
Hari-hari berlalu, dua hati yang awalnya asing kini mulai merasa saling mengisi satu sama lain. Adalah jatuh cinta , perasaan yang dikenal Reva untuk pertama kalinya pada Adrian. Begitu banyak waktu yang mereka lalui bersama, membuatnya semakin mengenal satu sama lain.
“Re, ada yang nyari lo di parkiran!” suara Riana berhembus merdu di telinga Reva.
“Siapa?” Reva menghentikan kunyahannya dengan segera.
“Pak Dosen…” sahut Riana seraya terkekeh, membuat wajah Reva merona seketika.
“Gue pergi dulu!”
Dengan segera Reva menandaskan minumannya dan berlari meninggalkan Riana dan Jeremy yang ada di hadapannya.
“Ada apa sih, kok si reva seneng banget?” Jeremy terlihat penasaran dengan yang terjadi pada Reva akhir akhir ini.
“Ya pasti lah, ada cowoknya jemput gimana gag seneng.” Ujar Riana dengan acuh.
Jeremy segera memalingkan wajahnya dan melihat ke arah Reva pergi, namun bayangan Reva sudah tidak terlihat lagi.
“Si Reva punya cowok?” Mata Jeremy membulat sempurna mendengar ucapan Riana.
“Iya! Emang kenapa?” sengit Riana seraya menyilangkan tangannya di depan dada.
Jeremy segera menaruh sendok dan garpunya dengan kasar, wajahnya terlihat kesal.
“Udah deh, lo gag usah ngejar-ngejar si Reva terus. Lo gag pernah masuk di pikirannya dia. Mending lo milih yang udah jelas suka sama lo!” imbuh Riana dengan tatapan sendunya.
“Gue gag suka sama lo Ri, berapa kali gue harus bilang ini sih?” sahut Jeremy dengan terus terang. Ia laki-laki yang peka, setiap sikap dan ucapan Riana mengarah pada sebuah perhatian sebagai tanda cinta dan Jeremy tidak bisa menerimanya. Ia tidak ingin membuat Riana berharap maka ia mengatakan yang sebenarnya walau mungkin caranya membuat Riana sakit hati.
“Ya sama, si Reva juga udah jelas gag suka sama lo dan semua usaha lo itu cuma sia-sia!” Riana mulai kesal. Semua perhatiannya selama ini hanya di anggap angin lalu.
“Tapi gue gag akan nyerah, gue yakin suatu hari bakal terima cinta gue.”
“Mimpi aja terus lo sampe kiamat datang!” timpal Riana dengan kesal.
“Arrrgghh!!!” dengus Jeremy yang merasa sangat frustasi dengan perasaannya saat ini.
Tanpa permisi, ia segera pergi meninggalkan Riana yang masih mematung dengan cairan bening yang meleleh di salah satu sudut matanya.
Jeremy adalah laki-laki yang disukai Riana sejak pertama mereka bertemu, namun dengan terang-terangan ia menolak setiap perhatian yang diberikan oleh Riana.
“Agar bintang terlihat terang di malam hari, lo harus bikin matahari meredup dan menjadikan langit gelap.” tutur seorang gadis yang tiba-tiba berdiri di samping Riana.
“Apa maksud lo?” sahut Riana seraya mengusap lelehan air mata di pipinya.
“Riana,, riana… Gue tau lo suka sama Jeremy, tapi di hati dia cuma ada si Reva, yang lo anggap sebagai sahabat.” Tutur Linda dengan nada meledek.
Sejenak Riana mengalihkan pandangannya pada Linda, terlihat lengkungan senyum di bibir merah Linda.
“Gue bisa bantu lo kalo lo mau. Lagi pula, gue punya kartu as buat jatuhin si Reva.” Tutur Linda dengan senyuman licik seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Tapi lo gag bakal celakain dia kan?” Terlihat raut cemas di wajah Riana.
“Riana sayang, gue cuma bakal bikin pesona si Reva meredup aja, bukan nyingkirin dia selamanya.” Ujar Linda seraya menepuk bahu Riana.
Riana menatap Linda dengan ragu, namun Linda tersenyum penuh keyakinan.
