Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 141


__ADS_3

Sepulang makan siang, Raka melajukan mobilnya dengan kencang. Berkali-kali ia menyalip kendaraan di depannya padahal jelas jalanan lumayan padat.


“Sayang, hati-hati. Emangnya kamu lagi di tunguin orang?” tanya Reva yang mengeratkan genggamannya pada seat belt yang melingkari tubuhnya.


Raka tidak menjawab, ia terlihat sangat fokus dengan jalanan atau mungkin dengan pikiran yang ada di kepalanya.


“Mas raka…” panggil Reva saat Raka kembali menyalip kendaraan di depannya seraya berkali-kali membunyikan klaksonnya.


“Aku lagi fokus!” jawabnya dengan ketus.


“Fokus apa marah?” tanya Reva seraya menyandarkan tubuhnya yang terasa menegang karena duduk di samping pembalap.


Ia tahu, Raka sepertinya sedang marah. Hal itu terlihat jelas dari gesturnya terlebih saat Theo berkali-kali memuji Reva di hadapannya.


“Menurut kamu?” selalu, saat seperti ini Raka akan membalas pertanyaan Reva dengan pertanyaan.


Reva kembali terdiam. Rasanya berbicara sekarang pun tidak ada artinya.


Raka menyalakan sein hendak berbelok. Namun segera Reva melarangnya. “Aku ikut ke kantor mas.”


Raka tidak menimpalinya. Ia kembali mematikan lampu seinnya dan melaju lurus menuju kantornya.


Sampai di ruangannya, Raka segera melepas jasnya. Ia melemparnya sembarang ke sofa. Reva duduk di sofa dan mengambil jas Raka. Ia menyampirkannya dengan rapi.


“Kenapa kamu gag bilang kalo dia datang ke panti dan jadi donatur?” tanya Raka seraya melepas dasi yang melingkari lehernya. Rasanya ia merasa sesak dan kesal yang bercampur.


“Aku gag tau kalo tiba-tiba dia datang ke panti dan jadi donatur. Dan soal kenapa aku gag bilang, biasanya juga para donatur kan gag mau namanya di sebut-sebut, jadi aku pikir theo juga gitu.” Terang Reva yang memelankan suaranya di akhir kalimat.


Raka duduk di hadapan Reva dengan wajah yang masih kesal.


“Theo lagi, aku gag suka kamu manggil nama dia.” Dengus Raka yang selalu mengingat kejadian tidak menyenangkan yang di alami Reva.


“Mas, dia gag kayak gitu kok. Dia memperlakukan aku dengan sopan. Kami juga berbicara dengan bahasa formal. Beneran..” Reva berusaha meyakinkan Raka.


“Kamu tau sejauh apa tentang theo? Emang kalian sedekat apa sampe kamu mikir dia udah berubah? Kamu gag liat cara dia ngeliatin kamu atau cara dia bicara sama kamu. Dia tertarik sama kamu re.” ungkap Raka yang merasa tidak terima dengan apa yang tadi di lihatnya. Terlebih Reva telah menyembunyikan sesuatu darinya.

__ADS_1


“Mas, kamu gag percaya sama aku? Aku gag ada pikiran apa-apa soal Theo.”


“Aku percaya sama kamu tapi aku gag bisa percaya sama laki-laki itu.” Raka mulai meningggikan suaranya.


“Terus sebenernya yang kamu pentingin perasaan aku ke dia apa perasaan dia ke aku?” gertak Reva dengan butiran air mata yang mulai menetes. “Kalo kamu masih gag percaya sama aku, terserah!” tanda Reva seraya mengusap air matanya dengan kasar.


Ia beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan Raka. Rasanya tidak ada baiknya membahas ini sekarang dan di tempat yang salah.


Raka melihat mata Reva yang basah. Ia mengacak rambutnya frustasi. Demi apapun ia memang sangat cemburu. Ia tidak mau siapa pun memikirkan Reva, ia tidak mau berbagi fantasi dengan laki-laki mana pun. Tapi, membiarkan Reva pergi bukankah akan menjadi awal dari masalah baru?


“Re, gag kayak gitu.” Raka mulai memelankan suaranya. Ia mengejar Reva yang hampir sampai di mulut pintu.


Reva menghentikan langkahnya tapi ia masih enggan untuk berbalik. Raka memeluk Reva dari belakang. Ia mengecup pucuk kepala Reva dengan lembut. Perlahan ia memejamkan matanya dengan nafas yang mulai tenang.


“Aku gag mau kehilangan kamu. Laki-laki seperti theo akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Dan aku gag mau kamu menjadi salah satu yang dia inginkan.” Bisik Raka dengan lembut.


Iya, Raka tidak bisa membayangkan kalau seorang Theo mengejar Reva. Bukan ia tak bernyali, bukan ia tak bisa menghadapi, tapi akan banyak hal yang harus menjadi korban, termasuk perasaan mereka.


“Aku mohon, jangan lagi temui theo. Dan aku mungkin akan membatalkan kerja sama kami.” Lirih Raka seraya mengeratkan pelukannya.


