Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 142


__ADS_3

Raka sudah mandi untuk kedua kalinya, namun Reva masih dengan pakaian yang sama. Ia malah senyum-senyum dengan tangan membentuk huruf L yang tertuju pada bahu Raka.


"Ternyata bahu kamu emang sangat bidang, pantesan aku nyaman banget." Batin Reva yang kemudian terkekeh sendiri.


“Sayang, kamu mau bolos hari ini?” Raka membuyarkan lamunan Reva.


“Nggak, aku mau ngantor. Sekali-kali telat gag pa-pa kali ya, gag bakal di strap juga.” Ujar Reva seraya terkekeh.


“Kalo ada yang berani strap, nanti aku yang hadepin.” Timpal Raka yang di acungi dua jempol oleh Reva.


“Tapi, kalo aku bolos masak boleh?” tanya Reva dengan hati-hati.


Raka berjalan mendekati Reva dan membungkukan tubuhnya dengan kedua tangan kekarnya yang menjadi tumpuan. Kini kedua matanya sejajar dengan sepasang netra milik Reva.


“You’re free for today, young lady…” bisik Raka yang kemudian mengecup bibir merah muda tersebut.


“Yes!” seru Reva dengan semangat. “Kalo minta gendong?” tanya Reva seraya merentangkan tangannya.


“Dengan senang hati.” Sahut Raka seraya membopong tubuh Reva. Reva melingkarkan tangannya di leher Raka dengan pandangan yang tidak pernah terlepas dari Raka. Ia ratunya hari ini.


Raka mendudukan Reva di meja makannya. “Tunggu sebentar, aku bikin sarapan dulu ya…” Raka mencolek hidung Reva dengan gemas.


“Siap bos!” Reva melakukan hormat singkat. Raka hanya bisa terkekeh. Hari ini istrinya memang benar-benar ajaib.


Raka mulai membuat scrambled eggs dan menggoreng beberapa potong sosis, membuat roti bakar dan serta jus. Sementara Reva asyik menikmati apel di tangannya.


“Eemmm, wangi banget sih..” seru Reva saat Raka sudah menyajikan sarapannya.


“Aaaaa….” Raka meminta Reva membuka mulutnya dan menyuapkan sosis utuh. Saat potongan sosis itu hampir habis, dengan segera Raka mengambilnya dengan mulutnya. Mereka terkekeh bersamaan, romansa pagi ini memang terasa berbeda.


Selesai dengan sarapannya, Reva mulai bersiap. ia membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian kerjanya. Raka sudah menunggunya di ruang tamu sambil membaca koran pagi ini.


“Yuk!” ujar Reva saat sudah siap.


“Suit suit…” Raka bersiul saat melihat Reva yang terlihat sangat cantik seperti biasanya.


Reva hanya tersenyum. Ia segera melingkarkan tangannya di lengan Raka dan berjalan bersama keluar rumah.

__ADS_1


Dalam setengah jam Raka sudah sampai di kantor Reva. Seperti biasa ia akan merapikan dasi dan kemeja serta jas Raka. Di akhiri dengan kecupan di kedua belah pipi dan bibir Raka. Sesuatu yang tanpa mereka sadari sudah menjadi rutinitas.


Dan tanpa mereka sadari pula, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari dalam mobil. Adalah Theo yang kini melihat pemandangan itu dengan jantung berdenyut ngilu. Ia menghembuskan nafasnya kasar seraya menyandarkan kepalanya dengan tangan yang memijat lembut pangkal hidungnya. Entah untuk alasan apa, ia merasakan kekecewaan dan sakit di hatinya.


“Jalan!” titahnya pada Arya yang juga melihat pemandangan penuh kemesraan tersebut.


****


“De, makan siang yuk!” panggil Alea seraya mengetuk pintu ruangan Reva.


“Hem…” sahut Reva yang mengangkat kepalanya dengan lemas. Sejak tadi ia membenamkan wajahnya di atas kedua tangan, rasanya kepalanya sedikit pusing.


“Kenapa? Lo sakit?” Alea segera mendekat menghampiri Reva. Ia menyentuhkan punggung tangannya di dahi Reva, tidak teraba demam.


“Nggak, gue baik-baik aja kok.” Reva berusaha tersenyum untuk menghilangkan ekspresi khawatir Alea.


“Tapi perasaan lo mukanya agak pucet deh. Lo beneran gag pa-pa?” Alea duduk di hadapan Reva dan memperhatikannya dengan seksama.


“Gag pa-pa… gue baik-baik aja, beneran deh.” Reva mengangguk-angguk yakin.


“Ya udah kalo lo baik-baik aja. Tapi lo harus bilang kalo lo sakit. Apa raka kebanyakan ngerjain lo?” terka Alea yang membuat pipi Reva memerah seketika.


“Lo mikirin apa sih? Makan yuk!” Alea mengipas-ngipaskan tangannya di hadapan Reva.


“Hem, ayo!” seru Reva yang segera bangun. Ia tidak ingin semakin tenggelam dalam lamunannya.


