Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 170


__ADS_3

Reva tengah menikmati makan malamnya di kantin rumah sakit saat Alea datang bersama Fery. Ia duduk di hadapan Reva dengan wajah dinginnya.


“Kak lea, makan kak…” ujarnya seraya tersenyum.


“Lo habisin!” Alea kembali mendorong kembali piring makanan pada Reva. Selintas Reva melirik Fery yang duduk tidak jauh dari mereka tapi Fery memalingkan wajahnya, sepertinya ia tidak ingin turut campur masalah kaka beradik ini.


“Kenapa, apa ada masalah lagi di kantor?” tanya Reva yang mulai tak nyaman dengan tatapan dingin Alea.


“Kita bicara setelah lo selesai makan.” Tegas Alea yang membuat Reva semakin bingung.


“Gue udah selesai." Reva menaruh sendok dan garpunya padahal makanannya masih banyak. Nafsu makannya sudah hilang begitu saja.


Alea beranjak dari tempat duduknya diikuti Reva di belakangnya. Sementara Fery hanya melihat dari kejauhan. Mereka duduk di salah satu bangku di taman rumah sakit dengan keheningan yang mengambil alih suasana.


“Ada masalah apa antara lo sama raka?” tanya Alea kemudian. Ia menoleh Reva yang tampak terpaku. Entah titik mana yang dilihatnya.


“Lo gag perlu tau. Masalah gue sama raka, gue sendiri yang bakal selesein.” Ucap Reva tanpa menoleh sedikit pun pada Alea.


Alea mengepalkan tangannya kesal. Selalu, Reva mengambil langkah sendiri tanpa mempertimbangkan apapun.


“Apa ini ada hubungannya sama perusahaan? Lo sengaja nerima theo demi perusahaan supaya gag hancur, dan sekarang lo malah ngorbanin hubungan lo sama Raka?!” cerca Alea dengan emosi yang mulai tersulut.


Baru beberapa menit lalu ia menerima telpon dari Edho.


“Lea, lo tau siapa yang diam-diam beli saham perusahaan kita di pasar gelap?” tanya Edho dengan suara yang tergesa-gesa dan penuh amarah.


“Siapa?” Alea ikut penasaran.


“GN corp, anak perusahaan dari GN international di inggris.” Terang Edho dengan hembusan nafas panjang.


“Maksud lo, ini perbuatan theo?” Alea bisa menebak arah pembicaraan Edho.


“Ya! Dan dia juga yang menghasut para investor dan rekanan bisnis adiyaksa sampe jatoh kayak sekarang.” Sahut Edho yang mulai memijat pangkat hidungnya yang terasa pening.


“Tapi buat apa kak? Bukannya itu sama aja dia bikin masalah buat perusahaannya sendiri? Perusahaannya juga bisa bangkrut kalo dia bener-bener ngelakuin semuanya.” Alea benar-benar tak habis pikir.


“Menurut lo apa tujuannya?” Edho balik bertanya.


Alea hanya terpaku. Ia masih belum memahami jalan pikiran Theo yang menurutnya kadang di luar akal sehat. Tapi saat mendengar kondisi hubungan Reva dan Raka, sepertinya ia bisa menarik benang merahnya.


Reva beranjak dari duduknya. Rasanya ia tidak perlu menjelaskan apapun pada Alea.

__ADS_1


“Reva tunggu!” Alea menarik tangan Reva hingga berbalik menghadapnya.


“Jangan peduliin gue. Lo urus aja perusahaan dan sisanya gue yang urus.” Reva mengibaskan tangan Alea.


“PLAK!!” sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Reva. Reva hanya bisa menyentuh pipinya yang terasa panas, bekas tangan Alea.


“Lo pikir lo siapa hah?! Apa lo pikir lo begitu hebat sampe ngorbanin hidup lo, masa depan lo dan kebahagiaan lo demi perusahaan? Apa lo sehaus itu sama duit hah? Dimana Reva yang gue kenal? Reva yang mengikuti kata hatinya, dimana reva?!” teriak Alea dengan air mata berurai.


