Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 77


__ADS_3

Jam 8 pagi, Adrian sudah sampai di rumah. Ia segera mencari Kean yang sangat ia cemaskan semalaman. Saat membuka pintu kamar Kean, ia melihat Reva yang masih berselimut seraya memeluk tubuh kecil Kean. Mereka masih terlelap.


Adrian menarik nafasnya dalam-dalam, rasa tenang itu kerap hadir saat ia melihat Kean yang selalu baik-baik saja saat bersama Reva. Adrian berjalan mendekati dua sosok yang mengisi hatinya. Ia bersimpuh di hadapan Reva dan Kean. Tangannya terangkat menyibak anak rambut yang menutupi wajah cantik Reva yang terlelap dengan damai. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman.


“Terima kasih re, kamu selalu peduli sama kean dan aku.” Lirihnya.


Reva menggeliat kecil saat ia merasakan sebuah tangan yang mengusap wajahnya dengan lembut. Perlahan matanya mengerjap dan terbuka menatap adrian yang tengah menatapnya dengan lekat.


“Kamu udah pulang kak?” tanya Reva dengan suara serak khas bangun tidur.


Adrian hanya terangguk seraya tersenyum. Ia beranjak berdiri, lalu menyelipkan satu tangannya ke dalam saku celana bahan yang dikenakannya.


“Kita sarapan dulu, aku tunggu di luar.” Ujarnya seraya berlalu.


Ia berjalan dengan santai meninggalkan Reva yang masih mengumpulkan kesadarannya. Di ruang makan ia menunggu Reva dengan tak sabar.


Reva mengecek suhu tubuh Kean yang sudah kembali normal. Dengkuran halus masih terdengar dari mulutnya, membuat Reva tak tega untuk membangunkannya. Ia beranjak diam-diam agar Kean tidak terusik.


Di ruang makan sudah menunggu Adrian yang terlihat segar hari ini. Ia menarikkan kursi untuk Reva dan mengajaknya sarapan. Sarapan berlangsung tanpa ada percakapan sedikitpun. Reva fokus dengan makanannya sementara Adrian fokus dengan perhatiannya pada Reva.


****


Menikmati hari yang indah, Reva memilih untuk duduk-duduk di teras belakang rumah Adrian. Taman yang cukup luas di penuhi berbagai macam mainan Kean. Segelas teh hangat menemani Reva menikmati udara pagi yang masih terasa sejuk di bawah pepohonan yang rimbun.


Adrian datang dengan sepiring cake blueberry kesukaan Reva. Ia menaruhnya di meja depan Reva. Lalu duduk dengan nyaman di samping Reva yang tengah menyesap teh nya. Menikmati wangi yang memanjakan hidungnya.

__ADS_1


“Re, makasih banyak yaa... Maaf udah ngerepotin kamu ngejagain kean.” Adrian memecah keheningan yang sejak tadi melingkupi keduanya.


Reva menoleh Adrian lalu tersenyum. “Sama-sama..” sahutnya singkat.


“Selama ini, kean selalu jadi anak yang kuat. Aku selalu berusaha memenuhi apapun yang mungkin ia butuhkan karena aku gag setiap waktu bisa nemenin kean. Tapi mendengar kean semalam kesakitan, aku merasa gagal. Ternyata tidak semua hal bisa aku antisipasi.” Tutur Adrian dengan penuh sesal.


Reva memberikan sebuah senyuman sebelum memulai kalimatnya. “Kak adrian tau, selain seorang ayah yang sempurna, kean juga membutuhkan seorang ibu.” Reva menjeda kalimatnya dan menoleh sejenak pada Adrian yang mulai fokus mendengarkan pembicaraannya. “Dulu, waktu pertama kali aku ketemu kean, dia sangat ketakutan. Yang ia sebut berulang kali adalah mamih. Aku berfikir, mungkin kean sangat dekat dengan mba arini sehingga dalam kondisi sulit yang pertama ia ingat adalah ibunya. Semalampun hal itu terjadi lagi. Saat ia kesakitan, ia memanggil mamih dan mamih berulang kali. Mungkin ia sangat merindukan ibunya.” Reva mengakhiri kalimatnya dengan meneguk kembali teh hangat di gelasnya.


Adrian terdengar menarik nafas kasar-kasar. Ia melihat ke arah ayunan yang kerap Kean gunakan untuk bermain.


“Kami memiliki jarak yang sangat jauh di hati masing-masing. Arini bilang, dia akan menunggu sampai hati aku benar-benar hanya untuk dia. Tapi nyatanya, dia memilih pergi bahkan mengabaikan kean yang masih butuh kasih sayangnya. Apa salah kalau aku berfikir arini terlalu egois?”


Ucapan Adrian membuat Reva tercekat. Ia masih belum mengerti untuk apa Arini menunggunya, sementara jelas Adrian adalah miliknya.


