Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 43


__ADS_3

Hiruk pikuk di weekday selalu menjadi pemandangan yang biasa. Kemacetan dan bunyi klakson yang saling bersautan menjadi pelengkap sibuknya hari pertama kerja di awal bulan ini.


Melihat waktu kerja yang hampir tiba, Reva tampak gusar karena bis kota yang sejak tadi dinaikinya masih berdiam diantara kendaraan besar dan kecil lainnya. Jarak menuju kantorpun tidak terlalu jauh, Ia memutuskan untuk turun dari bis kota. Dilepasnya Stiletto 5 cm miliknya dan mulai berlari menuju kantornya. Ia tidak memperdulikan kakinya yang kotor demi tidak terlambat sampai di kantor.


5 menit menjelang jam kerja di mulai, Reva sudah sampai di depan kantornya. Ia berhenti di sebuah warung kecil lalu segera memakai alas kakinya dan berjalan dengan langkah lebar. Ia mencium bau tubuhnya sendiri yang berkeringat.


“Nggak bau juga.” Gumamnya yang terus berjalan menuju lift.


Beberapa pasang mata melihat ke arahnya saat ia berada di dalam lift dengan wajah yang diliputi titik keringat dan kemerahan. Ia memilih diam di sudut lift agar tidak semakin menarik perhatian orang lain.


“Ding!” pintu lift kembali terbuka.


Ia setengah berlari menuju kubikel tempat ia bekerja.


“Pagi Re… tumben telat…” sapa Dimas saat melihat Reva tiba di hadapannya.


“Iya, kena macet.” Sahutnya dengan alasan klise.


Raka yang sejak tadi ada di mejanya, menatap Reva yang berkeringat sepagi ini. Terlihat Reva menghembuskan nafasnya dengan kasar dan mulai menata pekerjaannya. Tidak ada lirikan sedikitpun dari Reva apalagi sapaan hangat. Raka memberanikan diri menyapa terlebih dahulu.


“Re, bisa bicara sebentar?” Raka terlihat ragu.


“Boleh, di jam istirahat. Sekarang masih jam kerja.” Sahut Reva yang sekilas memandang Raka.


Raka berusaha tersenyum.


“Hp lo…”


Ia menyodorkan handphone Reva yang telah selesai ia perbaiki. Reva menatap benda persegi di tangan Raka yang kini sudah berbentuk normal walau tetap dengan layar yang sudah retak.


“Thanks!” sahutnya dengan senyuman yang dipaksakan. Ia mengambil handphonenya lalu memasukkannya kembali ke laci.


Raka kembali terduduk. Dari celah kacanya ia menatap Reva yang serius dengan pekerjaannya.


Reva menyadari Raka yang sedang menatapnya. Ia segera berdiri dan pergi ke toilet. Ia berfikir mungkin penampilannya berantakan.


Dalam langkahnya menuju toilet, ia melirik ruangan Lenna yang saat ini sudah berganti pemilik. Seorang wanita dengan penampilan anggun duduk di sana dan tampak serius bekerja. Berbeda dengan Lenna yang biasanya duduk menyandar di kursi sambil menatap layar minitornya dengan tangan yang menopang dagunya. Ia berfikir, mungkin ini perbedaan mendasar pada Lenna dan wanita yang baru dilihatnya ini.


Dari luar toilet, sayup-sayup Reva mendengar obrolan beberapa orang.


“Masa sih? Dia kan keliatannya polos gitu?” tanya seorang wanita

__ADS_1


“Iya, gue juga gag nyangka. Beberapa hari kemarin malahan dia pingsan setelah muntah-muntah. Apalagi coba kalo bukan hamil.” Sahut wanita satunya dengan tegas.


Reva menghentikan langkahnya. Ia menyadari kalau dirinyalah yang saat ini jadi objek pembicaraan. Reva memutuskan untuk berbalik dan kembali ke meja kerjanya.


Dihadapannya ia tidak lagi melihat Raka. Berganti Edho yang sedang berdiri sambil melihat barang-barang yang berada di meja Reva.


“Edho?” lirih Reva.


Edho segera berbalik saat mendengar suara Reva. Ia tersenyum dengan hangat dan meletakkan kembali stabilo warna jingga yang bertuliskan nama Reva.


“Hay re… lama ya gag ketemu…”


Reva hanya membalasnya dengan senyuman tipis.


“Hay, ada apa dho?” Reva menaruh barang pribadinya di laci lalu duduk kembali di kursinya.


