
Reva mengajak desainer ke kamarnya untuk mencoba kembali gaun pengantinnya. Reva melihat pantulan dirinya di cermin yang setinggi tubuhnya. Ia begitu menyukai karya sang maestro yang terlihat elegan saat di kenakan. Ia tersenyum sendiri, membayangkan hari itu akan segera tiba.
“Mas raka udah nyoba lagi bajunya tan?” tanya Reva saat teringat pada sang kekasih. 2 hari sudah ia tidak bertemu dengan Raka dan tentu saja Reva sangat merindukannya.
“Udah, tapi sepertinya berat badan raka turun deh, tante liat bagian pinggangnya jadi gag fit.” Terang wanita yang sedang meyakinkan kenyamanan baju yang di pakai Reva. “Dia kangen kamu katanya, tapi mamahnya ngotot ngelarang dia nemuin kamu.” Goda Widya yang membuat Reva tersipu.
“Tante ada-ada aja…” lirih Reva.
Di tempat lain, Raka sedang mengunjungi Alea dengan di temani Fery. Alea terlihat kaget saat melihat Fery yang datang dengan membawa es krim seperti biasanya.
“Loh, bukannya lo lagi sakit, kenapa malah ke sini? Bukannya istirahat juga.” tanya Alea tiba-tiba bahkan sebelum ia duduk.
Raka dan Fery saling tatap tidak mengerti. Fery memang sedang sakit tenggorokan karena amandelnya yang membengkak tapi ekspresi Alea menunjukkan kalau ia sangat cemas karena Fery sakit parah.
“Gue?” Fery menunjuk dirinya sendiri.
Alea terangguk. Ia kembali teringat saat Reva datang untuk memberitahu persiapan pernikahannya.
#flash back on
“Kak, gue pake EO yang lo rekomendasiin. Gag nyangka ternyata kak fey juga kenal. Katanya mereka temen lo ya?” tanya Reva dengan antusias.
“Iya, mereka temen gue. Fery nganterin lo?”
“Iyaa.. padahal katanya dia lagi gag enak badan, tapi tetep nganterin gue sama mas raka. Katanya biar gag nyasar. Dia pikir gue anak kecil apa!” dengus Reva yang pura-pura kesal.
Sudah lama Raka dan Reva berfikir bahwa ada sesuatu di antara Alea dan Fery tapi Fery yang biasanya terbuka kali ini lebih banyak menyimpan ceritanya.
“Fery sakit apa? Parah gag?” terlihat raut cemas dan penasaran yang tidak bisa di sembunyikan Alea.
Reva tersenyum tipis, sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi di antara keduanya.
“Di bilang parah, ya cukup parah sih. Dia gag bisa makan, mesti makan yang cair-cair aja. Badannya juga demam. Jadi dia cuma bisa tiduran doang. Kasian banget pokoknya. Mana gag ada yang ngerawat lagi.” Sebenarnya Reva menceritakan sebenarnya, tapi wajah Reva yang begitu ekspresif membuat Alea membayangkan yang tidak-tidak tentang kondisi Fery .
“Ish! Pasti dia makan telat lagi. Udah di bilang berhenti dulu makan junk food dan banyakin makan sayuran tapi malah gag denger. Gag bisa di bilangin emang!” gerutu Alea yang membuat Reva semakin semangat mengerjainya.
#flash back off
“Iya, lo pikir siapa? Raka mau nikah mana sempet lo sakit.” Cetus Alea dengan kesal. Raka dan Fery kembali saling bertatapan. Tapi kali ini terlihat senyum tipis di bibir Fery yang ia coba sembunyikan. “Ini tuh pasti gara-gara lo gag nurut gue suruh berenti makan junk food. Dan lo,” kali ini Alea menunjuk Raka yang terpaku dengan tawa tertahannya.
__ADS_1
“Lo pasti ngasih fery kerjaan banyak kan? Gag kira-kira lo emang.” Imbuh Alea dengan wajah kesalnya.
“Astaga lea, si fery yang sakit kok gue yang di salahin? Emang gue virus ato kuman gitu? Kalo gag ada gue ni anak gag bakalan bisa bangun juga, mana gag ada yang ngurusin lagi. Iya kan bro? Makasih lo sama gue!” Raka mulai berdrama.
