Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 65


__ADS_3

Perbincangan kali ini beralih pada seputar Kean. Rasa canggung perlahan mulai memudar. Adrian dengan semangat menceritakan jagoan kecilnya dengan diselingi tawa saat ia menceritakan kejadian lucu dan menggemaskan yang Kean lakukan. Revapun tampak tertarik pada topik pembicaraan Adrian. Sesekali ia ikut tersenyum membuat Adrian kehilangan fokus dan semakin tidak bisa mengendalikan perasaannya.


Di kejauhan, Raka berjalan dengan cepat menuju resto tempat ia membuat janji dengan manajemen mall. Fery setia menemani di sampingnya dengan sesekali menjelaskan bahan bahasan yang ia tampilkan di dalam tab.


Hari ini memang sangat melelahkan bagi Raka, mall yang ia datangi saat ini adalah salah satu milik perusahaan yang akan ia ambil alih dari manajemen yang selama ini dipercaya untuk mengelola mall tersebut.Ajakan Fery untuk jalan sebentar nyatanya mengajak Raka untuk meeting walau setelahnya ia bisa menikmati waktunya di cafe yang ada di lingkungan mall.


Langkah Fery terhenti, saat ia melihat sosok cantik yang tidak asing baginya tengah tersenyum di hadapan seorang pria. Ia yakin tidak salah lihat dan mengenal benar sosok cantik tersebut. Fery memincingkan matanya untuk melihat gadis itu lebih jelas dan “binggo!” ia yakin itu adalah Reva.


“Reva…” lirih Fery yang membuat langkah Raka ikut terhenti. Raka jelas mendengar nama sang kekasih di sebut Fery.


“Apa?” Raka ingin meyakinkan yang diucapkan Fery.


“Itu… Itu reva kan?” tunjuk Fery pada punggung seorang gadis yang duduk berhadapan dengan laki-laki yang rasanya ia kenal.


Laki-laki itu terlihat tampan dan rapi dengan dasi yang masih melingkar di lehernya. Sementara jas nya terlipat di atas kursi yang menjadi sandarannya.


Raka ikut memfokuskan penglihatannya. Penglihatan Fery memang jeli, terutama pada gadis cantik seperti kekasihnya. Dan ia yakin, yang dilihatnya benar-benar Reva.


“Ah sial, ngobrol sama siapa dia?” dengus Raka yang segera ingin menghampiri gadisnya.


“Itu resiko lo kalo punya pacar yang ehm!.” ledek Fery membuat Raka menatapnya kesal. “Eh tapi tar dulu, kayaknya gue kenal sama cowoknya.” Fery menahan tangan Raka, ia mencoba mengingat-ingat laki-laki yang duduk di hadapan Reva. “Ah, Adrian! Itu Adrian bro!” seru Fery yang mulai mengingat laki-laki tersebut.


Raka menatap Fery tidak percaya, dan kembali melihat Reva dengan tidak rela. Dengan kaki panjangnya ia segera menghampiri Reva. Tangannya mengepal kuat dengan rahang yang mengeras. Dadanya terasa panas hanya sekedar mengingat, Adrian adalah mantan pacar Reva yang pernah diceritakan Fery.


“Bro, lo harus ngendalinn diri bro, jangan bikin onar kayak tadi siang.” Ujar Fery yang berusaha menahan tangan Raka namun dikibaskan begitu saja.


Benar, belum hilang kesalnya tadi siang dan belum reda juga sakitnya di kepal tangannya, malam ini ia harus kembali berhadapan dengan “Pengganggu” kekasihnya. Raka yang cemburu, namun Fery yang ketir, sepertinya ia akan ke rumah sakit untuk mengantar salah satu di antara 2 laki-laki ini.


“Hay sayang…” sapa Raka yang tiba-tiba muncul dan mengecup kepala Reva. Reva kaget bukan main, tak terkecuali Adrian yang tiba-tiba menyaksikan adegan mesra di depan matanya. “Maaf yaaa nunggunya lama...” sambung Raka sambil meraih tangan Reva dan menyelipkan jemarinya di antara jemari Reva.


