Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 23


__ADS_3

Suasana kantor sudah mulai sepi karena mereka tiba setelah jam kerja selesai. Reva langsung menuju meja kerjanya dan mulai mengerjakan tugas untuk di laporkan pada atasan barunya.


“Re, ini data pengunjung yang tadi apply buat pembelian dan kredit rumah.”


Raka menyerahkan beberapa lembar kertas pada Reva yang duduk di hadapannya dan hanya terhalang partisi kaca.


“Okey, Thanks…”


Reva mulai mencatat data pengunjung dan menyalin semua yang di tulis Raka. Dahinya tampak berkerut saat ada beberapa hal yang tidak ia mengerti.


“Raka, sini bentar deh…” Reva mengetuk dinding kaca yang ada di hadapannya. Raka segera beranjak dan berdiri di samping Reva.


“Kenapa?” Raka menatap serius layar persegi di hadapannya.


“Pengunjung yang ini, di follow up apa nggak?” tunjuk Reva pada berkas yang menurutnya terlihat janggal.


Raka memperhatikan dengan seksama berkas yang ada di tangan Reva. Matanya tampak fokus menatap kertas dan layar bergantian. Reva bisa melihat wajah Raka dengan jarak yang sangat dekat dan entah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat.


Ia mengusap dadanya gusar dan menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


“Kenapa? Lo sakit?” tanya Raka yang mulai fokus pada Reva yang terlihat gelisah.


Pandangan keduanya bertemu membuat aliran darah terasa lebih cepat. Sorot mata teduh itu, selalu membuat Raka merasa gusar dan tidak asing. Sementara sorot tajam mata Raka, membuat tubuh Reva terasa gemetar.


Reva segera memalingkan wajahnya yang menatap layar di hadapannya.


“Gue baik-baik aja.” Tuturnya tanpa berani menatap Raka.


“Emm.. okey, yang ini biar gue yang ngerjain.”


Raka meraih keyboard yang ada di hadapan Reva. Tangannya dengan lincah mengetik beberapa kalimat.


“Lo gag duduk?” Reva segera beranjak, ia merasa perlu menghirup udara segar.


Tiba-tiba Raka meraih tangannya. “Lo duduk aja, bentar lagi selesai.” Sahut Raka tanpa menatap Reva.


Reva hanya menurut dan kembali duduk di samping Raka.


Tidak sampai 5 menit, Raka telah menyelesaikan pekerjaannya. Mata Reva membelalak sempurna melihat hasil pekerjaan Raka.


“Waah… lulusan luar negri emang keren…” decak Reva sambil menscroll layar di hadapannya. Raka hanya tersenyum lalu merentangkan tangannya yang terasa begitu pegal.


“Tinggal lo kirim ke email Bu Lenna.” Sahut Raka sambil memukul-mukul bahunya yang terasa kaku.


“Okey!” Reva mengetik beberapa pesan di email-nya dan mengirimnya pada Lenna. Bibirnya tersenyum lebar saat ia berhasil menyelesaikan tugasnya.


“Selesaaaiiii…” seru Reva seraya mengangkat kedua tangannya ke udara.


Raka memutar kursi Reva hingga menghadapnya. Kedua tangannya bertumpu pada pegangan kursi Reva. Ia menatap Reva dengan jarak yang cukup dekat.


“Sebelum pulang, temenin gue ke suatu tempat ya… sekalian makan malem.” Pinta Raka dengan tatapan seriusnya.


Reva segera memalingkan wajahnya agar tidak menatap Raka yang hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya.

__ADS_1


“Gue masih ada tugas 1 lagi.” Kilahnya.


“Apa?”


“Bikin akun medsos.” Sahut Reva sambil mengotak-atik handphonenya.


“Buat apa?”


Raka ikut menatap layar persegi di tangan Reva.


“Gue rasa, kalo kita upload kegiatan kita di medsos kayak abg-abg tadi, itu bisa ngebantu promosi kita.” Tutur reva dengan senyum penuh semangat.