“Mas..” Reva menangkup kedua sisi wajah Raka dengan kedua tangannya. “Aku janji, aku gag akan ketemu theo lagi. Tapi jangan batalkan kerjasamanya. Aku tau, kamu sudah mencurahkan tenaga, pikiran, biaya, bahkan mimpi kamu ada di situ. Kalian bisa bekerja secara profesional dan aku gag akan muncul di antara kalian.” Tegas Reva dengan penuh kesungguhan.


Raka tertunduk lesu di hadapan Reva. Ia bahkan tidak berani menatap kedua mata yang selalu menghanyutkannya. “Maaf kalau aku egois, maaf re…” lirihnya.


“Mas, kamu gag egois. Aku sadar, sebagai seorang istri selain aku harus menjaga diriku sendiri, lebih dari itu aku harus menjaga martabat suamiku. Kamu berhak menentukan dengan siapa aku boleh bertemu atau tidak. Kamu punya hak sepenuhnya atas aku. Maaf kalau tadi aku meninggikan suaraku di hadapan kamu. Aku hanya tidak mau, kamu punya keraguan atas perasaan aku dan komitmen aku terhadap hubungan kita.” Ungkap Reva dengan penuh kesungguhan.


Raka terangguk. Ia mengecup kening Reva dengan lembut lalu memeluknya dengan erat. “Aku cinta sama kamu, lebih dari apapun. Aku bersedia kehilangan semuanya asal bukan kehilangan kamu.” Bisik Raka yang membuat hati Reva menghangat. Reva hanya terangguk dan membenamkan wajahnya di dada bidang Raka. Ia sangat menyukai ketika dua detakan itu kini terdengar seirama.


*****


Pagi menjelang Raka masih berada di bawah selimut dengan kaki Reva yang berada di bawah himpitannya. Matanya membuka dan melihat Reva masih terlelap di ketiaknya. Ya, belakangan ini Reva selalu membenamkan kepalanya di ketiak Raka. Istrinya memang unik dan ini sudah berlangsung selama beberapa hari.


Raka menoleh jam wekker yang ada di sebelahnya. Sudah hampir jam setengah 6. Biasanya Reva sudah sibuk dengan kegiatan paginya dan wangi sarapan pasti sudah tercium. Tapi kali ini benar-benar berbeda.


“Sayang….” Bisik Raka yang beberapa kali menghujani wajah Reva dengan kecupan-kecupan kecil khas Raka saat membangunkan Reva.

__ADS_1


“Mmhhhh…” hanya suara itu yang keluar dari mulut Reva. Raka tersenyum dan mengecup bibir Reva yang tampak mengecurut gemas.


“Udah hampir setengah 6 loh…” lagi-lagi Raka berbisik dan membuat bulu kuduk Reva meremang.


“Aku udah sholat, tapi sekarang masih ngantuk.” Ujarnya sambil menutup kepalanya dengan selimut. Sepertinya ia memang tidak ingin di gangu.


“Okey, mas bangun duluan ya…” Raka kembali membuka selimut Reva hingga wajahnya kembali terlihat. Ia mengusap kepala Reva dengan lembut dan kembali mendaratkan sebuah kecupan di pipi Reva.


Raka segera beranjak dari samping gadis yang selalu membuatnya seperti memiliki magnet dengan ranjangnya. Ia melakukan rutinitas paginya hingga kini mulai berpakaian rapi.


Reva mulai membuka matanya. Ia menggeliat dan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa pegal. Cahaya matahari mulai masuk di celah jendelanya dan menyinari wajahnya yang terlihat seksi pagi ini.


“Udah mandi mas?” tanya Reva saat melihat sosok Raka yang sedang mematut dirinya di depan cermin.


“Udah sayang, kamu mandi gih..” sahut Raka yang melihat Reva dari pantulan cermin.


Reva segera beranjak dan menghampiri Raka. Ia memasangkan dasi Raka seperti biasa. Dengan jelas Raka melihat Reva dengan rambutnya masih berantakan namun malah terlihat seksi.


“Okey, udah rapi.” Serunya seraya mengusap dada Raka. Manik coklatnya kini menatap Raka seraya tersenyum. “Suami aku ganteng banget sih…” Reva mengusap wajah raka dan memberikan sentuhan sensual di rahangnya.


“Sayang, jangan menggodaku…” Raka memegangi tangan Reva, tapi sepertinya Reva tidak peduli. Reva malah menarik tengkuk Raka hingga tertunduk dan mengecup bibir Raka dengan lembut. Siapa sangka Raka membalasnya hingga akhirnya kecupan manis itu menjadi pagutan kuat di antara keduanya.


“Nngghh..” Reva melenguh saat ia merasakan tangan Raka yang mulai menyentuh bagian-bagian sensitifnya.


Beberapa hari ini memang Raka menahan hasratnya karena kerap melihat Reva yang terlihat lelah saat pulang kerja. Ia merasa tidak tega. Tapi saat Reva menggodanya, ia bisa apa? Ia hanya laki-laki normal yang tentu tidak bisa menahan hasratnya terlebih yang menggodanya adalah Reva.


Pagi itu pergulatan pun kembali terjadi.


*****


 


Hay haayy... thanks for reading... Jangan lupa like komen dan tambahkan sebagai favorit yaaa...


Makasihh..

__ADS_1


__ADS_2