“Makanya lo jangan banyak ngasih dia kerjaan.” Sanggah Alea yang tahu pekerjaan Raka dan Fery memang tidak ada hentinya.
“Lah orang dia ngelamar juga buat kerja kok, bukan buat nemenin gue maen ps apa maen kelereng, kenapa gue yang jadi salah sih.” Raka dengan sengaja menghantamkan tinjunya ke lengan Fery dan Fery sontak mengaduh manja untuk mencari perhatian Alea.
“Raka, berenti deh! Lo lupa lo ada di mana? Mau gue aduin hah?” Alea menyalak tanpa ia sadari. Raka benar-benar sudah tidak bisa menahan tawanya.
“Alea, alea… gue ke sini mau minta restu lo, tapi lo galak banget. Maleslah gue.” Raka pura-pura marah pada Alea.
“Gue izinin, bambang! Tapi liat aja kalo sampe lo bikin reva sakit ato nangis, habis lo sama gue.” Ancam Alea seraya mengacungkan bogem mentahnya pada Raka.
“Yang mau nikahin reva tuh gue. Raka adiyaksa putra, bukan si bambang!” cetus Raka yang berlalu pergi meninggalkan Alea dan Fery dengan senyum yang hanya bisa di lihat Fery. “Lo urus deh ini tuan putri.” Raka menepuk bahu Fery yang sepertinya mengerti benar maksud Raka.
Selepas Raka pergi, Alea duduk dengan malas. Ia menyilangkan tangannya di depan dada. Amarahnya masih belum reda pada Raka.
“Gue baik-baik aja lea.. gue masih bisa berdiri kok. Masih bisa nemuin lo dan masih bisa bawain lo es krim.” Fery menyodorkan 1 cup es krim untuk Alea dan satunya ia nikmati sendiri. “Tapi gue selalu ngerasa semakin baik setelah liat lo. Apalagi tau lo secemas ini mikirin gue.” Imbuh Fery dengan tatapan lekatnya pada Alea.
Alea segera mengambil es krim dan melahapnya. Sebenarnya wajahnya terasa panas dan ia yakin saat ini sedang merona karena mendengar ucapan Fery. Dalam lubuk hatinya, ia bersyukur melihat Fery baik-baik saja dan bisa menemuinya.
Alea memalingkan wajahnya agar tidak bersi tatap dengan Fery, namun sudut matanya tetap bisa melirik Fery.
Lagi-lagi Alea menghindar untuk bertatapan dengan Fery.
“Hemmhh… padahal gue kangen sama lo.” Gumam Fery yang masih bisa di dengar oleh Alea.
Ada berbagai perasaan yang saat ini Alea rasakan saat bersama Fery. Satu perasaan yang pasti ia rasakan, ia merasa tenang saat Fery berada di sampingnya. Tapi hingga detik ini, ia tidak tahu harus seperti apa mengakui perasaannya yang sudah jelas terlihat tanpa perlu ia jabarkan.
Bukankah penonton selalu lebih tau isi perasaan pemerannya?
****
Melarang Raka untuk tidak keluar rumah, ternyata lebih sulit di banding harus memenangkan tender sebuah perusahaan bagi seorang Fery. Seperti saat ini, ia duduk berhadapan dengan Raka di sebuah café dan menemaninya minum minuman ringan dan beberapa camilan.
Jenuh, menjadi salah satu alasannya mengajak Fery untuk keluar. Ia sudah mencoba menyelinap ke rumah Reva, tapi selalu saja orang-orang suruhan Indra memergokinya. Dan Fery lah yang kini mendapat tugas untuk memastikan sahabat sekaligus bos nya baik-baik saja saat berada di luar.
“Aahhhh sial! Gue kangen banget sama reva!” dengus Raka sambil mengacak rambutnya dengan frustasi.
__ADS_1
Fery hanya terkekeh, bucin satu ini selalu membuatnya tertawa karena segala kekonyolannya.
“Video call boleh kali bro. ketat amat..” cetus Fery seraya menyantap kentang goreng di hadapannya.