Mulut Raka membulat mengucap “O” tanpa suara.


“Akun media sosial lo beneran mau lo pake buat kerjaan? Nanti privasi lo keganggu loh Re.”


“Ya kalo udah gag kerja di sini, tinggal gue non aktifin. Toh gue juga gag berniat ngumbar kehidupan pribadi gue di medsos.” Terang Reva dengan santai.


Raka hanya teranggguk, sementara Reva kembali mengotak-atik akun media sosial yang dibuatnya. Raka dengan seksama memperhatikan di belakang Reva.


“Passwordnya harus kombinasi huruf sama angka, biar gag gampang di hack orang.” Saran Raka tanpa mengalihkan pandangannya dari layar persegi di tangan Reva.


“Hemm…” sahut Reva yang mulai mengetikkan nama beserta kombinasi angka di password akun media sosialnya.


“Itu angka apa?” Raka merasa familiar dengan angka yang diketik Reva.


“Tanggal lahir gue. Jangan lupa nanti lo beli kado ya!” sahut Reva seraya terkekeh.


Raka terdiam sejenak. Ia benar-benar mengenal angka yang di ketik Reva.


****


Jalanan ibu kota masih di terpa kemacetan saat mobil Raka membelah jalanan di malam itu. Ia tampak menghubungi seseorang lewat telpon saat mobilnya terhenti karena lampu merah.


Tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Untuk mengusir kesunyian, Raka menyalakan musik box di mobilnya.


“Lo mau dengerin raditya dika?” tawar Raka sambil memijit beberapa tombol di music box nya.


“Lo punya?” Perhatian Reva teralih pada tangan Raka yang tengah memilih judul lawakan yang akan mereka dengarkan.


“Ada beberapa yang udah gue download.”  Sahut Raka seraya menatap Reva. Reva tersenyum dengan riang. Tidak ia sangka ternyata Raka pun mulai menyukai apa yang ia sukai.


Suara raditya dika mulai mengisi rongga telinga Raka dan Reva. Sesekali mereka tertawa saat cerita yang didengarnya terasa konyol. Perjalanan menembus kemacetan pun benar-benar tidak di rasakan keduanya.


Raka menepikan mobilnya di parkiran sebuah apartemen mewah yang berada di kawasan elit. Mobil Raka bersanding dengan jejeran mobil mewah lainnya. Ia segera turun dan membukakan pintu untuk Reva.


“Ini apartemen siapa?” tanya Reva setibanya di depan pintu apartemen di lantai 18. Raka hanya tersenyum. Ia menekan passcode apartemennya dan pintupun terbuka.


“Masuklah…” Tutur Raka yang berjalan di depan Reva.


Raka menekan salah satu saklar dan lampu ruangapun menyala dengan terang. Kondisi apartemennya memang sangat mewah dan begitu rapi. Mata Reva melihat sekeliling apartemen yang membuatnya yakin harganya pasti tidaklah murah.


"Lo tinggal di sini?” tanya Reva yang masih di buat terkagum-kagum.

__ADS_1


“Ya sesekali aja, kalo lagi pengen menyendiri.” Sahut Raka yang datang dengan segelas air di tangannya. Ia memberikannya pada Reva dan dengan segera Reva menerimanya.


“Thanks.” Ujarnya. “Emang di rumah lo rame banget sampe harus menyendiri di apartemen gini?” lanjut Reva yang duduk di salah satu sofa berwarna krem.


“Gue cuma tinggal bertiga sama ortu dan beberapa orang yang biasa bantu di rumah. Cuma kadang gue butuh privasi aja atau butuh nikmatin waktu gue sendiri. Lo berapa bersaudara Re?” tanya Raka yang mulai meneguk segelas air di tanganya.


“Di rumah, gue ada ibu dan 14 adik.” Jawab Reva dengan santai.


“Uhuukk! 14?” Raka membulatkan matanya tidak percaya.


