Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 26


__ADS_3

“Re, gue beli minum bentar ya, lo gag pa-pa kan sendiri?”


“Ya gag pa-pa kali, emang gue bocah! Lagian pengunjung udah gag terlalu rame.” Sahut Reva yang tengah memandangi pekerjaan yang di kerjakan Raka di laptopnya.


“Okey, bentar ya… “


Reva hanya mengangguk dan membiarkan Raka pergi.


Ia membaca setiap tulisan yang dibuat Raka. Reva mengernyitkan dahinya, ia tidak menyangka laporan Raka di tulis dengan bahasa yang sangat bagus dan menunjukkan kualitas pikirannya.


“Lah di bandingin tulisna gue kemaren, minder banget gue baca ini.” Cetus Reva merutuki dirinya sendiri.


“Permisi..”


Sebuah suara membuyarkan fokus Reva.


“Silakan, selamat datang di stan Adiyaksa Corp.” sahut Reva seraya berdiri menyambut pengunjung yang datang.


“Edho….” Tutur Reva saat melihat sosok tampan yang lama tidak dilihatnya.


Edho terlihat berbeda dengan stelan jas rapi dan rambut gondong yang di tata dengan apik. Jambang di kedua belah pipinya pun membuat Edho terlihat semakin keren.


“Hay Re, apa kabar?” sapa Edho yang terlihat terpesona melihat Reva dengan tampilan yang berbeda.


“Baik. Lo apa kabar dho?”


Reva menerima uluran tangan Edho. Cukup lama Edho menggenggam tangan Reva, suatu hal yang tidak pernah ia lakukan sekalipun ia memperkenalkan Reva sebagai kekasihnya pada orang lain. Reva berusaha melepaskan genggaman tangan Edho yang dirasa terlalu erat.


“Oh sory…” tutur Edho yang terlihat canggung. Reva hanya membalasnya dengan senyuman. “Lo kerja di Adiyaksa Corp Re?” lanjut Edho yang mulai memedarkan pandangannya pada maket yang berada di sekelilingnya.


“Gue masih magang, cuma kebetulan di tugasin buat jaga di sini.” Terang Reva yang mengikuti langkah kaki Edho. Edho hanya mengangguk tanda paham.


“Ini apa Re?” tunjuk Edho pada sebuah maket yang ada di hadapannya.


“Ohh.. Ini adalah maket Mall yang akan Adiyaksa Corp dirikan di pusat kota. Kami akan membangun mall dengan kualitas internasional karena kami telah berhasil bekerja sama dengan beberapa brand dunia khususnya dalam bidang fashion dan kuliner.” Terang Reva, persis yang pernah Raka sampaikan pada pengunjung sebelumnya. “Kami menawarkan kerjasama untuk proyek tersebut dan bisa diikuti melalui mekanisme kerja sama yang akan menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat.” Sambung Reva dengan yakin.


Edho tersenyum tipis mendengar penuturan yang di sampaikan Reva. Reva yang biasa bersamanya sangat jauh berbeda dengan Reva yang saat ini ada di hadapannya.


“Seperti apa bentuk kerjasama yang di tawarkan Adiyaksa Corp?” Edho semakin tertarik untuk mendengarkan penjelasan Reva yang menurutnya seperti simfoni lagu yang menggetarkan hatinya.

__ADS_1


“Kami ada proposal yang mungkin bisa anda pelajari. Jika anda berkenan untuk bekerjasama dengan kami, anda bisa menghubungi kontak yang kami cantumkan dalam proposal.” Lanjut Reva seraya menyerahkan proposal dengan kedua tanganya.


“Anda?” lirih Edho seraya menatap Reva. Panggilan yang sangat asing bagi Edho. Reva hanya tersenyum dan tidak berkomentar apapun. “Bisakah kita membicarakan kontrak ini di luar?” sambung Edho setengah berbisik di telinga Reva.


Tanpa Reva sadari, sepasang mata tengah menatapnya dengan tajam. Tangannya mengepal kuat dan rahangnya mengeras menahan kesal. Ya, dialah Raka.


Raka mengenal baik Edho. Seorang casanova yang bisa mendapatkan perempuan manapun yang ia inginkan.


“Mohon maaf, mengenai pembahasan proposal , akan saya jadwalkan dengan bagian terkait. Mohon untuk mengisi kontak anda di sini.” Reva menyodorkan sebuah buku pada Edho.


