Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 105


__ADS_3

Alamat yang dikirim penculik Alea, membawa Reva pada sebuah bangunan gedung yang belum rampung di bangun. Di tangannya Reva membawa sekoper uang. Ia berteriak mencari keberadaan Alea yang masih belum dilihatnya.


Tak lama, beberapa orang laki-laki menghampiri Reva.


“Anda sudah datang nona cantik…” ujar suara berat yang mengagetkan Reva.


“Mana kakak saya?” teriak Reva.


Laki-laki itu hanya tertawa dan diikuti teman-temannya.


“Ada apa adik…” suara Alea muncul di belakang Reva.


“Kak lea?” Reva melotot tidak percaya saat melihat Alea yang baik-baik saja.


Alea tersenyum seraya mendekat pada Reva. Ia telah benar-benar berhasil memukul mental Reva.


“Kenapa lo kaget? Emang lo mau gue terlihat seperti apa?" Alea menatap Reva dengan tatapan dingin seolah ingin mengenyahkannya. "Jangan lo gunain bibir lo ini untuk manggil gue kakak, “ Alea mengusap bibir Reva dengan lembut. “KARENA GUE GAG SUKA!!!!” teriak Alea kemudian.


Reva terperanjat mendengar perkataan Alea, sementara Alea masih memandangi Reva dengan tatapan dan senyuman penuh kebencian.


“Alana brethania wijaya, kenapa lo kembali hah? Kenapa?” Alea mendorong tubuh Reva dengan cukup kuat hingga membuatnya mundur beberapa langkah.


“Kak, kenapa jadi kayak gini? Semua bisa kita bicarain….” Lirih Reva  dengan tatapan penuh ketidak percayaan. Ia berharap yang sedang berbicara di hadapannya saat ini bukan lah Alea yang ia kenal.


“Bicara? Bukannya kita memang sedang bicara?” ujar Alea seraya terkekeh. “Lo harusnya gag pernah kembali. Karena, hanya akan ada 1 tuan putri di keluarga Wijaya, dan itu GUE!” teriak Alea dengan mata merahnya.


Ingatan Alea kembali berputar saat hari dimana Alana pergi.


Dering telpon terus berbunyi, dengan malas Alea mengangkat telpon rumahnya.


“Halo, lana…” suara khas Niken saat memanggil Alana dengan penuh kasih terngiang jelas di telinga Alea.


“Ini lea tante.” Sahut Alea.


“Oh lea… lana nya ada sayang?”


Selalu, yang dicari oleh Niken dan Wira adalah Lana, Lana dan Lana. Bahkan semalam ia pun  melihat Raka yang menyelinap masuk ke kamar Alana dan memberikannya kado. Apa yang dimiliki Alana hingga ia selalu menjadi pusat perhatian keluarga Adiyaksa.


“Lana di kamarnya tante. Aku panggilin bentar.”


“Eh tunggu sayang, gag usah di panggilin. Bilang aja, tante nunggu dia di rumah ya sayang, terima kasih….” Tukas niken tanpa menunggu sahutan Alea.


Panggilan terputus, Alea menaruh kembali gagang telponnya dengan kesal. Nuansa merah muda dan balon-balon yang menghiasi rumah besar keluarga Wijaya membuat Alea merasa sesak. Kado-kado berdatangan sebagai ucapan selamat dari rekan-rekan bisnis Indra untuk putri bungsunya yang berulang tahun di hari ini.

__ADS_1


Sebuah kado besar berada di ruang tamu, itu adalah kado yang dikirim Indra dan Nida. Mereka berjanji akan pulang besok dari Inggris dan bersama-sama merayakan ulang tahun Lana. Bahkan Alea yang tengah menikmati liburan semeternya di Inggris, di paksa pulang demi menemani sang adik yang sedang berulang tahun. Sangat menyebalkan, semuanya hanya untuk Alana dan Alana.


“Kak, kakak lagi apa disini?” tanya Lana yang baru turun dari kamarnya.


“Hah, enggak.” Alea masih berusaha menyembunyikan kekesalannya. “Tadi tante niken nelpon, katanya dia nunggu kamu di taman bermain, kamu harus segera ke sana.” Ujar Alea yang berbeda dengan yang di pesankan Niken.