Reva hanya mengangguk dan tersenyum. “Gue di besarkan di sebuah panti asuhan. Sampe saat ini, ada 14 anak yang udah gue anggap adik sendiri. Ya walau beberapa di antara mereka ada yang udah di adopsi orang.” Terang Reva sambil mengenang keluarganya di panti.


Raka menatap Reva dengan penuh tanya dan Reva hanya memberinya senyuman tipis. “Sejak gue kuliah, gue tinggal jauh dari mereka. Berbeda dengan lo yang kadang pengen menyendiri, gue selalu ngerasa pengen kumpul sama mereka. Bercerita, tertawa, makan bersama dan tidur dalam satu tempat tidur yang sama.” Tutur Reva seraya menatap pantulan wajahnya di air dalam gelas yang masih ia tangkup dengan kedua tangannya.


“Gue yakin, mereka juga kangen sama lo, sama kayak lo kangen sama mereka.” Ucap Raka dengan penuh kesungguhan.


Reva hanya mengangguk-angguk, mengiyakan ucapan Raka.


Suasana kembali hening, masing-masing diam dalam pikiran yang berputar di kepalanya. Suara bell menjadi pemecah kesunyian diantara keduanya.


Raka segera beranjak dan membukakan pintu.


Makanan yang dipesannya sudah tiba, ia segera mengajak Reva untuk makan malam.


Suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi musik yang mengiringi keduanya menikmati makan malam. Ada banyak hal yang ingin Raka tanyakan pada Reva tapi selalu saja bibirnya terasa kelu. Dan Reva, masih dengan makanannya yang hampir habis.


Selesai dengan makan malamnya, Reva segera membawa piring dan gelas kotornya ke tempat cuci piring.


“Gag usah re, besok juga ada yang bersihin.” Raka menahan tangan Reva.


“Ya kali gue yang makan, orang lain yang beresin.” Cetus Reva seraya tersenyum tipis.


Raka benar-benar tidak bisa melarangnya. Reva mulai mengikat rambutnya tinggi-tinggi dan memakai celemek yang tergantung tidak jauh dari tempatnya. Raka memperhatikan Reva dari belakang , dalam hatinya ia berharap kelak akan melihat Reva setiap saat di sana dan di sampingnya.


Raka mengusap wajahnya kasar, ia merasa khayalannya terlalu jauh. Ia menghampiri Reva yang masih dengan pekerjaan rumahnya.


“Gue bantuin…” ujar Raka seraya menggulung lengan kemejanya.


“Gag usah, bentar lagi juga selesai.” Sahut Reva.


Tiba-tiba saja Raka menyentuh pipi Reva dengan lembut dengan cepat Reva menarik tangan Raka dan memelintirnya.


“Awww, ampun re, ampun…” ujar Raka yang kesakitan.


“Lo ngagetin gue, emang kenapa lo pegang-pegang muka gue segala?” tanya Reva yang merasa jantungnya berdetak tak menentu. Ia memang sedang melamun, dan sentuhan Raka yang tiba-tiba membuatnya bergerak defensive.


“Sorry bukan apa-apa, itu ada busa sabun di muka lo.” Terang Raka yang masih meringis kesakitan.


Reva melepaskan cengkramannya dari tangan Raka, lalu menyentuh wajahnya dengan segera. Benar saja, ada busa sabun di sana. Ia mendengus kesal pada dirinya sendiri


“Sory, gue refleks. Harusnya lo bilang aja, jangan bikin gue kaget.” Terlihat raut merasa bersalah di wajah Reva.


“Gue tau, lo masih belum percaya sama gue. Tapi gue gag akan pernah ngelakuin hal yang gag senonoh sama lo, karena gue menghormati lo Re…” tutur Raka sambil memegangi pergelangan tangannya yang terasa ngilu.

__ADS_1


Reva hanya terdiam, ia tak berani menatap Raka. Entah mengapa perasaannya sangat tidak menentu.


****


__ADS_2