
“Den, ayo den kean makan dulu… nanti den kean sakit…” Entah sudah berapa puluh kali Bi Asri membujuk tuan kecilnya untuk makan tapi selalu hanya di jawab dengan gelengan kepala atau malah terdiam.
Bi Asri rasanya ingin sekali menangis, melihat tuan kecilnya yang semakin kurus. Walaupun bukan putra kandungnya, tapi Kean sudah seperti cucunya sendiri. Miris, perasaan itulah yang kerap muncul di hati Bi Asri.
“Den kean mau bibi telponin tante rere? Tante rere pasti mau makan ayam goreng sama den kean.” Ini usaha terakhir Bi Asri untuk membujuk Kean. Setelah Adrian memintanya untuk jangan merepotkan Reva lagi, kali ini rasanya ia tidak punya pilihan selain meminta bantuan Reva.
Tanpa di sangka, Keanpun malah menggeleng. Ia membaringkan tubuh kecilnya miring memunggungi Bi Asri. Anak kecil ini benar-benar sedang merasakan kesedihan dan kehampaan. Tanpa terasa air mata menetes di pipi Bi Asri. Ia tidak tega melihat jagoan kecil ini hanya terdiam seharian.
Suara deritan pintu mengalihkan perhatian Bi Asri. Di pintu kamar itulah berdiri seorang wanita yang tidak asing baginya.
“Kean…” Adalah Arini yang segera berlari menghampiri Kean. “Nak ini mamih….” Lirihnya yang segera membuat Kean beranjak dari baringannya.
“Mamih…” bibir mungil itu bergetar. Air matanya meleleh begitu saja. Arini segera memeluk Kean yang pucat pasi seperti tanpa nyawa.
“Iya nak ini mamih. Maafkan mamih karena meninggalkan kean terlalu lama…”
Arini terisak sambil memeluk Kean. Ia mengecupi pucuk kepala Kean dengan penuh kasih. Ia menyesal, sangat menyesal saat melihat tubuh mungil ini semakin kecil hanya tersisa tulang yang dibalut kulit tipisnya.
“Mamih kemana aja, kean kangen… Kean sakit, mau di suapin mamih…” rengek Kean yang membuat Arini merasa semakin bersalah. Ia menangis sejadinya, menumpahkan semua kerinduannya pada putra satu-satunya.
Dan di pintu itu, Adrian ikut merasakan keharuan. Ia menyandarkan tubuhnya pada daun pintu, kepalanya menengadah mencoba menahan laju air mata yang ikut turun membasahi wajahnya. Semua yang ia lakukan selama ini ternyata salah. Ia hanya mengikuti perasaannya tanpa mempertimbangkan perasaan halus sang putra yang tidak bisa ia paksa untuk memahami pikiran orang dewasa.
Kean kecil itu tersiksa karenanya, Arini dan dirinya sendiri terluka, karena ia yang tidak bisa mengambil sikap dan meninggalkan masa lalunya. Ia menyesal, tentu sangat menyesal. Andai ia bisa mengandai-andai kembali ke masa lalu dan mencegah semuanya terjadi dan tidak membuat orang-orang yang ia sayangi terluka, tapi semua tak bisa terulang. Ia harus menghadapi kenyataannya saat ini dan memperbaiki semuanya untuk masa depan mereka.
****
“Mas, kamu masih banyak kerjaan?” tanya Reva saat mendapati Raka yang belum beranjak sama sekali dari tempatnya. Ia terus fokus menatap layar laptopnya dengan tangan yang tampak mencorat-coretkan angka di sebuah kertas. Makan malamnyapun tidak ia habiskan.
“Dikit lagi sayang…” sahutnya seraya menoleh Reva yang tengah memperhatikannya dengan dagu tertopang di atas lengan kananya. Ia mengusap kepala Reva seraya tersenyum lalu kembali menatap layar laptopnya.
“Ish, kayaknya itu laptop lebih cantik deh dari aku.” Gumam Reva yang masih sedikit di dengar Raka.
“Apa?” Raka berusaha menahan tawanya saat mendengar celotehan Reva.
“Hah? Nggak ko, aku gag ngomong apa-apa.” Sahutnya seraya memalingkan wajah dan memegangi tengkuknya, entah mengapa tiba-tiba narsisnya muncul.
