
Rumah yang sama, wangi parfum ruangan yang sama dan kehangatan yang sama kini tengah di rasakan Reva dan Raka. Di malam selarut ini, mereka sama-sama membersihkan rumah yang sudah terlihat seperti kapal pecah.
Selama Reva pergi, Raka memang tidak pernah membiarkan siapapun masuk ke rumahnya kalau bukan orang terdekat. Berkali-kali Niken menawarkan diri untuk membereskan rumahnya atau menyuruh bi Lastri untuk membantu merapihkan rumah Raka tapi Raka tidak pernah mengizinkannya.
Ia tidak ingin siapapun menyentuh barang-barang miliknya dan Reva. Ia sangat menjunjung tinggi privasinya. Dan ia selalu ingat, Reva tidak ingin ada seorang pembantu pun membantunya mengurus rumah selama ia masih mampu melakukan semuanya sendirian. Dan nyatanya, kesemerawutan ini menjadi hal indah yang bisa mereka nikmati bersama.
Reva menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang keluarga. Ini adalah ruangan terakhir yang baru selesai mereka rapikan. Walaupun melelahkan tapi sangat menyenangkan. Ia tersenyum memandangi sosok laki-laki yang masih memakai celemek yang tengah membereskan majalah dan menyusunnya di bawah rak tv. Sangat imut pikirnya.
Sepertinya Raka sadar, melihat Reva yang memandanginya seraya tersenyum, Raka segera melepaskan celemaknya dan menyampirkannya di atas sofa di sudut lain. Ia berjalan mendekati Reva dengan segelas air di tangannya.
“Cape ya sayang.” Ujar Raka seraya duduk di samping Reva.
Reva hanya terangguk dan meraih gelas air yang disodorkan Raka. Ia meneguknya hingga tandas dan dahaganya pun seketika hilang.
“Seru ya mas..” ujarnya seraya melingkarkan tangannya di tubuh atletis Raka. Ia menyandar dengan nyaman di dada bidang Raka dan menyesap kuat-kuat wangi tubuh Raka yang sangat dirindukannya.
“Iya sayang, ngelakuin apapun sama kamu selalu seru.” Ujar Raka seraya mengusap pucuk kepala Reva dan mengecupnya.
Reva hanya terangguk manja. Ia mengembunyikan wajahnya di dada Raka.
“Sayang, aku kan belum mandi, bau acem loh…” Raka mengingatkan. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Reva.
“Aku kangen wangi kamu mas.” Lirihnya yang membuat Raka merasa Reva seperti tengah menggodanya. Padahal entah ia memang menyukainya atau karena dorongan dari sang jabang bayi. Banyak hal baru tentang Raka yang sangat ia sukai termasuk menghirup aroma tubuhnya.
“Gimana kalo kita mandi supaya aku lebih wangi.” Tanya Raka yang membuat Reva menatapnya lekat.
Raka bisa melihat kembali manik coklat yang kini menatapnya dengan damai dan seolah membuatnya kembali tenggelam.
“Aku rindu kamu re…” lirihnya seraya mendekatkan wajahnya pada Reva. Reva tersenyum tipis, tak lama tangannya terangkat dan menempatkan telunjuknya di bibir Raka.
“Kita mandi dulu okey.” Cetus Reva yang membuat ekspresi wajah Raka berubah seketika. Raka terkekeh geli, Reva memang juaranya merusak suasana romantis tiba-tiba.
Tanpa menunggu lama, Raka segera bangkit dari duduknya. Dengan kedua tangan kekarnya, Ia menggendong Reva dengan bridal style-nya menuju kamar. Sesekali ia mengecup bibir Reva dan Reva membalasnya seraya mengacak rambut Raka. Bahkan Reva terkekeh geli saat yang di serang Raka saat ini adalah ceruk lehernya. Sesuatu yang manis yang sangat mereka rindukan akhir-akhir ini. Setelah ini mereka sendiri sudah tahu, akan berakhir di mana keduanya.
****
__ADS_1
Pagi ini romansa di rumah pasangan muda ini kembali terasa. Reva yang telah bangun lebih awal, menyiapkan segala kebutuhan Raka. Bibirnya bersenandung lirih. Ia begitu bahagia bisa kembali ke rutinitasnya sebagai seorang istri.
Raka sudah turun dari kamarnya, ia menghampiri Reva yang tampak berjibaku dengan pekerjaan menyiapkan sarapannya. Raka tersenyum tipis, ia masih merasa bahwa semua yang dilihatnya adalah mimpi.
Raka mendekati Reva kemudian memeluknya dari belakang dengan erat.
“Istri aku sibuk banget sih…” lirihnya seraya mengecup punggung Reva kuat-kuat.
“Hahaha iyaa.,,, bentar lagi sarapannya selesai.” Cetusnya yang kemudian menggeliat karena Raka mulai mengerjainnya dengan menyentuh bagian-bagian tubuhnya seraya menecupi leher Reva, memberi tanda kepemilikannya.
Raka mematikan kompor yang masih menyala, ia membalik tubuh Reva, rasanya melihat Reva gairahnya selalu saja bangkit. Ia menangkup wajah Reva kemudian mengecup bibirnya dengan lembut. Manis dan menggairahkan. Reva membalas pagutan Raka dan begitu menikmati ritme jantungnya yang berdetak tak beraturan. Kedua tangannya melingkar di leher Raka dan Raka meraih tengkuk Reva untuk semakin memperdalam pagutannya. Keduanya terbuai dalam alunan detakan jantung yang seolah menjadi satu.
