
Reva masih terbaring tidak sadarkan diri di tempat tidurnya. Tempat tidur yang hanya muat untuk satu orang saja dengan kelambu putih yang melingkupinya.
Adalah Niken yang sejak tadi menemani Reva yang masih enggan untuk membuka matanya. Wajah sendunya menangis dan tersenyum di waktu yang bersamaan. Betapa tidak takdir hidupnya benar-benar lucu. Ia mencari sang putri yang ternyata benar-benar ada di dekatnya.
Tangan Niken terangkat, mengusap wajah cantik yang tak bosan ia pandangi.
“Lana, sayang...” lirih Niken seraya menyeka air mata yang tak henti menetes di wajahnya. “Kenapa kamu pergi begitu lama nak? Mamah sangat rindu hingga rasanya hampir gila.” Lanjut Niken yang bisa di dengar oleh Wira dengan jelas.
Wira datang menghampiri, sementara Raka masih berdiri di pintu kamar memandangi adiknya yang dalam sekejap kembali merubah hidupnya dan kedua orang tuanya. Raka tersenyum, betapa ia sangat menikmati pemandangan di depannya. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu.
“Mah, papah udah bilang, papah mengenal betul tatapan mata reva. Dan benar saja ternyata dia lana kita. Lana yang selalu kita rindukan dan kita sayangi.” Ujar Wira seraya mengusap pucuk kepala Reva dengan lembut lalu mengecupnya seperti dulu ia lakukan saat Lana kecilnya bermanja di hadapannya. “Papah selalu ingat, setiap dia berbicara, binar matanya selalu penuh semangat dan penuh kasih. Ada kehangatan yang gag pernah hilang walau dia melewati semuanya sendirian.” Lanjut Wira yang di angguki Niken.
“Putriku tangannya gag semungil dulu, dia sudah dewasa dan sangat cantik.” Ungkap Niken seraya mengusap jemari lentik Reva yang berada di atas tangannya.
Beberapa saat kemudian, terlihat Reva mengerjapkan matanya. Perlahan mata bulatnya terbuka dan menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan. Ia mengenali benar wajah yang tengah tersenyum di hadapannya.
“Om,, tante...” itulah kalimat pertama yang terucap dari bibir tipis Reva.
“Ya sayang... Kamu udah sadar nak...” tutur Niken dengan suara bergetar.
Reva berusaha untuk bangun dan Wira dengan sigap membantunya. Saat Reva sudah bisa duduk, Niken memeluknya begitu saja. Ia tersedu di bahu Reva. Rasa rindu yang selama ini di tahannya ia ungkapkan saat itu juga. Wira ikut terharu, betapa ia tidak menyangka bahwa hari ini akan datang. Hari dimana ia bisa kembali menatap mata bulat dan memeluk Lana dengan erat.
Reva mengusap punggung Niken dan Wira yang merangkulnya dengan erat. Ini terasa canggung tapi tidak asing. Sekarang ia tahu alasan mengapa ia merasa begitu nyaman saat pertama kali Niken memeluknya. Pandangan matanya tertuju pada sosok yang berdiri di pintu dan sedang menatapnya. Ia tersenyum namun matanya tetap terlihat merah. Entah apa yang dirasakannya saat ini.
Raka berjalan mendekati Reva. Ia kembali tersenyum melihat sang adik yang selalu ia sayangi.
“Hay lana...” sapa Raka seraya mengacak rambut Reva dengan gemas. Kebiasaan yang selalu ia lakukan pada Lana kecil kesayangannya.
__ADS_1
Reva hanya terdiam. Ia memandangi ketiga orang di sampingnya bergantian. Bibirnya mulai bergetar hendak berbicara.
“Jadi, om dan tante orang tuaku?” tanya Reva dengan berat. Niken dan Wira mengangguk dengan semangat. “Dan mas raka, kakakku?” Reva menunjuk Raka tak kalah berat. Mereka kembali terangguk mengiyakan pertanyaan Reva.
Reva kembali tertunduk. Entah ia harus senang atau sedih mendapati laki-laki yang dicintainya ternyata kakaknya sendiri.
“Kok kamu gag seneng tau aku kakak kamu? Padahal kan aku ganteng, keren, pinter dan katanya kamu sayang banget sama aku.” Ujar Raka sambil mengangkat dagu Reva agar menatapnya.
Reva berdecih pelan. Hatinya benar-benar belum rela. “Emang mas raka seseneng itu jadi kakak aku?” tanya Reva dengan ketus.
Raka mengangguk dengan semangat. Hati Reva kembali melorot.
“Aku kan jadi punya adik yang bisa aku ganggu lagi. Bisa aku kerjain, bisa aku suruh ini dan itu. Dan dulu kamu manggil aku kakak loh, bukan mas. Gini nih manggilnya,” Raka Berdehem berusaha berperan sebagai Lana kala itu. “Kak rakaaaa, aku mau es krim.... Tapi jangan yang strawbery nanti aku alergi lagi...” ujar Raka sambil terkekeh.
Niken dan Wira ikut tertawa. “Udah dong raka, jangan ganggu adik kamu kayak gitu...” Niken memukul lengan Raka yang kini menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu Niken. Bibirnya masih tersenyum dengan tatapan hangatnya pada Reva.