Raka kembali berusaha menahan senyumnya.
Reva yang merasa sedikit bosan, ia mengambil buku lukisan lalu duduk membelakangi Raka dan menyandar pada bahu Raka. Ia membuka satu per satu halaman buku yang juga bisa dilihat oleh Raka dari samping.
__ADS_1
Raka menempatkan dagunya di atas bahu Reva kemudian mengecup tengkuk Reva dengan lembut. Ia bisa mencium wangi sang kekasih yang selalu ia rindukan.
“Mas, geli…” keluh Reva seraya menjauh.
Bukan Raka namanya kalau ia akan berhenti. Ia semakin mendekati Reva dan kembali mencium pipi Reva. Reva menghalangi Raka dengan buku lukisnya tepat di wajah Raka dan membuat Raka terkekeh geli. Sementara Reva hanya tersenyum karena berhasil menghentikan keisengan kekasihnya.
“Ya udah, tolong ambilin kotak warna biru di laci sebelah kanan tempat tidurku yaa…” bisik Raka membuat Reva bergidik geli.
“Baik pak direktur yang budiman..” sahutnya seraya beranjak menuju kamar Raka. Raka hanya tersenyum melihat langkah Reva yang perlahan menjauhinya.
Di kamar Raka, Reva mulai mencari benda yang di maksud Raka. Ia membuka laci lemari kecil yang berada di samping tempat tidur Raka.
“Warna biru, warna biru… Mana yaaa…” gumamnya.
Tepat di laci paling atas, Reva menemukan kotak berwarna biru tersebut. Ia segera membawa kotak itu pada Raka.
“Nih..” Reva menaruh kotak tersebut di atas meja.
“Bukain dong….” Timpal Raka tanpa menoleh sedikitpun.
Reva menghela nafas dalam-dalam dan Raka mendengarnya dengan jelas. Ia berusaha menahan senyum di bibirnya agar tidak terlihat oleh Reva.
Reva mulai membuka kotak tersebut. Tampak sebuah kertas penutup merek sebuah fashion terkenal. Begitu kertas itu di buka, terlihat kain berwarna biru tua dan sebuah kalung indah berada di atasnya. Mata Reva membelalak saat ia mengambil kain itu dan ternyata sebuah dress indah.
Raka hanya tersenyum. Ia segera menutup layar laptopnya dan perhatiannya kini beralih pada gadis cantik di hadapannya. Tangan Raka terangkat, menyelipkan anak rambut yang menutupi rahang sang kekasih di telinganya.
“Malem ini, temenin aku yaaa.. Dan ingat, jangan dandan terlalu cantik, aku gag mau perhatian orang-orang tertuju sama kamu.” Ujar Raka seraya mencubit gemas pipi Reva. Ia selalu merasa tidak rela saat begitu banyak pasang mata yang menatap kekasihnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dan lebih tidak rela jika mahluk sejenisnya memikirkan sang kekasih dalam khayalannya.
“Okey mas… Aku siap-siap dulu.” Sahut Reva dengan semangat. Secara Resmi, ini kali pertama baginya Raka mengajaknya berkencan walau entah kemana Raka akan membawanya.
“Eiitt tunggu… “ Raka menarik tangan Reva agar kembali duduk. “Hadiahnya dulu…” lanjutnya seraya menunjukkan telunjuknya di pipi kanannya.
Reva hanya tersenyum gemas, “Mwaahh… Makasih sayang…” tukas Reva yang mendaratkan sebuah kecupan di pipi Raka membuat wajah tampan itu merona seketika. Hanya dalam hitungan detik saja, Reva sudah menghilang di balik pintu kamarnya.
****
Malam terasa hangat dengan lampu mobil yang saling bersahutan memberi tanda satu sama lain. Di tambah pijaran dari gedung- gedung yang menjulang dan rumah-rumah dengan lampu warna warni yang tampak indah menghiasi malam ini.
Reva begitu menikmati suasana malam ini. Duduk di samping sang kekasih yang sejak tadi tidak pernah melepaskan genggaman tangannya. Entah berapa kali Raka mengecupi tangan Reva dan sesekali menggesekkan dengan lembut pada pipinya yang di tumbuhi rambut tipis.