Edho hanya tersenyum dan mulai menuliskan nama dan nomor handphone serta jabatannya di salah satu perusahaan terkenal.


“Apa kita bisa bertemu secara pribadi di luar?”


Edho menghentikan gerakan tangannya dan beralih menatap Reva yang berdiri di hadapannya.


“Terima kasih atas kunjungan Anda. Utusan dari perusahaan kami akan menghubungi anda kemudian.” Jawab Reva seraya meraih buku dan pena dari tangan Edho.


Edho memperlihatkan seringai tipisnya. Ia benar-benar tidak menyangka Reva akan mengabaikannya.


“Nomor gue masih yang sama. Kali ini, gue gag akan maksa, tapi lain kali semoga lo bisa mempertimbangkannya dengan baik. Gue bakal nunggu.” Bisik Edho seraya berlalu meninggalkan Reva yang membungkukan tubuhnya saat Edho berlalu pergi dari hadapannya.


Sudut hatinya merasa tidak rela melihat tatapan Edho pada Reva yang penuh dengan hasrat. Entah apa ini namanya, perasaan yang kerap muncul saat Reva berbicara dengan lelaki manapun.


****


Sudah beberapa hari ini, Reva tidak lagi ditugaskan untuk menjaga pameran. Lenna memberinya tugas untuk di kerjakan di kantor.


Reva tampak sibuk dengan setumpuk tugas yang diberikan para senior di mejanya. Di lacinya , banyak sekali flasdisk berisi tugas yang kemudian masih berdatangan untuk ia kerjakan


“Re, ini lo copy rangkap 4 ya.”


“Re, ini file buat bu lenna rapat, siapin sebelum jam 11.”


“Re, jangan lupa lo bikin bahan presentasi buat rapat besok”


Kata-kata itulah yang terus berulang di dengar Reva dan Reva hanya bisa mengangguk menerima semua pekerjaan yang sekarang jadi tanggung jawabnya.


“Re, perlu bantuan?”

__ADS_1


Raka mengetuk-ngetuk partisi di depan Reva dengan penanya.


“Gag usah, gue bisa sendiri kok.” Sahut Reva dengan senyum tipis.


Raka hanya mengangguk dan kembali duduk di mejanya. Dari celah kaca partisinya, ia bisa melihat wajah serius Reva yang tengah menatap layar monitor dan berkas di hadapannya bergantian.


Berbeda dengan meja Reva yang terisi banyak berkas, meja Raka bersih tanpa tumpukan berkas apapun. Hanya sesekali seorang senior laki-laki tampak berbincang serius membahas pekerjaan yang katanya ia kirim lewat email.


“Re, buat lo.”


Segelas teh hangat disuguhkan Dimas di hadapan Reva. Reva menoleh sejenak pada laki-laki jangkung yang tengah berdiri di sampingnya.


“Makasih Dim…” sahut Reva yang kembali fokus dengan pekerjaannya.


Dimas hanya tersenyum dan memandangi Reva yang sesekali bergumam membaca beberapa kalimat.


Reva merasakan Dimas yang sedari terus memandanginya, ia merasa tidak leluasa melakukan pekerjaannya di bawah tatapan Dimas. Dimas memang bukan sedang meninjau pekerjaan Reva tapi keberadaannya membuat ruang geraknya terasa sempit.


“Kerjaan lo udah selesai?” tanya Reva tanpa melirik Dimas.


“Udah, tinggal nunggu makan siang.” Sahutnya tanpa beranjak.


Reva menghembuskan nafas kasar dan sontak mengundang perhatian Raka. Ia menatap Dimas dengan tak suka karena terus memperhatikan Reva.


“Gue masih ada pekerjaan, lo bisa duduk di tempat lo kan?”


Reva menutup berkas di tangannya dan menatap Dimas dengan serius.


“Ow okey, tapi kita makan siang bareng ya… Tita juga ikut bareng kita.” Sahut Dimas yang salah tingkah.


“Hem..”


Hanya itu jawaban Reva. Dengan wajah sumeringah, Dimas kembali ke mejanya. Reva kembali tenggelam dengan pekerjaannya. Sudut bibir Raka melengkungkan senyum, saat ia melihat Reva yang bisa menentukan sikap pada Dimas.


****


 


Hay haayy, jangan lupa like, komen dan votenya yaaa.. Juga tambahkan sebagai favorit.

__ADS_1


Terima kasih semuaaaa , love


__ADS_2