
Dalam kehangatan malam yang melingkupi perasaannya, Raka membaringkan tubuhnya di ranjang dengan kedua paha Reva sebagai bantalnya. Tangannya mengusap perut Reva yang semakin membuncit. Enam bulan sudah usia kandungan Reva saat ini dan berbicara dengan sang jabang bayi selalu menjadi waktu yang paling menyenangkan bagi Raka.
“Hay sayang, anak ayah lagi apa di dalam?” tanya Raka dengan lembut. Ia mengecupi perut Reva dan sesekali sang bayi memberinya tendangan.
Raka akan sangat senang sekali saat bayi memberi respon karena seringnya ia tidak mendapat kesempatan untuk mendapat tendangan padahal Reva mengatakan sering merasakannya.
Reva tersenyum tipis, ia melipat majalah yang sedang di bacanya dan perhatiannya beralih pada sang ayah dengan jabang bayinya.
“Aku lagi ngemut jari ayah…” sahut Reva seraya terkekeh.
“Mau ayah tengokin gag sayang?” timpal Raka seraya melirik Reva dan mengangkat-angkat kedua alisnya bersamaan.
“Itu mah maunya kamu ayah…” Reva mencubit hidung bangir Raka dan membuatnya tergelak renyah.
Raka bangkit dari baringnya. “Bun, aku punya kejutan buat kamu.” Ujar Raka yang mulai terbiasa dengan panggilan barunya masing-masing.
“Apa?” Reva menatap Raka dengan penasaran.
Raka mengambil tas kerjanya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah ia susun dengan rapi.
“Ini..” Raka menunjukkan tumpukan kertas itu pada Reva.
“Ayah, ini?” Mata Reva membelalak melihat gambar-gambar indah yang ada di tangannya.
“Iya, sesuai janji aku, kita akan liburan ke Venice. Kebetulan usia kandungan kamu juga aman untuk bepergian dengan pesawat. Dan kalau kamu kelelahan, kita bisa mempertimbangkan untuk singgah di beberapa negara sekalian menikmati babymoon kita.” Terang Raka dengan antusias.
“Beneran mas?” Reva terperangah tidak percaya.
“Bener dong, mas ambil cuti 3 minggu khusus untuk kita jalan-jalan.” Timpal Raka seraya mencolek hidung mancung Reva.
__ADS_1
“Tapi kan beberapa lagi kak lea nikah…”
“Kita akan berangkat setelah acara pernikahan lea. Gimana?” tawar Raka
“Tentu aku mauuu…” seru Reva yang berhambur memeluk Raka. Tidak bisa dijelaskan sebahagia apa perasaannya saat ini.
Raka pun mengeratkan pelukannya, betapa ia sangat bahagia melihat Reva yang begitu senang.
"Kamu tau, aku merasa banyak keliru. Selama ini aku pikir cukup memiliki kamu di samping aku. Tanpa aku sadari, perasaan cukup itu membuat aku berhenti mengerti kamu lebih dalam." Mendengar ucapan Raka, Reva melepaskan rangkulannya. Ia menatap laki-laki yang kini tertunduk di hadapannya. Raka menyelipkan jarinya di sela jemari lentik Reva. "Aku selalu memastikan bahwa kelak di masa depan kamu dan anak-anak kita tidak kekurangan apapun. Tapi nyatanya itu tidak cukup." Kali ini Raka mengangkat wajahnya dan menatap sepasang manik coklat yang terlihat hangat menatapnya. Ia mengusap rambut Reva dan menciumnya dengan penuh perasaan.
"Kejadian kemarin mengingatkan aku, kalau aku masih belum dewasa dalam menghadapi masalah. Aku masih dengan sumbu pendekku yang bisa mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan bagi orang-orang yang ada di sisi ku dan akhirnya aku hanya bisa menyesal. Padahal pada titik terrendah pun kamu bersedia mendampingi aku. Saat ini aku merasa takut, kalau aku melakukan kesalahan saat mendidik dia." Raka menatap perut Reva dan menempatkan tangannya di atas tangan Reva. "Aku takut, kalau suatu saat aku gagal dan menyakitinya." Raka menggenapkan kalimatnya seraya menatap Reva sendu. Sedalam itu ketakutannya menghadapi masa depan. Bukan ia meragukan Reva, ia meragukan dirinya sendiri.
"Mas..." Reva menyentuh wajah Raka dengan lembut. "Kamu tidak sendirian. Dari kejadian kemaren, aku sadar, aku juga bikin banyak kesalahan. Aku berfikir jika ada yang tidak sepakat di antara kita, maka kita bisa menyelesaikan masalah kita dengan cara masing-masing. Aku melupakan, bahwa salah satu alasan kita menikah adalah karena kita bisa menghadapi segala sesuatu secara bersama-sama dan dengan kepala dingin. Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dan aku ingin menghadapi semuanya bersama kamu. Termasuk saat kita membesarkan anak-anak kita. Kata orang, tidak ada pasangan atau orang tua yang sempurna, tapi kita selalu punya alasan untuk melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang kita sayangi, hem...." ungkap Reva yang berusaha meyakinkan Raka.