“Morning kiss.” Lirih Raka sesaat setelah melepas pagutannya karena nafasnya nyaris habis.
Ia menempatkan dahinya di dahi Reva, kemudian tersenyum seraya menunggu gairahnya yang menggebu untuk turun.
“Kamu belum pake dasi mas.” Bisik Reva seraya mengusap dada bidang Raka.
“Hem, sengaja. Biar kamu yang pakein.” Godanya dengan tawa renyah.
Reva mengambil dasi yang tersampir di atas jas Raka. Ia memasangkannya dengan telaten. Raka selalu menyukai bagian ini, saat ia bisa melihat sajah Reva dengan sangat dekat dan berubah ekspresi begitu cepat. Raka melingkarkan tangannya di pinggang Reva. Kakinya melangkah ke kiri dan kanan bergantian, persis seperti mengajak Reva berdansa. Reva hanya terkekeh melihat tingkah konyol suaminya.
“Apa kamu baik-baik aja sayang?”
Reva terangguk. “Aku mau kerja dari rumah aja. Lagian aku kangen tinggal di rumah.” Terang Reva yang memang ingin menikmati waktunya di rumah. Lagi pula, ada yang harus ia siapkan untuk malam ini.
“Okey, aku usahakan pulang dengan cepat.” Sahut Raka seraya mengecup dahi Reva.
Mereka mulai menikmati sarapannya. Setelah sekian lama, rasanya ini sarapan paling enak bagi Raka. Reva pun mengantar Raka sampai ke mulut pintu. Ia mengecup tangan Raka dan iringan do’a terucap dari lubuk hatinya yang paling dalam untuk mengiringi langkah kaki suaminya.
Raka melambaikan tangannya pada Reva sesaat sebelum ia melajukan kendaraannya membelah jalanan ramai ibu kota.
Reva menyandarkan tubuhnya di pintu, pandangannya masih tertuju pada sedan hitam yang perlahan mulai menjauh. Hati Reva berdesir. Betapa ia sangat bahagia bisa kembali ke rumah dengan sang tuan rumah yang sangat ia rindukan.
***
__ADS_1
Meski memutuskan untuk berada di rumah rasanya Reva benar-benar tidak bisa benar-benar berdiam di rumah. Ia pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan karena kulkasnya sudah sangat kosong. Semua kebutuhan rumah tangga ia lengkapi agar dalam 1 bulan kedepan ia tidak kebingungan mencari barang-barang yang telah habis.
Selesai menata rumah dan kebutuhannya, Reva teringat pada sosok Wira dan Niken. Dengan sebuah taksi online, Reva bergegas menemui 2 orang yang begitu ia rindukan. Satu jam pun berlalu dan kini Reva sudah berada di rumah Wira.
“Pah, papah mau rere bikinin makanan apa?” tawar Reva saat melihat Wira yang tengah duduk menyandar di head board tempat tidurnya. Kondisi Wira belum pulih seluruhnya, ia masih harus istirahat total.
“Gag usah sayang, cukup temani papah di sini.” Ujar Wira seraya mengusap kepala Reva dengan penuh kasih.
“Iya, rere pasti nemenin papah.” Reva memijat kaki Wira dengan lembut. Wira tersenyum memandangi wajah di hadapannya.
“Gimana kabar papih dan mamih kamu, papah udah lama gag ketemu.”
“Papih sama mamih sehat pah… jadi papah juga harus cepet sembuh. Maaf karena rere udah bikin papah sakit kayak gini.” Ungkap Reva dengan sesal mendalam.
“Sayang, papah emang udah tua. Tapi papah yakin, setelah ini papah pasti akan kembali sehat, hem….” Wira berusaha meyakinkan Reva. Reva hanya terangguk.
Melihat Reva berada di hadapannya, hati Wira merasa lebih tenang. Ia mulai memejamkan matanya, menikmati pijatan lembut dari tangan Reva di kedua kakinya. Semakin lama, ia mulai terlelap dengan wajah damainya.
Niken yang sejak tadi melihat Reva begitu telaten menjaga Wira, tersenyum simpul kala melihat Wira yang kini sudah mulai terlelap. Ia menghampiri Reva dan berbicara dengan pelan.
“Sayang, kita ke bawah yuk…” ajak Niken.
Reva segera mengiyakan ajakan Niken. Mereka bersamaan menuju ruangan favorit Niken dan Reva, ya ruang musik milik Niken.
“Sayang, mamah udah bikinin makanan. Katanya ini bagus buat meningkatkan kesuburan.” Ujar Niken dengan semangat.
Benar, hingga saat ini Reva masih belum mengatakan pada siapapun perihal kehamilannya. Rencananya malam ini ia akan memberi kejutan pada Raka, setelah itu barulah ia memberitahu keluarganya.
“Oh ya, rere cobain ya mah…” dengan segera Reva menyantap makanan buatan Niken. Ia mengunyahnya perlahan, mengenali rasa dari makanan di mulutnya dan menelannya dengan nikmat.
Niken tampak begitu senang, tiada hentinya ia memandangi Reva yang hampir menghabiskan makanan yang di buatnya.
Belakangan ini, Reva memang sangat menyukai makan. Ia ingin memastikan bahwa anak dalam kandungannya tidak kekurangan nutrisi. Kalaupun ia merasa mual di pagi hari, ia akan segera menyantap makanan manis yang selalu ia siapkan di dekat tempat tidurnya.
****
__ADS_1
Part ini dapet gag sih feelnya? Maaf ya kalo kurang ngena. semoga kalin tetep suka.
Happy reading, love