Reva hanya tertunduk. Ia bahkan tak mampu menatap mata Alea yang menyalak ke arahnya.


“Liat gue! Liat gue baik-baik!” lanjut Alea seraya mencengkram dagu Reva.


Reva hanya bisa meneteskan air mata tanpa terisak sedikitpun. Kilatan kemarahan terlihat jelas di mata Alea.


Ia mengibaskan tangan Alea.


“Lo pikir, gue bisa apa saat melihat semuanya hancur?!" Teriak Reva. "Lo pikir gue bisa apa saat ngeliat papih gag berdaya, hah? Lo pikir, gue bisa apa saat melihat ribuan karyawan yang berteriak memohon kebaikan papih dan Raka padahal semuanya karena gue? Lo pikir gue bisa apa saat harus terlihat baik-baik aja di hadapan kalian padahal gue menderita? Dan lo pikir gue bisa apa saat semua pikiran lo dan mas raka sama-sama menyimpulkan gue serendah itu? Gue bisa pa lea!!!!!!” teriak Reva kemudian.


Alea hanya terpaku. Akhirnya ia bisa mendengar semua pengakuan Reva. Alea berusaha meraih bahu Reva tapi kemudian Reva menepisnya.


“Bukan hanya theo atau laras yang membuat hubungan gue dan raka seperti ini. Bukan masalah kekayaan yang melimpah atau kemapanan yang membuat gue harus memilih melepas raka. Tapi, di pikiran raka bahkan gue gag berharga. Gue hanya perempuan rendah yang bisa berpindah ke pelukan laki-laki mana pun asal dia memiliki segalanya. Itu gue yang ada di pikiran raka juga ada di pikiran lo!”Tunjuk Reva pada Alea. “Dan gue gag bisa bertahan untuk alasan itu.” lirih Reva kemudian.


Reva menjatuhkan tubuhnya terduduk di atas rerumputan. Kekuatannya habis. Ia menangis sejadinya, rasanya pertahanannya runtuh. Ia menyerah, ia tidak peduli lagi dengan apa yang dipikirkan Raka atau pun Alea. Dengan segera Alea memeluk Reva. Ia salah, ya ia sangat salah. Ia bahkan belum benar-benar mengenali Reva.


“Gue gag butuh kekhawatiran lo." Reva memotong kalimat Alea. "Lea, gue nyerah sama theo, bukan karena gue memang menyerah sama keadaan. Gue tau, fokus theo adalah gue dan dia bisa menghancurkan apa saja yang menghalangi jalannya temasuk kalian yang gue sayangi. Gue cuma bisa mengalihkan perhatiannya untuk beberapa saat. Gue harap, lo dan raka bisa bergegas untuk memperbaiki semuanya sebelum theo menyadari apa yang gue lakuin. Yang gue butuh sekarang kepercayaan lo,bukan prasangka atau kekhawatiran.” Tandas Reva dengan penuh kesungguhan.


Ya, saat Reva memutuskan untuk menghadapi Theo bukan ia ingin menyerahkan dirinya pada Theo. Walau siapa pun yang melihatnya menganggap Reva serendah itu, mendekati Theo untuk mendapatkan semuanya tapi Reva tetap berpegang pada prinsipnya. Hidupnya bukan milik Theo. Ia sendiri yang akan mengendalikan hidupnya bagaimanapun caranya.


Sesal, hanya itu yang di rasakan Alea saat ini.


*****


Sepulang kerja, sebuah mobil sudah menunggu Reva di depan kantor. Theo tampak sedang bersandar pada mobil mewahnya seraya melambaikan tangan pada gadis yang di pujanya siang dan malam. Walau malas Reva tetap menghampirinya.


“Bertahan lah reva, bukan untuk orang lain, tapi untuk diri lo sendiri.” Batin Reva saat melangkahkan kakinya menuju Theo.


“Hay sweetheart… Bisakah menemaniku ke suatu tempat?” tanya Theo seraya membuka pintu mobilnya untuk Reva.