“Tante, namaku dulu siapa?” tanya Reva tiba-tiba.
Niken dan Wira saling melirik. Sementara Raka terus menatap Reva seolah enggan berkedip.
Niken meraih tangan Reva lalu menggenggamnya dengan erat.
“Kamu bernama Alana Breathania Wijaya. Kami biasa memanggilmu Lana.” Tutur Niken dengan senyuman yang tidak pudar di bibirnya.
Reva terangguk. Ia baru ingat saat ia mendengar seseorang memangil nama Alana tiba-tiba tubuhnya merasa lemas dengan dada yang terasa sakit. Serasa di perkenalkan pada sebuah nama yang familiar. Namun dalam sekejap juga ekspresinya berubah bingung. Ia beralih menatap Wira yang duduk di sampingnya.
“Kok nama rere belakangnya Wijaya bukan Adiyaksa?”
__ADS_1
Niken bisa memahami kebingungan Reva.
“Sayang, dengerin mamah...” Niken berusaha memfokuskan Reva yang diliputi kebimbangan. “Dulu, mamah dan papah wira sangat menginginkan seorang anak perempuan. Mamah sempat mengandung seorang calon bayi perempuan tapi karena sebuah penyakit , Allah mengambil putri mamah sebelum ia dilahirkan. Seorang sahabat mamah dan papah, memiliki 2 putri dan mamah memintanya agar mamah bisa menjaga salah satu putrinya, dan itu kamu. Dan mengenai nama wijaya,...” Niken menoleh Wira sebelum melanjutkan ucapannya. Wira mengangguk setuju. “Indra Wijaya dan Nida Pratiwi adalah orang tua kandung kamu.” Tandas Niken seraya mengusap wajah Reva dengan lembut.
Sampai di sini, Reva masih mencoba mencerna ucapan Niken.
“Kalo gitu, alea dan aku?” Reva menunjuk batang hidungnya sendiri.
“Iya, dia kakak kandung kamu...” tukas Niken.
Lagi-lagi Reva menarik nafas dalam. Bagaimana bisa ia dan kakaknya memperebutkan laki-laki yang sama.
"Ya tuhaann...." Pekik Reva dalam hatinya. Ia memegangi kepalanya yang benar-benar terasa pusing. P using dan bingung tepatnya. Nalarnya kembali berjalan, mengapa harus Niken dan Wira yang mencarinya bukan Nida dan Indra, jika memang mereka orang tua kandungnya.
“Tapi mereka gag pernah nyoba cari aku... Sepertinya, mereka udah nganggap aku gag ada...” Reva tertunduk lemas. Kekecewaan ia selama ini sepertinya benar.
“Bukan sayang, bukan seperti itu. Saat kamu hilang papih dan mamih kamu terus mencari kamu. Mamih kamu bahkan sempat depresi dan terpaksa di bawa ke inggris untuk mengobati traumanya. Selama itu juga hubungan kami tidak cukup baik. Karena kamu hilang adalah kesalahan mamah saat itu.” Kenang Niken dengan rasa bersalahnya.
Raka mengusap bahu Niken untuk menenangkannya. Niken berusaha tersenyum seraya mengusap tangan Raka. Bagaimanapun ia harus berani menyampaikan kesalahannya kala itu.
“Hari itu, kamu berulang tahun yang kelima. Mamah berjanji akan mengajak kamu untuk jalan-jalan dan makan malam bersama di sebuah hotel. Kamu sudah berlatih piano dengan giat karena ingin memberi kejutan untuk mamah, papah wira juga raka. Tapi hingga sore, kamu gag ada datang ke rumah mamah. Mamah coba telpon lea dia bilang kamu sudah berangkat lebih dulu di antar supir. Sampai akhirnya kami sadar kamu diculik. Papih dan mamih kamupun yang sedang mengurus bisnisnya di inggris segera pulang saat mendengar kabar hilangnya kamu sayang.... Maafkan mamah, karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Andai saja waktu itu....” suara Niken terdengar bergetar di akhir kalimatnya. Rasa sesal yang begitu dalam kerap menyiksanya selama ini hingga membuatnya di dera rasa bersalah yang berkepanjangan.
“Tante... sudaah, cukup... Tidak ada orang yang menginginkan suatu kemalangan. Dan mendengar cerita tante, rere yakin dulu rere orang yang sangat beruntung karena di kelilingi orang-orang yang sangat mencintai dan menyayangi rere. Terima kasih karena tidak pernah melupakan rere dan terima kasih karena terus percaya rere akan kembali.” Reva menatap satu per satu wajah orang-orang yang ia cintai dengan penuh kebahagiaan. Wajahnya yang pucat pasi tetap terlihat cantik karena rasa bahagia yang mengisi relung hatinya.
Suasana haru pun kian terasa di tengah-tengah mereka. Niken kembali memberikan pelukan hangatnya untuk Reva dan Raka mengusap lembut pucuk kepala Reva. Semuanya terasa indah, rencana tuhan selalu lebih indah dari yang buat umatnya.
****
__ADS_1