
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi Raka masih belum juga pulang. Reva sudah menunggunya di meja makan. Beragam hidangan istimewa ia siapkan dengan di temani lilin yang menyala di tengah. Ia memakai gaun cantik yang ia beli tadi siang, semua sudah ia siapkan sesempurna mungkin tanpa ada kurang satu pun untuk memberi Raka kejutan. Ia tersenyum sendiri tatkala membayangkan seperti apa ekpsresi Raka saat ia menunjukkan hasil USG di tangannya. Ia mengusap perutnya yang masih rata seraya bersenandung lirih.
Hari semakin malam tapi tanda-tanda Raka pulang masih juga belum terlihat. Reva berjalan keluar rumahnya, namun jalanan kompleks sudah sangat sepi.. Reva duduk sendirian di depan rumahnya. Ia meraih handphonenya dan kembali mencoba menghubungi Raka yang sejak tadi tidak menjawab panggilannya.
“Iya re…” jawab Raka dengan suara berat.
“Mas,, mas masih kerja ya… ini udah malem loh…” ujar Reva dengan penuh kecemasan.
Terdengar hembusan nafas kasar dari mulut Raka, membuat perasaan Reva mulai tak tenang.
“Sayang maaf, kayaknya malam ini mas gag pulang. Ada masalah di perusahaan.” Tutur Raka dengan suara bergetar.
“Masalah? Masalah apa mas?”
“Mas gag bisa cerita sekarang, tapi mas pasti akan cerita setelah mas pulang.” Terang Raka yang membuat perasaan Reva semakin tak karuan.
“Tapi mas udah makan kan?”
“Fery lagi beli makan sayang, kamu tenang aja, mas baik-baik aja di sini. Kamu jangan lupa kunci pintu dan jangan tidur terlalu malam.” Pesan Raka yang sepertinya memang sedang tidak baik-baik saja.
“Iya mas… tetap sempatkan istirahat yaa… Love you” tukas Reva yang kemudian mengakhiri panggilannya.
Panggilan telah terputus namun Reva masih memandangi benda persegi di tangannya. Ada foto Raka bersama dirinya, Reva memandanginya dengan lekat.
"Kamu ada apa mas?" lirihnya, berat. Reva membenamkan benda persegi tersebut di dadanya seraya memejamkan mata, ingatannya masih terus tertaut pada Raka.
Hembusan angin yang dingin mulai menyadarkan Reva. Ia segera masuk ke rumah dan mengunci pintunya rapat-rapat seperti pesan Raka. Tak berselang lama, benda pipih itu kembali berdering. Nama Alea terpampang di sana.
“Iya kak…” Jawab Reva segera.
“Re, papih re… papih…” seru Alea dengan suara bergetar.
“Papih kenapa kak? Ada apa?” sahut Reva dengan cepat.
“Papih pingsan re, dan sekarang aku sama mamih dalam perjalanan ke rumah sakit.”
“DUB!!!!” rasanya ada gada besar yang menghantam dada Reva. Reva terhuyung, ia berpegangan pada pinggiran sofa. Kakinya terasa lemas dengan tulang belulang yang seketika melentur. Reva jatuh terduduk. Entah apa yang terjadi saat ini, semuanya begitu bersamaan.
“Gue nyusul sekarang kak.” Lirihnya, parau.
__ADS_1
Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, Reva berusaha menguatkan dirinya dan mengembalikan seluruh kesadarannya. Ia segera berlari menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan memesan sebuah taksi online. Dengan perasaan tak menentu ia meminta sang supir untuk menambah kecepatannya. Ia tidak ingin terlambat, ia tidak ingin menyesal, ia ingin berada di samping Indra.
****
“BAK!!!”
“Laporan macam apa ini!” teriak Raka pada Anwar yang sudah terlihat pucat karena seharian mendapat kemarahan dari Raka.
Anwar hanya tertunduk, ia bahkan tidak berani menjawab pertanyaan Raka.
Baru tadi siang, Raka mendapat laporan bahwa pihak GN corp ingin menunda kelanjutan proyek yang sedang mereka bangun. Hal ini tentu saja akan sangat merugikan perusahaan Raka karena itu berarti Raka harus membayar sendiri biaya pembangunan yang tentu saja tidak sedikit. Beberapa investor pun menarik kembali investasinya karena alasan yang tidak bisa mereka mengerti.
“Hubungi billy, minta penjelasan dia soal pemberhentian sementara ini. Dia melanggar kontrak dan kita bisa mengajukan keberatan.” Titah Raka dengan cepat.
“Maaf pak, saya sudah mencoba menghubungi pak billy, tapi beliau tidak menjawab panggilan saya. Saat saya ke kantornya pun, beliau tidak ada di tempat.” Terang Anwar yang benar-benar kebingungan.
“Shit!!!” dengus Raka.
Baru kali ini ia merasa dipermainkan. Raka beranjak dari kursi kerjanya, ia melepas jasnya dan melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Ia berdiri memandangi lampu-lampu jalanan yang tampak berkerlipan saling menyapa. Raka memijat pelipisnya yang terasa pening. Hanya hembusan nafas kasar yang bisa mewakili kegundahannya.
“Pak, maaf.. serikat pekerja kita sudah tau permasalahan ini. Saya juga tidak tau mereka mendapat kabar ini dari mana. Tapi sejak tadi sore, mereka mulai meneror kita, mereka sudah berfikir kalau kita mungkin akan melakukan perampingan pegawai. Saya harus menjawab apa pak?” tanya Anwar yang bertanya dengan segenap keberaniannya.