Raka terangguk. Ia sadar, setiap orang bisa melakukan kesalahan tapi setiap orang pun bisa memperbaikinya. Dan untuk masa depan, tidak ada yang bisa ia ramalkan, ia hanya bisa berjanji bahwa untuk alasan apapun ia akan berusaha menjadi lebih baik.
Hening mengambil alih suasana. Hanya detikan jam yang menjadi pengisi sepi mereka. Raka menyentuh tengkuk Reva dan mendekatkan wajahnya. Ia menempatkan dahinya di kening Reva. Mata keduanya terpejam, mencoba meresapi setiap aliran darah yang membuat jantung mereka berdebar lebih cepat.
Reva tersenyum tipis. Setelah kembalinya ia bersama Raka, rasanya kalimat itu sudah menjadi kalimat wajib yang bisa ia dengar puluhan kali dalam sehari. Dan tentu saja, satu kalimat tersebut belum cukup mewakili perasaan keduanya.
Waktu, berhentilah sebentar. Biarkan mereka saling menyelami hati satu sama lain. Saling mengenal lebih dalam dan menyadari bahwa mereka akan selalu menjadi satu yang tidak pernah terpisahkan apapun.
****
Mata Raka rasanya sangat lelah melihat Ferry yang sejak tadi berjalan mondar-mandir seraya menghafal ijab qobul untuk pernikahannya lusa. Berkali-kali ia mengucapkannya seraya menahan nafas seperti yang sudah di ajarkan Raka pagi ini.
Raka tersenyum sendiri saat melihat sahabat yang akan menjadi kakak iparnya tampak gugup dengan wajah tegangnya.
“Woy! Duduk lo! Pusing gue liatnya.” Raka melempar Fery dengan kertas yang sudah ia gulung bulat-bulat.
__ADS_1
“Haish! Lo ngagetin aja!” protes Fery berdecak sebal. “Tadi gue ngomong sampe mana ya?” Ia menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak gatal.
Raka hanya terkekeh. Ketegangan yang dulu ia rasakan kini Fery pun merasakannya.
“Udah lo ulang lagi aja tapi sambil duduk. Biar tu kalimat gag berceceran dimana aja.” Cetus Raka yang membuat Fery berdecak sebal.
Fery membaringkan tubuhnya di sofa seraya mengecek handphonenya. “Ini lea kemana lagi, gue chat dari tadi, udah di baca tapi gag ada bales. Gue telpon gag di angkat. Bikin bingung aja.” Fery mengacak rambutnya frustasi.
“Kerasa kan lo apa yang gue rasain dulu. Makan tuh siksaan!” ledek Raka yang terkekeh di tempatnya.
Fery tak menanggapi, ia malah mengguncang-guncangkan handphonenya dan sesekali menyetel ulang jaringan ponselnya.
“Bokap lo kapan datang?” tanya Raka kemudian seraya beranjak duduk di hadapan Fery.
“Nanti malem. Gue jemput di bandara paling.” Terang Fery seraya bangkit untuk duduk.
“Setelah nikah lo gimana, mau tetep kerja di sini apa mau fokus ngurus anak cabang di bandung?” kali ini Raka bertanya dengan serius.
Fery segera bangun dan duduk dengan tegak, ia tampak berfikir dan menatap Raka dengan bingung.
“Kalo gue di bandung, gue LDR dong sama alea. Kalo gue di sini, gue juga udah pengen fokus ngurus perusahaan. Alea gag mungkin mau ikut gue ke bandung.” Fery menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa seraya menerawang memandangi langit-langit ruangan yang berwarna coklat.
“Lo udah ngobrolin ini sama alea belum?” Raka menyodorkan minuman soda dingin pada Fery.
“Belum. Tapi gue udah bisa nebak sih. Secara dia pasti harus ngurus perusahaan bokapnya kan?” terang Fery seraya menarik penutup kaleng soda dan mulai meneguk minumannya.
“Tapi gimana pun harus lo obrolin baik-baik, jangan jadi masalah kedepannya.” Saran Raka.
Fery terangguk paham. Semua hal harus dibicarakan sebelum menjadi masalah besar. Semakin banyak langkah yang berani ia ambil, tentu semakin banyak konsekuensi dan tanggung jawab yang berpindah ke pundaknya. Fery masih harus memikirkan banyak hal, tapi ia yakin bisa melewati semuanya.
__ADS_1
***