“Aku gag pernah tau, untuk alasan apa kak arini harus menunggu kamu. Tapi perlu kamu tau, seorang wanita akan berfikir ribuan kali sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pergi meninggalkan laki-laki yang dicintainya. Hanya kalian yang tau sebesar apa perasaan masing-masing dan seberapa kuat kalian bisa saling menunggu. Aku gag pernah menyalahkan sebuah perpisahan, tapi kamu harus ingat kak, selain perpisahan itu melukai hati kalian masing-masing, kean yang tidak berdosapun merasakan sakitnya.” Tutur Reva dengan penuh penekanan.


“Aku gag tau re seperti apa sebenarnya perasaan aku sama arini. Aku tidak ingin menyakitinya tapi saat bersama arini, hanya kamu yang ada dipikiran aku. Dan aku yakin kamu juga gag bisa lupain aku kan?” Adrian mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia tidak ingin lagi menyembunyikan perasaannya yang tidak pernah hilang untuk Reva.


“Kak adrian ingat, kita pernah saling memiliki dan kita juga sudah pernah saling melepaskan perasaan masing-masing. Saat itu aku sadar, kamu gag pernah milih aku karena kamu gag akan pernah bisa milih aku. Perasaan kamu sama aku cuma sebuah rasa bersalah. Tidak lebih dari itu. Karena jika itu benar-benar sebuah perasaan cinta, kamu gag mungkin bersedia berjanji di hadapan tuhan bersama wanita lain." Reva menoleh Adriian yang masih terdiam. Sepertinya beberapa ucapannya benar hingga Adrian tidak bisa menimpalinya.


"Apapun alasannya, kamu selalu punya pilihan dan kamu sudah memilih entah itu karena keterpaksaan atau apapun itu. Karena saat kamu memilih untuk menikahi kak arini, aku yakin kamu sudah menyerah dengan cinta kita. Kita gag pernah berjuang karena gag ada yang bisa kita perjuangkan. Lalu untuk apa kamu masih mikirin aku? Aku baik-baik saja. Aku sudah melepaskan kamu dan kamu hanya akan menjadi kenangan yang udah gag bikin aku berdebar untuk alasan apapun.” Terang Reva dengan penuh kesungguhan.


Terlihat butiran air mata di pelupuk mata kedua insan ini. Adrian menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tersedu dalam perasaan yang berkecambuk di dadanya.


Sementara Reva, walau lukanya terasa kembali terbuka, paling tidak ia sudah bisa menghadapi masa lalunya. Saat ini ia hanya ingin melangkah, memulai hari baru tanpa bayangan Adrian yang selalu membuatnya merasa ragu dan sakit.

__ADS_1


*****


Menjelang siang, Reva baru sampai di kostannya. Di hadapannya berdiri laki-laki yang sudah menunggunya beberapa lama. Ia berlari menghampiri Raka dan memeluknya tanpa rasa ragu.


“Aku kangen kamu mas, kangen banget...” bisik Reva dengan sungguh-sungguh.


Entah mengapa setelah ia berhasil mengutarakan perasaannya pada Adrian, perasaannya begitu lega. Batu besar yang mengganjal hatinya selama ini, hilang begitu saja tanpa sisa. Yang ada kini, hanya perasaannya untuk Raka tanpa rasa ragu tanpa rasa takut. Kelak, apapun yang terjadi dimasa depan, ia akan menghadapinya dengan berani dan memperjuangkan cintanya seperti saat Arini datang ke hadapannya untuk memperjuangkan cintanya.


“Hey, kenapa ini pacar aku jadi manis gini? Habis bikin dosa ya?” goda Raka seraya mengeratkan pelukannya.


Reva hanya terkekeh. “Bukan bikin dosa mas, tapi menyelesaikan masalah tanpa masalah.” Serunya sambil tertawa.


“Duh udah kayak selogan BUMN aja nih ngomongnya.” Raka ikut tertawa mendengar celoteh Reva.


Mereka saling melempar tawa satu sama lain.


Raka menatap Reva dengan penuh perasaan. Bibirnya tersenyum satu tangannya terangkat menyibak anak rambut yang menutupi wajah cantik kekasihnya dan menyelipkannya di telinga Reva.


“Aku bahagia punya kamu re….” tutur Raka sambil mengusap lembut pipi Reva.


Reva meraih tangan Raka yang masih menempel di wajahnya, ia menggenggamnya dengan erat seraya tersenyum senang. “Dan aku sangat beruntung ada kamu di samping aku.” Tegasnya tanpa ragu.


Untuk sejenak mereka saling bertatapan. Mengalirkan perasaan satu sama lain yang menelusuk ke aliran darahnya. Tak ada yang perlu mereka pungkiri, mereka bahagia bisa saling memiliki.


“Sayang, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat, bisa?” tawar Raka dengan lembut.

__ADS_1


Reva terangguk yakin, rasanya ke ujung duniapun ia akan ikut kalau bersama Raka.


****


__ADS_2