Reva tak bergeming. Ia segera masuk ke dalam mobil dan Theo bersorak sorai dalam hatinya. Ia segera duduk di belakang kemudi seraya tersenyum pada Reva. Ia benar-benar merasa bahagia.


Theo mulai melajukan mobilnya ke arah yang tidak terlalu di kenali Reva. “Your apple sweetheart…” ujar Theo seraya menyodorkan sebutir apel pada Reva.

__ADS_1


Reva menatapnya sejenak dengan raut curiga. Theo terkekeh melihat ekspresi Reva.


“Ayolah, aku tidak sepicik laras. Aku tidak akan membubuhkan sesuatu di makanan atau pun minumanmu. Aku akan menunggu sampai kamu sendiri yang datang padaku.” Tuturnya dengan penuh kesungguhan.


Tanpa menimpali, Reva menerima apel tersebut. “Aku sudah mencucinya.” Cetus Theo kemudian. Dan tanpa ragu Reva menggigitnya. Theo kembali tersenyum. “How are things?” tanya Theo seraya mengarahkan pandangannya pada perut Reva.


“Dia baik-baik saja.” sahut Reva seraya mengusap perutnya.


“Hem… dia akan menjadi anak yang mengagumkan karena ia lahir dari wanita sepertimu.” Timpal Theo.


Entah yang dikatakan Theo itu suatu kesungguhan atau hanya basa-basi namun sudut hati Reva ikut tersenyum. Andai saja mereka bisa berteman, mungkin semuanya akan lebih baik. Jika dipikirkan, di balik ambisinya yang kuat, Theo masih memiliki hati.


Theo mengarahkan stirnya menuju sebuah perumahan elit dengan rumah-rumah yang pastinya memiliki harga fantastis. Di depan gerbang sebuah rumah super mewah tampak beberapa orang berjas hitam menganggukkan kepalanya melihat kedatangan Theo.


“Ini rumah ayahku. Hari ini dia akan pulang. Kamu tidak keberatan kan untuk menyapanya sebentar?” tanya Theo yang lebih terdengar seperti sebuah penjelasan.


“Kita akan tetap ke sini kan walaupun saya tidak menginginkannya, bukan?” cetus Reva yang disahuti kekehan oleh Theo.


Reva turun dari mobilnya setelah Theo membukakan pintu untuknya. Rumah bergaya eropa dengan banyak ornamen barang-barang langka yang menghiasi setiap sudut rumah. Tidak hanya lukisan tapi juga patung-patung dan hiasan lainnya. Di salah satu sudut, terlihat lukisan seorang wanita berwajah asli indonesia dengan kebaya yang membalut tubuh rampingnya.


“She is my great mother. She passed away when I was 9 years old.” Terang Theo tanpa di minta. Sepertinya ia bisa membaca setiap bentuk ekspresi Reva.


Reva menoleh Theo yang tengah memandangi lukisan sang ibu. “She was my first love and you are the second one.” Lirih Theo seraya tersenyum. Ia membalas tatapan Reva namun kemudian Reva memalingkan wajahnya. Rasanya ia tak perlu memberi fokus lebih pada Theo agar tidak membuat perasaannya untuk Reva semakin menjadi.


“Selamat sore tuan.” Sapa seorang pelayan dengan pakaian formalnya.


“Hem… dady sudah sampai mana?” tanya Theo kemudian.


“Kalau melihat jadwal penerbangan, seharusnya tuan besar akan sampai sekitar 2 jam lagi.” Terang wanita bernama Maria tersebut.


Theo hanya terangguk. “Ajaklah reva bersamamu. Pastikan dia merasa nyaman.” Titah Theo pada Maria.


“Baik tuan, silakan nona…” Maria membungkuk dengan sopan.


Reva mengikuti Maria, sementara Theo masih memandangi foto sang ibu. Mungkin ia sangat merindukan wanita tersebut.


*****


 


Theo keren yaaa kalo gag jahat gitu?

__ADS_1


Btw, jahat gag sih kalo maksa orang buat suka sama dia?


Ah entah lah... Yang jelas jangan lupa like dan komennya yaa... Terima kasih


__ADS_2