“Asyiiikkk ke taman bermain…” Alana melonjak kegirangan. “Aku pergi dulu ya kak… Dadah kak lea…” seru Alana seraya berlari menuju mobil yang sudah menunggunya.


Alea membalas lambaian tangan Alana dengan senyuman penuh kebencian. Ia berharap sang adik pergi dan tidak pernah kembali hingga akhirnya ia mendengar kabar bahwa Alana benar-benar hilang.


****


Reva terpaku mendengar penuturan Alea, kesalahan apa yang membuat Alea begitu membencinya.


“Lo tau kenapa bokap lebih memilih gue tinggal di inggris dan gag ngajak lo?” lanjut Alea dengan senyuman tipis mencibir di bibirnya. Reva masih terdiam. “Karena lo anak yang gag pernah di harepin!” ibarat sambaran petir ucapan Alea barusan. “Papih sama mamih cuma pengen punya 1 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Tapi lo hadir di kelurga wijaya dan ngerusak semuanya. Lo ambil semua perhatian dari gue yang harusnya hanya menjadi satu-satunya tuan putri keluarga wijaya! Ya gue putri satu-satunya. Putri yang selalu membanggakan papih dan kelak menjadi penerus keluarga wijaya! Dan lo, lo merebut semuanya. Lo gag cuma mengambil perhatian mamih dan papih, lo juga mengambil perhatian tante niken, om wira dan raka! Gue benci sama lo lana, gue benci!” ujar Alea seraya memekikan tangisnya namun kemudian ia kembali pada sikap angkuhnya.


“Harusnya, lo tetep tinggal di panti.” Alea menepuk lengan Reva. “Terusin jadi f*ck girl, gag usah ganggu raka, jangan bikin dia jatuh cinta dan jangan pernah berani berharap lo akan sehidup semati sama dia. Raka milik gue, hanya milik gue!” seru Alea yang kembali meninggikan suaranya di akhir kalimat. Seolah ia ingin mempertegas kepemilikannya akan Raka.


Reva tertunduk lemas. Kilatan bayangaan masa lalu memenuhi rongga pikirannya. Ia mencoba menahan rasa sakit di kepala yang muncul begitu saja. Lebih dari itu, ia mencoba menahan rasa sakit luka di hatinya. Sedalam itu lautan kebencian di hati Alea untuknya, mungkin Reva akan benar-benar tenggelam di dalamnya.


“Sebaiknya, lo pergi dari kehidupan gue, dari kehidupan mamih dan papih juga dari kehidupan raka. Jangan pernah kembali, atau lo akan menyesal.” Tukas Alea dengan senyuman tipis di bibirnya.


Alea memilih untuk pergi meninggalkan Reva yang menahan kesakitan di kepalanya.


Laki-laki di hadapan Alea hanya tersenyum. Ia memandangi Alea dari atas hingga bawah.


“Anda penerus kerajaan bisnis wijaya. Bukankah yang kami dapatkan akan lebih besar kalau kami benar-benar menculik anda nona…” ujar laki-laki tersebut dengan seringai buasnya.


“Jangan macam-macam kalian! Uang segitu lebih dari cukup untuk anjing jalanan seperti kalian!”  tutur Alea dengan angkuh.


“Apa? Anda bilang kami anjing jalanan?” laki-laki itu mencengkram dagu Alea dengan kasar. Ia tidak terima dengan ucapan Alea. Alea benar-benar tidak berkutik, nafasnya terasa begitu sesak. Ia bisa melihat kemarahan yang begitu besar di mata laki-laki tersebut. “Bawa dia masuk, kita buat perhitungan dengan nona cantik ini.” titah laki-laki itu yang ikuti oleh bawahannya.


Alea meronta saat ia di paksa masuk pada sebuah gedung kosong tempat tadi ia pura-pura di sekap. Ia berteriak namun semakin menambah semangat para laki-laki itu untuk mengganggunya.


Pemimpin komplotan itu menghampiri Reva dan tersenyum dengan geli. Semenyedihkan ini nasib putri bungsu keluarga Wijaya.


“Lepas.” Hanya itu kata yang keluar dari mulut Reva.


“Bagaimana nona?” laki-laki itu pura-pura tidak mendengar ucapan Reva.