__ADS_1
“Mas, aku ngambil hp dulu bentar yaa…” Reva berusaha melepaskan genggaman tangan Raka. Telapak tangannya rasanya sudah basah karena keringat.
“Gag mau, pake tangan satunya aja yang…” Raka semakin mengeratkan genggamannya.
“Tapi mas…”
Bukan Raka namanya kalau akan mengalah begitu saja. Ia malah menatap Reva dengan tatapan sendunya dan tidak ingin melepaskan genggamannya.
“Hemmhh, manjaa…” senggol Reva yang merasa gemas sendiri. Ya Reva selalu luluh saat laki-laki tidak romantis ini menatapnya seperti saat ini. Dan Raka senang bukan kepalang saat bisa menang 1 point dari gadisnya.
Raka terus melajukan mobilnya menuju sebuah hotel bintang lima yang tampak tak asing bagi Reva. Tak asing bukan karena ia sering datang ke tempat ini melainkan karena tampilan hotel ini yang sering muncul di majalah-majalah bisnis dan sejenisnya.
Di lobby hotel tersebut, Reva dan Raka di sambut oleh seorang reseptionist yang mengangguk ramah saat melihat Raka dan Reva.
“Silakan tuan.” Ujar laki-laki dengan suara baritone.
Raka hanya membalasnya dengan lirikan, wajah dinginnya kembali terlihat, terlebih saat pandangan laki-laki tertuju pada Reva. Ia segera meraih tangan Reva dan melingkarkannya di lengan kirinya. Penampilan keduanya terlihat sangat serasi membuat beberapa pengunjung hotel menatap takjub melihat kedatangan pasangan kekasih ini.
Raka membawa Reva ke lantai 19 tempat acara dilangsungkan. Hingga saat ini Raka belum memberitahunya, acara apa yang akan mereka hadiri. Pikiran Reva mungkin adalah acara bisnis dan bertemu klien Raka di perusahaan.
Tiba di lantai 19, tampak sebuah ballroom yang masih terlihat sepi.
“Mas, kita gag salah tempat kan? Kok sepi banget ya?” Reva semakin mendekatkan diri pada Raka.
“Nggak lah sayang..” Raka hanya tersenyum melihat ekspresi penasaran kekasihnya.
Dalam beberapa langkah, pintu ballroom pun di buka. Reva bisa melihat ruangan yang di dekor dengan indah. Di hadapannya ada sebuah tulisan “Welcome home”. Reva tak bisa menahan rasa harunya saat beberapa orang yang dikenalnya ikut berdiri di hadapannya.
Adalah keluarga Adiyaksa dan Wijaya yang tengah tersenyum menyambut kedatangan Reva dan Raka. Reva menoleh laki-laki tampan di sampingnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Sama halnya dengan Reva, iapun merasa terharu.
“Selamat datang sayang, ini keluargamu, rumahmu…” tuturnya dengan lirih.
Tak bisa di tahan lagi, butiran bening itu meleleh di pipi Reva. Seumur hidupnya, ini adalah suasana paling mengharukan bagi Reva. Tidak hanya keluarga besarnya, bahkan Ratna dan adik-adiknya pun ada di tempat ini.
“Mas, ini…” Reva tidak kuasa melanjutkan kalimatnya. Raka paham benar yang di rasakan oleh Reva. Ia membawa Reva melangkah memasuki ballroom yang dilingkupi suasana hangat dan haru yang berbaur menjadi satu.
Melihat tatapan Nida , Niken dan Ratna, tiba-tiba saja Reva melepaskan tangan Raka. Ia berjalan dengan cepat bahkan setengah berlari. Ia datang ke pelukan 3 wanita yang kini ia panggil ibu. Tangis Reva pecah, betapa ia sangat bahagia, setelah drama panjang perjalanan hidupnya,sekarang ia bisa memeluk 3 ibu sekaligus.
Reva menatap ketiga wajah haru tersebut bergantian.
__ADS_1
“Ibu, mamih , mamah….” Ujarnya dengan suara bergetar. Ketiganya terangguk pelan. Senyuman ketiganya benar-benar membuat Reva merasa tenang. Mereka terlarut suasana haru.
****