Ia kembali mendapat tatapan sinis saat beberapa wanita melewati meja kerjanya. Edho ikut mengernyitkan dahinya saat wanita-wanita itu berbisik lumayan keras di dekatnya.


“Itu bukan cowoknya?” ujar wanita tersebut yang ikut menatap Edho dengan sinis.


“Pinter juga tuh anak milih mangsa.”  Sahut temannya.


Reva hanya tertunduk. Ia mendenguskan nafasnya dengan kasar.


Edho memutar kursi Reva dan menghadapnya. Dengan tatapan tajam ia memandangi Reva.


“Mana tatapan peduli lo? Apa sekarang kita gag bisa ngobrol dengan fokus lagi karena gag ada kontrak?” bisik Edho dengan jarak yang sangat dekat.


Dari kejauhan Raka melihatnya. Ia mengepalkan tangannya dan rahangnya terlihat mengeras menahan kesal.


“Gue lagi kerja , okey!” Reva mendorong tubuh Edho menjauh.


Edho hanya terkekeh dan merapikan kembali bajunya yang sedikit berantakan.


“Gue akan cari lo setelah jam kerja. Dan lo gag akan bisa nolak.” Timpal Edho sambil berlalu pergi meninggalkan Reva.


Reva menghembuskan nafasnya dengan lega, akhirnya Edho pergi dari hadapannya dan tidak menimbulkan masalah baru.


“Re, itu tadi si abang cakep ya?”


“Astaga! Lo ngagetin!” seru Reva saat tiba-tiba Tita ada di sampingnya. Tita hanya tersenyum, sambil memperhatikan arah berlalunya Edho. “Ada apa?” Reva menepuk tangan Tita untuk menyadarkannya.

__ADS_1


“Kita di panggil ke ruangannya bos baru.” Sahut Tita tanpa melepaskan pandangannya dari bahu Edho yang berjalan menjauh.


“Raka?” Reva menunjuk meja Raka yang kosong.


“Di panggil mas Fery…” sahutnya yang memperlihatkan perubahan ekspresi saat Edho menghilang di balik pintu lift.


“Ya udah ayo…” Reva menarik tangan Tita yang memeluk beberapa buku.


Tita mengikuti saja langkah kaki Reva.


****


 


Di hadapan Reva berdiri seorang wanita yang berusia tidak terlalu jauh darinya dan memperkenalkan diri sebagai Tika, atasan barunya. Ia memandangi Reva, Tita dan Dimas yang sudah lebih dulu berada di ruangannya.


“Kalian, berapa lama magang di sini?” tanya Tika, kembali memecah keheningan.


“3 bulan bu…” sahut ketiganya bersamaan.


Tika tampak tersenyum.


“Kalian gag usah kaku gitu. Usia kita gag selisih terlalu jauh, paling sekitar 4 atau 5 tahun. Dan saat begini, kalian boleh panggil saya mba atau kakak.” Ujarnya dengan senyuman hangat.


Reva dan Tita saling lirik tanpa berkata apapun.


“Tenang aja, kalian hanya boleh panggil bu, di hadapan bos atau divisi lain. sepakat?”


Tika mengulurkan tangannya dan  di sambut Reva walau ragu.


“Baik bu, eh mba…” ujar Reva dengan senyuman tipis. Tika mengangguk.


“Tugas pertama saya sebagai kepala divisi marketing, beberapa hari kedepan kita akan ada beberapa workshop dan saya harus melibatkan kalian. Saya akan pergi ke bandung bersama Reva. Tita ke surabaya bersama salah satu staf dan Dimas ikut ke bali membantu Pak Fery.” Terang Tika dengan gamblang.


“Yes!” terdengar seruan girang dari Dimas saat mendengar ia akan ke Bali.


“Kesenengan lo ya…” Tita menyenggol lengan Dimas dengan sengaja.


Tika dan Reva ikut tertawa ringan.


Perkenalan kali ini membawa suasana menjadi lebih santai. Tika mulai membagi tugas yang nanti harus mereka kerjakan di tempat workshop. Semua di sampaikan secara mendetail. Ketiga anak magang tersebut tampak semangat mencatat tugasnya dan membayangkan betapa menyenangkannya bisa dinas luar, terutama Dimas yang akan pergi ke Bali.

__ADS_1


****


Makasih ya masih setia bacaaaa.... Jangan lupa support like dan komen nya yaaaa...


__ADS_2