Ini yang paling Raka takutkan ketika proyeknya tidak berjalan dengan baik. Ada banyak hal yang mungkin harus ia korbankan, termasuk kondisi pegawainya.
“Pulanglah, istirahat. Saya akan memikirkannya.” Ucap Raka lirih.
Anwar hanya mengangguk kemudian undur diri.
Raka sadar, hari ini ia sudah membuat karyawan yang begitu loyal pada perusahaannya kocar-kacir. Ia tidak ingin kehilangan orang-orang seperti Anwar karena keadaan ini sebenarnya bukan tanggung jawab mereka. Mereka bekerja dengan integritas tinggi untuk perusahaannya dan itu sudah lebih dari cukup.
****
“Papih…. Lea, papih….” pekik Nida yang berada di pelukan Alea.
Alea hanya bisa terdiam seraya mengusap punggung Nida yang menangis sesegukan. Bersamaan dengan itu, lelehan air mata pun menetes begitu saja di pipi Alea.
Reva berlari dengan cepat, menghampiri Alea dan Nida yang tengah berangkulan saling menguatkan.
“Mih…” ujar Reva dengan suara bergetar.
__ADS_1
“Re, papih re…” kali ini Nida berhambur memeluk Reva. Reva menatap Alea namun Alea hanya menggelengkan kepalanya.
“Kita harus percaya, papih itu kuat. Papih pasti akan baik-baik aja mih…” Reva berusaha menenangkan, bukan pada Nida tapi lebih pada dirinya sendiri. Nida hanya terangguk, namun tak lantas menghentikan tangisnya.
Reva membawa Nida untuk duduk di salah satu bangku ruang tunggu dan Alea ikut duduk di sampingnya.
“Dimana papih kak?” tanya Reva, lirih.
“Papih masih di tangani sama dokter. Tadi papih tiba-tiba pingsan di ruang kerjanya. Aku juga gag tau kenapa.” Alea menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia kembali menangis sesegukan.
Reva hanya bisa menghela nafas berat, seraya mengusap bahu Alea dan memeluk Nida.
“Keluarga bapak indra wijaya.” Panggil seorang perawat.
“Saya!” sahut Reva dengan segera.
Perawat tersebut mempersilakan Reva masuk.
“Kak, lo jaga mamih ya… biar gue yang temuin dokter.” Tutur Reva sebelum berlalu pergi. Alea hanya terangguk, ia mendekati Nida dan kembali memeluknya.
“Nona reva, mohon maaf kami harus menyampaikan kondisi yang kurang menyenangkan." ujar Dokter Aiman membuat Reva termenung dengan beragam pikiran yang mulai mengisi rongga kepalanya. Ia berusaha menguatkan dirinya sendiri untuk menerima kondisi apapun yang Indra alami saat ini.
"Silakan dok," sahut Reva.
"Ayah anda mengalami perdarahan di otaknya. Kami harus segera melakukan tindakan operatif untuk mengambil gumpalan darah dan mencegah perdarahan semakin memburuk. Kesadaran pasien bisa jatuh ke dalam kondisi koma, maka dari itu, semua harus di lakukan tindakan sesegera mungkin. Tapi tentu saja, setiap tindakan memiliki resikonya termasuk kemungkinan kita kehilangan beliau di meja operasi.” Terang dokter Aiman.
“Deg!’
Jantung Reva rasanya berhenti berdetak. Reva menyandarkan tubuhnya dengan lemas ke sandaran kursi. Kekuatannya nyaris habis bahkan hanya untuk sekedar menangis. Nafasnya terlihat berat. Di hadapannya ada selembar surat persetujuan yang menunggu untuk Reva tanda tangani. Rasanya semua tulisan berkerumun menjadi mozaik yang sangat sulit untuk ia mengerti. Ia buntu, ia tidak bisa berfikir apapun. Yang ia tahu, ia hanya ingin Indra selamat dan baik-baik saja.
“Silakan di tanda tangani jika anda bersedia untuk dilakukannnya tindakan operatif pada pak Indra.” Lagi, suara dokter Aiman terasa membuat telinga Reva berdengung. Untuk beberapa saat ia menatap wajah dokter Aiman dengan penuh kebingungan. Dokter Aiman dengan wajah tenangnya hanya terangguk.
Tangan Reva mulai terangkat. Ia meraih pena yang ada di hadapannya. Reva memejamkan matanya sejenak untuk mengumpulkan keyakinannya. Dan beberapa saat kemudian, tangannya terlihat begitu gemetar saat membubuhkan tanda tangannya di sana.
“Tolong lakukan yang terbaik untuk papih saya dok…” ujarnya parau.
Dokter Aiman mengangguk, sementara perasaan Reva semakin tak karuan. Bukan ia tidak percaya pada tim medis yang akan menangani Indra tapi ia tidak bisa menyiapkan diri untuk setiap konsekuensi yang mungkin harus di hadapi. Tidak ada yang bisa menebak takdir, dan hati Reva belum cukup kuat untuk menerimanya. Berserah, mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan..
Reva keluar ruangan dokter dengan langkah gontainya. Ia menghampiri Alea dan Nida yang masih berangkulan. Rasanya kesedihannya tidak ada habisnya. Ia ikut memeluk Alea dan Nida seraya memejamkan matanya.
__ADS_1
“Papih, kuatlah… rere sayang papih.” Batinnya dengan ditutup lelehan air mata yang menetes dari sudut mata kanannya.
****