Di tempat lain, Theo tengah berdiri di depan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari puncak tertinggi gedung perusahaannya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan pikiran melayang entah kemana.


“Permisi pak…” suara ketukan terdengar jelas di pintu ruangannya.


Theo menoleh sejenak dan tampak Arya yang sedang berjalan bersama sekertaris Billy. Di tangannya ia membawa setumpukan berkas.


“Ini berkas-berkas kerja sama kita dengan beberapa perusahaan pak.” Terang Arya sesaat setelah menaruh tumpukan berkas itu di atas meja Theo.


Ia memberi isyarat pada sekertaris tersebut untuk pergi, seperti ia tahu, Theo tidak suka ada perempuan berlama-lama di sekitarnya. Dengan segera sekertaris itu pun pergi.


Theo berjalan menuju kursi kekuasaannya. Ia membuka satu berkas kemudian kembali menutupnya.

__ADS_1


“Arya, bagaimana kabar istri dan anakmu?” tanya Theo tiba-tiba tanpa  mengalihkan pandangannya dari berkas..


Arya menatap tidak percaya, baru kali ini ia mendengar Theo menanyakan kabar keluarganya. Ia sangat tahu, Theo tidak peduli dengan semua masalah pribadi karyawannya termasuk Arya sekalipun.


“Apa mereka sehat?” lagi, kalimat Theo membuat Arya tertegun.


“Sehat pak, mereka baik-baik saja.” Jawab Arya dengan segera. Bukan saatnya bagi ia untuk tertegun hanya karena pertanyaan Theo.


“Apa menyenangkan menjadi seorang suami dan seorang ayah?” kali ini Theo menatap Arya dengan tajam. Arya menggaruk kepalanya walau tidak gatal, ia tidak tahu harus menjawab apa.


“Iya pak. Mereka menjadi alasan bagi saya untuk melakukan segala sesuatu dengan benar.” Terang Arya dengan penuh kehati-hatian. Hinga detik ini ia masih belum mengerti arah pembicaraan Theo.


Theo tampak berfikir seraya mengusap-usap dagunya. Ia tersenyum kecil tatkala memaknai perkataan Arya.


“Percepat proyek kita dengan adiyaksa. Saya mau semuanya cepat selesai.” Titah Theo yang membuat Arya mengangguk dengan segera.


Kembali, Theo masuk ke dalam imajinasi yang ia buat sendiri. Ia memutar kursinya membelakangi Arya. Ia memandangi kaca besar di hadapannya. Pantulan wajahnya terlihat jelas dengan senyum yang terkembang tanpa henti.


*****


Lagi, Reva melenguh di bawah kungkungan Raka. Matanya terpejam saat menikmati puncak kenikmatan yang ia raih bersama Raka. Raka tersenyum kecil, betapa ekspresi Reva seperti ini selalu membuatnya merasakan jatuh cinta berkali-kali.


Raka menjatuhkan tubuhnya di samping Reva. Ia mengecup kening Reva dengan lembut lalu memeluknya dengan erat. Matanya terpejam seraya menikmati sisa-sisa gairah yang sepertinya sulit turun. Mereka terbaring di bawah selimut yang sama tanpa sehelai benangpun.


“I'm head over heels for you.” Bisik Raka. Reva hanya tersenyum dan kembali membenamkan wajahnya di ketiak Raka. Sumpah, ia sangat menyukai wanginya. Gila bukan?


Sejenak mereka membiarkan gairahnya perlahan turun. Nafasnya mulai beraturan dan detak jantungnya mulai kembali pada sinus ryhtm.


“Sayang, lusa aku ada kerjaan di luar kota selama 3 hari. Kamu mau di rumah aja apa mau ke rumah mamih atau mamah?”


Bukannya menjawab Reva malah mengeratkan pelukannya. Rasanya ia tidak bisa membayangkan kalau harus sendirian selama 3 hari tanpa Raka. Selama pernikahan mereka, memang hanya hitungan jari Raka pergi keluar kota dan ia akan pulang secepat mungkin. Tapi saat ini, tidak hanya Reva yang berat membiarkan Raka  pergi, ia sendiripun rasanya ragu.


“Apa kamu mau ikut?” pertanyaan Raka kali ini membuat Reva menatapnya.


Tangan Reva terangkat seraya mengusap pipi Raka dengan lembut. Ia bahkan mengecup bibir Raka, sesuatu yang selalu ia sukai akhir-akhir ini. Bibirnya tersenyum dengan rona kemerahan di kedua pipinya. Perlahan ia mengggeleng.


“Pulang lah dengan cepat, aku pasti akan sangat merindukanmu.” Lirihnya dengan tatapan lekat pada Raka.

__ADS_1


“Tentu, bagaimana bisa aku lama-lama jauh dari kamu sayang.” Timpal Raka yang kembali mengeratkan pelukannya. Rasanya ia selalu ingin seperti ini. Bersama Reva tanpa ada jarak sedikitpun yang memisahkan keduanya.


*****


__ADS_2