahinya di dahi Reva dan sejenak menikmati debaran kencang yang menggetarkan rongga dadanya.
“Love you re…” bisiknya.
****
__ADS_1