Ia duduk di samping Reva tanpa peduli tatapan kaget dari Adrian. Adrian membenarkan posisi duduknya yang sedari tadi condong ke arah Reva. Ia berusaha tersenyum walau perasaannya bercampur aduk. Reva mengerjapkan matanya berkali-kali, ia masih dibuat kaget oleh Raka.


“Kamu udah pesen makan duluan ya, fer, tolong pesenin menu yang sama kayak reva buat gue.” Lanjut Raka seraya mengusap pucuk kepala Reva. Ia menatap penuh rasa menang pada Adrian yang masih memandanginya dengan senyuman yang tidak bisa dijelasan.


Fery yang celingukan bergegas pergi memesan makanan yang diminta Raka.


“Jirrr perang dunia ke 3 nih, untung bisa kabur” batin Fery sambil berlalu dan sesekali menoleh meja tempat 3 orang itu berkumpul.


“Ini siapa yang? Kenalin dong...” lagi-lagi Raka berusaha terlihat santai dan sok asyik di hadapan Reva dan Adrian.

__ADS_1


“Hah? Oh ini...” Reva melirik Adrian sejenak yang juga seolah meminta penjelasan darinya.


“Kenapa gue kayak ke gap lagi selingkuh ya?” batin Reva sambil menatap keduanya bergantian.


“Em kenalin, ini pak adrian , salah satu dosen di kampus dulu. Pak adrian kenalin, ini mas raka...” ujar Reva dengan canggung.


Ia menggigit bibir bawahnya sendiri dengan dada yang berdebar kencang.


“Fix, habis gueeeee...” Reva gemetar sendiri di dalam hatinya.


“Adrian..” Adrian mengulurkan tangannya pada Raka seraya tersenyum.


“Raka, mas nya reva. Ato lebih tepatnya calon suami reva.” Tegas Raka dengan jumawa. Ia tersenyum pada Adrian dengan angkuhnya dan dengan cepat melepaskan jabatan tangannya.


Lagi-lagi Reva terbelalak. Belum habis rasa kagetnya melihat Raka yang tiba-tiba datang, kembali ia dikagetkan dengan pernyataan Raka


“Calon suami?” Reva mengulang kalimat itu dalam hatinya.


Tak lama berselang, Fery datang dengan pesanan yang diminta Raka. Ia menaruh burger dan ayam goreng di hadapan Raka lengkap dengan sauce dan segelas soda.


“Gue ketemu klien dulu ya, lo nyantai aja...” tutur Fery sambil menepuk bahu Raka. Tidak lupa iapun melempar senyuman yang tidak bisa dimengerti pada Reva. Ia berlalu dengan riang gembira.


“Ayo dimakan.. Aku laper yang, kamu juga laper kan?” ujar Raka sambil melahap satu burger dengan rakus.


Reva bergidik geli. Satu sisi ini yang baru Reva tau dari Raka. Begini rupanya cara ia menunjukkan cemburunya. Bersikap over acting, posesif dan pamer. Ya, sangat pamer. Sangat jauh berbeda dengan Raka yang biasa ia lihat sebelumnya.


Reva mulai ikut menikmati makanannya walau rasanya sangat sulit di telan. Raka tampak asyik saja, sesekali ia mengusap sisa sauce yang ada di bibir Reva, perilaku baru yang tidak pernah Raka tunjukkan sebelumnya.


“Bapak gag makan pak? Maaf nih jadi nonton kami...” Raka kembali berbicara dengan gaya tengilnya. Benar-benar bukan Raka yang biasanya.


“Oh enggak, silakan dilanjutkan. Saya sudah makan dengan anak saya.” Timpal Adrian dengan gusar. Ia terus memandangi Reva yang tertunduk menikmati makanannya dalam kondisi tertekan.


“Oh, bapak sudah menikah dan punya anak ya...” sindir Raka telak


“Iya, anak saya baru berusia 3 tahun. Dan kebetulan waktu dia ada masalah, reva yang nolong. Jadi saya sangat berterima kasih sama Reva.” Terang Adrian seraya tersenyum.