“Kaga di angkat! Gila gag tuh!” sahut raka dengan penuh penekanan. Fery kembali tertawa. “Lagian reva tuh nurut banget lagi. Gue nih, udah di depan jendela kamarnya, masih aja dia gag mau bukain jendela, malah nyuruh gue pulang. Kesel kan gue.” Ungkap Raka dengan menggebu-gebu.
“Ya gimana gag nurut, yang jagainnya 3 super mom. Lo aja yang gag bisa di bilangin.” Keluh Fery yang memelankan suaranya di akhir kalimat.
Raka sepertinya tidak mendengarkannya. Atau mungkin perhatiannya teralihkan pada voice note yang di kirim Reva. Raka memutarnya di depan Fery.
“Aku lagi kutekan sama mamah. Warnanya peach gitu deehh, lucu banget pokoknya. Kamu lagi apa mas?” Ujar Reva dengan gemasnya.
“Nah ini penyakitnya, video call gag boleh, nelpon gag bisa lama-lama tapi giliran gue kirim text, dia balas pake pesan suara, alesannya males ngetik. Dia gag tau apa suara dia kayak gimana di proses sama otak gue.” Lagi-lagi Raka merutuki keadaan.
“Ya lo sabar lah, cuma beberapa jam lagi. Tapi ngomong-ngomong, kok cewek lo kutekan? Lagi merah dong dia? Terus malam pertama lo? Ah ini sih ambyar!” cerocos Fery yang membuat Raka semakin kesal.
Tentu saja Fery hanya bisa tertawa melihat kekesalan sahabatnya.
“Berisik lo! Lo juga gag bisa ngurus hubungan lo sama alea.” ujar Raka yang membuat Fery terdiam seketika.
Alea, ya terlalu sulit untuk memenangkan hati Alea. Walaupun Alea menaruh perhatian padanya, ia masih belum yakin bahwa Alea memiliki perasaan yang sama dengannya.
“Dia terlalu muluk-muluk buat gue. Ibarat kata nih, kalo alea di suruh milih antara gue atau odading mang oleh, mungkin dia lebih milih odading mang oleh.” Ungkap Fery yang membuat Raka menahan tawanya. Ia ingin tertawa tapi takut dosa.
“Seseorang yang ada di angan-angan alea, bakal kalah sama seseorang yang selalu ada buat alea. Kenapa lo mesti ragu?” cetus Raka sambil menyeruput soft drink di hadapannya.
Fery tampak berfikir keras. Ia mencoba mencerna perkataan Raka. Benar, ia selalu ada untuk Alea, tapi belum tentu Alea merasakan hal yang sama. Mungkin Alea hanya menganggapnya teman saat ia merasa sepi dan sendiri, bukankah itu terlalu menyakitkan kalau Fery kadung berharap terlalu tinggi? Karena kenyataannya, ia tidak pernah bisa berdiri di samping Alea dan mengajaknya melangkah bersama.
“Setelah gue nikah, gue butuh bantuan lo fer.” Suara Raka menyadarkan Fery dari lamunannya.
“Apa yang bisa gue bantu?” tanya Fery dengan segera.
Inilah salah satu alasan mengapa Raka bisa sangat cocok berteman dengan Fery. Dari sekian banyak teman yang dimiliki Raka, ia merasa Fery tidak hanya sebagai sahabatnya. Lebih dari itu, Fery bisa menjadi kakak sekaligus partner rival. Dalam artian, Fery mengenal benar apa kekurangan Raka, dari sanalah ia bisa bercermin.
“Gue minta, lo terusin anak perusahaan gue yang gue bangun dari nol.” Ujar Raka seraya menatap Fery dengan yakin. Nafas Fery rasanya tercekat mendengar ujaran Raka. “Bokap lo bilang, dia udah mau pensiun dan pengen ngembaliin semuanya sama gue. Tapi gue ngerasa, anak perusahaan itu walau gue yang bangun, tapi bokap lo yang ngebesarinnya. Jerih payah bokap lo ada di sana. Dan gue kenal baik sama lo, gue yakin lo bisa melanjutkannya.” Terang Raka yang membuat Fery termenung.
“Apa gue mampu?” hanya itu yang terlintas di pikiran Fery saat ini.
****
__ADS_1
Fery VS Odading mang oleh, menang siapa ya kira-kira? ;D