“Lepasin alea…” Reva mengulang kalimatnya.


“Lepas anda bilang? Bukannya dia ingin anda mati? Kenapa anda tidak ikut saja menikmati pertunjukan yang akan saya buat?” sahut laki-laki itu seraya mencengkram dagu Reva. “Anda sungguh cantik dan bernyali nona, saya benar-benar tertarik pada anda.” Lanjut laki-laki itu yang berusaha mencium Reva.

__ADS_1


Dalam beberapa detik saja, Reva menarik tangan laki-laki itu lalu membantingnya.


“Aahh…” laki-laki itu jatuh terlentang dengan rasa sakit di punggungnya.


Melihat bosnya diperlakukan layaknya pecundang, komplotan itu segera berlari untuk menghajar Reva. Mereka berkelahi dengan sengit. 1 wanita melawan 8 laki-laki tangguh membuat Reva benar-benar harus mengeluarkan seluruh tenaganya.


Pukulan dan tendangan mendarat di tubuh para laki-laki yang tengah menyerang Reva. Mereka mengaduh kesakitan dengan cucuran darah di wajah dan bagian tubuh lainnya.


“Dhur!” sebuah suara tembakan menghentikan perkelahian tersebut. Dari kejauhan tampak pemimpin komplotan mengarahkan pistolnya pada Alea.


“Berhenti! Atau saya ledakan kepala nona manis ini!” gertak laki-laki tersebut yang tampak tak segan menarik pelatuknya.


Mereka tertawa melihat Reva yang tidak berkutik. Reva mengangkat tangannya, untuk meyakinkan mereka bahwa Reva menuruti keinginan mereka.


“Kalian, kalian mau uang berapa? Lima ratus juta, satu milyar, dua milyar?” tawar Alea yang sangat ketakutan. Anjing yang ia harap bisa menolongnya ternyata malah menggigitnya.


“Hahaha… bagaimana kalau seluruh kekayaan group wijaya beserta dua putri cantiknya?” sahut laki-laki itu dengan tawa yang di sambut anak buahnya.


“Jaga mulut lancangmu!” teriak Alea.


“HEY!” laki-laki itu tidak terima dengan ucapan Alea, ia menarik hammer pistolnya dan bersiap menarik pelatuknya. Alea menutup matanya rapat-rapat. Ia merasa sangat takut.


Dalam beberapa saat, “DHUAR!!!!” Tembakannya tepat mengenai tali yang mengikat beberapa potong kayu, dengan cepat Reva berlari ke arah Alea dan menghadang kayu yang nyaris berjatuhan tepat di atas kepala Alea.


Reva jatuh di pelukan Alea. Ia menghalangi Alea agar tidak terkena kayu sedikitpun. Terlihat tetesan darah dari kepala Reva yang mengaliri wajah cantiknya. Ia menatap Alea dengan penuh kecemasan seolah tidak peduli rasa sakit yang mendera kepala dan tubuhnya.


“Kakak baik-baik saja?” tanya Reva dengan bergetar seraya menahan sakit dari hantaman kayu yang menghujani tubuhnya.


Alea hanya terdiam, tangannya bergetar menyentuh wajah Reva, bibirnya sungguh kelu dan hanya bisa bergetar hendak mengeluarkan suara yang nyatanya tidak terdengar sedikitpun.


Reva jatuh terkulai di pelukan Alea, kesadarannya hilang berganti kengerian yang juga dirasakan Alea.


Kelompok bandit itupun hanya bisa terpaku, ia menjatuhkan senjata yang di pegangnya. Ancamannya berbuah kemalangan bagi seorang gadis cantik yang kini jatuh tersungkur di hadapannya. “Berhenti!” teriak beberapa warga bersamaan.


Laki-laki itu segera berlari secepat mungkin bersama kawanannya.


Alea menatap tak percaya saat melihat darah yang terus menetes dan memenuhi tangannya. Tubuhnyapun berlumuran darah segar Reva


“Lana, bangun lana… Lanaaaa!!!!!” Alea hanya bisa berteriak seraya menangis, ia sadar adik yang berada dalam pelukannya kini telah mengorbankan nyawanya demi melindungi dirinya.


*****


 

__ADS_1


Stay strong Reva, big hug from author :(


__ADS_2