****
__ADS_1
“Hay, udah lama?” sapa Reva saat melihat Adrian yang sudah menunggunya di tempat parkir.
“Belum… Udah selesai kelasnya?”
“Udah!” sahut Reva dengan antusias.
Adrian memakaikan helm pada Reva, kebiasaan yang begitu manis ini kerap Adrian lakukan pada wanita yang dicintainya.
“Kita mau kemana bey?” begitu Reva memanggil Adrian
“Kejutan!” seru Adrian seraya mencubit gemas hidung Reva.
“Hem… baiklah… Sepertinya pacar aku tambah banyak referensi buat nyenengin pasangannya yaaa….” Tutur Reva seraya tersenyum.
Adrian membalasnya dengan sebuah senyuman seraya mengusap lembut pipi Reva yang merona.
Reva mulai duduk di boncengan Adrian dengan lengan melingkari tubuh tegap laki-laki di hadapannya. Dalam satu hentakan, Adrian mulai melajukan kuda besinya dengan santai, membelah jalanan yang cukup ramai.
Beberapa saat kemudian Adrian memarkirkan motornya di salah satu Mall terbesar ibu kota. Mereka berjalan beriringan dengan tangan saling menggenggam. XXI adalah tempat yang mereka pilih untuk menghabiskan waktu bersama.
“Kamu kok tau sih kalo film nya udah tayang?”
Reva terlihat kegirangan saat Adrian membelikannya tiket film thriller yang di tunggunya.
“Buat kamu, apa sih yang nggak aku cari tau…” sahut Adrian seraya mengecup punggung tangan Reva.
“Manis banget sih kamu pacar…” goda Reva yang membuat Adrian tersenyum senang.
"Gemesin banget sih kamu bey.." timpal Adrian seraya mengusap kepala Reva.
Waktu 2 jam mereka habiskan bersama untuk menonton genre film favorit Reva. Reva tampak fokus dengan tontonanya, sementara Adrian asyik memandangi Reva dan menyuapinya dengan popcorn.
“Minum bey…” Adrian menyodorkan lemon tea pada Reva, dengan segera Reva menyeruputnya.
Lampu bioskop mulai menyala, film yang mereka tonton sudah selesai begitu saja.
“Suka sama filmnya?” tanya Adrian seraya mengusap rambut Reva dengan lembut. Sesekali ia menciumnya seraya memejamkan mata.
“Suka banget. Makasih ya bey, kamu emang tau banget film favorit aku.”
“Sama-sama sayang…” sahut Adrian yang menarik Reva kepelukannya. “Bey, besok aku pulang dulu ya… Soalnya mamah sama papah nyuruh aku pulang.” Lanjut Adrian tiba-tiba.
“Ada apa? Mereka baik-baik aja kan?” Reva menatap Adrian penuh tanya.
“Mereka baik-baik aja, cuma kangen aja mungkin sama anak gantengnya.” Tukas Adrian seraya memeluk Reva dengan erat.
“Ya baiklah, anak ganteng dan semata wayang ya bey….” Ledek Reva dengan kekehan ringan.
“Itu kamu tau…” balas Adrian.
“Heemm dasar, narsistik.” Reva meninju gemas dada Adrian. Adrian tertawa puas mendengar celoteh Reva.
Adrian segera menahan tangan Reva dan menggenggamnya dengan erat, kedua matanya menatap Reva dengan hangat.
“Love you re…” lirih Adrian
Ucapan Adrian yang satu ini, selalu bisa membuat Reva terpaku. Betapa ia merasa sangat beruntung dicintai oleh laki-laki yang ia cintai.
Perlahan namun pasti, wajah Adrian semakin mendekat, mengikis jarak di antara keduanya. Reva bisa merasakan hembusan nafas Adrian yang menerpa wajahnya.
__ADS_1
Sebuah kecupan hangat di rasakan Reva, saat bibir Adrian menyentuh lembut bibir Reva. Keduanya terpaku sejenak merasakan getaran hangat yang mengisi hati masing-masing.