Raka melirik Reva yang pura-pura asyik dengan makanannya, walau ia masih menyimak perbincangan dua laki-laki di dekatnya ini.


“Iya reva memang baik. Siapapun pasti dia tolong. Tapi kalo dia perhatian sama anak kecil, saya jadi gag sabar buat nikahin reva dan punya anak sebanyak mungkin. Iya kan sayang?” Raka menyenggol Reva dengan sengaja. Reva hanya tersenyum dengan sisa makanan dimulutnya.

__ADS_1


Reva meneguk soda di hadapannya dan kembali menikmati ayam goreng yang ia cocol ke saucenya.


“Kamu sekarang suka sauce cabe re? Bukannya lebih suka sauce tomat?” tanya Adrian yang seolah memancing Raka dengan sengaja.


Raka melirik Reva yang terlihat berkeringat entah karena kepedesan atau karena gugup. Ia semakin kesal karena Adrian terus memperhatikannya.


“Saya suka sauce cabe pak.” Lirih Reva dengan ragu yang disambut senyuman oleh Adrian.


Masih sama, Reva tidak pandai berbohong bahkan hanya untuk menjawab pertanyaannya. Raka sudah benar-benar jengah. Ia tidak suka dengan cara Adrian menatap dan tersenyum pada kekasihnya.


Ia menaruh sisa makannya begitu saja lalu menegak sodanya hingga tandas. Rasanya perutnya tiba-tiba saja kenyang.


“Kamu udah selesai mas?” Reva melihat Raka sudah meletakkan sisa makannya. Ia bisa membaca, emosi sang pencemburu di sampingnya ini akan segera meledak.


Raka hanya terangguk sambil tersenyum. Ia mengusap perutnya yang rata untuk menjawab pertanyaan Reva. Tidak ingin perang benar-benar terjadi, Reva pun segera mengakhiri sesi makannya. Ia membersihkan tangannya sambil sesekali melirik 2 laki-laki yang saling bertatapan dengan tidak santai.


“Mau pulang sekarang mas?” tawar Reva sebelum perang benar-benar terjadi.


“Tentu kalo kamu sudah selesai reuninya.” Sahut Raka.


Reva tidak menghiraukan ucapan Raka barusan, ia tau itu adalah pertanda perang.


“Baik pak, saya pulang dulu. Salam aja buat kean dan bi asri.” Tukas Reva seraya mengambil tas yang ada di sampingnya.


Adrian hanya mengangguk seraya tersenyum. Ia ikut berdiri bersamaan dengan Reva dan Raka. Raka segera meraih tangan Reva dan menggenggamnya dengan erat. Seolah ingin menunjukkan bukti kepemilikannya pada Adrian.Dalam beberapa saat mereka berlalu meninggalkan Adrian yang masih terpaku.


Melihat pemandangan di hadapannya hati Adrian merasa sakit. “Re, kalau tau bakal sesakit ini, harusnya aku lebih berjuang buat kamu...”batin Adrian.


“Bey!” Panggil Adrian tiba-tiba. Saat itu juga Reva menghentikan langkahnya.


Entah untuk alasan apa, tapi mendengar cara Adrian memanggilnya membuat Reva menghentikan langkahnya dan menoleh pada Adrian.


“Hati-hati di jalan...” ujar Adrian seraya tersenyum. Senyum yang terlihat pedih namun berusaha kuat.


Mendengar panggilan Adrian pada Reva, telinga Raka terasa gatal. Ingin rasanya ia berbalik dan mendaratkan sebuat pukulan di wajah laki-laki yang masih menatap punggung Reva berlalu. Namun Reva mengeratkan genggaman tangannya, rasanya itu sudah cukup karena Adrianpun melihat gestur yang di tunjukkan Reva lebih dari sekedar penjelasan.


****


 

__ADS_1


Adriaaann oh Adriiiaannn (llagii) :)


__ADS_2