Rasanya, biarkan saja waktu berhenti dan biarkan mereka tenggelam dalam kehangatan yang menyelimuti hati keduanya.
****
“Hay ri, mau ke kantin bareng?” sapa Reva sesaat setelah akhir perkuliahan.
Riana tampak sedang mengemasi barang-barangnya dan memasukkan semuanya ke dalam tasnya.
“Gue lagi ada urusan. Duluan ya…” sahut Riana tanpa melirik Reva.
“Tunggu ri,…” Reva berusaha menahan Riana, namun Riana tetap pergi begitu saja.
“Nih anak kenapa sih? Perasaan akhir-akhir ini kok jauhin gue?” batin Reva yang merasa ada perubahan drastis pada diri Riana.
Riana yang biasanya ceria, pecicilan dan hangat, sudah beberapa bulan ini terlihat sibuk dengan urusannya di luar kampus. Ia tak lagi mau bercerita dan berbicara dengan Reva, saat di sapa pun malah memperlihatkan wajah tidak bersahabatnya.
“Makan yuk re!” ujar Jeremy yang tiba-tiba mengalungkan tangannya di leher Reva dan membawanya pergi.
“Jer, lo kebiasaan ya kayak gini! Gag enak tau diliat yang lain!” seru Reva seraya memutar pergelangan tangan Jeremy dan menguncinya di tembok.
“Ampun re, ampun… Gag gue ulangin lagi.”
Jeremy memukul-mukul tembok yang di tempelinya, tangannya terasa sakit karena di pelintir Reva.
“Gue gag suka lo seenaknya gitu sama gue!” sengit Reva seraya mengibaskan tangan Jeremy. Jeremy meremas tangannya yang terasa ngilu. Wajahnya terlihat kesakitan. “Lo ulangin sekali lagi, tangan lo bakal copot dari sendinya!” ancam Reva yang bergegas pergi meninggalkan Jeremy.
Jeremy segera berlari mengejar Reva yang terlihat sangat marah.
“Re, jangan marah dong. Gue kan cuma becanda.” Jeremy terlihat merajuk sambil terus memijit tangannya yang masih berdenyut ngilu.
“Becandaan lo bisa di angggap serius sama orang lain.” Reva terus berjalan tanpa memerdulikan ocehan Jeremy.
“Orang lain siapa maksud lo? Pacar lo?”
“Maksud lo?” Langkah kaki Reva terhenti. Ia menatap Jeremy yang juga tengah memandanginya dengan wajah sendu.
Jeremy menarik tangan Reva untuk duduk di salah satu bangku kemudian mengajaknya berbicara dengan raut wajah serius.
“Re, gue tau lo udah punya cowok dan itu pak adrian kan?” tutur Jeremy dengan tatapan tajamnya.
“Gue pacaran sama siapa itu bukan urusan lo ya!” Reva memalingkan wajahnya dari Jeremy.
Dalam sekejap, Jeremy meraih tangan Reva dan menggenggamnya dengan erat.
“Re, gue gag peduli lo pacaran sama siapa. Tapi, gue bersedia kalo lo mau jadiin gue selingan saat cowok lo gag ada di samping lo. Plis re, gue suka sama lo dan pengen ada di samping lo.” Ujar Jeremy dengan sungguh-sungguh.
Tak jauh dari tempat Reva dan Jeremy, ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan nafas yang memburu. Tak ingin melihat semuanya lebih lama, ia bergegas pergi dengan amarah yang meledak-ledak di dadanya.
“Jer, gue cuma bisa nganggap lo sebagai temen, gag akan lebih. Jadi tolong jaga jarak lo dari gue.” Tolak Reva seraya melepaskan genggaman tangan Jeremy.
Reva segera pergi dan meninggalkan Jeremy yang masih terpaku.
Terdengar Jeremy menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia menyentuh dadanya yang terasa sakit namun tak berdarah. Wajah tampannya ia usap dengan kasar.
“Re, kapan lo akan berbalik dan menatap gue?” batin Jeremy seraya menatap Reva yang berjalan semakin jauh.
****
__ADS_1
Beyy.. Jangan lupa kasih like dan komennya yaaa love ;P